NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Pendekar Naga

Reinkarnasi Pendekar Naga

Status: tamat
Genre:Action / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Jian Yi dan para rekannya gugur setelah menantang kekuatan besar Kekaisaran Pusat. Pertempuran itu seharusnya menjadi akhir dari segalanya bagi mereka.

Namun saat kesadaran Jian Yi memudar, sebuah keajaiban terjadi. Berkat campur tangan Raja Naga, mereka diberi kesempatan kedua—sebuah reinkarnasi yang mengubah takdir mereka.

Terlahir kembali di dunia yang sama namun dengan kehidupan baru, Jian Yi menyimpan satu janji dalam hatinya: membalas kehancuran yang dialaminya dan melampaui semua batas kekuatan.

Kali ini, dia tidak akan jatuh lagi.
Tapi di dunia yang dipenuhi kultivator kuat, sekte kuno, dan kekaisaran yang menguasai segalanya …

Mampukah Jian Yi benar-benar bangkit, menuntut balas, dan mencapai puncak kekuatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Intimidasi tak berujung

Lembah Terlarang yang semula menjadi saksi bisu kebrutalan, kini berubah menjadi ruang hampa yang mencekam.

Saat cengkeraman Wei Bo semakin mengerat di leher Jian Yi, pria itu tiba-tiba membeku.

​Mata Jian Yi tidak lagi mencerminkan mata seorang bocah. Di balik pupilnya, ada kehampaan yang sanggup menelan cahaya.

Wei Bo merasa dunianya seolah runtuh, kesadarannya tersedot paksa ke dalam dimensi kegelapan yang tak berujung.

​Di sana, di tengah keheningan abadi, sepasang mata sebesar gunung terbuka.

Sebuah kepala Naga Emas raksasa muncul dari kegelapan, sisiknya berkilau seperti matahari yang meledak.

Tekanan auranya begitu dahsyat hingga jiwa Wei Bo merasa hancur berkeping-keping.

​"R-raja ... Naga ...?" Wei Bo berteriak tanpa suara, tubuhnya bergetar hebat dalam teror yang belum pernah ia bayangkan.

​Seketika, kesadarannya tersentak kembali ke dunia nyata.

Ia melepaskan leher Jian Yi seolah-olah baru saja menyentuh besi panas yang membara. Wei Bo terhuyung mundur, wajahnya pucat pasi, napasnya terputus-putus.

​"Ayah? Ada apa denganmu?" tanya Wei Yan dengan kebingungan yang bercampur takut.

​Wei Bo berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu gila. Ia menatap telapak tangannya sendiri. "Halusinasi? Pasti halusinasi. Aku terlalu banyak membaca sejarah kuno tentang Penguasa Naga yang telah punah itu," batinnya mencoba menyangkal realitas yang baru saja menghancurkan mentalnya.

​Jian Yi terjatuh di tanah, terbatuk darah yang kental. Namun, dengan gemetar, ia merayap mengambil pedangnya.

Ia menggunakan bilah pedang itu sebagai tumpuan untuk berdiri kembali.

Tubuhnya kini dipenuhi luka sobek dan tulang yang retak, namun matanya tetap tajam menghujam Wei Bo.

​"Aku menantangmu ..." suara Jian Yi terdengar parau, namun bergetar dengan otoritas yang tak terbantahkan. " ... duel hidup dan mati!"

​SRAK!

​Jian Yi mengayunkan pedangnya dengan sisa tenaga, menebas pohon besar di sampingnya hingga hancur berkeping-keping.

Itu bukan sekadar kekuatan fisik, tapi ledakan Qi yang dipicu oleh amarah murni.

​"Mulai sekarang ... aku memiliki Prinsip! Siapa saja yang berani membuat orang terdekatku meneteskan darah dari tubuhnya ... maka aku akan membalasnya dengan menumpahkan darah seluruh keluarga mereka!"

​Jian Yi melangkah maju, darah menetes dari setiap ujung jemarinya. "Dan jika kau tidak dapat membunuhku sekarang, maka kau telah mendapatkan tiket kematian dan kehancuran keluargamu di masa depan!"

​Wei Bo baru saja hendak meledakkan amarahnya kembali saat tanah di bawah mereka bergetar hebat.

Seekor Ular Biru Raksasa, penghuni purba lembah tersebut, muncul dari balik kabut. Makhluk itu adalah penguasa kematian di sini.

​"Sial! Makhluk itu bangun! Wei Yan, lari! Kita pergi sekarang!" teriak Wei Bo. Pengecut di dalam dirinya lebih besar daripada dendamnya. Ia melesat pergi meninggalkan lembah, mengabaikan tantangan Jian Yi.

​"KEMBALILAH, KEPARAAAT!" raung Jian Yi ke arah kabut yang kosong.

​Ular raksasa itu kini berada tepat di belakang Jian Yi, mulutnya terbuka lebar dengan taring yang meneteskan bisa asam.

Namun, Jian Yi perlahan berbalik. Ia hanya memberikan satu tatapan mata—pupilnya memanjang, berubah menjadi mata vertikal emas naga.

​WHOSH!

​Ular itu seketika mengerem gerakannya. Insting purba di dalam darahnya menjerit bahwa makhluk di depannya adalah Predator Puncak yang melampaui rantai makanan apa pun.

Tanpa menunggu sedetik pun, ular raksasa itu berbalik dan melata kabur ke dalam kegelapan terdalam, gemetar karena ketakutan.

​Keheningan kembali menyelimuti lembah. Jian Yi jatuh berlutut, pandangannya mulai berbayang. Namun, ia melihat Lu Feng yang sekarat dan A-Lang yang pingsan dalam genangan darah.

​"B-bertahanlah ..." gumamnya.

​Dengan tangan yang gemetar, Jian Yi mengangkat tubuh Lu Feng yang jauh lebih berat darinya dan menggendongnya di punggung.

Dengan kekuatan tekad yang melampaui batas manusia, ia merangkak ke arah A-Lang, memangku bocah itu di bagian depan tubuhnya, dan menggunakan pundaknya yang tersisa untuk memanggul ibu A-Lang yang masih lemas.

​Jian Yi mulai berjalan. Setiap langkahnya meninggalkan jejak kaki berdarah di atas tanah lembah yang dingin.

​UHUK!

​Ia kembali batuk darah, mengotori seragamnya yang kini sudah berubah merah pekat. Pandangannya mulai memburuk, hanya tersisa titik-titik cahaya samar di kejauhan.

Rasa sakit di organ dalamnya terasa seperti ditusuk ribuan jarum, namun ia terus melangkah.

​"Aku tidak akan membiarkan kalian mati," batinnya berteriak di tengah kesunyian jiwanya. "Aku pasti akan menyelamatkan kalian."

​Satu kilometer, dua kilometer, Jian Yi melewati hutan, masuk ke pinggiran kota yang sepi di bawah fajar yang mulai menyingsing.

Penduduk yang bangun pagi hanya bisa terpaku melihat sosok bocah kecil yang bersimbah darah, membawa tiga orang di tubuhnya dengan langkah yang goyah namun tak berhenti.

​Saat gerbang Kediaman Jian terlihat di depan mata, kekuatan Jian Yi benar-benar mencapai titik nadirnya. Ia melihat ayahnya, Jian Hong, berlari keluar dengan wajah penuh kengerian.

​Jian Yi memberikan senyum tipis yang menyakitkan. Begitu ia merasakan tangan ayahnya menyentuh bahunya, semua beban di tubuhnya terlepas. Pandangannya menjadi gelap total.

​Jian Yi pingsan dalam pelukan ayahnya, dengan tubuh yang masih memeluk erat A-Lang dan Lu Feng.

Pagi itu, Kota Zamrud tidak disambut oleh kicauan burung, melainkan oleh teriakan pilu seorang ayah.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

𝗝𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗨𝗣𝗔 𝗧𝗜𝗡𝗚𝗚𝗔𝗟𝗞𝗔𝗡 𝗝𝗘𝗝𝗔𝗞 𝗗𝗘𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗜𝗞𝗘 ... 𝗛𝗘𝗛𝗘🏁

1
Nanik S
Lanjut terus
Agen One
UP nya santai dulu ya🙏
Agen One
😅
Agen One
🍗
Agen One
🔥🙏
Agen One
🙏
Agen One
👍🙏
Agen One
🚹🙏
Agen One
🤭🙏
Agen One
🙏
Agen One
/Smile/
Agen One
🙏
Agen One
😅
Agen One
🔥🍗
Agen One
👍🍗
Agen One
🚹🍗
Agen One
🍗
Agen One
🤭/Smile/
Agen One
😅🙏
Agen One
🔥🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!