Menceritakan tentang Davidson Mahendra seorang pria dengan sikap dingin dan perfeksionis yang tak sengaja di hadapkan dengan Nindi, gadis biasa yang pernah menjadi bagian dari masalalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourbee Lebah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 : Rencana sarah
Nindi mencerna ucapan David, jadi selama ini kekasihnya itu menyembunyikan perilaku buruk Sarah pada ayahnya.
"Kamu hebat deh" Pujinya.
"Hebat kenapa?"
"Ya hebat karena kamu bisa nyembunyiin perilaku buruk Sarah, padahal bisa aja kamu ngadu ke papa kamu"
"Aku gak mau ribet, lagian kalo aku cerita sama papa pasti dia juga kecewa sama dirinya sendiri, dia pasti nyalahin dirinya karena sempat milih orang yang salah buat aku" Katanya
Nindi merasa sangat kagum dengan sikap david.
"Kenapa sih kamu ngeliatin aku begitu?" Tanya David.
"Gak apa apa kok"
"Kamu terpesona kan? aku ganteng?" Tanyanya.
"Dikit" Jawab nindi malu.
"Ck! tinggal bilang apa susahnya, gengsi banget kamu jadi orang"
"Enggak tuh" Sangkalnya.
"Aku tau kamu"
Nindi mengendikan bahunya acuh dan mulai melanjutkan pekerjaannya.
...****************...
"Uang apa ini?" Tanya jingga.
"Bonus" Balas Sarah
Wanita yang memiliki jabatan sebagai kepala staff itu melirik kesana kemari memastikan tidak ada seseorang yang curiga dengan mereka.
"Kalau mau bicara kita ke tempat lain aja mbak" Katanya.
Sarah mengangguk setuju.
Keduanya pergi ke ruangan Sarah setelahnya.
"Saya mau kamu bantu saya, dan uang itu buat kamu" Katanya.
"Bantu apa?"
"Besok kamu ajak nindi buat diskusi, alihkan perhatiannya aja, saya mau ngobrol berdua sama pak David" Katanya.
"Kalau cuma begitu kenapa harus bayar uang, saya tinggal panggil nindi buat ketemu saya" Jawab jingga.
"Kamu harus pastikan kalo dia gak bakalan balik ke ruangan david" Katanya.
"Kenapa mbak?" Tanyanya.
"Gausah banyak Tanya deh! saya milih kamu karena saya tau nindi pasti sungkan buat nolak ajakan kamu, kalian berdua ngobrol atau kalau perlu bawa dia keluar dari kantor, satu jam" Perintahnya.
"Kalau terjadi apa apa mbak bisa pastikan nindi gak nyalahin saya?"
"Kamu tenang aja, nindi gak akan tau kamu bagian dari rencana ini, saya kasih kamu 10 juta, sama kan sama gaji 2 bulan kamu di sini?"
Jingga melirik pada amplop putih yang tergeletak di atas meja, ia merasa tertarik dengan penawaran Sarah, lagipula ia memang sedang ada kebutuhan mendesak.
"Baik mbak, saya bersedia" Katanya.
Sarah mengangguk puas.
...****************...
"Kamu lagi sibuk ya?" Tanya nindi pada David yang terlihat sangat serius.
"Hmm iya, kamu udah laper?"
"Lumayan sih"
"Sarah tiba tiba ngirimin file yang isinya perlu revisi semua, pengen aku marahin tapi kok gimana" Katanya.
"Jangan lah marah marah"
"Iya sayang"
"Aku boleh izin gak?"
"Kemana?" Tanyanya.
"Cafe deket kantor situ, mbak jingga ngajak aku makan siang di sana, sama mira"
"Aku gak ikut gak papa?"
"Gak apa apa kali, aku kan tau kamu lagi sibuk"
"Makasih sayang"
Nindi mengangguk pasti, lalu ia mencium pipi David singkat.
"Aku duluan ya?"
"Hati hati" David melambai tangan.
Nindi berjalan keluar dari ruangan nya, lalu David kembali melanjutkan pekerjaannya.
...****************...
"Tumben mbak Sarah yang beli kopi buat pak david?" Tanya Sri, seorang office girl yang sudah berusia kepala 5.
"Jangan banyak Tanya ya? saya gak suka!" Jawab Sarah tak ramah.
"Yaudah mbak saya beliin dulu"
Sarah mengangguk dan membiarkan wanita setengah tua itu pergi menuruti permintaannya.
Kemudian Sarah merogoh ponselnya dan menelpon jingga.
"Halo? udah kan?"
"Iya mbak, saya lagi nunggu dia dateng" Balas jingga.
"Makan siang di kantin?" Tanyanya.
"Kami mau makan siang di luar, sama mira juga, biar bisa ngulur waktu lebih lama" Katanya.
"Oke bagus!"
Sarah mematikan telponnya dan tersenyum lirik, wanita itu berlari kecil ke ruangannya kemudian.
...****************...
Nindi, mira dan jingga baru sampai pada cafe yang di tuju, ketiganya akan memesan makan siang di sini.
"Mbak jingga gausah keluar uang, biar aku aja yang traktir" Kata nindi.
Jingga tersenyum kecut, ada rasa bersalah di lubuk hatinya ketika ia menyadari sedang memanipulasi wanita sebaik nindi.
"Iya mbak! kan sekarang dia udah jadian sama pak David, anggep aja ini traktirannya" Tambah mira.
Jingga tersenyum canggung dan mengangguk kaku.
Saat ketiganya tengah melirik kesana kemari guna mencari tempat duduk tiba tiba saja mata nindi tak sengaja menangkap kehadiran seseorang yang memakai seragam kantor.
"Itu bukannya bu Sri ya?" Tanya nindi.
"Mana?" Mira menyahut.
"Lagi antri di kasir" Jawab nindi.
"Ohh iya, ngapain dia di sini?"
"Pasti lagi di suruh orang kantor buat beli makan siang" Kata jingga.
Baik mira dan nindi sama sama mengangguk setelah mendapat jawaban dari jingga.
"Kalian duduk aja biar aku yang ambil menu" Kata nindi.
"Makasih ya nin" Ucap jingga tulus.
Nindi berjalan ke arah meja kasir berniat mengambil buku menu sekaligus menyapa wanita tua itu.
"Bu?" Panggilnya.
"Eh bu bos!" Panggil Sri.
"Saya bukan bos" Sangkal nindi.
"Calon kan?" Sri meringis girang
"Lagi beli apa?" Tanya nindi.
"Americano!" Ucapnya sambil menunjukkan satu cup kopi.
"Siapa yang ngopi?"
"Pesenan bu Sarah, buat pak David" Jujur Sri.
Nindi melunturkan senyum nya, kenapa Sarah memesan kopi untuk David, sejujurnya ini terlihat normal, tapi anggap saja nindi kekanakan, ada sedikit rasa cemburu ketika orang lain menaruh perhatian pada kekasih nya.
"Kembaliannya 30 ribu silahkan" Ucapan sang kasir membuat nindi tersadar dari lamunannya.
"Saya duluan ya mbak nindi, assalamu'alaikum" Pamitnya.
"Waalaikumsallam" Jawab nindi ramah.
Gadis itu masih berdiri didepan meja kasir, sesekali ia menoleh ke arah Sri yang berjalan semakin menjauh darinya, ada perasaan yang tak bisa ia jelaskan.
"Permisi kak? menunya" Kasir itu menyerahkan 3 buku menu pada nindi.
"Oh terimakasih" Balas nindi ramah.
...****************...
Sri berlari kecil saat didepan lorong sana Sarah menunggu nya dengan raut wajah yang tak ramah.
"Lama banget sih!" Marahnya.
"Maaf Bu, antri" Katanya.
Sarah menyahut cup kopi tersebut dengan kasar dan berjalan cepat meninggalkan Sri ditempatnya.
"Wangi banget kaya mau kondangan" gumam Sri.
Sarah kini berada di depan ruangan David ia membenarkan helaian rambutnya dan membuka tiga kancing kemeja bagian atas miliknya sehingga kesan seksi semakin melekat.
Tok tok tok.
"Masuk!" Panggi David.
"Hai?" Sapanya setelah membuka pintu.
David berusaha mengukir senyum ramahnya, bagaimanapun ia harus bersikap ramah pada sarah agar hubungan mereka tetap baik.
"Ada apa?" Tanya David.
"Nothing" Katanya sembari terus berjalan mendekat.
"Sebenernya aku mau minta maaf atas sikap aku waktu itu, aku ngerasa gak sopan banget" Ujar Sarah pelan.
"It's okay, papa juga ngerti kok" Balas David.
"Aku lega deh kalo gitu, oiya ini sebagai tanda permintaan maaf aku buat kamu, aku beliin kamu Americano" Katanya.
"Terimakasih Sarah"
"Aku taruh sini ya?" Sarah meletakkan minuman yang sudah ia campur dengan obat perangsang itu diatas meja David.
"Thanks"