Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.
Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.
Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kontrak yang Mengikat
Hujan turun sejak sore, membasahi kaca jendela ruang rapat kecil di lantai tiga gedung tua milik keluarga Alina. Di luar, lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, tapi di dalam ruangan itu hanya ada keheningan yang menyesakkan.
Alina berdiri di dekat jendela, memandangi air hujan yang mengalir seperti garis-garis nasib yang tak bisa ia hapus. Di belakangnya, suara batuk pelan terdengar.
“Ayah sudah berusaha,” ucap pria paruh baya itu dengan suara serak. “Tapi mereka menarik semua investasi. Bank menolak memperpanjang kredit. Kita… benar-benar di ujung.”
Alina memejamkan mata sesaat. Ia tahu kondisi perusahaan ayahnya memburuk, tapi melihat langsung laporan keuangan tadi siang tetap terasa seperti pukulan telak. Angka-angka merah memenuhi halaman. Hutang menumpuk. Proyek-proyek mangkrak.
Perusahaan yang dibangun ayahnya selama tiga puluh tahun… bisa runtuh dalam hitungan minggu.
“Ayah jangan minta maaf,” jawab Alina pelan, berbalik menghadap pria itu. “Ini bukan salah Ayah.”
Pria itu tersenyum pahit. Rambutnya yang mulai memutih tampak semakin kusut di bawah lampu neon yang redup. “Kalau saja Ayah tidak terlalu percaya pada rekan bisnis itu…”
“Sudah,” potong Alina lembut. “Kita cari jalan lain.”
Ia mengucapkannya dengan tenang, tapi jantungnya berdetak tak karuan. Karena ia tahu, jalan lain itu bukan jalan yang mudah.
Ketukan di pintu memecah suasana.
Sekretaris ayahnya masuk dengan wajah cemas. “Pak… mereka sudah datang.”
Alina dan ayahnya saling pandang.
“Mereka” tidak perlu dijelaskan lagi.
Keluarga Wijaya.
Konglomerat terbesar di kota ini. Pemilik jaringan properti, perbankan, hingga perusahaan teknologi. Dan di antara mereka, ada satu nama yang paling sering dibicarakan -Arsen Wijaya.
Pewaris tunggal.
Dingin. Kejam. Tidak tersentuh.
Alina menarik napas panjang sebelum melangkah keluar ruangan.
Mobil hitam mengilap terparkir tepat di depan lobi gedung. Dua pria bersetelan jas berdiri di sampingnya seperti patung penjaga. Di dalam lobi, udara terasa lebih dingin dari biasanya.
Arsen Wijaya berdiri membelakangi pintu, menatap lukisan tua di dinding seolah sedang menilai nilainya. Tubuhnya tinggi, tegap, dibalut setelan jas hitam yang dijahit sempurna mengikuti lekuk bahunya. Rambutnya tersisir rapi, wajahnya tegas dengan garis rahang yang tajam.
Ketika ia berbalik, tatapannya langsung bertemu dengan Alina.
Untuk sepersekian detik, waktu terasa berhenti.
Tatapan itu datar. Tenang. Seolah-olah ia sedang menilai barang, bukan manusia.
“Selamat malam,” suara Arsen rendah dan stabil.
Ayah Alina melangkah maju, menjabat tangan pria itu dengan sedikit gugup. “Terima kasih sudah datang, Tuan Arsen.”
Arsen hanya mengangguk tipis sebelum matanya kembali pada Alina.
“Jadi,” katanya, “Anda sudah membaca proposal saya?”
Alina menahan sorot matanya agar tetap tenang. “Sudah.”
“Dan?”
Ia tahu ini bukan sekadar proposal kerja sama biasa. Ini adalah syarat yang diajukan keluarga Wijaya untuk menyuntikkan dana penyelamat ke perusahaan ayahnya.
Sebuah pernikahan kontrak.
Satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa tuntutan.
Sebagai gantinya, perusahaan ayahnya akan diselamatkan.
“Saya ingin mendengar langsung dari Anda,” ujar Alina akhirnya. “Kenapa saya?”
Sudut bibir Arsen terangkat sedikit. Bukan senyum lebih seperti bayangan ironi.
“Keluarga saya membutuhkan istri untuk saya,” jawabnya lugas. “Seorang wanita tanpa latar belakang skandal, tanpa ambisi berlebihan, dan… cukup terdesak untuk menandatangani kontrak.”
Kalimat terakhirnya seperti tamparan halus.
Ayah Alina mengepalkan tangan, tapi Alina mengangkat tangan pelan, menghentikannya.
“Jadi saya hanya solusi sementara?” tanyanya.
“Benar.”
“Dan setelah satu tahun?”
“Kita berpisah. Secara baik-baik. Anda mendapat kompensasi yang lebih dari cukup.”
Hening.
Hujan di luar semakin deras.
Alina menatap pria di depannya. Wajahnya tampan dengan cara yang dingin. Tidak ada emosi yang mudah dibaca. Tidak ada keraguan.
Ia sedang menawarkan kesepakatan bisnis.
Bukan pernikahan.
“Bagaimana jika saya menolak?” tanya Alina.
Arsen menatapnya tanpa berkedip. “Bank akan menyita aset perusahaan dalam dua minggu. Investor lain sudah menarik diri. Anda tidak punya waktu.”
Keheningan kembali turun, kali ini lebih berat.
Alina tahu ia benar.
Ia juga tahu, bagi pria seperti Arsen Wijaya, pernikahan hanyalah strategi. Aliansi. Bentuk pengendalian.
Tapi ia bukan wanita lemah.
Ia hanya… sedang memilih medan perang.
“Baik,” ucapnya akhirnya.
Ayahnya menoleh kaget. “Alina—”
“Baik,” ulang Alina, menatap Arsen lurus-lurus. “Saya terima.”
Arsen mengangguk, seolah-olah sudah menduga jawabannya.
Salah satu asistennya menyerahkan map hitam tipis. Di dalamnya, lembaran kontrak dengan tanda tangan yang sudah disiapkan di satu sisi.
Alina menerima pulpen itu.
Sebelum menandatangani, ia berkata pelan, “Satu hal.”
Arsen mengangkat alis.
“Selama satu tahun ini, saya akan menjalankan peran saya sebagai istri Anda dengan sempurna. Tapi Anda juga harus menjalankan peran sebagai suami di depan publik. Tidak ada penghinaan. Tidak ada skandal.”
Tatapan Arsen sedikit berubah sekilas, seperti ada percikan ketertarikan.
“Setuju,” jawabnya singkat.
Tanpa ragu lagi, Alina menandatangani kontrak itu.
Tinta hitam mengalir di atas kertas putih.
Satu tanda tangan.
Satu tahun hidupnya terikat.
Malam itu, setelah semua orang pergi, Alina berdiri sendirian di balkon apartemennya.
Hujan sudah berhenti. Udara terasa lembap, tapi pikirannya justru jernih.
Ponselnya bergetar.
Sebuah nomor internasional muncul di layar.
Alina menjawab tanpa ragu. “Ya.”
Suara pria tua terdengar dari seberang, dalam bahasa asing yang halus dan terlatih. “Nona, kami sudah menerima laporan. Apakah Anda yakin ingin melanjutkan rencana ini?”
Alina memandang langit kota yang gelap.
“Saya yakin.”
“Begitu identitas Anda terbongkar, situasinya akan berubah drastis.”
“Saya tahu.”
“Harta keluarga bisa langsung menyelamatkan perusahaan ayah Anda. Anda tidak perlu menikah.”
Alina terdiam sejenak.
“Bukan itu tujuannya,” ucapnya pelan.
Ia memejamkan mata, mengingat kembali tatapan dingin Arsen tadi.
“Kadang,” lanjutnya, “cara terbaik untuk mengetahui siapa yang sedang bermain… adalah dengan masuk ke dalam permainannya.”
Di seberang sana, pria itu tertawa kecil. “Seperti yang Anda inginkan, Nona Alina. Semua jaringan finansial tetap siaga di belakang Anda.”
Panggilan berakhir.
Alina menurunkan ponselnya.
Di mata dunia, ia adalah putri pengusaha kecil yang terdesak hingga rela menikah demi uang.
Wanita murahan.
Oportunis.
Tapi mereka tidak tahu.
Ia bukan pion.
Ia adalah pemain.
Dan dalam satu tahun ke depan, bukan hanya perusahaan ayahnya yang akan diselamatkan.
Seseorang akan belajar… bahwa meremehkan Alina adalah kesalahan termahal dalam hidupnya.
Di kejauhan, lampu-lampu kota berkilau seperti ribuan rahasia yang belum terungkap.
Dan permainan itu… baru saja dimulai.
(BERSAMBUNG)