NovelToon NovelToon
Sinyal Cinta Sang Teknisi

Sinyal Cinta Sang Teknisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:761
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Di dalam ruangan Pak Gio, Abraham menjawab dengan suara yang berat dan mantap.

"Yakin, Pak. Seratus persen. Deddy lebih punya bakat mengatur orang, sementara saya lebih tenang kalau tangan saya masih kotor kena oli dan debu tower," ucapnya disambut tepuk tangan riuh dan pelukan haru dari Deddy yang hampir menangis.

Namun, di sudut lain mess yang seharusnya menjadi tempat aman, suasana mendadak mencekam.

Prita baru saja menutup pintu kamar dan hendak duduk di tepi ranjang untuk merapikan sisa belanjaan semalam.

Tiba-tiba, pintu kamar diketuk dengan kasar—bukan ketukan akrab teman-teman mess, melainkan gedoran yang membawa hawa dingin.

Saat Prita membukanya, jantungnya seolah berhenti berdetak.

Di depannya berdiri Ayah kandung Abraham dan Ibu tirinya yang datang dengan wajah penuh keangkuhan.

Tanpa permisi, mereka menerobos masuk ke kamar sempit itu.

"Jadi di sini kamu menyembunyikan anak saya? Di tempat kumuh seperti ini?" sindir Ibu tirinya sambil menutup hidung dengan sapu tangan.

Ayah Abraham hanya diam mematung dengan wajah kaku, seolah membiarkan istrinya mengambil kendali.

"Keluar kamu dari hidup Abraham!" bentak wanita itu.

Tiba-tiba, ia merogoh tasnya dan melemparkan seikat uang tunai senilai sepuluh juta rupiah tepat ke muka Prita.

Lembaran uang itu berhamburan di lantai mess yang dingin.

Prita tertegun. Rasa panas menjalar di dadanya, bukan karena marah yang meledak, melainkan karena harga dirinya yang diinjak-injak. Namun, Prita bukan lagi wanita lemah yang mudah digertak.

Dengan tangan gemetar di balik saku daster, ia menekan tombol rekaman di ponsel barunya—ponsel yang tadinya ingin ia gunakan untuk mendengar suara rindu suaminya, kini menjadi senjata pertahanan.

"Ambil uang itu dan pergi! Tinggalkan Abraham sekarang juga!" teriak Ibu tirinya lagi dengan nada menghina.

"Kenapa saya harus pergi, Bu? Saya istri sahnya," suara Prita terdengar bergetar namun berusaha tegar.

"Istri sah? Kamu itu cuma beban! Dengar ya, Prita, tinggalkan Ham sekarang juga biar dia bisa menikah dengan bidan desa yang cantik dan kaya di kampung kami. Dia sudah punya segalanya, tidak seperti kamu yang cuma bisa numpang hidup di mess butut ini!"

Wanita itu meludah ke arah lantai, tepat di samping tumpukan uang tadi.

"Abraham itu punya masa depan cerah kalau tidak sama kamu. Kamu hanya penghalang!"

Prita terdiam, matanya menatap tajam ke arah ponsel yang masih merekam setiap kata-kata berbisa itu. Ia tahu, rekaman ini akan menjadi bukti kuat untuk menunjukkan kepada Abraham siapa sebenarnya orang-orang yang selama ini ia hormati.

Prita berusaha sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak tumpah di depan dua orang yang begitu membencinya.

Ia membiarkan ibu tiri Abraham terus memaki dan menghinanya sampai akhirnya wanita itu merasa puas dan melangkah keluar kamar dengan angkuh, diikuti oleh ayah Abraham yang tetap membisu.

"Sabar, Prita. Sabar," gumam Prita lirih sambil mengelus dadanya yang terasa sesak.

Ia melihat uang sepuluh juta yang berantakan di lantai, lalu perlahan mematikan rekaman di ponselnya.

Tangannya gemetar saat memungut lembaran-lembaran uang itu, bukan karena ingin memilikinya, tapi karena ia merasa harga dirinya baru saja diinjak-injak dengan sangat keji.

Sementara itu, di ruang Pak Gio, suasana penuh haru dan tawa masih menyelimuti Deddy.

Setelah menandatangani surat pernyataan, Deddy menepuk dadanya dengan bangga.

"Ayo kita lekas mulai pekerjaan ini! Tim lapangan, segera siapkan peralatan. Kita ada titik gangguan di Gondanglegi!" seru Deddy dengan semangat supervisor barunya.

Para teknisi langsung bubar dan bersiap-siap. Abraham, yang selalu disiplin, segera menuju ke kamar mess-nya untuk mengambil tas pinggang berisi peralatan kecil dan berpamitan pada Prita sebelum berangkat ke Gondanglegi.

Namun, saat Abraham membuka pintu kamar dengan senyum yang masih mengembang, senyum itu langsung sirna. Ia terpaku di ambang pintu.

Ia melihat Prita sedang duduk bersimpuh di lantai di samping tumpukan uang, bahunya berguncang hebat, dan suara tangis sesenggukan yang menyayat hati terdengar memenuhi ruangan.

"Prita?! Sayang, ada apa ini?" seru Abraham panik.

Ia langsung menghambur ke arah istrinya dan berlutut, memegang bahu Prita dengan cemas.

Matanya kemudian tertuju pada uang yang berserakan dan wajah Prita yang sembab.

"Siapa yang datang ke sini? Kenapa ada uang sebanyak ini, Prita?"

Prita dengan tangan gemetar menyodorkan ponsel baru itu kepada Abraham.

Suara rekaman yang berisi cacian ibu tirinya serta rencana menjodohkan Abraham dengan bidan desa terdengar jelas di keheningan kamar.

Abraham terdiam membeku. Rahangnya mengeras, namun sorot matanya perlahan berubah menjadi kekecewaan yang mendalam terhadap keluarganya sendiri.

Ia menghela napas panjang, mencoba meredam amarah yang bergejolak di dadanya agar tidak menakuti istrinya.

"Mas tidak menyangka mereka setega itu, Dik..." ucap Abraham pelan.

Ia menarik Prita ke dalam pelukannya, berusaha memberikan perlindungan yang paling kokoh.

"Maafkan Mas karena keluargaku sudah menyakitimu sedalam ini."

Abraham mengusap air mata di pipi Prita dengan ibu jarinya.

"Nanti malam, setelah Mas pulang dari lapangan, Mas akan mengajakmu ke Gunung Kawi. Kita cari udara segar di sana, biar kamu bisa tenang dan melupakan semua kejadian pahit ini."

Prita hanya terdiam, namun tatapan hangat suaminya sedikit mengurangi rasa sesak di dadanya.

"Mas hari ini harus ke Gondanglegi dulu bersama tim. Mas janji akan lekas pulang. Kamu di mess saja, kunci pintunya ya," pesan Abraham sungguh-sungguh.

Prita menganggukkan kepalanya perlahan, mencoba memberikan senyum tipis sebagai tanda bahwa ia akan baik-baik saja selama Abraham berada di pihaknya.

Abraham mengecup kening Prita lama, lalu dengan berat hati ia berdiri, menyampirkan tas peralatannya, dan melangkah keluar menuju truk teknisi yang sudah menderu di halaman mess.

Prita memungut lembaran-lembaran uang sepuluh juta itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

Ia tidak sudi menyentuh uang itu untuk kebutuhan pribadinya, maka ia memutuskan untuk membundelnya rapi dan menyimpannya di bagian paling dalam lemari pakaian Abraham.

Biarlah suaminya yang memutuskan apa yang harus dilakukan dengan uang "penghinaan" itu nanti.

Sementara itu, di bawah terik matahari Gondanglegi, suasana kerja terasa sangat sibuk.

Kabel-kabel optik menjuntai, dan suara teriakan teknisi saling bersahutan.

Abraham sedang sibuk memeriksa kotak panel di bawah tiang saat sebuah mobil sedan putih berhenti tak jauh dari lokasi kerja mereka.

Seorang wanita turun dengan anggun. Ia mengenakan seragam putih bersih khas tenaga medis, penampilannya kontras dengan lingkungan lapangan yang berdebu.

"Permisi, Mas Ham?" sapa suara lembut yang sangat familiar di telinga Abraham.

Abraham menoleh dan seketika tertegun. Jantungnya mencelos melihat sosok yang berdiri di depannya.

"Diana?" ucap Abraham tak percaya.

Diana, bidan desa yang baru saja disebutkan dalam rekaman suara ibu tirinya, tersenyum manis.

Ia membawa sebuah bungkusan plastik berisi beberapa botol minuman dingin dan kotak makanan.

"Kebetulan aku ada tugas di puskesmas dekat sini, terus tadi Ibu bilang kalau Mas Ham lagi ada proyek di Gondanglegi. Jadi sekalian mampir buat hantar makan siang," ujar Diana dengan nada bicara yang tenang dan penuh perhatian, seolah-olah ia tidak tahu bahwa Abraham sudah memiliki istri yang sah.

Deddy dan rekan teknisi lainnya yang sedang bekerja di atas tangga langsung menoleh ke bawah.

Mereka saling pandang, merasa ada suasana yang tidak beres.

Deddy, yang sudah tahu masalah rumah tangga sahabatnya semalam, langsung mengerutkan kening.

"Wah, siapa ini, Bram? Kok perhatian sekali?" celetuk salah satu teknisi yang belum tahu duduk perkaranya.

Abraham menarik napas dalam-dalam. Ia teringat wajah Prita yang sembab tadi pagi dan rekaman suara di ponsel.

Kehadiran Diana di sini bukan lagi sebuah kebetulan, melainkan bagian dari rencana licik ibu tirinya.

1
Amiera Syaqilla
hello author🤗
my name is pho: hai kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!