raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pondasi harapan di lembah aethelgard
Fajar menyingsing di Lembah Aethelgard, menyapu sisa-sisa embun yang hinggap di atap gubuk kecil mereka. Bagi Ferdi, ini bukan sekadar pagi biasa. Hari ini adalah titik balik di mana ia harus membuktikan bahwa seorang pria yang pernah mengguncang dunia dengan kegelapan, mampu menghidupi istrinya dengan keringat dan otot murni.
Gubuk satu kamar yang mereka bangun saat pertama kali tiba mulai terasa sempit. Ferdi ingin memberikan yang terbaik untuk Vani—sebuah dapur yang luas, ruang tengah yang hangat, dan peternakan yang kokoh.
"Vani, aku akan masuk lebih dalam ke hutan hari ini," ujar Ferdi sambil mengencangkan ikat pinggang kulitnya. Di pinggangnya terselip belati berburu, dan di tangannya tergenggam kapak penebang kayu yang berat.
Vani, yang sedang menata benih di teras, menatap suaminya dengan binar bangga. "Hati-hati, Ferdi. Aku akan pergi ke pasar kota untuk mencari bumbu. Aku ingin masakan malam ini terasa istimewa sebagai perayaan rumah baru kita nanti."
Ferdi mengangguk, lalu mengenakan kain penutup wajah hitamnya. Ia tidak ingin identitasnya sebagai Raja Kegelapan mengganggu kedamaian ini. "Sampai jumpa di sore hari, Istriku."
Ferdi melangkah menembus semak belukar yang rimbun. Targetnya adalah pohon-pohon jati kuno di jantung hutan yang kayunya terkenal sekeras batu. Begitu sampai, ia melepas kemeja kasarnya, membiarkan tubuhnya yang atletis terpapar udara hutan yang dingin.
Plak! Plak! Plak!
Suara kapak menghantam kayu bergema di seluruh penjuru hutan. Ferdi bersumpah tidak akan menggunakan setetes pun sihir kegelapan. Ia ingin merasakan pedihnya telapak tangan yang melepuh dan otot yang menegang. Baginya, setiap ayunan kapak adalah penebusan atas masa lalunya yang penuh darah.
"Ugh..." Ferdi menyeka keringat yang bercampur debu kayu. "Ternyata membangun jauh lebih melelahkan daripada menghancurkan."
Setelah merobohkan dua pohon besar, Ferdi memutuskan untuk berburu. Ia butuh stok daging yang banyak untuk musim tanam mendatang. Namun, saat ia sedang melacak jejak rusa, indranya menangkap hawa jahat yang pekat.
Di sebuah kliring hutan, Ferdi melihat pemandangan yang menjijikkan. Seekor Iblis Tersesat—makhluk buangan dari dimensi bawah yang haus darah—sedang mengoyak seekor rusa jantan besar. Iblis itu setinggi tiga meter, dengan taring yang meneteskan cairan asam dan mata merah yang gila.
Iblis itu menoleh, melihat Ferdi yang berdiri tenang dengan penutup wajah. "Manusia rendahan... kau datang untuk menjadi hidangan penutupku?" desis sang iblis. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di balik kain hitam itu adalah penguasa yang dulu ditakuti kaumnya.
Ferdi tidak bicara. Ia menurunkan kapaknya dan menghunus belati berburunya.
"Kau mengotori hutan ini," ujar Ferdi dingin.
Iblis itu menggeram dan menerjang dengan kuku-kuku tajamnya. Ferdi melompat mundur, gerakannya murni mengandalkan refleks fisik. Tanpa sihir pelindung, satu goresan saja bisa berakibat fatal.
Srat!
Kuku iblis itu merobek lengan baju Ferdi. Ferdi tidak gentar. Ia berguling di bawah kaki iblis tersebut dan menyayat urat belakang kakinya. Iblis itu melolong murka.
"Beraninya kau!" Iblis itu menghantamkan tinjunya ke tanah, menciptakan getaran hebat. Ferdi terpelanting, dadanya menghantam batang pohon. Rasa sakit yang menusuk menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Sakit ini... nyata," batin Ferdi sambil terbatuk darah. Namun, ia justru tersenyum di balik penutup wajahnya. Ia merasa hidup.
Ferdi bangkit dengan cepat. Saat iblis itu melompat untuk menerkamnya, Ferdi melempar kapaknya ke arah wajah sang iblis sebagai pengalihan. Iblis itu menangkis kapak tersebut, namun itu adalah celah yang dibutuhkan Ferdi. Ia melesat maju, memanjat tubuh besar makhluk itu, dan menancapkan belatinya tepat di sela tengkorak sang iblis.
Jleb!
Makhluk itu ambruk dengan debuman keras. Ferdi berdiri di atas bangkai itu, napasnya tersengal-sengal. Ia menang menggunakan kekuatan manusianya.
Vani dan Rahasia Dapur di Pasar
Sementara itu, Vani berjalan anggun di tengah keramaian pasar kota. Ia menutupi rambut emasnya dengan kerudung sederhana, namun auranya tetap terpancar. Ia berhenti di kedai bumbu langganannya.
"Nenek, aku butuh lada hitam, kayu manis, dan biji pala yang paling segar," ujar Vani ramah.
"Tentu, Nak. Untuk masakan apa hari ini?" tanya sang nenek penjual bumbu.
"Suamiku sedang bekerja keras membangun rumah kami. Aku ingin memberinya gulai daging yang paling lezat," jawab Vani sambil tersenyum tulus.
Vani tidak sengaja mendengar bisikan pedagang tentang monster yang menghuni hutan utara.
Hatinya bergetar cemas, namun ia segera menenangkan diri. Ia percaya pada Ferdi. Kekuatan suaminya bukan hanya pada sihirnya, tapi pada tekadnya yang sekeras baja.
Kepulangan dan Omelan Sang Ratu Cahaya
Sore harinya, Ferdi muncul dari kegelapan hutan dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Ia menyeret dua batang kayu jati raksasa dan memanggul rusa hasil buruannya. Penutup wajahnya sobek, bajunya penuh bercak darah kering, dan memar ungu terlihat jelas di tulang pipinya.
Vani, yang baru saja selesai menata bumbu di dapur, menoleh ke arah pintu dan seketika menjatuhkan sendok kayunya. Matanya membelalak, bukan karena kagum pada hasil buruannya, tapi karena amarah yang bercampur cemas.
"FERDI! APA-APAAN INI?!" teriak Vani sambil berlari menghampiri suaminya di halaman.
Ferdi meletakkan kayu itu dengan suara berdentum. "Hanya sedikit hambatan di hutan..."
"Hambatan katamu?! Lihat dirimu!" Vani memotong ucapan Ferdi dengan nada melengking, tangannya bergerak cepat memeriksa robekan di baju suaminya.
"Ini bekas cakar, Ferdi! Cakar iblis! Kau bilang hanya menebang kayu, kenapa kau malah pulang seperti habis digiling mesin perang?! Apa kau lupa cara menghindar? Atau kau sengaja membiarkan dirimu dipukuli?!"
Ferdi mencoba menenangkan istrinya. "Vani, aku sengaja tidak memakai sihir agar—"
"Agar apa?! Agar kau terlihat gagah karena punya luka?" serang Vani lagi, kini sambil menarik tangan Ferdi masuk ke dalam rumah dengan paksa. "Duduk! Jangan membantah! Kau ini keras kepala sekali. Kalau terjadi apa-apa padamu di tengah hutan tadi, siapa yang akan membantuku membangun rumah ini? Hantu?! Kau pikir aku akan senang melihat pilar rumah ini berdiri tapi suaminya penuh lubang cakar?!"
Sambil mengomel tanpa henti, Vani dengan kasar namun telaten merobek sisa baju Ferdi untuk membersihkan lukanya. "Lain kali kalau kau pulang dengan luka sebanyak ini lagi, aku akan menyegel semua kapakmu dan kau tidak boleh keluar rumah selama sebulan! Mengerti?!"
Ferdi hanya bisa terdiam, menerima omelan bertubi-tubi itu dengan senyum tipis di balik wajahnya yang lelah. Ia tahu, di balik setiap kata tajam Vani, ada rasa sayang yang luar biasa besar yang tidak ingin kehilangannya.
Malam itu, di bawah cahaya lampu minyak yang temaram, mereka makan bersama dengan lahap. Meski telinga Ferdi masih panas karena omelan Vani, hatinya merasa sangat damai.