Arabelle, seorang barista, tak menyangka hidupnya akan berubah ketika Lorenzo Devereaux, pemimpin dunia bawah yang dikenal sebagai Damon, datang menagih utang ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Hujan mulai turun begitu mobil memasuki jalanan kompleks perumahan Arabelle, rintik kecil yang dalam hitungan menit berubah menjadi deras, menghantam kaca depan dengan bunyi yang tidak bisa diabaikan.
"Pelan sedikit," kata Arabelle pelan.
Lorenzo tidak banyak memperlambat.
Sepuluh menit kemudian, diselingi kemacetan yang tidak peduli cuaca, mobil berhenti di depan rumah Arabelle. Lorenzo mengambil payung hitam dari jok belakang dan menyodorkannya.
"Rumahku di sini," kata Arabelle, mendorongnya kembali. "Aku lari saja."
Lorenzo menariknya ke dalam ciuman panjang sebelum ia sempat membuka pintu dan ketika mereka terpisah, Arabelle sudah setengah lupa apa yang tadinya ingin ia lakukan.
"Sampai malam nanti," bisiknya.
Arabelle turun dan berlari ke depan pintu.
Di dalam, Daniel dan Catherine langsung menyambutnya. Catherine memeluk, Daniel menepuk bahunya, dan Mila merangkak cepat dari arah karpet dengan kedua tangan teracung. Mochi menyusul, lidahnya sibuk sebelum Arabelle sempat membungkuk.
"Hei, hei." Arabelle mengangkat Mila. "Kamu kenapa semangat sekali?"
Anak itu tertawa.
**
Setelah menaruh tas di kamar dan membereskan baju yang ternyata tidak sempat dipakai, Arabelle turun ke ruang tamu. Keempat anggota keluarganya duduk di sofa tapi ada sesuatu di udara yang sedikit berbeda dari biasanya.
Daniel duduk lebih tegak. Catherine menyilangkan tangan di pangkuannya.
"Duduk sebentar, Arabelle," kata Daniel.
Ia duduk. "Ada apa?"
"Ayah dan Ibu perlu bicara sesuatu."
Arabelle menunggu.
"Kami harus pergi ke luar kota, mungkin luar negeri, untuk urusan bisnis. Dulu, sebelum menikah, Ayah punya beberapa koneksi yang sekarang ingin dihidupkan kembali." Daniel berhenti sebentar. "Kami berangkat besok. Paling cepat minggu depan baru pulang. Paling lama, dua minggu."
Arabelle menatapnya. Lalu ke Catherine. Lalu ke Mila yang tidak mengerti apa-apa dan sedang sibuk menarik-narik ujung baju Catherine.
"Mila ikut?" tanyanya.
"Ikut," jawab Catherine.
Hening sebentar.
Arabelle belum pernah ditinggal selama itu. Bukan karena mereka tidak pernah pergi, tapi karena ia selalu ikut, atau paling tidak Mila selalu ada. Rumah ini tidak pernah benar-benar kosong dari semua orang.
"Tidak ada masalah," katanya akhirnya, berdiri. "Kalian pergi saja."
Catherine memanggil namanya sebelum ia mencapai tangga. "Kami tinggalkan uang yang cukup. Untuk makan, atau apa saja yang kamu butuhkan."
Arabelle mengangguk tanpa menoleh, lalu naik ke kamarnya.
**
Ia berbaring di kasur, menatap langit-langit.
Bukan karena marah. Lebih ke, aneh. Seperti tanah di bawah kakinya tiba-tiba terasa sedikit kurang padat dari biasanya.
Ia mengambil ponsel dan menekan nama Lorenzo.
"Halo." Suaranya terdengar dalam dan berat seperti biasa.
"Lorenzo, aku-- " Arabelle berhenti. "Aku tidak tahu kenapa aku telepon, tapi aku rasa kita tidak jadi ketemu malam ini."
"Kenapa?"
"Orang tuaku berangkat besok. Perjalanan bisnis. Dua minggu." Ia menarik napas. "Aku tidak biasa ditinggal selama itu."
Sejenak hening di ujung sana.
"Aku jemput jam delapan. Kita bicara."
Klik.
Arabelle menatap layar yang sudah gelap, lalu meletakkan ponsel di atas dada. Di luar, hujan masih turun.
Ia menghabiskan sisa sore dengan menonton Dracin empat episode yang cukup efektif untuk tidak memikirkan hal lain. Sesekali ia turun mengambil air atau camilan, dan setiap kali melewati ruang tamu, Daniel dan Catherine sudah sibuk menyortir pakaian dan mengeluarkan koper.
Pukul tujuh, ia berdiri di depan lemari.
Jins biru tua, sweater putih yang tebal dan nyaman. Riasan tipis. Rambut disisir lurus. Sneakers hitam. Ia berdiri di depan cermin sebentar, cukup, tidak berlebihan.
Tepat pukul delapan, klakson berbunyi satu kali dari luar.
"Ayah, Ibu, aku pergi dulu!"
"Jangan pulang malam-malam!" sahut mereka dari kamar.
Arabelle menyunggingkan senyum kecil. Mereka yang meninggalkan aku dua minggu, tapi yang dikhawatirkan tetap aku pulang kesiangan.
Ia keluar dan masuk ke mobil Lorenzo.
"Hei," sapanya.
"Hei. Baik-baik saja?"
"Lumayan." Ia mengencangkan sabuk pengaman. "Mau ke mana?"
"Kamu akan lihat."
**
Mereka tidak menuju arah yang Arabelle kenal. Jalanan semakin sepi, lalu kota digantikan oleh jalur pesisir dan ketika mobil berhenti, yang ada di depan mereka adalah pantai yang sepenuhnya kosong.
Gelombang bergulung tinggi. Angin membawa garam dan kelembapan khas Laut Mediterania. Tidak ada satu pun orang lain.
"Kenapa pantai?" tanya Arabelle.
"Keluar dulu."
Lorenzo membuka pintu sisinya, dan Arabelle turun. Angin dari arah laut langsung menyambut, dan ia merapatkan sweaternya.
Mereka berjalan ke arah bibir pantai dan di sana, agak jauh dari jangkauan ombak, seseorang sudah menyiapkan semacam area kecil: bantal-bantal besar dan selimut tebal diletakkan di atas pasir, menghadap laut.
Arabelle berdiri memandanginya sebentar.
"Duduk," kata Lorenzo.
Ia duduk di antara bantal-bantal itu, menarik selimut berbulu ke atas pahanya. Lorenzo duduk di sebelahnya, dekat tapi tidak menempel.
"Kamu sering ke sini?" tanya Arabelle.
"Kalau ada hal berat." Matanya ke laut. "Setelah operasi yang tidak berjalan mulus. Setelah kehilangan orang."
Arabelle tidak langsung menjawab. "Orang yang pernah kamu kenal?"
"Beberapa. Orang-orang di duniaku tidak selalu bertahan lama."
Angin membawa suara ombak yang menggulung dan pecah, berulang, teratur. Di kejauhan, cahaya kota Roma berpendar samar di balik bukit.
"Kenapa kamu bawa aku ke sini?" tanya Arabelle.
Lorenzo menoleh ke arahnya. "Karena kamu satu-satunya yang kubawa."
Sesuatu di dada Arabelle bergerak.
Ia menatap laut. Gelombang datang dan pergi. Dan tanpa ia rencanakan, matanya terasa panas.
"Aku tidak mau orang tuaku pergi," katanya pelan. "Bukan karena aku tidak bisa sendiri. Tapi, dua minggu itu lama."
"Kamu bisa tinggal di tempatku selama itu."
Arabelle menoleh. "Sungguh?"
"Aku tidak pernah menawarkan hal yang tidak aku maksudkan."
Ia memandanginya sebentar, wajah yang terlalu terkendali untuk kebanyakan situasi, tapi di sini, di bawah angin pantai dan tanpa siapa-siapa, terasa sedikit lebih terbuka.
"Terima kasih," bisiknya.
Air matanya jatuh, bukan karena sedih yang dalam, lebih karena kelegaan yang datang bersamaan dengan kelelahan dari hari yang panjang. Lorenzo tidak berkata apa-apa. Ia hanya menggerakkan tangannya dan mengusap pipinya dengan ibu jari.
"Berhenti menangis."
"Aku tidak menangis." Tapi suaranya basah.
"Kamu menangis."
"Mataku kemasukan angin."
Ia menghela napas dan sesuatu di caranya melakukan itu terdengar seperti ia menahan tawa.
Mereka duduk di sana cukup lama. Berbicara sedikit, lebih banyak diam, tapi diam yang tidak perlu diisi. Sampai Arabelle menyadari matanya sudah mulai berat.
"Sudah malam," gumamnya. "Kita pulang?"
Lorenzo berdiri duluan, mengulurkan tangannya. Arabelle mengambilnya dan berdiri.
Di dalam mobil, hangatnya udara langsung membuat matanya semakin berat. Ia meletakkan kepala di sandaran kursi.
"Aku mengantuk."
"Tidur. Aku bangunkan kalau sudah sampai."
Arabelle memejamkan mata.
**
Lorenzo mengemudi dalam diam.
Di kursi penumpang, Arabelle sudah tertidur dalam beberapa menit, napasnya teratur, kepalanya miring sedikit ke kanan. Lampu-lampu jalan Roma melintas di wajahnya bergantian.
Ponselnya bergetar di saku. Ia memasukkan earphone satu sisi dengan satu tangan.
"Halo."
"Bos. Kami sudah menangkap orang-orang yang mencuri dari gudang senjata. Mau kami taruh di mana?"
"Bawah. Aku tiba setengah jam lagi." Ia melirik Arabelle sebentar. "Pastikan semua sudah di tempat sebelum aku sampai."
"Siap."
Ia menutup sambungan.
Mobil berbelok ke arah perumahan Arabelle, bukan ke arah rumahnya sendiri. Sudah terlalu malam untuk membawanya kembali ke sana malam ini. Dan ada hal lain yang perlu diselesaikan.
Ia berhenti di depan rumah Arabelle, mematikan mesin.
Hutang Daniel di klub, sudah lama ia hapus dari catatan. Syukurlah Arabelle tidak ingat soal itu, atau tidak pernah tahu angka persisnya.
Ia memandangi Arabelle yang masih tidur di kursi sebelahnya.
Lalu dengan hati-hati, ia membangunkannya.