Aroel Mahardika kembali ke desa setelah lima tahun pergi, diam-diam tanpa memberi tahu siapa pun. Tujuannya hanya satu: menenangkan hati yang selalu gelisah. Tapi desa itu menyimpan lebih dari sekadar ketenangan.
Di Saung Langit, tempat yang pernah menjadi saksi masa lalunya, Aroel dipukul secara misterius. Tidak ada saksi, tidak ada jejak, hanya rasa sakit yang nyata. Di tengah sawah, seorang bocah kecil muncul dan menghilang dengan tatapan yang penuh teka-teki. Warga desa terlalu tenang, terlalu diam, seolah menyimpan sesuatu yang tidak ingin mereka ungkapkan.
Siapa yang memukulnya?
Apa maksud bocah itu selalu muncul di tempat yang salah?
Dan rahasia apa yang selama ini disembunyikan oleh desa dan Saung Langit?
Setiap langkah Aroel menimbulkan pertanyaan baru, dan setiap jawaban yang ia dapat justru menimbulkan lebih banyak ketegangan. Dalam atmosfer yang menekan, emosinya meledak antara marah, takut, salah tingkah, dan penasaran. Masa lalu yang kelam, rahasia yang tersembunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arroels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketegangan Yang sengit
Malam semakin pekat. Lampu rumah menyebarkan cahaya hangat di halaman depan, tapi di luar sana kegelapan menutupi gerakan para penyusup yang kini semakin jelas. Aroel berdiri di dekat jendela, matanya fokus menatap gerakan bayangan yang mendekat. Di sisinya, Putri menggenggam cangkir kopi hangat, menahan napas meski wajahnya terlihat tenang.
“Sekarang mereka terlalu dekat,” bisik Aroel. Suaranya rendah tapi tegas. “Kalau salah langkah, bisa berbahaya.”
Putri menoleh, menatap matanya. “Kalau berbahaya, kita hadapi bareng, kan?”
“Bareng,” jawab Aroel. Pandangannya kembali ke halaman. Ia merasakan detak jantungnya meningkat, tapi tetap menahan ekspresi ketegangan.
Dari kegelapan, beberapa orang bergerak cepat namun hati-hati. Tiga di antaranya mendekat ke sisi rumah yang lebih gelap, sementara satu lainnya tampak menandai area di sekitar pagar. Lampu dari rumah memantul di wajah mereka, tapi gerakan mereka masih terlalu cepat untuk ditangkap dengan jelas.
“Kelihatannya mereka terorganisir,” kata Aroel. “Bukan pengintai amatir.”
Putri menelan ludah pelan. “Mereka… terlihat serius sekali.”
Aroel menepuk bahu Putri ringan. “Tenang. Jangan panik. Mereka hanya mencoba menilai situasi. Kita masih punya waktu.”
Tiba-tiba, dari samping rumah, Bintang muncul. Asisten Aroel itu melangkah dengan cepat, menatap bayangan luar dengan mata waspada. “Ada tiga orang di sisi barat. Saya bisa mengawasi mereka dari sini,” bisiknya, tangannya menyalakan lampu kecil untuk menyorot area tertentu tanpa menarik perhatian.
“Bagus,” kata Aroel singkat. “Tetap tenang, jangan beri mereka kesempatan membaca gerakan kita.”
Rahman dan beberapa pengawal Aroel juga muncul dari dalam rumah, bergerak ke posisi strategis tanpa menunjukkan identitas Aroel. Mereka berdiri di tempat tersembunyi, menunggu komando. Putri memperhatikan semua gerakan itu, sedikit terkejut oleh koordinasi yang begitu rapi, tapi tidak menyadari bahwa Aroel adalah pemimpin dari semua orang yang kini menyiapkan strategi.
“Kalau mereka menyerang, aku ikut,” kata Putri, menatap Aroel. Suaranya ringan, tapi mata tajam menatap bayangan di luar.
Aroel tersenyum tipis. “Ingat, jangan gegabah. Kita lihat dulu gerakan mereka.”
Bayangan itu kini bergerak lebih dekat. Satu dari mereka tampak mencoba melewati pagar depan, tapi Bintang dengan cepat mengangkat lampu senter, membuat bayangan itu tersentak.
“Hati-hati!” seru Aroel, dan seketika gerakan orang luar terhenti.
Putri menunduk sedikit, menatap Aroel. “Aku… siap.”
Aroel mencondongkan tubuh ke arahnya. “Kalau mereka mencoba menyerang, kita hadapi bareng. Aku nggak akan biarkan kamu sendirian.”
“Aku juga nggak mau kamu sendirian,” jawab Putri, dan keduanya saling tersenyum pendek.
Orang luar kini mulai bergerak lebih agresif. Seorang pria mencoba memanjat pagar depan, tapi Bintang sudah menunggu dengan cepat. Dia menepuk bahu pria itu, membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah.
“Bagus, Bintang!” bisik Aroel sambil mengawasi sisi lain.
Seorang lagi mencoba menendang pintu samping. Aroel melompat ke depan, menghadang dengan cepat. Sebuah dorongan ringan dari tubuhnya membuat lawan mundur beberapa langkah. Putri, melihat celah, mengambil kursi dekatnya dan memukul kaki pria lain yang mencoba menyerang.
“Eh, hati-hati dengan cangkir kopi!” seru Aroel sambil tertawa ringan ketika Putri hampir menumpahkan kopinya.
“Maaf, tapi prioritasku tetap kita bertahan hidup!” balas Putri sambil tersenyum nakal.
Rahman dan pengawal lain mulai terlibat, menahan gerakan lawan. Suasana kacau, tapi koordinasi mereka sempurna. Setiap langkah orang luar dibaca, setiap gerakan ditanggapi cepat dan tepat.
Seorang penyusup berhasil melewati halaman depan dan mendekati jendela. Aroel cepat menendang kaki lawan, membuatnya tersandung ke samping. Putri ikut membantu, menarik kain dari meja dan menimpanya, membuat lawan itu kehilangan keseimbangan lebih lama.
“Bintang, sisi barat!” seru Aroel, memberi sinyal.
Bintang segera bergerak, menutup sudut yang lemah, dan menepuk salah satu penyusup lagi, membuatnya jatuh tersungkur.
Pertempuran semakin sengit, tapi Aroel selalu menjaga agar Putri tidak terluka. Setiap kali lawan mendekat, dia menempatkan tubuhnya sebagai perisai, sambil tetap menyerang balik dengan teknik sederhana tapi efektif. Putri bergerak lincah, menggunakan lingkungan sekitar,kursi, meja, bahkan kain untuk menghalangi lawan dan menciptakan celah.
Rahman memberi arahan, menjaga koordinasi tim tanpa mengungkap identitas Aroel. “Arah barat, tekan sedikit. Jangan biarkan mereka mendekat jendela!”
Salah satu penyusup mencoba menendang Aroel dari samping. Dia menangkis dengan cepat, mendorong lawan ke tanah, lalu langsung menarik Putri agar tidak terkena. “Hati-hati!” teriaknya.
Putri menatapnya, napas tersengal. “Kamu terlalu serius terus! Aku juga bisa ikut bertahan.”
“Bisa, tapi jangan ceroboh,” jawab Aroel sambil tersenyum kecil.
Pertempuran mencapai puncaknya ketika pemimpin penyusup muncul, mencoba mendekati pintu utama. Aroel menatapnya dengan fokus penuh. Dia bergerak cepat, menyerang dengan kombinasi dorongan dan pukulan yang tepat, membuat lawan tersandung beberapa kali. Putri menambahkan serangan dengan melemparkan kain basah dari meja, membuat pemimpin itu sedikit terganggu.
Sementara itu, Bintang dan Rahman menahan dua penyusup lain, menciptakan ruang bagi Aroel dan Putri untuk fokus pada pemimpin lawan. Gerakan mereka cepat, tapi tetap terkendali.
Akhirnya, pemimpin lawan jatuh tersungkur setelah Aroel berhasil memblok serangan terakhirnya dan mendorongnya ke tanah.
Lawan lain melihat itu dan mulai mundur, ketegangan pecah menjadi kekacauan.
Aroel berdiri di tengah halaman, napasnya berat tapi terkontrol. Putri menatapnya dengan mata berbinar, meski tubuhnya sedikit lecet. “Kamu hebat…” bisiknya pelan.
Aroel menepuk pundaknya ringan. “Kamu juga. Aku nggak akan bisa mengatur semuanya tanpa kamu.”
Bintang dan Rahman menegakkan tubuh, menatap ke arah orang luar yang mulai mundur. Mereka tertawa kecil bersama, meski masih waspada. “Malam ini selesai dengan baik, tapi kita tetap harus hati-hati,” kata Rahman.
Putri tersenyum, menatap Aroel. “Kalau begini, aku merasa aman… meski harus akui, tegangnya luar biasa.”
Aroel menepuk bahu Putri lagi. “Kita tim yang solid. Kita akan selalu menghadapi apa pun bersama.”
Lampu rumah menyinari halaman yang kini tenang. Aroma kopi, napas yang terengah, dan tawa kecil mengisi udara malam. Mereka berdiri di sisi yang sama, bukan hanya menghadapi orang luar, tapi juga membuktikan kerja sama, keberanian, dan kepercayaan satu sama lain.
Malam itu berakhir dengan ketegangan yang memudar, tapi hubungan mereka semakin erat. Putri masih belum tahu siapa sebenarnya Aroel, tapi malam itu, dia belajar bahwa bersama Aroel, Rahman, dan Bintang, mereka mampu menghadapi apa pun. Dan itu membuatnya lega, sekaligus penasaran dengan misteri yang belum terungkap sepenuhnya.
Bersambung.....