Perjalanan mendaki gunung sebuah rombongan, mengantarkan mereka untuk mengalami hal mistis. Niat ingin bersenang-senang, harus merasakan perasaan mencekam sepanjang perjalanan.
Namun, di akhir kisah mendaki. Salah satu dari rombongan, ternyata merupakan takdirnya salah satu anggota Zandra.
Penasaran?? yuk kita simak ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kuntilanak Sustrini
PERINGATAN!!! ADA GAMBARNYA YAAAAA.....
Keempatnya lanjut masak-masak, lanjut sarapan sebelum nanti lanjut mendaki ke puncak.
Singkat cerita, sekitar pukul 9 pagi. Mereka memulai perjalanan summit ke puncak, meninggalkan tenda di pos 3. Selama perjalanan, mereka tak merasakan adanya kejanggalan.
"Ngomong-ngomong, Sustrini kapan bubarnya ya?" tanya Doni, yang tiba-tiba membahas Sustrini
"Kalo menurut perhitungan, kayanya antara jam 3 atau 4 lah. Gue keluar semalem, sekitar jam setengah 3. Sedangkan jam setengah 5, kita udah pada bangun." jawab Haris
"Pagi banget, mungkin dia ga nyaman barengan ma kita." ucap Bara, mendadak ia merasa tak enak hati. Karena dia yang mengajak Sustrini, untuk mendaki bersama.
Namun semakin mereka membahas tentang Sustrini, mereka malah merasa merinding. Akhirnya mereka sepakat, untuk berhenti membicarakan Sustrini.
Setelah cukup lama berjalan, tak terasa mereka pun tiba di puncak Buntu gunung Sumbing. Di situ mereka merasa sangat senang, karena bisa menyelesaikan misi mendaki gunung, dengan ketinggian 3000 mdpl.
"UHUUUUUUUYYYYY... SUKSEEEEEESSSSS" teriak Doni bangga
"I LOVE YOU GUNUNG SUMBING" sambung Anggun, kedua tangan mereka di rentangkan. Menghirup udara dalam-dalam, terasa begitu segar. Lelah mereka terbayarkan, dengan hasil memuaskan.
Mereka duduk-duduk di atas sana, berbincang dan juga bercanda. Sampai pukul 3 sore, mereka memutuskan untuk kembali ke pos 3. Di pos 3, Bara mengajak untuk berhenti dan beristirahat sebentar.
"Eh.. tadi di puncak, kita ga liat Sustrini ya." ucap Bara tiba-tiba
"Iya ya, mungkin dia ke puncak Rajawali. Makanya kita ga ketemu." jawab Doni
"Iya, mungkin ya." balas Bara, karena di jalur gunung Sumbing via Garung. Memang terdapat 2 puncak, yaitu Buntu dan puncak Rajawali.
"Berenti bahas Sustrini dong, bukan apa. Jujur aja, gue masih takut kalo bahas dia. Denger namanya di sebut aja, gue ngerasa merinding. Liat..." Anggun memperlihatkan lengannya, yang memang terlihat sesuai dengan ucapannya
"Ya udah iya, tadi gue cuma penasaran aja Nggun." jawab Bara, Anggun mengangguk paham
Setelah di rasa cukup, mereka gegas beberes. Mengemasi tenda, membersihkan sampah dan memasukkannya ke dalam kantong keresek. Untuk mereka bawa pulang, agar tidak mengotori gunung. Mereka turun, sekitar pukul setengah 5 sore.
Di perjalanan turun, tepatnya setelah mereka melewati area Seduplak Roto. Tiba-tiba Anggun mencium bau yang sangat anyir, seperti bau darah. Dia pun bertanya pada yang lain..
"Bar, lu nyium bau anyir ga sih?" tanya nya pelan, yang ternyata di dengar juga oleh Haris dan Doni
"Iya, gue nyium baunya." jawab Bara
"Baunya nyengat banget" sambung Haris
Sepanjang perjalanan, mereka saling berpegangan. Bau anyir itu masih tercium, membuat Anggun kembali merasa takut. Mana waktu pun, sudah menunjukkan mulai petang. Sambil berjalan, Anggun terus membaca doa. Dengan kedua matanya, sesekali melihat ke sekitarnya.
Di tempat mereka bertemu dengan Sustrini kemarin, tiba-tiba bau anyir itu perlahan hilang. Hingga akhirnya, bau itu tak tercium lagi.
'Alhamdulillah' ucap Anggun dalam hati, ia merasa sedikit tenang. Mereka masih terus lanjut jalan, sampai tibalah mereka di pos 2. Kurang lebih sekitar habis maghrib, Bara mengajak berhenti. Untuk melaksanakan shalat dan juga istirahat sebentar, mereka duduk dan minum.
"Apapun yang terjadi nanti, jangan sampai lari. Kita jalannya saling berdekatan, jangan lepas genggaman." ucap Bara, seraya melihat ke sekitarnya
Mendengar Bara berbicara seperti itu, Anggun mendadak merasa bulu kuduknya kembali berdiri. Baru Bara selesai berbicara, tiba-tiba tercium bau yang sangat wangi. Seperti wangi bunga melati, mereka berempat hanya diam dan saling tatap. Bara memberi kode, untuk melanjutkan perjalanan meninggalkan pos 2.
Tidak lama setelah meninggalkan pos 2, Anggun yang berjalan di tengah. Sayup-sayup mendengar suara, lebih tepatnya suara tawa perempuan.
"Lu pada, denger kagak ada suara ketawa cewek?" tanya Anggun pada teman-temannya
Refleks ketiga temannya langsung berhenti, mereka memfokuskan indra pendengaran mereka.
"Mana Nggun? Gue ga denger apa-apa" tanya Bara
"Sekarang udah ga ada, tadi benera gue denger suara itu samar." jawab Anggun, Bara melihat ke sekitarnya dan mendekati Anggun
'Nggun, ntar kalo lu denger atau liat apa-apa. Yang menurut lo ga logis, diemin aja ya. Ga usah lu omongin, ngerti?' ucap Bara berbisik, Anggun mengangguk paham. Bara kembali ke posisinya, mengajak teman-temannya untuk kembali berjalan.
Mereka lanjut berjalan, dengan saling berdekatan dan berpegangan. Ketika melewati area, yang cukup rimbun. Entah kenapa, di sini Anggun merasa sangat merinding. Namun mengingat, apa yang di katakan Bara. Ia pun berusaha, untuk tetap diam. Tak lama kemudian, Bara yang berada paling depan. Tiba-tiba memberi arahan pada teman-temannya, untuk berjalan pelan.
"Guys, jalannya pelan-pelan. Ingat, jangan jalan cepat atau pun lari." ucapnya
Anggun bisa menebak, bila Bara sedang melihat sesuatu yang tak logis. Ketiganya hanya diam menurut, mereka tak ada yang mengeluarkan suara. Setelah beberapa langkah, Anggun kembali samar-samar mendengar suara nyanyian khas Jawa. Anggun memfokuskan indra pendengarnya, dan suara itu... Sangat mirip dengan suara Sustrini, yang menyanyi malam itu.
Mendengar itu, Anggun menatap teman-temannya. Tapi sepertinya mereka tak mendengar, karena terlihat biasa saja. Suara itu lambat laun, malah semakin jelas. Suaranya, seperti bersumber dari arah bawah. Tak lama, Anggun di kejutkan dengan suara teriakan Bara.
"ASTAGHFIRULLAH HALADZIM" teriak Bara, dengan keterkejutannya
Serentak Anggun dan yang lain terkejut dan berhenti melangkah.
"Kenapa Bar?" tanya Haris
"Kalian semua jangan ada yang lari, kita jalan pelan-pelan seperti tadi. Dan INGAT!! Jangan ada yang nengok ke kanan, ngerti!!" Bara menjawab dengan paniknya
Keadaan semakin terasa mencekam, Anggun bertanya-tanya kenapa Bara tiba-tiba bicara seperti itu? Tetapi mereka terus lanjut berjalan pelan, sesuai arahan Bara.
Emang dasar manusia, dia akan merasa penasaran dengan sebuah larangan. Anggun, ia penasaran dengan ucapan Bara. Ia pun mencuri pandang ke arah kanan dan tiba-tiba...
DEG
Di sana, sebelah kanan mereka. Terlihat dengan jelas sebuah pemandangan, yang teramat sangat menyeramkan. Di sebuah pohon besar, terdapat sosok perempuan yang sedang duduk di dahan. Dengan posisi menggantungkan kakinya, dan ternyata sosok perempuan itu. Adalah sosok, yang bernyanyi tembang Jawa.
Melihat keberadaan sosok itu, Anggun benar-benar ketakutan. Dia segera mengalihkan tatapannya, namun saat ia mengalihkan tatapannya. Tepat di depan wajahnya, ia saling bertatapan dengan wajah perempuan itu. Sosok yang kini, tengah tersenyum menyeringai pada Anggun.
BRUGH
Haris dan Doni, yang berjalan di belakang Anggun langsung jatuh terduduk. Bara yang mendengar suara jatuh, langsung berbalik dan ikut terkejut. Melihat sosok, yang kini melayang di depan Anggun. Namun wajahnya. saling berhadapan dengan Anggun. Jaraknya... ya Allah... jaraknya hanya... tidak berjarak, karena hidung mereka saling menempel.
WUSHHH
"ANGGUUUUNNN" teriak ketiganya, saat melihat Anggun di bawa melayang oleh sosok tersebut.
"KYAAAAAAA"
Tiba-tiba melesat sebuah cahaya, ke arah sosok tersebut.
...****************...
Jangan lupakan like, komen, gift sama vote nyaaa🥰
Up nya 1 bab/ hari ya guys🤗
cover baru ya thor