Hu Li’an merasa kepalanya seperti akan pecah. Cahaya putih yang menyilaukan dari lampu plafon membuatnya mengerutkan kening.
Lantai yang keras di bawah tubuhnya bukan tempat tidur hotel yang lembut seperti yang dia ingat sebelum pingsan di bak mandi. Udara berbau alkohol dan obat-obatan yang khas rumah sakit membuatnya semakin pusing.
Dia ingat Saat itu dia merasa tenggorokan kering dan tubuhnya tidak berdaya, air mulai memenuhi bak mandi.
"Harusnya aku tenggelam... tapi kenapa aku ada di sini?"
Tiba-tiba pintu ruang inap terbuka perlahan dari luar. Seorang pria tinggi dengan wajah tajam dan mata hitam yang dalam masuk bersama seorang dokter dan perawat.
Pria itu mengenakan jas hitam yang rapi, rambutnya tertata rapi, dan ekspresinya tampak terkejut." Kamu bangun!"
Dokter segera mengarahkan perawat untuk menyiapkan alat pemeriksaan.Pria itu berjalan mendekati ranjang dengan langkah yang mantap, lalu menekan ujung ranjang dengan lembut.
"Kamu bangun..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Kesempatan kedua
Keduanya kemudian masuk ke kamar tidur Hu Lian, di mana suasana terasa jauh lebih hangat dan nyaman.Mereka berbaring pelan di atas kasur yang lembut, dengan selimut hangat menutupi tubuh mereka.
Bai Xuning berbaring menghadap Hu Lian, kemudian dengan lembut menariknya agar tubuhnya menyandar erat pada dirinya.
Dia memeluknya dengan posisi yang sangat nyaman—satu tangan menyangga kepala Hu Lian sebagai bantal, sementara yang lain melilit erat pinggang gadis itu.
Namun dia segera menurunkan tubuhnya dibawah pandangan bingung Hu Lian.Wajah pria segera tersembunyi di pelukannya, menyandarkan pipinya pada dadanya dengan ekspresi yang sangat tenang dan puas.
Tanpa sengaja, dia mulai menggosok wajahnya perlahan pada area dada Hu Lian, seperti seorang anak yang sedang mencari kenyamanan.
Kali ini, tidak ada lagi tamparan atau kata-kata menyakitkan yang keluar dari mulut Hu Lian.
Sebaliknya, dia hanya penuh toleransi mulai mengelus kepala pria itu dengan lembut, jari-jarinya menyentuh rambut hitamnya yang lembut.
Sepertinya aku tidak hanya memiliki seorang suami, tapi juga telah membesarkan seorang anak ya... pikirnya dengan rasa lucu.
Meskipun terkadang perilaku Bai Xuning terasa seperti anak kecil yang suka manja dan cemburu, dia tahu bahwa itu semua berasal dari rasa cinta yang mendalam yang dia miliki padanya.
"Apa kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Hu Lian dengan suara yang lembut dan menenangkan, masih terus mengelus kepalanya.
Bai Xuning hanya mengangguk perlahan tanpa mengangkat wajahnya, kemudian menjawab dengan suara yang sedikit meredup karena menyandarkan wajahnya pada tubuhnya. "Aku sangat nyaman sekarang... jangan berhenti mengelus kepalaku sayang..."
Hu Lian hanya merasa bahwa ini adalah momen yang paling damai yang mereka miliki setelah sekian lama menghadapi berbagai masalah..
Setelah beberapa saat, napas Bai Xuning yang tadinya masih sedikit cepat mulai menjadi pelan dan teratur
Pria itu yang hampir 3 hari tidak tidur karena kelelahan fisik dan mental yang luar biasa akhirnya dengan cepat terlelap di pelukan Hu Lian, wajahnya tampak sangat damai dan tenang seperti seorang anak kecil yang baru saja mendapatkan kedamaian.
Hu Lian melihatnya dengan ekspresi melembut. Dia menyentuh alis pria itu dengan sangat lembut menggunakan ujung jarinya.
Dia bangun untuk mematikan lampu kamar dengan hati-hati agar tidak mengganggunya, kemudian kembali berbaring dan menyesuaikan posisinya agar Bai Xuning bisa lebih nyaman tidur di pelukannya.
Besok pagi aku akan segera menghubungi orang tuaku, pikirnya dengan tekad yang kuat. Aku akan memberitahu mereka bahwa aku tidak memiliki perasaan khusus pada Ling Zhi dan hubungan aku dengan Bai Xuning sudah kembali membaik.
Dia tahu bahwa ini adalah hal yang penting untuk dilakukan agar Bai Xuning merasa lebih aman dan tenang.
Pria itu sudah cukup menderita karena rasa cemas dan keraguan yang selama ini menghantuinya, jadi Hu Lian ingin memberikan sedikit ketenangan dan kepastian pada dirinya tentang masa depan hubungan mereka.
Sambil masih mengelus rambut Bai Xuning dengan lembut, Hu Lian perlahan juga merasa kantuk menyerang.
Sebelum akhirnya terlelap, dia memberikan ciuman lembut pada dahi pria itu dan berbisik dengan suara yang sangat pelan. "Istirahatlah dengan nyaman... besok semuanya akan lebih baik..."
Dengan itu, keduanya tertidur nyenyak di bawah selimut hangat, tubuh mereka saling menopang dan hati mereka kembali menyatu sebagai satu.
Keesokan harinya, matahari bersinar dengan sangat cerah, menyinari kamar tidur melalui celah tirai yang terbuka sedikit.
Cahaya hangat menyebar ke seluruh ruangan, menciptakan suasana yang hangat dan damai.
Hu Lian perlahan membuka matanya setelah merasa ada sesuatu yang menggelitik di lehernya—sentuhan yang basah dan hangat perlahan merayap dari bagian bawah lehernya ke arah telinganya.
Dia sedikit mengerutkan dahi sebelum menyadari apa yang sedang terjadi.
Bai Xuning sudah terjaga dan sedang menghisap serta mencium bagian lehernya dengan lembut, tangannya tetap erat melilit pinggangnya.
Wajahnya yang masih sedikit mengantuk menunjukkan ekspresi penuh kasih sayang saat melihat Hu Lian yang baru saja terbangun.
"Selamat pagi.. bisiknya dengan suara yang masih sedikit serak karena baru terjaga, kemudian memberikan ciuman lembut pada sudut bibir Hu Lian."Maaf jika membangunkanmu...."
Hu Lian hanya bisa mengangkat tangan untuk menyentuh pipi pria itu.
"Kamu sudah terjaga cukup lama? Kenapa tidak membangunkanku?" tanya dia dengan suara yang masih lembut karena kantuk.
Bai Xuning menggeleng perlahan dan menariknya lebih dekat.
" .....kamu terlihat sangat nyaman tidur dan aku ingin menikmati momen ini sebentar lagi........"ucapnya dengan senyum manja, kemudian perlahan membangkitkan tubuhnya sedikit untuk menunjukkan bahwa dia sudah menyiapkan segelas jus segar di sisi tempat tidur.
Hu Lian perlahan bangun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan diri.
Setelah beberapa waktu, dia keluar dengan wajah yang sudah bersih dan rambut sedikit diatur, langsung melihat Bai Xuning yang sedang berdiri di dekat meja sambil memegang gelas susu hangat yang sudah siap.
"Untukmu," ucap Bai Xuning dengan senyum manis saat memberikan gelas itu padanya. Hu Lian menerima dengan senang hati dan mulai meminumnya perlahan, menikmati rasa hangat yang meresap ke dalam tubuhnya.
Setelah selesai meminum susu, dia melihat ke arah Bai Xuning dengan ekspresi penasaran.
"Apa yang kamu akan lakukan hari ini? Sudah banyak pekerjaan yang menunggu kan?" tanya dia dengan suara penuh perhatian.
Bai Xuning mengangguk perlahan. "Ya sayang, pekerjaan di kantor memang cukup banyak Tapi aku akan mencoba menyelesaikannya sebisa mungkin agar bisa pulang lebih cepat,"jawabnya dengan nada yang sudah penuh semangat.
Hu Lian tersenyum dan mendekatinya. "Kalau begitu, aku bisa mengantarkan makan siang untukmu setelah pulang dari kampus nanti? Aku akan mengantarkan makanan untuk mu...."
Bai Xuning yang mendengarnya langsung meraih tubuhnya dan memeluknya dengan sangat senang.Matanya bersinar penuh kebahagiaan.
"Benarkah? Itu sangat menyenangkan sekali! Aku akan menunggumu dengan sabar di kantor," katanya dengan suara senang,dia kemudian mencium dahinya dengan lembut.
Setelah berpelukan sebentar, Bai Xuning mengambil tas kerja dan berangkat ke kantor dengan suasana hati yang baik.
Sementara itu, Hu Lian juga siap berangkat ke kampusnya dengan membawa beberapa berkas penting.
Di kampus, dia dengan cepat menyerahkan tugas akhir yang sudah selesai dibuat sebelum jadwal wisuda resmi dilakukan.
Proses pengumpulan berjalan lancar dan dosennya memberikan pujian karena hasil kerja yang baik. Hu Lian menghabiskan sekitar 3 jam di kampus untuk menyelesaikan segala urusan akademiknya sebelum akhirnya berangkat pergi.
Setelah itu, dia langsung menuju rumah orang tuanya untuk menjelaskan semua hal yang terjadi.
Dia ingin menghilangkan kesalahpahaman dan memberitahu mereka dengan jelas bahwa dirinya tidak memiliki perasaan romantis pada Ling Zhi, serta bahwa hubungan dia dengan Bai Xuning sudah kembali stabil dan bahagia.
"Aku tahu kalian berharap baik untukku," ucap Hu Lian kepada orang tuanya saat mereka duduk bersama di ruang tamu. "Tapi Bai Xuning adalah orang yang aku pilih dan yang ingin aku jalani hidup bersama. Saya harap kalian bisa menerima dia dengan tulus."
Setelah pembicaraan yang cukup panjang namun damai, orang tua Hu akhirnya mengangguk dengan pemahaman.
Mereka menyadari bahwa kebahagiaan putri mereka adalah yang paling penting, dan bersedia untuk menerima Bai Xuning sebagai bagian dari keluarga lagi.
Setelah mendapatkan kedamaian hati dari pembicaraan itu, Hu Lian segera berangkat pulang untuk memasak makanan untuk Bai Xuning.
Dia ingin membuat hidangan yang istimewa agar pria itu merasa lebih dicintai dan diperhatikan.
Bai Xuning duduk di meja kerjanya dengan tubuh yang sudah mulai sedikit bergoyang karena tidak sabar.
Matanya sering kali menyelinap ke arah jam dinding yang terpasang di dinding depan ruangan kantornya, menghitung detik demi detik menuju jam makan siang.
Meskipun meja kerjanya penuh dengan tumpukan dokumen dan laporan yang harus diselesaikan, dia tidak bisa fokus pada pekerjaannya.
Pikirannya terus terbang ke arah Hu Lian dan makanan yang mungkin sedang dia siapkan saat ini.
Dia segera membersihkan meja kerjanya sedikit dan menyusun tempat untuk meletakkan makanan yang akan datang.
Hatinya berdebar kencang dengan harapan, tidak sabar untuk melihat senyum Hu Lian saat dia datang mengantar makanan kesukaannya.