"Keadilan di kota ini tidak ditegakkan, melainkan diperdebatkan dengan nyawa."
Bagi Dr. Saraswati, detektif psikolog jenius, semua kejahatan pasti tunduk pada logika dan akal sehat. Hingga "Sang Pembebas" muncul—pembunuh berantai misterius yang membantai para elit korup tanpa jejak, hanya menyisakan teka-teki berdarah yang mengejek hukum.
Di mata publik yang tertindas, pembunuh ini adalah pahlawan. Di mata hukum, ia monster anarkis.
Alih-alih bersembunyi, Sang Pembebas justru mengincar Saraswati. Melalui teror pesan chat rahasia, ia mengajak sang detektif bermain kucing-kucingan mematikan, menguliti trauma masa lalunya satu per satu.
Untuk menangkap entitas di luar nalar ini, Saraswati dihadapkan pada pilihan fatal: mempertahankan kewarasannya dan kalah, atau melepaskan logikanya untuk menyelami kegelapan pikiran sang pembunuh.
Siapa yang memburu, dan siapa yang sebenarnya sedang diburu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 KATABASIS SANG SUBJEK DAN REINKARNASI API
[17:00 PM] DISTRIK MILITER SEKTOR 1, METROPOLIS
Langit metropolis seolah menolak untuk berhenti menangis. Hujan turun dengan intensitas yang nyaris alkitabiah, membasuh jalanan aspal yang dipenuhi puing-puing sisa kerusuhan. Di dalam sebuah mobil sedan hitam antipeluru yang dikemudikan secara otomatis oleh sistem swakemudi (autopilot) Aegis Vanguard, Dr. Saraswati duduk dalam keheningan yang membekukan.
Di tangannya, layar sabak digital memancarkan pendaran biru, menampilkan koordinat sebuah fasilitas bawah tanah di Sektor 1. Orion telah memberinya akses keamanan tingkat eksekutif. Sang Direktur Operasi mengira Saraswati akan kembali ke klinik, memulihkan diri, dan membiarkan Jenderal Ares menghancurkan dirinya sendiri di dalam bunker itu. Orion percaya bahwa dengan memberikan informasi tersebut, ia telah menundukkan Saraswati menjadi Sang Liyan—sebuah instrumen pasif yang bergerak sesuai dengan desain makro korporasi.
Namun, Simone de Beauvoir mengajarkan bahwa seorang perempuan yang merdeka tidak akan pernah membiarkan kebebasannya ditentukan oleh sangkar yang dibangun oleh laki-laki, betapapun emasnya sangkar tersebut. Saraswati telah membelot dari naskah Orion pada detik ia melangkah masuk ke dalam mobil ini. Ia tidak akan membiarkan Jenderal Ares mengeksekusi Kala dalam bayang-bayang. Ia tidak melakukan ini untuk menyelamatkan Sang Pembebas dari hukuman, melainkan karena Saraswati adalah Subjek yang menuntut hak prerogatif untuk menyelesaikan dialektikanya sendiri.
Mobil itu melambat saat memasuki kawasan Sektor 1, sebuah distrik industrial yang telah lama ditinggalkan, dipenuhi oleh pabrik-pabrik manufaktur era lama yang kini berkarat. Dalam analisis Karl Marx, tempat ini adalah kuburan dari kapitalisme industri masa lalu, sebuah monumen di mana alienasi buruh pertama kali diciptakan sebelum digantikan oleh otomatisasi. Di bawah tumpukan baja berkarat inilah, militer Aegis Vanguard menyembunyikan "Fasilitas Interogasi Black-Site 09". Tempat di mana manusia tidak lagi memiliki hak hukum, melainkan direduksi menjadi daging dan informasi.
Saraswati memerintahkan mobil itu untuk berhenti dua blok dari titik target. Ia melangkah keluar, menembus tirai hujan. Ia tidak lagi mengenakan gaun malam sutranya; dari kursi belakang mobil Orion, ia telah mengambil sebuah jas hujan taktis berbahan kevlar ringan dan menyita sebuah pistol semi-otomatis Sig Sauer berkaliber tinggi beserta dua magasin cadangan.
Pikirannya memasuki fase Katabasis—sebuah konsep dari mitologi Yunani kuno yang berarti perjalanan turun ke dunia bawah (neraka). Untuk menemukan kebenaran absolut, sang pahlawan harus berani turun ke dalam kegelapan terdalam, menghadapi monster-monster dari alam bawah sadarnya. Dan malam ini, monster itu adalah seorang Jenderal bintang empat yang kewarasannya baru saja ia hancurkan, serta seorang nihilis yang mengaku sebagai dewa.
[17:30 PM] FASILITAS BLACK-SITE 09
Bunker itu disamarkan sebagai pabrik pemurnian air limbah. Saraswati menggunakan kode akses tingkat direksi yang ia ekstrak dari cip Orion untuk melewati dua pos pemeriksaan perimeter luar tanpa memicu alarm. Sistem keamanan Aegis Vanguard terlalu mengandalkan keteraturan Apollonian; mereka percaya bahwa jika sebuah kode dimasukkan secara digital, maka entitas yang masuk adalah entitas yang sah. Logika mekanis ini adalah kelemahan fatal dari mesin fasisme modern.
Saraswati menuruni tangga beton yang melingkar ke bawah bumi. Udara semakin dingin dan pengap, dipenuhi bau ozon, besi, dan antiseptik.
Ia tiba di Sublevel 3, area sel isolasi interogasi tingkat ekstrem. Di ujung lorong, dua orang penjaga elit Aegis berdiri di depan sebuah pintu baja berat.
Saraswati tidak menggunakan kekerasan fisik. Ia berjalan dengan langkah tegap, memancarkan otoritas absolut.
"Berhenti di sana. Area ini dibatasi atas perintah langsung Jenderal Ares," ucap salah satu penjaga, menodongkan senapannya.
Saraswati mengangkat sabak digitalnya, memperlihatkan lencana holografik berlapis emas milik Dewan Direksi. "Perintah Jenderal Ares telah dianulir oleh Direktur Eksekutif Orion setengah jam yang lalu, menyusul insiden medis di Menara Aegis. Aku adalah Dr. Saraswati, Konsultan Psikiatri Forensik Utama. Aku ditugaskan untuk mengawasi Tahanan Nol. Buka pintunya, atau kalian akan menghadapi pengadilan militer karena menghalangi penyelidikan direksi."
Nada suara Saraswati sangat presisi, mengadopsi gaya bahasa korporat yang dingin dan tidak menoleransi bantahan. Kedua penjaga itu saling berpandangan. Rantai komando militer yang kaku membuat mereka terbiasa mematuhi hierarki tanpa bertanya. Terlebih lagi, desas-desus tentang Jenderal Ares yang kehilangan akal sehatnya di ruang rapat pasti sudah mulai menyebar di jaringan internal mereka.
"Baik, Dokter," penjaga itu menurunkan senjatanya dan menempelkan kartu aksesnya ke panel dinding. Pintu baja itu bergeser terbuka dengan desisan hidrolik. "Tapi kami peringatkan, Jenderal ada di dalam. Dan dia... dia tidak ingin diganggu."
Saraswati mengangguk pelan, melangkah masuk, dan pintu baja itu tertutup di belakangnya, menguncinya di dalam perut bumi.
[17:40 PM] REINKARNASI API DAN KOMPULSI PENGULANGAN
Ruangan interogasi itu luas, berdinding beton polos, diterangi oleh satu lampu gantung berdaya tinggi di tengah ruangan. Di bawah lampu itu, sebuah kursi besi dibaut ke lantai.
Di kursi itu, duduklah Kala.
Pria bermantel hitam itu berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Wajahnya penuh memar ungu kehitaman, bibirnya pecah, dan darah segar mengering di pelipisnya. Kedua tangannya diborgol ke belakang kursi menggunakan belenggu baja. Namun, meskipun tubuh fisiknya telah dihancurkan, postur Kala tetap tegak. Kepalanya mendongak, dan di bibirnya tersungging senyum yang memancarkan kegilaan Dionysian murni.
Di hadapannya, Jenderal Ares mondar-mandir seperti binatang buas yang terperangkap di dalam kandang. Sang Jenderal tidak lagi mengenakan seragam militernya yang rapi. Kemejanya acak-acakan, matanya melotot liar, dan napasnya memburu. Di tangan kanannya, Ares memegang sebuah jerigen besi berwarna merah yang berisi bahan bakar bensin. Di tangan kirinya, ia menggenggam sebuah pemantik api logam.
Saraswati berdiri di dalam bayang-bayang di dekat pintu, mengamati pemandangan itu. Jantungnya berdetak cepat. Analisis psikoanalisisnya terbukti akurat seratus persen.
Jenderal Ares sedang mengalami serangan repetition compulsion (kompulsi pengulangan) yang brutal. Ketika Saraswati memicu traumanya di ruang rapat—mengingatkannya pada malam di mana peletonnya dibakar hidup-hidup dan ia bersembunyi di bawah tumpukan mayat—ego pria itu hancur. Untuk memperbaiki egonya yang hancur, alam bawah sadar Ares memaksanya untuk menciptakan ulang skenario traumatis tersebut. Namun kali ini, Ares tidak ingin menjadi korban yang tidak berdaya. Ia ingin bertukar peran. Ia ingin menjadi sang pembakar. Ia membutuhkan seorang korban untuk dibakar hidup-hidup agar ia merasa memiliki kendali absolut atas masa lalunya.
Dan Kala, Sang Pembebas yang memicu anarki di kota ini, adalah kanvas yang sempurna untuk proyeksi traumanya.
"Kau pikir kau siapa?!" raung Ares, suaranya pecah, menggema di ruangan beton itu. Ia menyiramkan bensin dari jerigen itu ke lantai, mengelilingi kursi Kala. Bau tajam oktan seketika memenuhi udara yang pengap. "Kau pikir kau dewa? Kau pikir kau bisa menghancurkan kotaku? Kota yang kubangun dengan darah prajuritku?!"
Kala tertawa. Sebuah tawa serak yang memercikkan darah dari bibirnya.
"Kau tidak membangun peradaban, Bima Cokro," Kala menggunakan nama asli sang Jenderal, menelanjangi identitas pria itu hingga ke tulang. "Kau hanya membangun rumah potong hewan yang lebih besar. Friedrich Nietzsche berkata bahwa negara adalah berhala yang meminta pengorbanan darah. Kau adalah pendeta tinggi dari berhala itu. Kau mengorbankan prajuritmu, dan kini kau mengorbankan dirimu sendiri."
"Diam!" Ares menendang dada Kala dengan sepatu bot militernya. Kala terbatuk keras, kursi besinya berderit, namun pria itu segera menegakkan kepalanya kembali.
"Kau takut, Bima," bisik Kala, matanya menatap langsung ke dalam jiwa sang Jenderal yang retak. "Kau tidak takut padaku. Kau takut pada api. Kau takut pada ketiadaan. Kau menyiramkan bensin ini bukan untuk membunuhku. Kau menyiramkannya untuk membuktikan pada dirimu sendiri bahwa kau tidak lagi bersembunyi di bawah mayat teman-temanmu. Tapi tebak apa? Di dalam kepalamu, kau masihlah anak kecil yang menangis di parit itu."
Ares menjerit histeris. Ia mengangkat jerigen itu dan mengguyurkan sisa bensinnya langsung ke tubuh Kala. Baju, rambut, dan wajah Kala basah kuyup oleh cairan mudah terbakar tersebut.
"Aku akan membakarmu sampai menjadi abu! Aku akan membuatmu merasakan neraka yang mereka rasakan!" Ares menggesek pemantik logamnya. Percikan api memercik, nyala kuning kecil muncul di kegelapan ruangan.
Dalam teologi mistik Ibnu Arabi, momen ini adalah representasi dari Jalal—sifat keagungan dan kemurkaan Tuhan yang memusnahkan. Kala, sang penganut nihilisme, tidak meronta. Ia menengadahkan wajahnya, menutup matanya, dan tersenyum, siap memeluk pemusnahan (fana') itu dengan Amor Fati yang absolut. Ia mencintai takdirnya, meskipun itu berarti hangus terbakar.
Namun, Saraswati tidak akan membiarkan ruangan ini menjadi altar pengorbanan bagi kegilaan dua orang pria.
[17:50 PM] INTERVENSI SANG SUBJEK
Saraswati melangkah keluar dari bayang-bayang.
DOR!
Suara tembakan dari Sig Sauer di tangan Saraswati merobek gendang telinga. Peluru itu tidak diarahkan ke tubuh Jenderal Ares. Logika Aristotelian Saraswati menghitung lintasan balistik secara instan. Peluru itu menghantam tepat pada pemantik logam di tangan kiri Ares.
Pemantik itu hancur berkeping-keping, terpelanting dari tangan sang Jenderal sebelum ia sempat menjatuhkannya ke lantai yang berlumuran bensin.
Ares terhuyung ke belakang, memegangi tangannya yang kebas akibat hantaman kinetik tersebut. Ia memutar tubuhnya, matanya yang liar menatap ke arah Saraswati yang berdiri dengan postur menembak yang sempurna. Laras senjatanya kini terarah lurus ke dahi Jenderal Ares.
"Permainan api sudah selesai, Jenderal," ucap Saraswati dengan nada yang sedingin es kutub.
Mata Kala terbuka lebar. Melihat Saraswati berdiri di sana, hidup dan mengendalikan ruangan, membuat senyum di bibir Sang Pembebas semakin melebar. "Saras... kau selalu datang tepat waktu untuk merusak katarsisku."
Ares menatap Saraswati dengan kebingungan psikotik. Fasad militernya telah musnah. "Dr. Saraswati... kau... kau buronan itu! Penjaga! PENJAGA!"
"Mereka tidak akan datang, Bima," potong Saraswati cepat, terus berjalan maju hingga ia berada di antara Kala dan Ares. "Sistem komunikasi di ruangan ini telah dimatikan secara eksternal. Kau diisolasi. Kau mengisolasi dirimu sendiri karena kau tidak ingin anak buahmu melihat komandan mereka menangis karena trauma masa lalunya."
Saraswati memahami bahwa menghadapi seseorang dalam kondisi psikosis tidak bisa dilakukan dengan logika linier. Ia harus berbicara langsung kepada Id pria itu.
"Dengarkan aku, Bima. Membakarnya tidak akan mengembalikan peletonmu. Itu hanya akan membuktikan bahwa kau telah dikalahkan oleh trauma itu secara absolut. Kau akan menjadi monster yang membakar dirimu sendiri. Jatuhkan jerigen itu. Menyerahlah. Kau sudah kalah di dewan direksi. Orion telah melengserkanmu."
Nama Orion menjadi katalis yang berbeda. Fiksasi Ares bergeser.
"Orion..." Ares bergumam, kebencian memelintir wajahnya. "Orion yang merencanakan ini? Dia yang mengirimmu untuk memicu ingatanku di ruang rapat?!"
"Orion adalah Leviathan yang sebenarnya," Saraswati tidak berbohong. Ia memaparkan fakta telanjang. "Dia menggunakan traumamu untuk menyingkirkanmu. Jika kau membunuh Kala di sini, kau akan menjadi pembunuh tak terkendali di mata hukum korporat mereka. Orion akan mengeksekusimu tanpa pengadilan, dan mengambil alih seluruh pasukanmu. Jangan berikan dia kepuasan itu."
Argumen Saraswati sangat rasional. Namun, ia meremehkan seberapa dalam kerusakan yang telah dialami oleh struktur kognitif sang Jenderal.
Ares tertawa, sebuah tawa yang putus asa dan kosong. Ia menatap tangannya yang tadi memegang pemantik, lalu menatap Saraswati.
"Kau pikir aku peduli pada dewan direksi? Kau pikir aku peduli pada Orion?" Ares menggelengkan kepalanya dengan brutal. "Dunia ini sudah sakit, Dokter! Kala benar tentang satu hal. Kota ini harus dibersihkan. Jika aku tidak bisa membakarnya dengan tanganku..."
Ares secara tiba-tiba merogoh sarung pistol di pergelangan kakinya—senjata cadangan yang tidak terdeteksi oleh pandangan Saraswati.
Kecepatan seorang jenderal pasukan khusus yang didorong oleh kepanikan hewani jauh melampaui refleks seorang detektif. Ares menarik senjatanya dan mengarahkannya, bukan kepada Saraswati, melainkan ke dada Kala yang masih terikat.
"Matilah bersama alienasimu!" teriak Ares, menarik pelatuk.
[17:55 PM] PARADOKS BARZAKH DAN SENYUM SANG PEMBEBAS
DOR!
Suara tembakan itu menggema. Namun, itu bukan berasal dari pistol Ares.
Saraswati telah menarik pelatuknya terlebih dahulu. Pelurunya menembus bahu kanan Ares, membuat tembakan sang Jenderal melenceng dan menghantam lantai beton, memercikkan bunga api kecil di dekat genangan bensin.
Bunga api itu menyambar uap bensin di udara. Dalam sepersekian detik, lantai beton itu tersulut. Garis api berwarna biru dan oranye menjalar dengan kecepatan mengerikan, menciptakan lingkaran api yang mengelilingi kursi tempat Kala terikat.
Ares menjerit, memegangi bahunya yang hancur. Melihat api yang berkobar, trauma masa lalunya memukulnya dengan kekuatan penuh. Ia tidak lagi melihat sebuah ruang interogasi. Ia melihat ladang pembantaian lima belas tahun lalu. Pria bertubuh raksasa itu jatuh berlutut, meringkuk memeluk dirinya sendiri, berteriak-teriak ketakutan seperti seorang balita, menolak untuk melihat kenyataan. Sang tiran telah hancur sepenuhnya dari dalam.
Saraswati mengabaikan Ares. Ia menerjang maju ke arah lingkaran api yang semakin membesar. Ia harus menyelamatkan Kala.
"Saras! Mundur!" teriak Kala dari tengah kobaran api, panas mulai membakar ujung mantelnya. "Kau tidak bisa memadamkannya! Biarkan aku pergi!"
"Aku tidak akan melepaskan tanganmu lagi!" Saraswati membalas dengan amarah yang lahir dari luka terdalamnya. Ia tidak akan membiarkan kompulsi pengulangan ini terjadi. Dua puluh tahun lalu, Kala melepaskan tangannya untuk menghadapi monster. Malam ini, Saraswati menolak sejarah itu terulang.
Saraswati melompat melintasi garis api, mengabaikan hawa panas yang menyengat kulitnya. Ia tiba di belakang kursi Kala. Rantai baja itu menggunakan kunci mekanis berat. Saraswati mengangkat pistolnya dan menembak gembok rantai itu dari jarak dekat.
Trang! Gembok itu hancur.
Kala menarik tangannya yang kini bebas. Ia berdiri, terhuyung, lalu menatap Saraswati di tengah kobaran api yang mulai menjilat dinding ruangan.
Saraswati meraih lengan Kala. "Kita harus keluar dari sini sebelum sistem ventilasi mendeteksi api dan mengunci ruangan ini dengan gas halon!"
Namun, Kala tidak bergerak. Pria itu menarik lengannya dari genggaman Saraswati. Matanya yang gelap memantulkan cahaya api yang menari-nari.
"Kau benar-benar tidak mengerti, kan, Saras?" ucap Kala, suaranya sangat tenang di tengah inferno tersebut. "Kau pikir aku membiarkan diriku ditangkap oleh pasukan Ares hanya untuk disiksa? Kau pikir Sang Pembebas bisa dijebak di dalam sebuah bunker oleh orang bodoh seperti dia?"
Saraswati mengerutkan kening. Disorientasi Hayra kembali menyergapnya. "Apa maksudmu?"
Kala melangkah mendekati Saraswati. Ia mengangkat tangannya yang berlumuran darah, dan menunjuk ke arah lantai beton di bawah mereka.
"Bunker Sektor 1 ini... ini bukan hanya ruang interogasi rahasia," jelas Kala, sebuah senyum iblis yang sangat jenius mengembang di wajahnya. "Apakah kau tahu mengapa Orion sangat ingin menguasai fasilitas militer Ares? Mengapa Aegis Vanguard mendirikan markas besar mereka tepat di tengah kota ini?"
Kala mencondongkan tubuhnya ke depan, berbisik di tengah suara gemuruh api yang mulai membakar sistem kabel di atap.
"Fasilitas Black-Site 09 ini dibangun tepat di atas jalur pipa distribusi gas alam utama metropolis. Garis aorta yang menyuplai energi ke seluruh distrik finansial, ke menara Aegis, ke rumah-rumah para elit. Dan Ares, dalam paranoianya, telah membangun sistem self-destruct (penghancuran diri) di bawah ruangan ini. Sebuah bom termal yang terhubung langsung ke pipa gas kota."
Saraswati membeku. Darahnya terasa ditarik dari seluruh tubuhnya.
"Kau..." Saraswati menatap pria itu dengan kengerian Das Unheimliche yang absolut. "Kau tidak datang ke sini untuk dihukum. Kau datang ke sini untuk..."
"Untuk mencapai titik pusat ketiadaan," Kala menyela, matanya berbinar dengan fanatisme eskatologis. "Kau menyelamatkan server bank sentral. Kau menyelamatkan uang mereka. Tapi malam ini, aku akan membakar fondasi kota ini dari akarnya. Ledakan berantai ini akan menghancurkan sepertiga dari Sektor 1, termasuk menara Aegis Vanguard."
Kala merogoh saku dalam mantelnya yang basah oleh bensin. Ia mengeluarkan sebuah kunci aktivator berbentuk silinder silikon.
"Aku mengorbankan diriku untuk ditangkap agar aku bisa masuk melewati pemindai biometrik mereka. Agar aku bisa berada tepat di ruangan ini," Kala menekan silinder itu. Sebuah bunyi klik panjang bergema dari bawah lantai beton. "Sistem pemanasan inti telah diaktifkan, Saras. Dalam tiga menit, api ini akan memicu ledakan berantai ke jalur gas kota."
Saraswati menodongkan pistolnya langsung ke dahi Kala. Tangannya tidak lagi bergetar, tetapi jiwanya terkoyak.
"Matikan. Matikan sekarang, Kala," ancam Saraswati. "Ribuan warga sipil yang tidak bersalah di sekitar distrik ini akan mati. Anak-anak yang sedang tidur, para buruh, orang-orang yang kau klaim ingin kau bebaskan! Kau akan menjadi pembunuh massal terbesar dalam sejarah. Kau bukan dewa, kau adalah genosida!"
Kala menatap moncong pistol itu dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Untuk melahirkan manusia unggul, dunia yang lama harus dihancurkan. Amor Fati, Saras. Cintai takdir kita," ucap Kala lembut. Ia melangkah maju, membiarkan laras pistol Saraswati menyentuh dahinya. "Tembak aku, Saras. Selesaikan tugasmu sebagai anjing penjaga hukum. Tapi tembakanmu tidak akan menghentikan bom di bawah kita. Hanya ada satu cara untuk menghentikannya."
Kala menunjuk ke sebuah panel akses baja di lantai yang kini telah terbuka akibat aktivasi silinder tersebut. Di dalam panel itu, terlihat rangkaian inti detonator yang rumit.
"Kau harus turun ke ruang inti dan memutus kabel hidroliknya secara manual. Tapi untuk melakukan itu... kau harus membiarkanku pergi."
Ini adalah jebakan dialektika yang paling sempurna.
Jika Saraswati menembak Kala, ia mendapatkan keadilan bagi masa lalu dan menghentikan sang monster, tetapi kota akan hancur dan ribuan orang akan mati. Jika Saraswati memilih menyelamatkan kota, ia harus melepaskan senjatanya, turun ke ruang inti, dan membiarkan Sang Pembebas melenggang pergi dari neraka ini untuk kembali merencanakan kehancuran di masa depan.
Kala memaksanya untuk memilih antara Superego (moralitas keadilan) dan Eros (tanggung jawab melestarikan kehidupan).
Api semakin membesar, mulai membakar pakaian Jenderal Ares yang sedang meringkuk di sudut ruangan. Asap hitam mengepul tebal, menyulitkan pernapasan.
"Waktumu tinggal dua menit, sang Subjek," bisik Kala, menantang eksistensialisme Saraswati hingga ke batas logikanya. "Apa yang akan kau pilih? Menjadi algojoku, atau menjadi penyelamat mereka?"
Saraswati berdiri di tengah lingkaran api, memegang senjata yang bisa mengakhiri segalanya, terperangkap di dalam Barzakh pamungkas di mana setiap keputusan akan menghancurkan separuh dari jiwanya.