NovelToon NovelToon
Ustadz, I’M In Love

Ustadz, I’M In Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

di bawah umur di larang membaca.

Rina adalah definisi dari "anak muda zaman now"—ekspresif, jahil, dan sedikit re-og. Baginya, dunia sosial adalah tempat bermain untuk menggoda siapa saja, termasuk seorang pria misterius di aplikasi HelloTalk yang ia panggil dengan sebutan "Mas Arab". Rina mengira ia sedang memegang kendali, sampai akhirnya takdir membawanya bertemu langsung dengan sosok tersebut.
​Ternyata, "Mas Arab" adalah Rohman, seorang Ustadz muda yang kaku, alim, namun memiliki tingkat kesabaran setebal kamus bahasa Arab. Pertemuan pertama mereka langsung meledak dengan kekonyolan Rina yang mencoba mengetes iman sang Ustadz.
​Namun, Rina salah besar. Di balik sikap tenangnya, Rohman adalah tipe pria "sat-set" yang tidak suka membuang waktu. Saat Rina terus-menerus menguji batasan kesabarannya, Rohman justru membalas dengan sebuah langkah skakmat: Mempercepat akad nikah sore itu juga!
​Kini, Rina terjebak dalam status sebagai istri sah. Niat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23 Keesokan Pagi, Pukul 04.30 WIB

​Rina terbangun dengan perasaan segar. Ia segera beranjak ke kamar mandi. Dan benar saja, prediksinya tepat. Tidak ada setitik pun noda yang tersisa. Ia sudah bersih total.

​Rina tersenyum licik di depan cermin kamar mandi. Ia segera mandi wajib dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan Rohman.

Setelah selesai, ia keluar kamar mandi dengan rambut basah yang dibungkus handuk, aroma sabun mawar yang segar langsung memenuhi kamar.

​Ia melihat Rohman masih bergelung di bawah selimut. Rina mendekat, lalu duduk di tepi ranjang. Ia membungkuk, membisikkan sesuatu tepat di telinga suaminya yang masih terlelap.

​"Mas... bangun. Sudah Subuh. Katanya mau jadi imam pertama aku?"

​Rohman menggeliat, perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah segar Rina dan handuk yang melilit rambut basahnya. Matanya membelalak kaget. Ia menatap Rina, lalu menatap kamar mandi, lalu kembali ke Rina.

​"Rina... kamu... kamu mandi?" tanya Rohman dengan suara serak khas bangun tidur.

​"Iya, mandi wajib," sahut Rina santai sambil menyisir rambutnya yang lembap. "Kenapa Mas? Kaget?"

​"Bukankah kamu bilang baru kemarin lusa?!"

​Rina menoleh, memberikan kedipan mata paling nakal yang pernah ia miliki. "Mas percaya saja sama omongan orang haid. Aku kan cuma mau ngetes, Mas beneran bisa sabar atau nggak. Ternyata Mas hebat ya?"

​Rohman bangkit dari tempat tidur dengan gerakan yang sangat cepat hingga Rina terpekik. Ia meraih pinggang Rina dan menariknya hingga duduk di pangkuannya.

​"Jadi... kamu membohongi Mas semalam?" tanya Rohman dengan nada rendah yang sangat maskulin. Matanya menatap lekat bibir Rina. "Kamu tahu apa konsekuensi dari membohongi suami, hm?"

Rina yang tadi merasa di atas angin, mendadak gemetar saat merasakan kuatnya dekapan Rohman di pinggangnya. Posisi mereka yang sangat intim—Rina duduk di pangkuan Rohman dengan aroma sabun yang masih menguar—membuat keberaniannya menciut seketika. Tatapan Rohman yang biasanya teduh, kini berubah menjadi sangat dalam dan intens, seolah ingin melahapnya saat itu juga.

​"Eh... a-aku belum selesai mandi, Mas! Eh, maksudnya aku belum mandi besar!" Rina mulai meracau, lidahnya kelu karena grogi ditatap sedekat itu. "Waduh, maksudnya... aku baru dua hari ini haid! Iya, baru dua hari! Mas harus nunggu satu minggu lagi! Tadi aku mandi cuma buat seger-segeran aja karena gerah!"

​Rohman tidak melepaskan tatapannya. Ia justru semakin mendekatkan wajahnya, hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum kemenangan yang sangat tipis.

​"Dua hari?" bisik Rohman, suaranya kini terdengar sangat rendah dan menggoda. "Rina, kamu lupa ya kalau suamimu ini bukan orang yang bisa dibohongi dua kali dengan trik yang sama? Tadi kamu bilang mandi wajib, sekarang bilang mandi biasa. Mana yang benar?"

​"Mandi biasa! Sumpah!" Rina mencoba melepaskan diri, tapi tangan Rohman seperti kunci baja di pinggangnya.

​"Rina, dalam Islam, mandi wajib itu punya niat khusus dan tanda-tanda khusus. Dan dari raut wajahmu yang panik ini, Mas tahu kalau 'tamu' itu sudah benar-benar pergi," ucap Rohman sambil mengelus pipi Rina dengan ibu jarinya.

"Kamu sudah suci, Sayang. Dan kamu sudah menjanjikan 'unboxing' tadi malam kalau kamu sudah bersih, kan?"

​"Mas... Mas Arab... Mas Ustadz... ingat, ini sudah Subuh!" seru Rina mencoba mencari perlindungan pada waktu ibadah.

​"Iya, justru karena sudah Subuh, Mas ingin kita memulai hari pertama kita sebagai suami istri yang sempurna," sahut Rohman. Ia perlahan melepaskan lilitan handuk di rambut Rina, membiarkan rambut hitam yang masih lembap itu tergerai di bahunya. "Tapi tenang saja, Mas tidak akan membiarkan kita terlambat sholat. Mas akan mandi sekarang, sangat cepat. Dan setelah sholat Subuh nanti..."

​Rohman menjeda kalimatnya, lalu mengecup leher Rina singkat, membuat bulu kuduk gadis itu meremang hebat. "...Mas akan menagih semua hutang kebohonganmu dari mulai di mobil sampai detik ini. Mas pastikan kamu tidak akan sempat memikirkan ide jahil lagi seharian ini."

​Rohman melepaskan Rina dan beranjak menuju kamar mandi dengan langkah mantap, meninggalkan Rina yang masih duduk mematung di atas ranjang dengan jantung yang berdegup kencang seperti genderang perang.

​"Waduh... kali ini gue beneran masuk lubang singa!" gumam Rina sambil menangkup pipinya yang terasa seperti terbakar.

​Sepuluh menit kemudian, Rohman keluar dengan kondisi sudah segar dan mengenakan baju koko serta sarung. Ia membentangkan sajadah di kamar itu, lalu menoleh ke arah Rina yang masih melamun.

​"Ayo, Makmum. Ambil mukenamu. Kita sholat dulu, baru kita selesaikan 'urusan' kita," ajak Rohman dengan senyum yang sangat manis, namun penuh misteri.

​Rina hanya bisa menurut. Ia mengenakan mukena putihnya dan berdiri tepat di belakang punggung tegap Rohman. Saat suara merdu Rohman melantunkan takbiratul ihram, Rina merasakan kedamaian sekaligus debaran yang tak kunjung usai.

1
Putri Lauren
lanjuttt thor KLO bisa double
Putri Lauren
lanjut thor
Moza Tri Utami: lanjut dong thorr
total 2 replies
Putri Lauren
mantap
Putri Lauren
aku suka Thor lanjuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!