Di bawah langit California yang selalu cerah, keluarga Storm adalah simbol kesempurnaan. Namun, di dalam kediaman megah mereka, dua badai yang berbeda sedang bergolak.
Luna Storm adalah anak emas. Cantik, lembut, dan selalu menempati peringkat tiga besar dalam daftar pesona konglomerat kota. Hidupnya adalah rangkaian jadwal ketat antara balet dan piano, sebuah pertunjukan tanpa henti untuk memuaskan ambisi sang ayah. Di balik senyum porselennya, Luna menyimpan rahasia patah hati dari masa SMA dengan Zayn Karl Graciano, satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa hidup, namun pergi karena Luna lebih memilih tuntutan keluarga daripada cinta.
Di sisi lain, ada Hera Storm. Kembaran tidak identik Luna yang mewarisi fitur wajah tajam ibunya dan jiwa pemberontak sejati. Hera adalah antitesis dari Luna, ia jomblo sejati, penunggang motor sport, dan lebih suka bergaul di bengkel daripada di aula dansa. Ia bebas, sesuatu yang sangat dicemburui oleh Luna.
.
.
SELAMAT BACA DEAR 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#19
Seminggu berlalu seperti neraka bagi Luna. Setiap kali ia memejamkan mata, nama Zella berdenging di telinganya seperti lebah yang menyengat. Rasa cemburu itu ternyata jauh lebih kuat daripada rasa takutnya pada sang ayah. Ia tidak bisa membiarkan wanita London itu menang. Ia harus melakukan sesuatu yang ekstrem, sesuatu yang akan menarik Zayn kembali ke orbitnya, apa pun taruhannya.
Dengan langkah mantap dan jantung yang berdegup seperti genderang perang, Luna melintasi batas fakultas kedokteran menuju wilayah teknik mesin. Ia mengenakan gaun putih yang membuatnya tampak rapuh, namun matanya memancarkan tekad yang gelap.
Begitu ia sampai di depan kelas Zayn, suasana mendadak riuh. Kerumunan mahasiswa teknik yang sedang duduk-duduk di koridor langsung bersiul.
"Wah, sang dewi datang mencari siapa ini?" goda Ben sambil menyikut lengan Arlo.
Zayn yang sedang menyandarkan punggungnya di pintu kelas, menatap Luna dengan pandangan dingin yang tajam. Ia tidak bergerak sedikit pun saat Luna berdiri tepat di depannya.
"Zayn... aku ingin bicara sesuatu," suara Luna sedikit bergetar.
Zayn mengernyitkan alisnya, satu tangannya masuk ke saku celana jeans-nya yang. "Bicara apa? Bukankah kita sudah sepakat untuk menjadi asing?"
Luna menarik napas panjang, lalu mengatakannya dengan lantang. "Aku hamil, Zayn."
Hening. Suara tawa di koridor itu seketika lenyap. Teman-teman Zayn saling pandang dengan mata membelalak.
Zayn tidak menunjukkan reaksi yang Luna harapkan. Ia tidak panik, tidak marah, ia hanya diam menatap Luna. Dalam diamnya, mata Zayn turun memperhatikan jari-jari Luna yang saling bertautan erat, meremas satu sama lain hingga buku jarinya memutih dan keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.
Zayn tahu. Ia tahu persis bahwa Luna sedang berbohong. Selama tiga tahun bersama, Zayn sudah hafal setiap gestur tubuh Luna saat sedang tidak jujur.
"Aku hamil," ulang Luna, suaranya naik satu oktav karena panik melihat reaksi Zayn yang datar. "Ternyata malam itu aku salah hitung, Zayn. Baru semalam aku mengetahuinya. Percayalah, aku benar-benar hamil."
Zayn melangkah maju, memperpendek jarak hingga Luna bisa mencium aroma bensin yang maskulin dari tubuhnya. "Lalu apa maumu?" tanya Zayn dengan suara rendah yang mengintimidasi. "Bukannya kamu sendiri yang bilang malam itu adalah malam terakhir kita? Dan sejak kapan seorang calon dokter yang teliti sepertimu bisa salah perhitungan?"
Zayn menyeringai tipis, sebuah seringai yang membuat Luna merinding. "Kita melakukannya berkali-kali selama tiga tahun, Luna. Dan kau selalu tahu kapan masa subur mu karena kau menghafalnya di luar kepala. Jangan coba-coba bohong padaku."
Zayn mendekatkan bibirnya ke telinga Luna, berbisik cukup pelan agar hanya Luna yang dengar. "Aku sudah punya kekasih. Kau ingin aku melakukan apa? Meninggalkan Zella untuk kebohonganmu ini?"
Luna terdiam. Wajahnya memerah karena malu sekaligus terdesak. Namun, egonya tidak membiarkannya mundur. Ia kembali menatap mata Zayn dengan tatapan memohon.
"Aku... aku tidak memintamu untuk putus dengan Zella, Zayn," lirih Luna. "Aku hanya... hanya ingin diperhatikan. Anak-anak yang ingin diperhatikan, bukan aku."
Mendengar kata "anak-anak", Zayn hampir saja kehilangan kendali atas ekspresi dinginnya. Ia ingat betapa dulu mereka sering berbaring di atas mobil sambil menatap bintang, merencanakan masa depan dan bercanda bahwa jika mereka punya anak, mereka ingin anak kembar agar rumah terasa ramai. Luna menyebutnya dalam bentuk jamak anak-anak sebuah lelucon lama yang kini ia gunakan untuk memperkuat kebohongannya.
Zayn merasa ingin tertawa sekaligus merasa kasihan. Ia tahu betapa hancurnya perasaan Luna sampai gadis sesempurna dia nekat menggunakan trik murahan seperti ini hanya untuk mencuri perhatiannya dari seekor anjing bernama Zella.
"Anak-anak, ya?" Zayn menatap perut rata Luna dengan pandangan menghakimi. "Kalau begitu, biarkan anak-anak itu menunggu. Karena sekarang, fokusku ada pada Zella."
Zayn berbalik, hendak masuk ke kelas, namun ia berhenti sejenak dan menoleh tanpa ekspresi. "Dan satu hal lagi, Luna. Jangan gunakan alasan hamil untuk menemuiku. Karena jika kau benar-benar membawa darahku, aku tidak akan membiarkanmu berdiri di sini sambil gemetaran. Aku akan menyeretmu ke dokter sekarang juga untuk pembuktian."
Luna terpaku di tempatnya, menatap punggung Zayn yang menghilang di balik pintu kelas. Ia gagal. Kebohongannya terbongkar, dan Zayn justru terlihat semakin memuja Zella. Luna tidak tahu bahwa di dalam kelas, Zayn sedang bersandar di balik pintu, memejamkan mata sambil memegang dadanya yang berdenyut kencang karena menahan keinginan untuk tidak memeluk Luna saat itu juga.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰