Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.
Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.
Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.
Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.
Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18. DUEL
Suasana di area latihan Divisi Vanguard yang semula dipenuhi suara latihan dan benturan senjata tiba-tiba berubah ketika pria itu muncul.
Langkahnya berat namun santai.
Seolah seluruh lapangan adalah miliknya.
Pria itu berjalan perlahan di atas tanah lapangan yang padat. Rambut merahnya sedikit berantakan tertiup angin, dan pedang besar di bahunya tampak seperti bagian dari tubuhnya sendiri.
Beberapa murid langsung menegakkan tubuh.
Beberapa lainnya menyingkir sedikit.
Semua orang mengenalnya.
Leonhart Draven.
Anggota Student Council peringkat ketiga di Akademi Sihir Oberyn.
Seorang petarung yang semua murid Divisi Vanguard hingga divisi lain selalu dengar namanya.
Seorang yang terkenal karena satu hal.
Ia menyukai duel.
Terlalu menyukainya.
Tatapan Leonhart bergerak menyapu seluruh lapangan dengan senyum tipis yang penuh kesombongan.
Namun kemudian ... tatapannya berhenti.
Di sudut lapangan.
Di tempat Elara berdiri bersama para senior.
Senyumnya melebar.
"Ketemu," ujar Leonhart.
Ia berjalan lurus ke arah mereka. Langkahnya tidak cepat. Namun setiap langkah terasa berat, membuat suasana lapangan semakin tegang.
Para murid yang berada di jalurnya otomatis menyingkir.
Darius langsung menghela napas kesal ketika melihatnya mendekat.
"Ah, sial." Mira juga mengerutkan kening. "Kenapa dia muncul sekarang ...."
Elara menoleh sedikit, memerhatikan pria yang berjalan ke arah mereka.
Ini pertama kali Elara melihat pria bertubuh besar itu.
Namun dari reaksi orang-orang di sekitar jelas Leonhart cukup ditakuti.
Leonhart akhirnya berhenti beberapa langkah dari mereka. Matanya langsung tertuju pada Elara. Ia memiringkan kepala sedikit. Seolah sedang menilai.
Lalu ...
Dengan gerakan cepat, ia menarik pedang besar dari punggungnya.
SWING!
Ujung pedang itu langsung menunjuk lurus ke arah Elara.
"Ayo kita duel!"
Suasana lapangan langsung meledak.
"Apa?!"
"Serius?!"
"Dia menantang anak baru?!"
Suara gaduh langsung memenuhi seluruh area latihan.
Namun di tengah semua itu Elara tetap berdiri tenang. Matanya menatap Leonhart tanpa rasa takut.
Darius langsung melangkah maju dengan wajah marah untuk menamengi Elara.
"Leon!" Suara Darius menggema keras. "Apa kau sudah gila menyuruh anak baru berduel denganmu?! Terlebih kau mengajak duel seorang perempuan! Dimana harga dirimu sebagai pria dan seorang kesatria?!"
Leonhart menoleh perlahan. Tatapannya tajam seperti binatang buas. "Jangan ikut campur, Darius."
Suasana langsung membeku.
Mira melangkah maju dengan wajah marah. "Hentikan, Leon! Kau hanya berakhir melukai murid lain setiap mau memaksa mereka berduel! Kau adalah Student Council, mau sampai kapan kau bersikap sok hebat dan menghancurkan mental para murid?!"
Leonhart tersenyum mengejek. "Aku menghancurkan mental murid?" Ia tertawa pelan. "Itu karena mereka sendiri yang lemah."
Tatapan Leonhart menyapu murid-murid yang menonton. "Bagaimana mereka bisa bertahan di luar sana jika berhadapan denganku saja mereka sudah menangis?"
Beberapa murid langsung menunduk.
Kael mengepalkan tangannya. "Jangan ganggu anak baru." Suaranya berat. "Cari saja lawan yang sepadan denganmu. Dia masih belajar dan belum mengerti apa pun."
Darius melangkah lebih dekat. "Jika kau terus seperti. Aku akan memanggil Ketua Student Council."
Suasana mendadak sunyi.
Ekspresi Leonhart langsung berubah. Matanya menyala penuh kemarahan. "Ketua Student Council?"
Darius menatap tak kalah tajam kepasa Leonhart.
Leonhart menatap mereka satu per satu. "Berhentilah bersembunyi di belakang orang kuat." Aura mana mulai bergetar di sekeliling tubuhnya. "Kalian lemah."
Dan sebelum siapa pun sempat bereaksi Leonhart mengangkat tangannya. Energi sihir besar berkumpul di telapak tangan pria itu.
"Menyingkir."
BOOM!
Gelombang tekanan sihir meledak keluar.
Darius langsung terlempar.
"UGH!"
Tubuh Darius menghantam dinding batu di pinggir lapangan.
Debu beterbangan.
Semua orang berteriak kaget.
Namun sebelum siapa pun sempat bergerak ...
Sesuatu terjadi.
Angin berdesir cepat.
Sebuah bayangan melesat.
CLANG!
Leonhart tiba-tiba terdorong mundur beberapa langkah. Matanya membelalak.
Di depannya ... Elara berdiri. Pedangnya menekan pedang besar Leonhart. Gadis itu bergerak secepat kilat.
Leonhart tersenyum. Senyum yang penuh tantangan. "Jadi kau akhirnya maju," katanya.
Elara menatapnya tajam. "Kau menyebut dirimu kesatria?!" Suaranya penuh kemarahan. "Berani sekali melukai orang lain hanya karena kau merasa lebih hebat! Kau tidak lebih dari pecundang berotak otot!"
Suasana meledak.
Leonhart langsung murka. "Berani sekali kau!"
Pria itu mengangkat pedangnya.
Dan menyerang.
CLANG!
CLANG!
CLANG!
Pedang mereka bertabrakan berkali-kali.
Leonhart menyerang dengan kekuatan brutal.
Setiap ayunan pedangnya seperti palu raksasa.
Elara bertahan.
Ia menangkis.
Menghindar.
Membalas.
Namun perbedaan kekuatan mereka terlalu besar. Leonhart memang sangat kuat dalam pertarungan fisik.
BOOM!
Elara terpental. Tubuhnya menghantam tanah.
Debu beterbangan.
Namun ...
Elara bangkit.
Tanpa ragu.
Leonhart menyerang lagi.
CLANG!
Elara kembali terpental.
Darah mulai mengalir dari bibirnya.
Namun ia bangkit lagi.
Murid-murid yang menonton mulai panik.
"Berhenti!"
"Dia bisa mati!"
Namun duel itu terus berlanjut.
Leonhart menggertakkan giginya. Ia tidak mengerti. Kenapa gadis ini masih berdiri?
Setiap serangannya cukup untuk menjatuhkan murid biasa.
Namun Elara terus bangkit. Ia tetap memasang kuda-kuda menyerang dengan sempurna. Walau tubuhnya sudah babak belur.
Leonhart semakin kesal. "Cukup!"
Mana mulai berkumpul di pedang Leonhart. Cahaya sihir menyelimuti bilah pedang besar itu. Ia menyerang lagi.
BOOM!
Elara terhempas.
Namun ...
Gadis itu bangkit lagi.
Semua orang mulai berteriak panik.
Mira bahkan sudah menangis. "Leon, hentikan!"
Kael menggertakkan giginya. "Dia bisa mati, Brengsek!"
Namun Leonhart tidak berhenti.
Sebaliknya ...
Elara justru berhasil menjatuhkan Leonhart beberapa kali.
Dengan gerakan cepat.
Dengan teknik pedang yang tajam.
Leonhart semakin marah.
Sementara Elara berdiri di tengah lapangan. Tubuhnya penuh luka. Napasnya berat. Namun matanya masih menyala.
Tekad yang tidak tergoyahkan.
Leonhart menatapnya dan meraung, "Kenapa kau masih berdiri?!" Suaranya penuh kemarahan. "Seharusnya kau sudah menyerah! Kau bahkan tidak punya tenaga lagi untuk melawanku!"
Elara tersenyum lemah. "Menyerah?"Apa itu menyerah? Aku tidak kenal kata itu."
Elara mengangkat pedangnya dan memasang kuda-kuda kembali, dan berkata lagi, "Kesatria tidak boleh menyerah apa pun yang terjadi selama napasnya masih ada."
Leonhart menatap Elara tak percaya.
Mata gadis itu menatap Leonhart tanpa gentar. "Kau tidak mengerti apa arti kuat sebenarnya. Orang kuat bukan orang yang menjatuhkan banyak lawan. Tapi mereka yang berdiri sampai akhir. Jangan remehkan orang lemah! Karena yang lemah selalu punya cara untuk menjadi kuat!"
Harga diri Leonhart terasa tergores. Wajahnya memerah oleh kemarahan.
"Kalau begitu-" Mana meledak di pedang Leonhart. "Aku akan menghancurkanmu!"
Pria itu menyerang.
Gelombang sihir besar meluncur.
Namun ...
Elara menarik napas. Ia mengingat kata-kata para senior. Ia mengalirkan mana ke pedangnya.
Energi tipis menyelimuti bilah pedang itu.
Lalu ...
Elara menebas serangan sihir itu.
PATSS!
Serangan sihir Leonhart terbelah dua.
Semua orang terdiam.
"Tidak mungkin!"
"Dia membelah sihir?!"
Namun setelah itu ... Elara limbung. Tenaganya habis. Tubuhnya hampir jatuh. Namun ia menolak untuk jatuh. Elara mengangkat pedangnya kembali dan menatap Leonhart seolah berkata; hanya segitu kekuatanmu?
Leonhart menatap Elara dengan marah.
Lalu menyerang lagi.
Namun tiba-tiba ...
Sebuah penghalang sihir muncul.
CLANG!
Pedang Leonhart berhenti. Seseorang berdiri di depan Elara dan dirinya.
Dengan mudah menahan pedang Leonhart dengan tangannya.
Leonhart membeku.
Wajahnya pucat. "Ketua?"
Orang itu berdiri dengan tenang. Rambut pirangnya berkilau di bawah matahari.
Aura sihirnya berat dan menekan seluruh lapangan.
Dia adalah Aaron Oberyn.
Ketua Student Council Akademi Oberyn.
Dan juga Putra Duke Arram Oberyn.
Aaron menatap Leonhart. Wajahnya sangat dingin. Matanya penuh kemarahan.
Suasana lapangan terasa seperti membeku.
"Leonhart." Suara Aaron rendah. Namun mengandung tekanan yang luar biasa. "Sejak kapan Akademi Oberyn berubah menjadi tempat bagi pengecut yang menyerang murid lain sampai hampir mati?"
Leonhart menelan ludah. Aaron bukan lawan yang bisa ditaklukkan siapa pun. Murid nomor satu yang kekuatannya diakui oleh kerajaan sihir itu sendiri.
𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐩 🤪🤪
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
panik donk😜🤣🤣
hyper nya 🤣🤣😜
ya anda coba aja rasakan😜