Elysia Sylphy, seorang siswi SMA biasa dari Bumi yang mahir kendo, tiba-tiba terlempar ke dunia fantasi ketika ia pulang dari kegiatan ekskul kendo nya, di dunia fantasi itu, ia harus selalu waspada dengan yg ada di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raphiel-Viel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2.4 Jurnal Mama dan Rahasia Darah
Pagi kedua di reruntuhan terasa lebih berat dari kemarin.
Kabut masih menyelimuti desa seperti selimut tipis yang basah. Udara dingin menusuk tulang, bercampur bau tanah lembab dan kayu lapuk yang sudah lama tak tersentuh. Api unggun semalam sudah padam jadi abu abu, tinggal bara kecil yang aku hidupkan lagi dengan ranting kering. Nyx duduk di atas selimut yang sama, jurnal Mama-nya terbuka di pangkuan. Matanya merah karena kurang tidur, tapi tidak bengkak lagi seperti kemarin. Dia sudah menangis cukup banyak malam tadi—diam-diam, saat aku pura-pura tidur.
Aku duduk di seberangnya, menyodorkan roti hangat yang aku bakar di bara. “Makan dulu. Nanti baca sambil makan, biar tidak pusing.”
Dia menggeleng pelan. “Aku… sudah baca sampai akhir semalam. Setelah Kak Ely tidur.”
Aku berhenti mengunyah. “Dan?”
Nyx menarik napas dalam-dalam. Telinganya merunduk sedikit, tapi tidak sepenuhnya—seperti sedang berusaha tetap tegar.
“Mama menulis… kalau Guardian of the Night bukan cuma penjaga pintu Nothingness. Kami juga… penjaga mimpi. Darah kami bisa masuk ke mimpi orang lain, melihat rahasia yang disembunyikan, bahkan mengubah mimpi buruk jadi sesuatu yang lebih ringan. Tapi harganya besar. Setiap kali masuk mimpi, darah kami berkurang sedikit. Lama-lama… tubuh kami akan habis.”
Dia berhenti, jarinya menelusuri baris terakhir halaman.
*“Kalau penerus terakhir menggunakan kekuatan penuh untuk menyegel The Ancient One, dia tidak akan kembali. Tubuhnya akan menjadi bagian dari Nothingness. Tapi dunia akan selamat. Itu pilihan terakhir. Aku harap Nyx tidak pernah harus memilih itu. Aku harap dia bisa hidup normal, seperti anak-anak lain.”*
Suara Nyx pecah di kata terakhir. Dia menutup jurnal pelan, seperti takut kata-kata itu akan melompat keluar dan menjadi kenyataan.
“Aku… aku tidak mau mati, Kak Ely. Aku takut. Tapi kalau aku tidak lakukan apa-apa… kalau The Ancient One bangun… semua orang yang aku sayang akan hilang. Lyre, Cae… kau…”
Aku taruh roti yang belum habis, lalu pindah duduk di sampingnya. Bahu kami bersentuhan. Dingin pagi masih ada, tapi kehangatan tubuh kecilnya terasa nyata.
“Kau tidak harus memilih sekarang,” kataku pelan. “Mama-mu juga tidak mau kau memilih itu. Dia menulis supaya kau tahu, bukan supaya kau langsung menyerahkan diri. Kita masih punya waktu. Kita cari tahu dulu cara lain. Mungkin ada celah. Mungkin darahmu tidak harus habis total.”
Nyx menoleh. Matanya basah, tapi ada sesuatu yang berbeda—bukan cuma ketakutan, tapi juga kemarahan kecil yang baru lahir.
“Aku benci mereka. Ordo Gerhana. Mereka yang bakar desa. Mereka yang bikin Mama takut setiap malam. Mereka yang bilang darahku kutukan. Aku… aku mau lawan mereka. Bukan cuma lari atau sembunyi.”
Aku mengangguk pelan. “Bagus. Karena aku juga benci mereka. Dan aku tidak akan biarkan mereka sentuh kau.”
Dia diam sejenak. Lalu tangannya meraih tanganku lagi—kali ini lebih kuat, bukan cuma mencengkeram, tapi seperti sedang memegang janji.
“Kak Ely… ajarin aku bertarung. Bukan cuma buff. Aku mau bisa lindungi diri sendiri. Kalau mereka datang lagi… aku tidak mau cuma berdiri di belakang.”
Aku tersenyum kecil—senyum yang jarang aku keluarkan, tapi terasa pas saat ini.
“Baik. Mulai dari dasar. Pedang terlalu berat buatmu sekarang, tapi kita bisa mulai dari gerakan tubuh dan mana. Dan buff-mu… kita tingkatkan. Kalau kau bisa masuk mimpi, mungkin kau juga bisa masuk pikiran musuh—lihat gerakan mereka sebelum mereka gerak.”
Nyx mengangguk cepat. Ekornya bergoyang pelan di belakang—pertama kalinya sejak kemarin dia menunjukkan tanda senang.
Kami latihan di lapangan kecil dekat reruntuhan—jauh dari pintu gua supaya tidak memancing apa pun yang ada di balik sana. Aku ajarin dia kuda-kuda dasar kendo: posisi kaki, pernapasan, cara mengalirkan mana ke otot tanpa mantra panjang. Nyx cepat tangkap—mungkin karena darah Guardian-nya memang lebih peka pada mana gelap dan bayangan.
Saat matahari naik lebih tinggi, dia berhasil membuat buff kecil yang tidak hanya meningkatkan kekuatan, tapi juga membuat bayanganku sedikit lebih samar—seperti siluet yang bergeser sendiri. Aku hampir tertawa saat melihat diriku sendiri di mata Nyx: seperti bayangan hitam yang bergerak lebih cepat dari tubuh asli.
“Kau… hampir seperti Night Whisper,” kataku setengah bercanda.
Nyx tersipu. “Mama pernah bilang… Guardian terakhir bisa jadi bayangan itu sendiri kalau sudah kuasai. Tapi… aku belum mau jadi bayangan. Aku masih mau jadi Nyx.”
Aku mengacak rambut hitamnya yang basah keringat. “Bagus. Tetap jadi Nyx. Bayangan bisa menyatu kapan saja. Tapi Nyx… Nyx cuma ada satu.”
Dia tersenyum lebar—senyum pertama yang benar-benar cerah sejak kami tiba di sini.
Sore itu kami kembali ke gua, tapi tidak masuk terlalu dalam. Cuma duduk di mulut gua, membaca ulang bagian jurnal yang Nyx tandai. Ada satu kalimat yang aku perhatikan:
*“Pemanggil asli Ely… dia yang membawa orang dari dunia lain. Dia tahu rahasia darah kami. Kalau suatu hari Guardian bertemu pemanggil itu, mungkin ada jalan lain. Tapi hati-hati. Pemanggil itu bukan teman. Dia cuma ingin The Ancient One bangun supaya dia bisa menguasai kekuatannya.”*
Aku membeku membaca nama “Ely”.
Nyx menatapku. “Kak Ely… nama itu… sama dengan nama Kakak.”
Aku tarik napas panjang. Dadaku terasa sesak, tapi bukan karena takut—lebih seperti ada potongan puzzle yang tiba-tiba muncul.
“Mungkin… bukan kebetulan aku dipanggil ke dunia ini.”
Nyx pegang tanganku erat lagi.
“Kalau begitu… kita cari tahu siapa pemanggil itu. Bareng.”
Aku mengangguk. “Bareng.”
Matahari mulai condong ke barat lagi. Kabut mulai naik dari tanah. Kami tahu besok harus pulang ke Eldoria—Lyre pasti sudah khawatir. Tapi sebelum itu, ada satu hal yang harus kami lakukan.
Kami harus masuk gua lebih dalam. Bukan untuk membuka pintu. Bukan untuk memanggil apa pun.
Cuma untuk melihat—apa yang sebenarnya disembunyikan di balik pintu itu.
Dan kalau ada jawaban tentang “Pemanggil asli Ely”… kami akan ambil.