NovelToon NovelToon
Aturan Main Sang CEO

Aturan Main Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Identitas Tersembunyi / Pernikahan Kilat / CEO / Office Romance / Balas Dendam
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Lyra Graceva hanyalah seorang sekretaris teliti yang hidup dalam bayang-bayang trauma ibunya dan status "anak haram". Namun, dunianya runtuh sekaligus bangkit saat bosnya yang obsesif, Sean Nathaniel Elgar, menjeratnya dalam sebuah pernikahan kontrak yang berubah menjadi kepemilikan mutlak. Di balik gairah panas dan sikap posesif Sean, tersembunyi rahasia kelam masa lalu yang melibatkan kedua orang tua mereka. Lyra yang awalnya rapuh, bertransformasi menjadi "Ratu" yang dingin demi membalaskan dendam ibunya dan mengungkap kebenaran tentang asal-usulnya, sementara Sean bersumpah akan menghancurkan siapa pun—termasuk keluarganya sendiri—demi menjaga Lyra tetap di sisinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Aturan Main Sang CEO

Pintu penthouse mewah itu terbuka dengan dentuman keras yang bergema di lorong sunyi. Sean Nathaniel Elgar tidak membiarkan kaki Lyra menyentuh lantai marmernya yang dingin. Ia menggendong sekretarisnya itu dengan satu tangan menopang pinggul dan tangan lainnya mencengkeram tengkuk Lyra, memastikan bibir mereka tetap tertaut dalam ciuman yang tidak memberi ruang untuk bernapas.

"Bapak... pelan-pelan. Kepalaku pusing," racau Lyra saat mereka memasuki kamar utama yang luas. Aroma maskulin Sean bercampur dengan sisa alkohol di napas Lyra menciptakan atmosfer yang memabukkan.

"Pusing karena alkohol, atau pusing karena pria di klub tadi? Siapa namanya? Deryl?" Sean melempar tubuh mungil Lyra ke atas ranjang sutra hitamnya. Kasur itu membal, membuat Lyra sedikit tersentak namun tawa mabuknya belum hilang sepenuhnya. Rambutnya yang biasanya tergelung rapi kini tergerai berantakan di atas sprei.

"Deryl... dia baik. Dia bicara dengan lembut padaku. Dia tidak seperti Bapak yang hobi revisi koma dan memberiku lembur di hari Sabtu," gumam Lyra sambil mencoba duduk, matanya yang sayu menatap Sean menantang.

Sean melepas dasinya dengan satu sentakan kasar, melemparkannya ke sembarang arah. Matanya menyala gelap, menatap Lyra seolah ia adalah mangsa yang sudah lama diincar. "Dia baik? Kau menyebut pria yang baru kau temui sepuluh menit itu 'baik' hanya karena dia memegang pinggangmu di lantai dansa?"

"Setidaknya dia tidak menjeratku dengan aturan kerja yang konyol!" Lyra berteriak kecil, egonya naik karena pengaruh vodka. "Aku sudah dua puluh delapan, Sean! Ibuku ingin aku menikah! Aku ingin punya hidup normal, bukan hanya menjadi bayangan di belakang mejamu!"

"Kau tidak akan pernah hidup normal dengan pria seperti dia, Lyra." Sean merangkak naik ke atas ranjang, mengurung tubuh Lyra di bawahnya. Berat tubuh pria itu membuat Lyra terengah. "Kau ingin suami? Kau ingin pria yang memanjakanmu? Kau pikir pria di klub itu bisa melakukan apa yang akan kulakukan padamu malam ini? Kau pikir dia bisa menjagamu seperti aku menjagamu selama ini?"

"Bapak tidak menjagaku... Bapak mengurungku!"

"Berhenti memanggilku 'Bapak' di ranjang ini. Di sini, aku bukan atasanmu." Sean mencengkeram kedua tangan Lyra dan menahannya di atas kepala gadis itu. "Sebut namaku. Katakan siapa yang sedang bersamamu sekarang."

"Sean..." bisik Lyra, suaranya bergetar antara takut dan gairah. "Sean Nathaniel..."

"Ya, benar. Hanya namaku yang boleh ada di bibirmu," desis Sean sebelum kembali membungkam mulut Lyra. Kali ini bukan lagi sekadar ciuman, tapi sebuah klaim. Sean melumat bibir Lyra dengan kasar, meluapkan seluruh rasa frustrasi, rasa ingin memiliki, dan api cemburu yang membakar hatinya setiap kali melihat jadwal kencan buta di kalender Lyra.

Tangannya menjelajahi lekuk tubuh Lyra dengan posesif, merobek sisa-sisa kesabaran yang ia bangun selama bertahun-tahun. Lyra merintih, tubuhnya melengkung menyambut sentuhan Sean yang panas. Segala aturan kantor, rasa takut akan masa depan, dan tekanan dari ibunya seolah menguap, digantikan oleh gairah primitif yang hanya bisa diberikan oleh pria di hadapannya ini.

Namun, saat Sean merangsek masuk untuk melakukan penyatuan yang selama ini ia mimpikan, jeritan kecil Lyra memecah keheningan kamar.

"Aakkhh! Sean... sakit... hentikan!" Lyra mencengkeram lengan Sean hingga kuku-kukunya tertanam di kulit pria itu. Air mata mengalir deras di sudut matanya, membasahi bantal sutra.

Sean membeku di tempatnya. Ia merasakan hambatan yang nyata, sesuatu yang seharusnya tidak ada pada wanita seusia Lyra di lingkungan sosial seperti mereka. Napasnya memburu di ceruk leher Lyra saat ia menarik diri sedikit untuk melihat apa yang terjadi.

Matanya tertuju pada noda merah yang mulai merembes di atas sprei hitam mahalnya. Merah yang begitu kontras. Merah yang menandakan kemurnian.

"Kau... belum pernah?" suara Sean serak, nyaris tak percaya. Ia menatap wajah Lyra yang kini tampak begitu rapuh dan polos di bawah pencahayaan temaram.

Lyra hanya menggeleng lemah, isakannya terdengar begitu menyedihkan. "Sakit... kumohon lepaskan..."

"Tidak akan. Aku tidak akan pernah melepaskanmu," desis Sean, namun kali ini suaranya melunak, dipenuhi dengan rasa puas yang gelap dan mendalam. Segala kemarahannya tadi hilang, digantikan oleh rasa kemenangan yang luar biasa. "Ternyata kau benar-benar menyimpannya untukku, Lyra. Kau membiarkanku menjadi yang pertama setelah semua pria yang kusingkirkan darimu."

"Bapak jahat... Bapak egois..."

"Aku memang egois jika itu menyangkut dirimu. Dan mulai malam ini, keegoisanku akan menjadi duniamu." Sean mengecup kening Lyra dengan lembut, menghapus air mata di pipi gadis itu. "Jangan takut. Rasa sakit ini hanya sementara, tapi ikatanku padamu akan selamanya."

Sean tidak berhenti. Ia justru bergerak kembali dengan tempo yang jauh lebih lambat namun lebih dalam, memastikan Lyra merasakan setiap inci kehadirannya. Rasa sakit yang dirasakan Lyra perlahan memudar, berganti dengan sensasi baru yang membuatnya kehilangan akal sehat.

"Sean... ah... pelan-pelan..."

"Sebut namaku lagi. Katakan pada dunia bahwa kau milik siapa."

"Milikmu... aku milikmu, Sean..." rintih Lyra di tengah gairah yang kembali memuncak.

"Bagus. Ingat kata-katamu ini, Lyra Graceva. Karena setelah malam ini, aturan mainnya berubah total," bisik Sean di telinga Lyra, memberikan tanda kepemilikan yang permanen di leher jenjang sekretarisnya itu. "Tidak ada lagi pria lain. Tidak ada lagi kencan buta yang diatur ibumu. Kau akan tetap di kantor denganku sampai malam, dan kau akan tidur di ranjang ini bersamaku setiap malam. Kau paham?"

Lyra tidak mampu lagi menjawab dengan kata-kata. Ia hanya bisa melenguh saat Sean membawanya ke puncak gairah yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Di bawah dominasi Sean yang panas dan kasar, Lyra menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar sekretaris. Ia telah menjadi tawanan di dalam sangkar emas yang diciptakan oleh Sean Nathaniel Elgar—dan yang paling menakutkan adalah, ia mulai menikmati setiap detik di dalamnya.

1
aditya rian
sean punya sodara nih pasti...
umie chaby_ba
😍😍😍😍
Ariska Kamisa
semoga para pembaca menikmatinya ,
aditya rian
😍😍😍😍😍
Uthie
bakal nyesel gak tuhhh 😁
Uthie
coba mampir 👍
umie chaby_ba
ini penjahat bersahabat dengan penjahat..🫣🫣
umie chaby_ba
what? /Sob/
umie chaby_ba
lalu anak siapa??
umie chaby_ba
what??? apa jangan-jangan Lyra.... anak Edward?🫣
umie chaby_ba
waduh...
umie chaby_ba
oh... cinta pada pandang pertama 🤭
umie chaby_ba
🫣
umie chaby_ba
ulasan pertama /Good/
Rame sih ....
shack... shick.... shock..
cepet terungkapnya ... jebreet jebret...
umie chaby_ba
waah waah udah ada yang baru lagi ... tema posesif posesif gitu aku suka.... 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!