NovelToon NovelToon
Disayangi Anak Mantan

Disayangi Anak Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama / Duda
Popularitas:16.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?

Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Lorong rumah sakit malam itu terasa lengang. Hanya sesekali terdengar suara langkah perawat yang melintas atau bunyi roda troli obat yang didorong pelan.

Andin berjalan dengan langkah tenang menuju pintu keluar. Tas kecilnya ia genggam erat, sementara pikirannya masih tertinggal di kamar rawat Darrel.

Anak itu akhirnya bisa tidur dengan nyenyak. Setidaknya itu membuat hatinya sedikit lega.

Begitu sampai di luar gedung rumah sakit, udara malam menyambutnya dengan hembusan dingin yang lembut. Andin berhenti sejenak di tangga depan, menarik napas panjang seolah mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Malam sudah cukup larut. Lampu-lampu jalan mulai redup dan kendaraan tidak lagi seramai sore tadi.

Andin menuruni tangga perlahan lalu berjalan menuju jalan raya. Ia berniat mencari ojek atau angkutan yang masih lewat untuk pulang ke kontrakannya.

Di belakangnya, Nathan keluar dari pintu rumah sakit beberapa detik kemudian.

Pria itu berdiri diam di depan gedung, matanya mengikuti sosok Andin yang berjalan menjauh.

Ada dorongan kuat di dalam dirinya untuk memanggil perempuan itu. Namun kata-kata yang hendak keluar kembali ia telan.

Nathan tahu Andin tidak ingin ditemani. Dan jika ia memaksakan diri, mungkin perempuan itu justru akan semakin menjauh.

Akhirnya Nathan melangkah menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana. Ia masuk ke dalam mobil, namun tidak langsung menyalakan mesin.

Dari balik kaca depan, ia masih bisa melihat Andin yang berjalan sendirian di tepi jalan.

Nathan menghela napas panjang.

“Sendirian lagi…” gumamnya lirih.

Beberapa detik kemudian mesin mobil menyala pelan.

Mobil itu bergerak perlahan… menjaga jarak. Nathan tidak berniat mendekati. Ia hanya mengikuti dari jauh, memastikan perempuan itu sampai dengan aman.

Lampu jalan memantul di kaca depan mobilnya. Bayangan Andin terlihat berjalan menyusuri trotoar yang mulai sepi.

Kadang perempuan itu berhenti sebentar, mungkin menunggu kendaraan lewat.

Namun tidak banyak kendaraan yang melintas malam itu. Nathan menggenggam setir dengan erat. Entah kenapa, melihat Andin berjalan sendirian seperti itu membuat dadanya terasa tidak nyaman.

Dulu, perempuan itu selalu berjalan di sampingnya.Kini bahkan untuk menemaninya pulang saja ia tidak diberi kesempatan.

Mobil terus bergerak perlahan mengikuti arah langkah Andin hingga akhirnya perempuan itu berbelok ke sebuah jalan yang lebih kecil.

Nathan mengenali tempat itu.

Gang menuju kontrakan Andin.

Ia sempat datang ke sana sebelumnya. Lampu di gang itu tidak terlalu terang. Hanya beberapa lampu kecil yang menggantung di depan rumah warga.

Nathan memperlambat mobilnya, tidak ingin terlihat terlalu mencolok. Andin terus berjalan tanpa menyadari bahwa ada seseorang yang mengikuti dari belakang.

Langkahnya terlihat lelah. Mungkin karena hari yang panjang… atau mungkin karena hatinya masih dipenuhi banyak hal yang tidak pernah ia ucapkan.

Ketika Andin hampir sampai di deretan kontrakan, tiba-tiba suara gaduh terdengar dari arah depan.

“Heeey…!” Seorang pria terdengar berteriak dengan suara tidak jelas.

Andin langsung menghentikan langkahnya.

Di bawah cahaya lampu jalan yang redup, terlihat seorang pria berdiri sempoyongan di dekat warung yang sudah tutup. Bau alkohol bahkan sudah tercium dari jarak beberapa meter.

Pria itu tertawa sendiri sambil memegang botol minuman yang hampir kosong.

Andin menahan napas. Ia tahu pria seperti itu. Orang mabuk yang tidak jelas pikirannya. Biasanya mereka hanya lewat, tapi kadang juga membuat masalah.

Andin mencoba berjalan melewati dengan cepat tanpa menatap ke arah pria itu.

Namun langkahnya terhenti ketika pria tersebut tiba-tiba memperhatikannya.

“Eh… eh… siapa itu?”

Pria itu memicingkan mata, mencoba fokus melihat sosok di depannya. “Perempuan ya?” katanya sambil tertawa kecil.

Andin menunduk sedikit, berusaha mengabaikannya dan melanjutkan langkah.

Namun pria itu malah berjalan mendekat dengan langkah terhuyung. “Sendirian malam-malam?” katanya dengan nada mengejek.

Andin mempercepat langkahnya, agar segera menjauh dari situasi seperti ini, Namun tangan pria itu tiba-tiba hampir menyentuh lengannya.

“Jangan buru-buru dong…” katanya menggoda. "Kita main-main dulu cantik."

Andin tak menggubris, tapi tangan pria itu semakin berani ingin menyentuhnya meskipun sudah ditepis beberapa, kali dan saat pria itu semakin nekad. Seketika sebuah suara berat terdengar dari belakang.

“Berhenti.”

Suara itu tenang… tapi tegas.

Pria mabuk itu menoleh dengan wajah bingung.

Nathan sudah berdiri beberapa langkah di belakang Andin. Ia turun dari mobilnya tanpa Andin sadari. Tatapannya dingin.

Tapi pria mabuk itu justru tertawa kecil.

“Siapa kamu?” tanyanya sambil terhuyung.

Nathan tidak menjawab.

Ia hanya berdiri di depan Andin, seolah menjadi penghalang antara perempuan itu dan pria tersebut.

“Pergi,” ucap Nathan singkat.

Nada suaranya rendah, tapi mengandung tekanan yang jelas.

Pria mabuk itu memandang Nathan beberapa detik. Mungkin karena pengaruh alkohol, ia sempat terlihat ingin melawan.

Namun melihat postur Nathan yang jauh lebih tegap, keberaniannya perlahan surut.

“Ah… pasangan ya?” gumamnya sambil tertawa kecil.

“Bilang dari tadi…”

Ia mengangkat tangan seolah menyerah, lalu berjalan menjauh dengan langkah goyah.

Beberapa detik kemudian suasana kembali sunyi. Hanya suara jangkrik malam yang terdengar samar.

Andin berdiri diam. Perempuan itu perlahan menoleh ke belakang. Dan benar saja.

Nathan.

Tatapan mereka bertemu lagi, namun kali ini Andin terlihat sedikit terkejut.

“Kamu…?” katanya pelan.

Nathan menggaruk tengkuknya sedikit canggung. “Aku cuma lewat.”

Jawaban itu bahkan terdengar tidak meyakinkan bagi dirinya sendiri.

Andin menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan. “Kamu mengikutiku?”

Nathan tidak langsung menjawab.

Keheningan menggantung di antara mereka beberapa detik saja, hingga pada akhirnya Nathan mulai membuka suara.

“Gang ini tidak terlalu aman malam hari,” ucap Nathan akhirnya.

Andin menghela napas pelan. “Tidak perlu melakukan itu.”

Nathan menatapnya serius. “Aku hanya memastikan kamu sampai dengan selamat.”

Andin hanya diam, entah kenapa hatinya masih enggan untuk melihat pria di hadapannya itu. Udara malam semakin sunyi, menciptakan menciptakan kecanggungan di lorong sempit itu.

“Terima kasih,” kata Andin datar.

Nathan sedikit terkejut mendengar kalimat itu.

Namun Andin langsung melanjutkan, “Sekarang kamu bisa pulang.”

Nathan menatapnya dalam-dalam. “Aku bisa mengantarmu sampai pintu.”

“Tidak perlu.”

Jawaban itu lagi, yang keluar dari mulutnya, pendek dan dingin.

Andin kemudian berjalan melewati Nathan menuju kontrakannya yang tidak jauh dari sana.

Nathan tetap berdiri di tempatnya, tidak memaksa untuk mengikuti lagi. Beberapa meter di depan, Andin akhirnya berhenti di depan pintu kontrakan kecilnya.

Ia mengeluarkan kunci dari dalam tas. Namun sebelum membuka pintu, Andin menoleh ke belakang. Nathan masih berdiri di sana.

Di bawah cahaya lampu jalan, pria itu tidak bergerak. Hanya memastikan Andin benar-benar sampai.

Andin menatapnya beberapa detik. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan di dalam hatinya. Namun perempuan itu akhirnya membuka pintu kontrakannya dan masuk ke dalam tanpa berkata apa-apa lagi.

Pintu itu tertutup perlahan. Nathan masih berdiri di tempatnya cukup lama. Memandang pintu yang kini memisahkan mereka.

Pria itu menghela napas panjang. “Mungkin… memang sejauh ini jarak yang pantas untukku,” gumamnya lirih.

Beberapa saat kemudian Nathan berbalik dan berjalan kembali menuju mobilnya.

Sementara di dalam kontrakan kecil itu, Andin bersandar di balik pintu yang baru saja ia tutup, matanya terpejam, tapi hatinya terasa aneh.

Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nathan tidak datang untuk menuduh tapi untuk melindungi.

Bersambung. . .

1
Soraya
lanjut
Lisa
Lembutkan hatimu Andin..Nathan sekarang sudah berubah..
kaylla salsabella
lanjut
ria rosiana dewi tyastuti
luka andin msh menganga ya.....
kaylla salsabella
syukur
Oma Gavin
sukurin rasakan kamu nathan makanya jgn goblok dipelihara percaya sama fitnah ibu mu makan itu derajat dan nama baik
Bunda Bagaz
bagus tpi syg up ny dikit.
Lisa
Nathan skrg menyesal tp itu tdk dpt mengembalikan nama baiknya Andin..gmn y hubungan mrk selanjutnya
Nar Sih: moga mereka clbk aja kak
total 1 replies
kaylla salsabella
penyesalan mu tiada artinya nathan🤣🤣
Soraya
lanjut thor
Nar Sih
ahir nya semua terungkap kan ,dan ibu mu dalang dri semua mslh mu dgn andin ,semagat nathan💪
Nar Sih
,saat nya ngk bisa ngelak lgi vivian🤣
kaylla salsabella
lanjut
kaylla salsabella
nah lo vivian🤣🤣
Lisa
Good job Nathan..biar kebenaran terungkap..bahwa ibumu yg memfitnah Andin..
Lisa
Pasti wanita itu disuruh oleh ibunya Nathan..ayo Nathan kamu harus bertindak tegas terhadap ibumu..
Oma Gavin
mampusss kamu vivian kali ini kepercayaan nya nathan terhadap diri mu sudah musnah
Mira Hastati
bagus
kaylla salsabella
eh kemana tuh ular betina tadi...... enak aja main pergi
Ayumarhumah: gak pergi cuma mundur
total 1 replies
Oma Gavin
nah diusut juga kejadian pagi ini pasti juga ulah ibumu jgn terus bodoh dikadalin ibumu kamu nathan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!