NovelToon NovelToon
Kupilih Dirimu

Kupilih Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 2 PEREMPUAN YANG DIPILIH TANPA CINTA

Ruang tamu hotel itu terlalu luas untuk pertemuan yang seharusnya sederhana.

Sofa kulit berwarna gelap berjajar rapi, meja kaca berkilau, aroma kopi mahal menggantung di udara. Semuanya terasa asing bagi seorang gadis yang duduk kaku di ujung sofa.

Tangannya saling menggenggam di pangkuan.

Kuku-kukunya menekan kulit sendiri, berusaha menahan gemetar.

Di sampingnya, ibunya duduk tegak. Terlalu tegak. Wajahnya dipoles senyum yang dipaksakan-jenis senyum yang hanya muncul kalau ada orang "berduit" di depan mata.

"Hey duduk yang manis, jangan nunduk saja, macam mau ditagih hutang" bisik ibunya tanpa menoleh. "Jangan bikin malu kamu, bantu hilangkan beban kami."

Gadis itu mengangguk kecil.

Pintu terbuka.

Suara langkah sepatu terdengar tenang, teratur. Bukan langkah orang yang ragu. Bukan pula langkah orang yang datang untuk memohon.

Ia masuk bersama seorang pria lain-mungkin asisten. Jas hitamnya rapi, wajahnya dingin, sorot matanya datar seolah ruangan ini hanya persinggahan yang tidak penting.

Gadis itu refleks menunduk.

Ibunya langsung berdiri.

"Ah, silakan Tuan Muda. Kami baru saja sampai kok. Ini lelet banget, dandannya lama banget" Si Gadis menoleh sedikit, "dandan? Dengan model seperti ini?"batin si Gadis

Pemuda itu duduk tanpa basa-basi. Tatapannya sekilas menyapu ruangan, lalu berhenti… pada gadis itu.

Bukan tatapan menilai.

Bukan pula tertarik.

Lebih seperti… memastikan barang masih ada di tempatnya.

"Hm," gumamnya singkat.

Ibunya tersenyum lebih lebar.

"Anak saya ini memang pendiam. Dari kecil begitu. Nggak banyak tingkah. Anaknya manut Tuan Muda. Apa yang disuruh pasti dikerjakan sama dia."

Seolah sifat itu prestasi.

Pemuda itu menyandarkan punggung.

"Saya tidak punya banyak waktu."

Ibunya terkekeh kecil.

"Tentu, tentu. Orang besar pasti sibuk."

Gadis itu tetap menunduk. Ia merasa seperti boneka pajangan. Dipindah-pindah tanpa ditanya.

Pemuda itu akhirnya bicara, suaranya datar, tidak naik tidak turun.

"Saya akan langsung ke inti."

Ibunya mengangguk cepat.

"Oh, iya, iya."

Ia menoleh ke gadis itu.

"Kamu dengar baik-baik."

Pemuda itu menatap gadis itu lagi. Kali ini lebih lama.

"Kita akan menikah."

Kalimat itu jatuh begitu saja.

Tidak ada penekanan.

Tidak ada emosi.

Gadis itu mengangkat kepala pelan. Matanya membesar, tapi bibirnya tidak bergerak. Suaranya tertahan di tenggorokan.

Ibunya yang lebih dulu bersuara.

"Menikah?"

Nada suaranya campur aduk antara kaget dan… senang yang terlalu cepat.

"Sebulan," lanjut pemuda itu. "Paling lambat."

Ibunya menutup mulut, pura-pura terkejut.

"Aduh… ini… ini terlalu tiba-tiba."

Tapi matanya berbinar.

"Tenang," kata pemuda itu. "Ini bukan pernikahan biasa."

Ia mengeluarkan map tipis dari tas asistennya. Ditaruh di atas meja kaca. Dan disbelah ada koper. Mata si Ibu berbinar melihat koper itu. "Hehehe, akhirnya aku bisa belanja-belanja beli perhiasa, baju-baju... beli HP hahahaha... pokoknya harus puas berbelanja"batin si Ibu.

"Kawin kontrak."

Sunyi.

Ibunya menoleh cepat ke arah gadis itu.

"Kamu dengar itu?"

Gadis itu menelan ludah.

"Iya, Bu."

Pemuda itu membuka map. Isinya beberapa lembar kertas.

"Aturannya jelas."

Satu jari mengetuk meja pelan.

"Kau akan menjadi istri saya di atas kertas."

"Tidak lebih."

Ibunya condong ke depan, matanya mengikuti setiap gerak.

"Lalu… soal tanggung jawab? Buat kami orang tuanya"

Pemuda itu melirik singkat.

"Kebutuhan hidup dasar akan saya tanggung." Kata pemuda sambil melihat ke arah koper.

Ibunya mengangguk-angguk.

"Rumah? Mobil?Kebutuhan sehari-hari?"

"Ada," jawabnya pendek. Dan Ibu si gadis semakin berbinar-binar. Jadi orang kaya mendadak, betapa beruntungnya batin si ibu.

"Lalu buat dia?"si ibu menunjuk Gadis.

"Ada, tidak akan kelaparan"jawab si Pemuda singkat.

Gadis itu masih diam.

Pemuda itu melanjutkan, nadanya tetap dingin.

"Kau tidak perlu mencintaiku."

"Dan aku juga tidak akan mencintaimu."

Ibunya tertawa kecil.

"Ah… anak saya memang nggak neko-neko. Nggak akan nuntut yang aneh-aneh."

Ia menoleh ke gadis itu.

"Iya, kan?"

Gadis itu mengangguk.

Pemuda itu menatap gadis itu lebih tajam.

"Ada syarat lain."

Ia berhenti sejenak, seolah memastikan kata-katanya didengar dengan jelas.

"Kau tidak ikut campur urusan keluarga saya."

"Tidak bertanya."

"Tidak menuntut."

"Dan tahu diri."

Kata terakhir itu jatuh lebih berat.

Ibunya tersenyum lebar.

"Itu sudah pasti. Anak saya ini tahu diri dari kecil."

Pemuda itu tidak ikut tersenyum.

"Kau juga tidak akan mendapatkan apa pun dari pernikahan ini," lanjutnya.

"Jangan berharap kita berjalan-jalan bersama."

"Liburan bersama."

Ibunya cepat menyahut,

"Oh tidak, tidak. Kami tidak mengharapkan apa-apa."

Gadis itu menunduk lagi.

Pemuda itu menyandarkan tubuh.

"Sebagai gantinya, kau akan keluar dari hidup keluargamu sekarang."

Ibunya terdiam sepersekian detik.

Lalu tertawa kecil.

"Ya… itu juga bagus. Daripada di rumah bikin sempit."

Gadis itu menggenggam tangannya lebih erat.

Pemuda itu berdiri.

"Pikirkan malam ini."

Ia melirik jam tangannya.

"Besok, saya ingin jawaban."

Ibunya ikut berdiri.

"Tentu. Kami akan pertimbangkan baik-baik."

Pemuda itu berhenti di depan gadis itu.

"Dan satu hal."

Gadis itu mendongak.

"Kalau kau setuju," katanya pelan, "jangan berharap diperlakukan seperti istri sungguhan."

Ia berbalik.

"Karena kau bukan istri sesungguhnya."

Pintu tertutup.

Sunyi kembali mengendap.

Ibunya menghembuskan napas panjang, lalu menoleh tajam.

"Kamu dengar semua itu?"

"Iya, Bu."

Ibunya mendecak.

"Ya bagus. Nggak usah sok kaget."

Ia berdiri, merapikan tasnya.

"Ini kesempatan."

Gadis itu berbisik,

"Kesempatan apa, Bu?"

Ibunya tertawa kecil, tapi tawanya dingin.

"Kesempatan keluar dari rumah ini."

Ia mendekat, suaranya diturunkan tapi tajam.

"Kamu pikir ada berapa laki-laki kaya yang mau ambil perempuan seperti kamu?"

Gadis itu diam.

"Biasa."

"Nggak cantik istimewa."

"Nggak pintar-pintar amat."

Setiap kata seperti dijatuhkan satu per satu.

"Dinilai pun… pas-pasan."

Gadis itu menunduk lebih dalam.

"Kalau bukan karena kamu gampang diatur," lanjut ibunya, "mana mungkin dia mau."

Ia tersenyum kecil.

"Sudah bagus kamu dipilih."

Malam itu, di kamar sempitnya, gadis itu duduk memeluk lutut. Map kontrak nikah tergeletak di atas kasur.

Tulisan-tulisan hitam itu terlihat begitu rapi. Begitu resmi.

Hidupnya… ternyata bisa diringkas dalam beberapa pasal.

Di tempat lain, pemuda itu berdiri di depan jendela apartemennya. Kota terbentang di bawah, lampu-lampu berkelip seperti sesuatu yang tidak pernah ia sentuh.

Asistennya berdiri di belakang.

"Kenapa memilih dia?"

Ia tidak langsung menjawab.

"Dia… tidak terlihat berbahaya," lanjut sang asisten hati-hati.

Pemuda itu tersenyum tipis.

"Itu intinya."

Ia menatap bayangannya sendiri di kaca.

"Dia bisa diabaikan."

Malam semakin larut.

Di satu kamar, seorang gadis menandatangani nasibnya dengan air mata yang tidak jatuh.

Di tempat lain, seorang lelaki mempersiapkan pernikahan tanpa cinta.

Dan keduanya… belum tahu,

bahwa keputusan ini akan menghancurkan lebih dari sekadar kontrak.

1
Mas Bagus
tenang kak, hidup adalah perjuangan.. tetep semangat...
partini
buset dah ini di gempur dari samping atas bawah macam udah jatuh tertimpa tangga plus pohonnya
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid
partini
berjuang bersama istri dari O,kamu sekolah kan udah pernah pegang kendali biar pun gagal so jadi kan itu pelajaran yg akan menuju kesuksesan buktikan kamu mampu ,ada istri yg full support tapi nanti udah sukses mendua cari lobang lain is no good maaf bacanya loncat thor
Mas Bagus: siap...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!