Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.
Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PAGAR DESA DAN HATI YANG TERBUKA
Dua minggu setelah cerita masa lalu Kakek Li terungkap...
Desa Qinghe berubah.
Bukan secara dramatis — rumah-rumah masih sama, sawah masih hijau, orang-orang masih bekerja seperti biasa. Tapi ada tambahan. Pagar bambu setinggi tiga meter kini mengelilingi seluruh desa, dengan dua pos jaga di pintu masuk utara dan selatan.
Wei Chen berdiri di pos jaga utara, mengawasi para pemuda yang sedang berlatih. Dua puluh orang, usia 17–25, dipersenjatai tombak bambu dan pedang kayu. Mereka berlatih di bawah arahan Pak Roto — mantan prajurit kekaisaran yang kini jadi petani di desa tetangga.
"Keras, Tuan!" teriak Pak Roto. "Tombak harus lurus! Jangan goyah!"
Para pemuda itu berteriak serempak, menusuk-nusuk udara dengan tombak mereka. Keringat bercucuran, tapi semangat mereka tinggi.
Lim Xiu berdiri di samping Wei Chen, mengamati dengan mata kritis.
"Ini butuh biaya besar," katanya. "Gaji Pak Roto, bambu untuk pagar, senjata latihan, makan untuk anak-anak..."
"Aku tahu."
"Kita keluar 500 koin perak bulan ini untuk keamanan."
Wei Chen mengangguk. "Aku tahu."
Lim Xiu menghela napas. "Aku tidak bilang ini sia-sia. Tapi aku hanya ingin pastikan kau sadar."
"Aku sadar." Wei Chen menatapnya. "Keamanan itu investasi, bukan biaya."
Lim Xiu diam. Lalu tersenyum tipis.
"Kadang aku lupa kau ini CEO."
"Aku memang CEO."
Mereka tertawa kecil. Hubungan mereka — setelah berbulan-bulan bekerja sama — sudah lebih dari sekadar mitra bisnis. Ada rasa hormat. Mungkin juga persahabatan.
---
Sore harinya, Wei Chen periksa hasil latihan.
Para pemuda itu berkumpul di lapangan desa, wajah mereka merah dan berkeringat. Tapi mata mereka bersemangat.
"Bagaimana, Tuan?" tanya Jarwo — pemuda 19 tahun yang paling menonjol di antara mereka. "Kami sudah cukup kuat?"
Wei Chen menggeleng. "Belum."
Wajah Jarwo turun.
"Tapi kalian sudah mulai," lanjut Wei Chen. "Latihan sebulan lagi, baru kita lihat."
Jarwo mengangguk semangat. "Kami tidak akan mengecewakan, Tuan!"
Para pemuda itu berteriak setuju. Wei Chen hampir tersenyum. Semangat anak muda.
Pak Roto mendekat. "Tuan Wei, mereka cepat belajar. Beberapa punya bakat alami. Mungkin bisa jadi kultivator kalau dilatih serius."
"We butuh guru kultivasi?"
"Iya. Aku hanya bisa ajar dasar. Untuk level lebih tinggi, butuh guru khusus."
Wei Chen mengangguk. "Aku cari."
---
Malam harinya, Wei Chen cerita pada Mei Ling.
Dia mendengar dengan serius sambil menyelesaikan anyaman bambu — keranjang untuk tempat bibit.
"Guru kultivasi?" Mei Ling mengangkat alis. "Mahal, ya?"
"Mungkin. Tapi kita butuh."
"Untuk apa? Kita punya Kakek Li."
"Kakek Li bisa ajar, tapi dia tidak bisa terus-terusan. Dia sudah tua."
Mei Ling diam. Lalu, "Kau benar." Dia meletakkan anyamannya. "Aku bisa bantu cari. Dari kenalan ibu dulu."
"Kenalan ibu?"
"Ibu kenal beberapa orang. Pengembara, pedagang, mantan murid sekte. Mungkin ada yang bisa bantu."
Wei Chen mengangguk. "Coba hubungi."
Mei Ling tersenyum. "Senang bisa bantu."
---
Seminggu kemudian, seorang pria paruh baya datang ke desa.
Namanya Guru Anta. Mantan murid sekte kecil di gunung utara. Kultivasinya level Inti Emas — cukup untuk ajar dasar-dasar.
Wei Chen menerimanya di kantor. Pria itu sederhana, jubah lusuh, rambut acak-acakan. Tapi matanya tajam.
"Kau yang cari guru kultivasi?" tanyanya langsung.
Wei Chen mengangguk. "Aku butuh orang yang bisa ajar pemuda desa."
"Untuk apa?"
"Untuk jaga desa."
Guru Anta mengamatinya. "Kau takut diserang?"
"Mungkin."
Guru Anta tersenyum. "Jujur." Dia duduk. "Berapa bayaran?"
"50 koin perak sebulan, plus makan dan tempat tinggal."
Guru Anta mengangkat alis. "Lumayan." Dia berpikir. "Tapi aku minta satu lagi."
"Apa?"
"Aku boleh buka praktik pengobatan di sini. Pakai ilmu kultivasi. Bisa bantu orang sakit."
Wei Chen mengangguk. "Boleh."
"Setuju." Guru Anta mengulurkan tangan.
Mereka bersalaman. Guru baru untuk desa.
---
Tiga bulan kemudian...
Desa Qinghe berubah lagi.
Pagarnya sekarang lebih kokoh — bambu diganti kayu ulin, dengan menara pengawas di empat sudut. Pos jaga bertambah jadi empat, dengan 24 jam penjagaan bergantian.
Para pemuda desa — sekarang 30 orang — sudah bisa kultivasi level dasar. Sebagian sudah mencapai Pengumpul Qi Tahap Awal. Cukup untuk lawan preman biasa.
Guru Anta juga membuka klinik kecil. Setiap hari, orang-orang datang berobat. Dari demam biasa sampai luka-luka ringan. Dia terkenal ramah dan murah.
Wei Chen duduk di kantornya, memeriksa laporan.
Pendapatan bulan ini: 15.000 koin perak. Laba: 6.000 koin perak.
Tabungannya sekarang 15.000 koin perak — 1.500 koin emas.
Masih jauh dari 10.000 koin emas. Tapi lumayan.
Pintu terbuka. Lim Xiu masuk dengan senyum lebar.
"Wei, kabar baik."
"Apa?"
"Klan Naga Hitam pesan 500 lampu lagi. Klan Bunga Naga pesan 300 tungku." Dia meletakkan dokumen. "Total 4.000 koin perak."
Wei Chen membaca. Mengangguk.
"Bagus."
Lim Xiu duduk. "Wei, boleh tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Kau pernah jatuh cinta?"
Wei Chen mengangkat kepala. Pertanyaan tiba-tiba.
"Kenapa tanya?"
"Aku penasaran." Lim Xiu tersenyum. "Lihat kau sama Mei Ling... aku jadi ingin tahu."
Wei Chen diam. Jatuh cinta? Di bumi, dia tidak pernah punya waktu. Tapi di sini...
"Mungkin," jawabnya akhirnya.
"Mungkin?"
"Aku tidak tahu pasti. Tapi..." Dia berhenti. "Aku tidak mau kehilangan dia."
Lim Xiu tersenyum. "Itu cinta, Wei."
Wei Chen diam. Memikirkan.
"Kau harus bilang," lanjut Lim Xiu. "Jangan tunda."
"Aku sudah bilang."
"Benaran?"
"Benaran."
Lim Xiu tertawa. "Syukurlah." Dia berdiri. "Aku pergi dulu. Ada urusan."
Setelah Lim Xiu pergi, Wei Chen duduk diam.
Cinta.
Kata itu masih asing. Tapi kalau cinta artinya rela lakukan apa saja untuk seseorang... mungkin iya.
Dia ingat Mei Ling. Senyumnya. Tawanya. Caranya memeluk saat Wei Chen butuh kekuatan.
Iya. Ini cinta.
---
Malam harinya, Wei Chen duduk di beranda bersama Mei Ling.
Bulan purnama. Cahayanya perak. Angin sepoi-sepoi.
"Chen, hari ini Lim Xiu bilang sesuatu."
"Apa?"
"Dia bilang kau... sayang aku." Mei Ling tersenyum malu. "Benar?"
Wei Chen mengangguk. "Benar."
Mei Ling wajahnya merah. "Kau... kau ini..."
"Aku ini?"
"Tidak tahu malu."
Wei Chen tersenyum tipis. "Aku CEO. Aku selalu tahu apa yang kuinginkan."
Mei Ling memukul lengannya pelan. Lalu memeluknya.
"Aku juga sayang kau."
Mereka berpelukan. Hangat. Lama.
Di luar, bintang-bintang bersinar terang.
---
Chapter 22 END.
---