Rose Moore, seorang desainer perhiasan elit di Boston yang sukses dan cantik, mendapati dunianya hancur tepat di malam perayaan ulang tahun pernikahannya yang ke-2. Suaminya, Asher Hudson, seorang Direktur Pemasaran terpandang, ternyata telah menikah siri selama tiga bulan dengan wanita bernama Mia Ruller atas paksaan orang tuanya. Alasan keji di baliknya: Rose dianggap "tidak suci" karena masa lalunya yang yatim piatu dan tidak perawan, sementara keluarga Hudson menuntut ahli waris dari darah yang mereka anggap "murni".
Alih-alih menangis dan meminta cerai, Rose yang terluka memilih jalan yang lebih dingin, ia menerima pernikahan tersebut hanya demi mempertahankan status hukumnya. Ia bertekad menyiksa Asher secara mental, menguasai hartanya, dan menghancurkan reputasi keluarga Hudson yang sombong dari dalam.
Namun, rencana balas dendam Rose tergoncang saat ia secara tak sengaja bertemu kembali dengan Nikolai Volkov, kekasih masa SMA-nya dari Texas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34
Kantin Saint Vladimir Academy siang itu terasa riuh oleh denting alat makan perak dan obrolan rendah para pewaris takhta bisnis Rusia. Theodore duduk di meja tengah bersama Alexei dan beberapa teman sekelasnya, mendiskusikan pergerakan bursa saham Moskow dengan wajah yang tenang—masker yang selalu ia kenakan untuk menyembunyikan badai pikiran yang berkecamuk di kepalanya sejak sarapan tadi.
Tiba-tiba, suasana di meja itu berubah saat dua gadis berjalan mendekat. Stevie Zurcher datang dengan senyum lebar yang hampir menutupi seluruh wajahnya, tangannya melambai antusias. Di sampingnya, melangkah dengan tenang, adalah Felicya Thompson.
Theodore menarik napas dalam. Ia berusaha memaku pandangannya hanya pada Stevie. Namun, kontras di antara kedua gadis itu sungguh mencolok. Stevie, entah karena merasa kurang percaya diri atau terlalu bersemangat, mengulas blush-on merah muda yang semakin hari semakin tebal di pipinya, kontras dengan kulitnya yang putih. Sementara Felicya... ia tampak begitu anggun dalam kesederhanaan. Rambutnya terikat rapi, seragamnya tanpa cela, dan auranya memancarkan kelas yang tidak bisa dibeli dengan kosmetik semahal apa pun.
"Hai, Sayang!" Stevie langsung menghampiri Theo, duduk di sampingnya dan merangkul lengan Theo dengan posesif.
Felicya berdiri di sisi meja yang lain, memberikan anggukan sopan kepada teman-teman Theo. Theo memperhatikan satu hal: Felicya tidak pernah tertawa terbahak-bahak seperti gadis lainnya. Ia hanya akan tersenyum, sebuah senyum tipis yang tulus, manis, dan selalu diiringi oleh tatapan matanya yang teduh.
"Apa yang aku pikirkan?" batin Theo berteriak. Ia segera membuang muka saat menyadari ia telah menatap bibir Felicya yang bergerak lembut saat menyapa Alexei.
Stevie tidak membiarkan perhatian Theo beralih lama. Ia mulai bermanja, menyandarkan kepalanya di bahu Theo dan mulai berbisik, mengabaikan teman-teman di sekitar mereka. Suaranya rendah, namun penuh tuntutan.
"Kau masih berutang penjelasan soal chat semalam, Theo," bisik Stevie, jemarinya memainkan kancing seragam Theo.
Theo merasa tenggorokannya kering. Semalam, Stevie merajuk hebat di pesan singkat. Ia membahas soal "kepemilikan". Bagi Stevie, cinta berarti penyerahan total. Ia mengeluh karena selama sebulan ini, Theo hanya memberinya kecupan ringan di pipi atau kening. Bibir merah Theo yang tampak begitu menggoda belum pernah sekalipun melumat bibirnya dengan gairah yang ia dambakan.
"Stevie, ini kantin. Kita bahas nanti," jawab Theo pelan, mencoba menjaga martabatnya di depan teman-temannya.
"Kenapa nanti? Kau selalu bilang nanti," Stevie mendesis pelan, matanya menatap bibir Theo dengan rasa lapar yang sulit disembunyikan. "Kita sudah 18 tahun, Theo. Teman-temanku bahkan sudah melakukan lebih dari sekadar ciuman. Kenapa kau begitu kaku? Apa kau tidak menginginkanku?"
Theo terdiam. Di dunianya yang sekarang, di usia 18 tahun, seks dan ciuman panas memang bukan hal tabu. Apalagi di kalangan elit sekolah ini. Namun, entah kenapa, Theo merasa tidak tertarik. Ia merasa ada sesuatu yang suci yang harus ia jaga—bukan hanya soal moralitas, tapi soal koneksi yang ia rasa belum benar-benar ia temukan di dalam gairah fisik yang ditawarkan Stevie.
Stevie tiba-tiba berdiri dan menarik tangan Theo. "Ikut aku sebentar."
"Ke mana?"
"Ke atap sekolah. Hanya sepuluh menit sebelum bel masuk. Tidak akan ada orang di sana," Stevie memberikan tatapan "liar" yang ia pelajari dari majalah atau film. Ia ingin memaksa Theo untuk akhirnya menyerah pada keinginannya. Ia ingin ciuman pertama yang sesungguhnya—ciuman yang membuktikan bahwa Theo adalah miliknya sepenuhnya.
Theo menatap tangan Stevie yang menariknya, lalu ia melirik ke arah Felicya yang sedang berbincang tenang dengan Alexei tentang tugas sejarah. Mata Felicya sempat bertemu dengan mata Theo selama satu detik—dingin, namun menenangkan.
Theo melepaskan pegangan tangan Stevie dengan lembut namun tegas.
"Tidak, Stevie. Aku tidak akan ke atap sekolah untuk melakukan itu," ucap Theo pelan namun jelas. "Istirahat hampir habis, dan aku harus menyiapkan materi debat dengan Felicya di kelas sebelah."
Dunia seolah berhenti sejenak bagi Stevie. Wajahnya yang penuh blush-on itu kini memerah karena amarah yang sesungguhnya. Ia merasa ditolak di depan sahabatnya dan di depan teman-teman Theo.
"Lagi-lagi Felicya? Lagi-lagi debat?!" suara Stevie meninggi, membuat Felicya berhenti bicara dan menoleh ke arah mereka.
"Stevie, kecilkan suaramu," peringat Theo, rahangnya mengeras.
"Kenapa?! Kau malu karena punya pacar yang ingin kau cium?!" Stevie membanting tasnya ke atas meja. "Kau selalu menolakku, Theo! Kau menciumku seolah aku ini adik kecilmu atau ibumu! Aku kekasihmu! Apa kau sebenarnya tidak punya gairah padaku? Atau kau memang se-membosankan itu?!"
Theo berdiri, mencoba menenangkan Stevie, namun Stevie mundur selangkah. "Jangan sentuh aku! Kau bilang ingin menjagaku, tapi menurutku itu hanya alasan karena kau tidak benar-benar menginginkanku!"
Teman-teman Theo terdiam kaku. Alexei pura-pura sibuk dengan ponselnya. Sementara Felicya melangkah maju, mencoba menengahi. "Stevie, tenanglah. Mungkin Theo hanya sedang stres karena beban debat kita—"
"Jangan ikut campur, Fel!" bentak Stevie, membuat Felicya tertegun. "Kau tidak tahu rasanya memiliki pacar yang hanya berani mencium keningmu sementara kau sudah memberikan seluruh hatimu!"
Stevie menatap Theo dengan mata berkaca-kaca karena marah dan malu. "Jika kau lebih memilih buku debatmu daripada aku, lakukan saja! Jangan cari aku sampai kau sadar bahwa aku ini wanita, bukan pajangan!"
Stevie berbalik dan lari keluar dari kantin, meninggalkan keheningan yang menyakitkan.
Theodore berdiri mematung. Ia merasa lelah—lelah secara emosional menghadapi tuntutan Stevie yang semakin hari semakin liar dan tidak rasional baginya. Ia merasa tidak sanggup memberikan apa yang diminta Stevie jika itu hanya didasari oleh paksaan status.
"Theo..." suara Felicya terdengar sangat lembut di sampingnya.
Theo menoleh. Ia melihat mata teduh Felicya yang menatapnya dengan rasa prihatin, bukan dengan penghinaan atau tawa seperti yang lain.
"Maafkan Stevie. Dia hanya... terlalu takut kehilanganmu," ucap Felicya pelan.
Theo hanya bisa menghela napas panjang, menundukkan kepalanya sejenak. "Aku hanya ingin melakukan hal yang benar, Felicya. Tapi sepertinya hal yang benar bagiku adalah kesalahan besar baginya."
Saat Theo mendongak dan kembali menatap mata Felicya, ia merasakan kedamaian yang aneh mengalir di nadinya. Di tengah keributan dan amarah Stevie, kehadiran Felicya seperti oase. Dan Theodore menyadari satu hal yang menakutkan: ia lebih suka berdiri di sini, berdebat tentang logika dengan Felicya, daripada harus pergi ke atap sekolah dan berciuman panas dengan Stevie.
Kematangan emosional Theodore telah membuatnya berbeda dari pemuda seusianya, namun perbedaan itulah yang kini mulai mengoyak hubungannya dengan Stevie, dan tanpa ia sadari, menariknya semakin dekat ke arah gadis yang selama ini ia coba hindari tatapannya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰