Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.
Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.
Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Pagi berikutnya, sinar matahari menyusup lewat celah tirai villa, membangunkan Xiao Han lebih awal dari biasanya. Lin Qing masih tertidur di sampingnya, napasnya pelan dan teratur, rambut hitamnya tersebar di bantal seperti tinta yang tumpah. Xiao Han duduk di pinggir tempat tidur, memandang danau yang mulai berkilau di bawah cahaya pagi. Ponselnya sudah penuh notifikasi tak terbaca: pesan dari Xiao Mei yang bertanya kapan pulang, panggilan tak terjawab dari Hua Ling’er, dan reminder tagihan obat ibunya yang jatuh tempo tiga hari lagi.
Dia menarik napas panjang, lalu menoleh ke Lin Qing yang mulai menggeliat.
"Kamu sudah bangun," gumam Lin Qing sambil membuka mata setengah. Suaranya masih serak pagi. "Sudah mikir?"
Xiao Han mengangguk pelan. "Aku terima."
Lin Qing tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak langsung mencapai matanya. Dia duduk, selimut sutra melorot memperlihatkan bahu dan garis lehernya yang halus.
"Bagus. Mulai bulan depan kamu resmi jadi supir pribadiku. Aku akan urus kontrak sederhana, gaji 15 juta per bulan, dibayar tanggal 5 setiap bulan. Tunjangan transport, asuransi kesehatan, dan bonus kalau ada perjalanan luar kota. Kamu nggak perlu kerja di pos lagi. Serahkan surat pengunduran diri ke kantor pos minggu ini."
Xiao Han diam sejenak, merasakan beban di dadanya bergeser, bukan hilang, tapi berubah bentuk.
"Aku masih perlu waktu buat bilang ke keluarga. Dan... aku nggak mau mereka tahu detailnya."
Lin Qing mengangguk. "Itu urusanmu. Yang penting, mulai sekarang kamu hanya milikku. Tidak ada panggilan lain dari akun Call Man Service. Matikan akun itu, atau aku yang urus."
Xiao Han menggeleng pelan. "Aku urus sendiri."
Lin Qing merangkak mendekat, tangannya menyentuh pipi Xiao Han. "Kamu nggak akan nyesel. Aku janji."
Dia mencium Xiao Han pelan, ciuman pagi yang lembut tapi penuh kepemilikan. Xiao Han membalas, tapi pikirannya sudah melayang ke tempat lain: kontrakan kecil di pinggiran kota, ibu yang lumpuh di kasur tipis, Xiao Mei yang menunggu kakaknya pulang dengan cerita sekolah, dan Hua Ling’er yang kemarin menangis di pelukannya.
Lin Qing bangun dari tempat tidur, berjalan telanjang ke kamar mandi sambil berkata, "Mandi dulu. Sarapan di balkon. Setelah itu aku antar kamu pulang. Mulai besok, kamu mulai latihan mengemudi mobilku. Aku punya Mercedes baru yang belum dipakai."
Xiao Han mengangguk, tapi saat Lin Qing menghilang di balik pintu kamar mandi, dia mengambil ponselnya dan membuka akun media sosial "Call Man Service". Jarinya ragu di atas tombol delete account. Akhirnya, dia menekan hapus. Layar berubah gelap, seperti menutup satu bab kehidupan.
Saat sarapan di balkon, roti panggang, telur orak-arik, dan kopi hitam, Lin Qing duduk di seberangnya, sudah rapi dengan blazer putih dan rok pensil.
"Pertama kali kamu resmi kerja sama aku, kita ke kantor pusat Lin Group besok pagi. Kamu antar aku, tunggu di parkir, lalu ikut makan siang dengan investor. Pakai baju rapi. Aku sudah pesan setelan untukmu."
Xiao Han menatap cangkir kopinya. "Terima kasih."
Lin Qing mencondongkan tubuh, jarinya menyentuh dagu Xiao Han agar pria itu menatapnya.
"Ini bukan cuma uang, Xiao Han. Ini kesempatan. Kamu bisa selamatkan keluargamu. Dan... kalau kamu setia, aku bisa kasih lebih dari itu."
Xiao Han mengangguk lagi, tapi di dalam hatinya ada suara kecil yang terus berbisik: apakah ini keselamatan, atau jebakan yang lebih halus?
Setelah sarapan, Lin Qing mengantarnya pulang dengan mobil Mercedes hitam yang mengkilap. Sepanjang perjalanan, Lin Qing memegang tangan Xiao Han di atas konsol tengah, seperti pasangan biasa. Tapi Xiao Han tahu, ini bukan hubungan biasa.
Saat mobil berhenti di depan gang kontrakan, Lin Qing mencium pipinya pelan.
"Besok pagi jam 7. Aku jemput di sini. Jangan telat."
Xiao Han keluar dari mobil, menatap kendaraan mewah itu meluncur pergi. Dia berdiri di mulut gang lama sekali, memandang rumah kecil yang sudah menunggunya.
Di dalam, Xiao Mei pasti sudah bangun, ibunya mungkin sedang minum obat pagi, dan Hua Ling'er mungkin sedang menunggu pesan darinya.
Dia menghela napas panjang, lalu melangkah masuk.
Mulai sekarang, hidupnya berubah.
Dan dia tidak tahu apakah perubahan itu akan menyelamatkannya... atau menghancurkannya?