Novel ini mengisahkan hubungan antara seorang pria kristen bernama David Emmanuel Erlangga seorang pria yang terlahir dari keluarga yang begitu kental dalam menjalankan agama,anak dari seorang pendeta yang terkenal di negeri ini yang bertemu dan menjalin cinta dengan seorang muslimah yang taat serta merupakan anak salah seorang kyai terkemuka .
bagaimana kisah rumit mereka? dan akankah mereka mempertahankan hubungan yang penuh dengan penentangan dari kedua keluarga dan lingkungan?atau justru memilih berpisah demi bertahan dengan keyakinan masingmasing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
" Masih ingat pulang kamu!" Tegur seseorang yang suaranya begitu familiar di telinga Aisyah.
Aisyah menghentikan langkahnya, saat baru saja akan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
" Apa kamu sudah bosan keluyuran di luar sana , seperti gadis yang tak punya tempat tinggal dan keluarga." Lanjut orang itu yang tak lain adalah nyonya Retno Brawijaya. Wanita yang melahirkan Aisyah ke dunia ini.
Aisyah memutar tubuhnya menghadap ke arah ibunya itu,dengan wajah memerah karena mendengar ucapan sang ibu.
" Aisyah tidak keluyuran,aku menginap di rumah Mayang." Jelas Aisyah yang tak menerima ucapan ibunya itu untuk dirinya.
Nyonya Retno menatap Aisyah dengan tajam,seolah ingin menelan hidup-hidup putri semata wayang nya itu.
" Siapa yang mengajarimu menginap di rumah orang lain? Apa kamu tidak punya rumah sampai harus menginap dirumah orang lain dengan begitu lama." Cerca ibu Retno dengan suara penuh penekanan menahan amarah karena ulah putrinya itu.
" Mayang bukan orang lain ,Ma. Dia sahabat Aisyah dan dia juga kerabat kita ,apa salahnya Aisyah menginap dirumah Mayang.Mayang juga sering menginap di sini."
"Siapa yang mengajari kurang ajar seperti ini,mama tidak pernah mengajari mu kurang ajar,apa kamu sudah kehilangan sopan santun mu itu?" Amarah ibu Retno semakin tak terbendung lagi karena Aisyah selalu saja menjawab nya dengan ucapan yang tajam.
" Ada apa ini ribut -ribut malam-malam begini?" Tegur seorang pria yang tak lain adalah Tuan Brawijaya ,ayah kandung Aisyah.Ia baru saja menyelesaikan pekerjaan nya di ruang kerja dan mendengar keributan di ruang tamu dengan suara yang begitu familiar di telinganya,hingga membuatnya berjalan menuju ruang tamu.
" Darimana saja kamu,baru pulang jam segini?" Tuan Brawijaya menatap tajam kearah Aisyah yang masih berdiri pada tempat nya.
" Dari rumah Mayang,Pa." Jawab Aisyah dengan nada lemah tak lagi meninggi seperti tadi.
" Hanya dari rumah Mayang atau ke tempat lain?" Cecar sang ayah yang menatap wajah Aisyah mencari kebenaran nya .
" Sebelum pulang ,kami ke restoran makan siang,setelah itu jalan-jalan menghabiskan waktu ."
" Hanya itu dan hanya berdua?"
" Apa maksud papa?" Aisyah mengerutkan kedua alisnya,karena mendengar ucapan papanya itu yang seolah tak percaya dengan semua yang di ucapkannya.
Semua yang di katakan Aisyah itu memang benar,tapi tidak semua nya benar,ada beberapa hal yang ia sembunyikan demi kenyamanan semua orang,karena jika mereka tahu dengan siapa ia pergi maka itu akan menjadi masalah besar dan berujung perdebatan dan pertengkaran.
" Apa sesuatu terjadi?" Tanya ibu Retno pada sang suami,karena dari ucapan suaminya itu ada hal yang membuatnya bertanya dan penasaran.
" Tanya kan pada putrimu itu,dengan siapa dia pergi dan kemana saja dia hari ini." Tuan Brawijaya menatap tajam ke arah Aisyah yang menunduk menatap lantai.
" Putri kesayangan Mama ini sedang bertemu dengan kekasihnya ,Ma." Bukan tuan Brawijaya yang menjawabnya tapi sang putra sulung Firdaus Brawijaya yang baru saja memasuki rumah , ia baru saja pulang dari kantor dan mendapati kedua orang tua beserta adiknya itu sedang berdebat di ruang tamu.
Semua mata menoleh ke arah Firdaus yang berjalan memasuki rumah sembari menenteng koper kecil di tangan nya.
" Aisyah bertemu dengan David di restoran,lalu menghabiskan waktu sepanjang hari,apa kamu tidak malu,Syah.." Geram sang kakak dengan mata menatap tajam ke arah Aisyah yang menatapnya juga dengan wajah terkejut.
" Kenapa memandangku seperti itu,apa kamu terkejut kalau kakak mengetahui perbuatan mu itu di luar sana." Sambung Firdaus dengan nada tinggi yang penuh penekanan.
Sementara Bu Retno dan tuan Brawijaya memandang Aisyah dengan penuh kekecewaan dan kemarahan yang muncul secara bersamaan.
" Tinggalkan Pria itu,atau keluarga kita akan hancur karenamu." Suara teriakan penuh, amarah di ruang tamu membuat suasana hening dan mencekam.
Aisyah menjatuhkan tubuhnya ke lantai mendengar ucapan sang ayah, matanya mulai berembun oleh air dari pelupuk matanya.
" Aku tak bisa." Lirih Aisyah dengan mata mulai merembes ke wajahnya.
" Aku akan melakukan apapun,tapi tidak untuk berpisah dengan David." Tekan Aisyah yang masih teguh dalam keputusan nya.
Plaaaaakkkkkk sebuah tamparan keras tiba-tiba menyentuh pipi putihnya,hingga meninggalkan bekas merah di pipih putih nan mulus itu. Semua orang begitu terkejut melihat adegan yang tiba-tiba itu , mereka tak pernah mengira sang kepala keluarga melakukan hal yang tak pernah ia lakukan pada keluarga nya.
Aisyah memegang pipih nya yang terasa perih, sembari mendongak menatap sang ayah yang masih berdiri di hadapannya dengan mata menatap telapak tangan nya sendiri , ada rasa penyesalan karena telah melakukan hal yang tak pernah ia lakukan selama hidupnya.
Aisyah tersenyum kecut, ini kali pertama dalam hidupnya sang ayah menamparnya, ia lalu berdiri sembari masih memegang pipihnya .
" Tinggalkan Pria itu,atau kamu papa kirim ke Dubai bersama kakek dan nenek mu." Ancam sang ayah saat melihat Aisyah beranjak dari posisinya.
Aisyah menghentikan langkahnya,hal yang ia takutkan dalam hidupnya adalah tinggal bersama kakek dan neneknya di Dubai. Kakek dan neneknya begitu keras dalam hal mendidik. Apalagi jika kakek dan neneknya mengetahui jika ia sedang menjalin hubungan dengan pria yang berbeda keyakinan apalagi sang pria merupakan pendeta muda yang sangat sulit bahkan hal yang sangat mustahil untuk mengikuti keyakinan mereka.
" Apa salahnya aku mencintainya,Pa..? Aku sudah dewasa dan berhak memilih jalan hidupku sendiri." Balas Aisyah dengan nada tinggi. , ia lelah terus menerus di kekang , ia hanya ingin hidup tenang dan bahagia bersama pria pilihannya.
" Kamu dan dia berbeda Aisyah..apa kamu tidak memahami itu ..kamu bukan anak kecil lagi yang tidak bisa membedakan pantas dan tidak pantas dalam hidupmu ." Seru Bu Ratno yang sudah tak bisa lagi menahan amarahnya karena keras kepala putri nya itu.
" Kamu dan dia tidak bisa bersatu meski kamu memaksa ,pada akhirnya semua akan hancur. " Sambung sang ibu kali ini nada suaranya melembut,mencoba memberikan pengertian pada sang putri.
Aisyah terdiam terpaku mendengar ucapan sang ibu , air matanya pun tak terbendung lagi dan jatuh begitu saja di pipi mulusnya. Ia tak bisa menerima kenyataan yang ada di depan matanya.
" Tapi banyak orang di luar sana menjalin hubungan,bahkan menikah meski berbeda keyakinan. Apa bedanya dengan...."
" Jangan mencoba menyusun rencana menikah dengan beda keyakinan ,Syah..jangan pernah membayangkan nya apalagi berencana untuk melakukan hal itu." Potong sang ayah penuh penekanan dalam ucapan nya.
Aisyah yang tak mampu lagi berkata - kata, memilih pergi meninggalkan orang tua dan kakaknya di ruang tamu,ia lalu menaiki anak tangga menuju kamarnya dengan di iringi tangisan dan luka yang begitu dalam.
~ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
- "Ada yang hanya berstatus, tapi tak saling cinta. Ada yang sudah saling cinta, tapi tak bisa bersama." (Boy Candra)