NovelToon NovelToon
Murim'S Engineer

Murim'S Engineer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Akar yang Tumbuh

Tiga hari setelah kepergian Gong Hyerin, aku berdiri di atas bukit kecil yang menghadap ke desa.

Dari sini, aku bisa melihat seluruh area—rumah-rumah kayu yang mulai berdiri rapi, tungku yang mengepulkan asap tipis, sawah-sawah kecil yang baru dibuka di dekat sungai, dan anak-anak yang bermain kejar-kejaran di halaman.

Lima puluh jiwa. Mungkin enam puluh sekarang.

Tidak banyak. Tapi ini awal.

"Tuan," suara Baek Dongsu dari belakang. "Ada tamu."

Aku menoleh. "Siapa?"

"Dia bilang utusan dari Klan Gong. Tapi... berbeda dari yang kemarin."

---

Tamunya adalah seorang pria tua.

Rambut putih tipis, jenggot panjang, dan sepasang mata yang tajam meskipun usianya sudah lanjut. Dia duduk di beranda rumahku—yang sekarang sudah dibangun ulang—dengan tenang, meminum teh yang disajikan penduduk desa.

Aku mendekat. Dia menatapku, lalu tersenyum.

"Jin Tae-kyung. Akhirnya bertemu."

"Aku kenal kau?"

"Duduklah. Kita bicara."

Aku duduk di hadapannya. Dari dekat, aku bisa melihat detail pakaiannya—jubah abu-abu sederhana, tapi bordirannya halus, mahal. Ini bukan orang sembarangan.

"Namaku Gong Jinsung," katanya. "Tapi kau mungkin lebih kenal sebagai... kepala keamanan Klan Gong."

Aku terkejut. "Kau Gong Jinsung? Yang kakaknya Patriark?"

"Adiknya. Tapi ya, itu aku." Dia menyesap teh. "Hyerin bercerita banyak tentangmu."

"Bagaimana kabarnya?"

"Sehat. Tapi rindu." Dia menatapku. "Kau tidak tanya kenapa aku ke sini?"

"Kau pasti punya alasan."

Gong Jinsung tertawa. "Kau memang berbeda. Tidak seperti kebanyakan orang yang langsung bertanya atau takut."

Dia meletakkan cangkirnya.

"Aku ke sini karena dua hal. Pertama, melihat sendiri apa yang kau bangun. Hyerin bilang kau menciptakan sesuatu yang belum pernah ada. Aku ingin lihat dengan mataku sendiri."

"Dan kedua?"

Diam sejenak.

"Kedua, memberi peringatan."

---

Peringatan itu datang dari intelijen Klan Gong.

"Ada gerakan di klan-klan kecil sekitarmu," jelas Gong Jinsung. "Mereka tahu Hojun mati. Mereka tahu kau mengambil alih. Tapi mereka juga tahu kau... berbeda."

"Berbeda bagaimana?"

"Mereka dengar tentang 'bubuk hitam' yang bisa meledak. Tentang senjata aneh yang kau buat. Dan mereka takut."

Aku mengerutkan kening. "Takut padaku? Aku hanya punya desa kecil."

"Klan kecil takut pada perubahan. Mereka lebih suka semuanya tetap seperti dulu. Dan kau... kau adalah perubahan."

Dia menjeda.

"Dalam satu bulan, mungkin dua, mereka akan bersekutu untuk menyerangmu. Sebelum kau menjadi terlalu kuat."

---

Informasi itu seperti air dingin di tengah malam.

Aku sudah menduga ini akan terjadi. Tapi tidak secepat ini.

"Berapa banyak klan?"

"Tiga. Klan Jin sendiri sudah lemah—mereka anggap mati. Tapi Klan Ma, Klan Seok, dan Klan Pyo. Masing-masing punya sekitar seratus pendekar."

Tiga ratus pendekar.

Lawan enam puluh penduduk desa, dengan hanya separuh pria dewasa yang bisa bertarung.

Rasionya gila.

Gong Jinsung sepertinya membaca pikiranku.

"Aku tahu ini mustahil. Tapi aku juga tahu kau punya sesuatu yang membuat mereka gentar." Dia menatapku. "Pertanyaannya, apakah kau punya cukup waktu?"

---

Setelah Gong Jinsung pergi, aku duduk lama di beranda.

Baek Dongsu mendekat, wajah cemas.

"Tuan, aku dengar semuanya. Dari balik pintu. Maaf."

"Tidak apa-apa."

"Apa yang akan kita lakukan?"

Aku diam. Memikirkan.

Tiga ratus pendekar. Dengan peralatan standar, pedang dan tombak. Mereka akan datang dalam gelombang, mencoba menghancurkan desa ini sebelum berkembang.

Tapi mereka tidak tahu apa yang aku tahu.

Mereka tidak tahu bahwa desa ini bukan sekadar kumpulan rumah kayu. Ini adalah laboratorium. Ini adalah pabrik senjata. Ini adalah benteng yang belum selesai.

"Panggil semua orang," kataku akhirnya. "Kita akan adakan pertemuan desa malam ini."

---

Malam itu, semua penduduk desa berkumpul di halaman depan.

Lima puluh enam orang. Pria, wanita, anak-anak. Wajah mereka tegang—mereka sudah mendengar kabar burung.

Aku berdiri di atas panggung kayu sederhana, diterangi obor.

"Kalian tahu kenapa aku kumpulkan kalian di sini."

Suasana hening.

"Dalam waktu dekat, mungkin sebulan, mungkin kurang, kita akan diserang. Tiga klan bersekutu untuk menghancurkan kita."

Gumaman ketakutan mulai terdengar.

"Tapi aku tidak memanggil kalian untuk menakut-nakuti. Aku memanggil kalian untuk memberi pilihan."

Aku menjeda.

"Kalian bisa pergi. Sekarang. Malam ini juga. Bawa keluarga kalian, pergi ke tempat yang aman. Tidak ada yang akan menghalangi. Tidak ada yang akan menyalahkan."

Diam.

"Atau kalian bisa tetap di sini. Bertarung bersama kami. Membangun masa depan bersama."

Seorang wanita—istri Baek Dongsu—angkat bicara.

"Tuan, kami di sini karena Tuan memberi kami harapan. Waktu kami tidak punya tempat tujuan, Tuan menerima kami. Waktu kami lapar, Tuan memberi makan. Waktu kami takut, Tuan melindungi." Suaranya bergetar. "Sekarang giliran kami. Aku tidak akan pergi."

Yang lain mulai bersorak setuju.

"Kami tetap di sini!"

"Kita lawan mereka!"

"MATI BERSAMA!"

Aku mengangkat tangan, menenangkan mereka.

"Kalau kalian memilih bertarung, aku punya rencana. Tapi rencananya berat. Kalian harus kerja keras. Kalian harus belajar hal-hal baru. Kalian mungkin harus kehilangan orang yang kalian cintai."

Baek Dongsu melangkah maju.

"Tuan, kami sudah kehilangan segalanya. Yang tersisa hanya harga diri. Kalau kami lari sekarang, harga diri itu akan hilang selamanya. Lebih baik mati berdiri daripada hidup berlutut."

Sorakan pecah lagi.

Aku menatap mereka. Wajah-wajah ini—petani, buruh, mantan pendekar rendahan, janda, anak yatim—mereka semua memilih untuk percaya padaku.

Beban itu berat. Tapi juga hangat.

"Baik. Kalau begitu mulai besok, kita bekerja. Siang malam. Tidak ada libur. Tidak ada istirahat. Kita akan ubah desa ini menjadi benteng yang tidak bisa ditembus."

---

Pagi harinya, pekerjaan dimulai.

Aku membagi tim menjadi beberapa kelompok:

Tim Pertama: Produksi Mesiu. Dipimpin Baek Dongsu. Tugas mereka membuat mesiu sebanyak mungkin. Setiap hari target minimal sepuluh kilogram. Dengan persediaan belerang dan sendawa yang cukup, ini bisa dicapai.

Tim Kedua: Pembuatan Senjata. Aku pribadi memimpin tim ini. Tugas mereka membuat bom, meriam bambu, dan perangkap-perangkap sederhana. Setiap pria dewasa harus bisa merakit setidaknya satu bom per hari.

Tim Ketiga: Logistik. Dipimpin istri Baek Dongsu, Nyonya Baek. Tugas mereka mengurus makanan, air, dan perlengkapan medis. Para wanita dan anak-anak yang lebih besar bergabung di sini.

Tim Keempat: Pertahanan. Tidak ada pemimpin tetap—semua pria dewasa yang mampu bertarung akan bergantian berjaga. Tugas mereka mengawasi pergerakan musuh dari bukit-bukit sekitar, dan berlatih menggunakan senjata baru.

---

Dua minggu pertama adalah masa tersulit.

Kesalahan terjadi di mana-mana. Mesiu meledak sebelum waktunya—untung tidak ada korban jiwa. Bom gagal meledak. Perangkap tidak berfungsi. Beberapa orang cedera ringan.

Tapi setiap kesalahan adalah pelajaran. Setiap kegagalan adalah data.

Aku mengajar mereka dengan sabar. Menjelaskan ulang teori, menunjukkan praktik yang benar, memarahi saat mereka ceroboh, memuji saat mereka berhasil.

Perlahan, mereka mulai mengerti.

Baek Dongsu menjadi ahli dalam mencampur mesiu—tangannya sudah hafal perbandingan 15:3:2 tanpa perlu mengukur. Beberapa pria muda menjadi terampil merakit bom dalam hitungan menit. Para wanita belajar membuat perban dan ramuan obat dari tanaman sekitar.

Dan yang paling penting, semangat mereka tidak pernah padam.

---

Hari ke-20, Gong Hyerin kembali.

Aku sedang mengawasi latihan meriam bambu saat dia muncul dari balik pepohonan. Sendirian. Tanpa pengawal.

Wajahnya lebih kurus, tapi matanya masih sama—tajam, penuh rasa ingin tahu.

"Oppa."

Aku berhenti. Untuk sesaat, aku lupa segalanya.

"Kau kembali."

"Iya." Dia berjalan mendekat. "Aku kabur."

"Apa?"

"Ayahku ingin menjodohkanku. Dengan putra mahkota Klan Song. Aku tidak mau."

Aku terbelalak. "Kau... kabur dari perjodohan?"

"Iya. Lagipula, kau butuh bantuan, kan?" Dia tersenyum tipis. "Aku dengar ada tiga klan mau menyerang."

Aku tidak tahu harus tertawa atau marah.

"Kau tahu konsekuensinya? Ayahmu pasti marah besar."

"Biarkan. Lagipula, aku bukan anak manja yang bisa diatur-atur." Dia menatapku. "Aku memilih jalanku sendiri. Dan jalanku... di sini."

---

Kedatangan Gong Hyerin seperti angin segar.

Dia langsung mengambil alih latihan pertahanan. Dengan ilmunya sebagai pendekar level tinggi, dia bisa mengajarkan teknik-teknik dasar bertarung yang jauh lebih efektif daripada latihan asal-asalan yang kuberikan.

Para pria desa kagum padanya. Seorang gadis muda, tapi bisa mengalahkan mereka bertiga sekaligus dalam latihan.

"Kau hebat," puji Baek Dongsu suatu hari.

Dia hanya mengangkat bahu. "Aku dilatih sejak kecil. Kalau kalian dilatih sejak kecil, kalian juga bisa."

Tapi aku tahu itu merendah. Bakatnya luar biasa.

---

Hari ke-25, kami melakukan uji coba pertahanan skala penuh.

Skenarionya: serangan mendadak dari arah barat. Seratus pendekar (diperankan oleh pria-pria desa dengan bambu sebagai pengganti pedang). Kami punya waktu satu jam untuk bersiap.

Hasilnya mengejutkan.

Perangkap-perangkap di hutan—lubang jebakan, jerat, dan bom pemicu—berhasil menghentikan gelombang pertama. Dua puluh "penyerang" gugur sebelum mencapai desa.

Sisanya masuk ke area terbuka, dihadang hujan panah dari meriam bambu. Bukan panah tajam—kita pakai panah tumpul untuk latihan—tapi efeknya tetap mengagetkan.

Saat mereka mencapai pagar desa, bom-bom lempar dari para wanita menghancurkan barisan mereka.

Akhirnya, hanya sepuluh "penyerang" yang tersisa. Mereka dihadang Gong Hyerin dan tim pertahanan utama.

Kemenangan mutlak.

---

Malam harinya, kami berpesta sederhana.

Bukan pesta mewah—hanya nasi dan lauk seadanya, dengan beberapa botol arak buatan sendiri. Tapi semua orang tertawa. Semua orang merasa punya harapan.

Gong Hyerin duduk di sampingku.

"Oppa, kau berhasil."

"Belum. Ini baru uji coba. Musuh sungguhan akan lebih tangguh."

"Tapi kau sudah membuktikan bahwa desa ini bisa bertahan." Dia menatapku. "Aku bangga padamu."

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Di kejauhan, anak-anak bermain kejar-kejaran. Para pria bercerita tentang latihan hari ini. Para wanita tertawa riang.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini, aku merasa... di rumah.

---

Hari ke-30.

Pagi itu, penjaga dari bukit timur berlari turun dengan wajah pucat.

"Tuan! Mereka datang!"

Aku berdiri. "Berapa banyak?"

"Banyak! Mungkin lebih dari dua ratus!"

Jantungku berdetak kencang. Lebih cepat dari perkiraan. Tapi tidak masalah. Kita sudah siap.

"Baek Dongsu! Bunyikan alarm!"

Genderang perang mulai berbunyi.

Semua orang bergerak ke posisi masing-masing—sudah dilatih berkali-kali. Para wanita membawa anak-anak ke tempat perlindungan di belakang desa. Para pria mengambil senjata dan bom. Gong Hyerin menghunus pedangnya.

Aku berdiri di atas panggung komando—sebuah menara kayu sederhana yang memberiku pandangan ke seluruh area.

Dari sini, aku bisa melihat awan debu di kejauhan.

Mereka datang.

Dan kita siap.

---

[Bersambung ke Bab 13]

1
SR07
lanjut bro
Q. Zlatan Ibrahim: terima kasih...masih harus banyak belajar
total 5 replies
Mika Dion
mantap Thor isi babnya panjang lain dari yg lain
Q. Zlatan Ibrahim: siap om mika
total 2 replies
Mika Dion
masih sepi...mungkin Krn masih baru y
Mika Dion
mampir thor
Nona Dalla
ini yang aku tunggu" sejak tadii 😄🤣
Kang Nyimak
semangat teruss
Kang Nyimak
SENI ADALAH LEDAKAN
Q. Zlatan Ibrahim: mencoba memadukan sains ditengah dunia bela diri
total 2 replies
Kang Nyimak
sebagus ini sepi?, serius?
Q. Zlatan Ibrahim: mkasih bang..masih belajar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!