"Menikah muda adalah jalan ninjaku!"
Bagi Keyla, gadis cantik kelas 3 SMA yang keras kepala dan hobi tebar pesona, cita-citanya bukan menjadi dokter atau pengusaha, melainkan menjadi istri di usia muda. Namun, belum ada satu pun pria seumurannya yang mampu meluluhkan hatinya yang pemilih.
Sampai sore itu, hujan turun di sebuah halte bus. Di sana, ia bertemu dengan Arlan. Pria berusia 28 tahun dengan setelan jas mahal, tatapan mata setajam silet, dan aura dingin yang sanggup membekukan sekitarnya. Arlan adalah definisi nyata dari kematangan dan kemewahan yang selama ini Keyla cari. Hanya dengan sekali lirik, Keyla resmi menjatuhkan pilihannya. Om Duda ini harus jadi miliknya.
Keyla memulai aksi pengejaran yang agresif sekaligus menggemaskan, yang membuat Arlan pusing tujuh keliling.
Lantas, mampukah Keyla meluluhkan hati pria yang sudah menutup rapat pintu cintanya? Atau justru Keyla yang akan terjebak dalam gelapnya rahasia sang duda kaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy Yummy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 11
"Tante... mantannya Om Arlan?" Keyla mengulangi kalimat itu, mencoba memastikan indra pendengarannya tidak salah.
Siska melipat tangan di dada, memperhatikan Keyla dengan tatapan yang sulit diartikan—antara meremehkan dan merasa kasihan. "Kamu terlihat lebih muda dari yang saya bayangkan. Masih pakai seragam, masih punya mimpi yang tinggi. Sangat menggemaskan."
"Key, gue masuk duluan ya? Lo... lo gapapa kan?" Rena berbisik cemas, menyadari suasana mulai mencekam. Keyla hanya mengangguk kecil, memberi kode agar sahabatnya itu menjauh.
Setelah Rena pergi, Keyla menegakkan bahunya. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan wanita ini. "Ada perlu apa Tante mencariku? Aku ada ujian sepuluh menit lagi."
"Hanya ingin memberikan peringatan kecil," Siska melangkah mendekat, "Arlan itu pria yang rumit, Keyla. Dia dingin bukan tanpa alasan. Kamu pikir dengan keceriaan anak SMA, kamu bisa mencairkan hatinya?"
"Kenapa nggak? Aku punya waktu dan usaha yang lebih banyak daripada Tante yang milih pergi dari dia," balas Keyla telak.
Senyum Siska memudar sejenak, tapi ia segera menguasai diri. "Aku pergi karena aku tau dia tidak punya ruang untuk siapa pun di hatinya. Arlan itu seperti robot. Dia hanya peduli pada angka, pekerjaan, dan kekosongan. Kamu hanya dianggapnya sebagai gangguan yang menghibur untuk sementara. Begitu kamu lulus dan mulai menuntut lebih, dia akan membuangmu seperti dia membuangku."
"Om Arlan nggak kayak gitu!" suara Keyla meninggi.
"Benarkah? Apa dia sudah bilang dia mencintaimu? Atau dia hanya memberimu perhatian kecil karena merasa kasihan?" Siska tertawa sinis. "Jangan salah paham, Keyla. Aku ke sini bukan karena cemburu. Aku ke sini untuk menyelamatkanmu sebelum kamu jatuh terlalu dalam dan berakhir hancur sepertiku dulu."
"Tante nggak tau apa-apa soal hubungan kami," desis Keyla.
"Kita lihat saja nanti. Tapi ingat satu hal," Siska memakai kembali kacamata hitamnya. "Pria seperti Arlan tidak butuh gadis yang manja. Dia butuh seseorang yang bisa berdiri di level yang sama dengannya. Dan kamu? Kamu masih butuh uang jajan dari Papamu, kan?"
Wanita itu berbalik, berjalan anggun menuju mobilnya tanpa menoleh lagi. Keyla berdiri mematung di koridor, sampai akhirnya bel masuk terdengar.
Di dalam ruang ujian, Keyla menatap lembar soal Ekonomi dengan pandangan kosong. Kata-kata Siska terus berputar di kepalanya. Apa dia hanya memberimu perhatian kecil karena merasa kasihan?
Pikiran Keyla melayang pada susu cokelat semalam, pada bantuan Arlan saat ia dikunci di kamar. Apakah itu semua benar-benar karena rasa sayang, atau hanya bentuk rasa iba seorang pria dewasa kepada bocah yang hidupnya berantakan?
"Keyla? Ada masalah? Kenapa belum mengerjakan?" tegur guru pengawas.
Keyla tersentak. "Ah, i-iya, Pak. Maaf."
Ia mencoba fokus, tapi tangannya gemetar saat memegang pulpen. Ia merasa kecil. Sangat kecil dibandingkan Siska yang begitu matang dan berkelas. Ia merasa tidak pantas bersaing memperebutkan hati CEO seperti Arlan.
Ujian yang biasanya ia hadapi dengan penuh semangat, kini terasa seperti siksaan. Namun, di tengah keputusasaannya, Keyla teringat satu hal. Arlan pernah bilang, 'Jangan ceroboh. Semangat.'
"Nggak," gumam Keyla pelan. "Gue nggak boleh kalah. Kalau gue gagal ujian ini, omongan Tante itu bakal beneran jadi nyata. Gue bakal jadi pecundang."
Keyla menarik napas panjang, menutup matanya sejenak, lalu mulai mengisi jawaban dengan liar. Ia harus membuktikan bahwa meskipun dia masih berseragam, dia punya mental yang lebih kuat dari masa lalu Arlan.
Sore harinya, Keyla keluar dari sekolah dengan perasaan hampa. Biasanya, dia akan langsung meneror Arlan dengan pesan singkat. Namun hari ini, jemarinya terasa kaku untuk menyentuh layar ponsel.
"Key! Mau bareng nggak? Gue mau ke mal nih, healing!" ajak Rena.
"Duluan aja, Re. Gue mau jalan kaki sebentar," jawab Keyla lesu.
Keyla berjalan tanpa arah, hingga tanpa sadar kakinya membawanya kembali ke halte bus tempat pertama kali ia bertemu Arlan. Halte itu sepi karena bukan jam pulang kantor. Keyla duduk di sana, menatap jalanan yang mulai macet.
Saat Keyla terdiam dengan pikiran kacaunya, tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah pesan dari Arlan.
Arlan: Bagaimana ujiannya? Kamu tidak mengirim laporan apa pun hari ini.
Keyla menatap pesan itu. Ada rasa sesak yang aneh. Ia mulai mengetik, lalu menghapusnya lagi.
Keyla: Lancar, Om.
Arlan: Hanya itu? Biasanya kamu mengirim sepuluh pesan sekaligus. Kamu sakit?
Keyla menggigit bibir bawahnya. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh juga.
Keyla: Om, aku tadi ketemu Tante Siska di sekolah.
Hening cukup lama. Keyla menatap layar ponselnya dengan jantung yang berdegup kencang. Satu menit, dua menit, hingga akhirnya ponselnya berdering. Arlan menelepon.
"Halo...".
"Di mana kamu sekarang?" suara Arlan terdengar tegas, ada nada kecemasan yang tersembunyi di sana.
"Di halte bus... tempat kita ketemu pertama kali."
"Tunggu di sana. Jangan ke mana-mana."
Panggilan terputus. Keyla menelungkupkan kepalanya di atas lutut, menangis sesenggukan. Ia merasa lelah dengan drama rumahnya, dan kini ditambah dengan hantu masa lalu Arlan yang tiba-tiba muncul.
Lima belas menit kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di depan halte. Arlan keluar dari mobil, masih dengan kemeja kantor yang rapi namun dasinya sudah dilonggarkan. Ia menghampiri Keyla yang masih menunduk.
"Keyla," panggilnya lembut.
Keyla mendongak, matanya merah dan sembab. "Om... beneran Om suka sama aku karena sayang, atau cuma karena kasihan lihat hidup aku yang berantakan?"
Arlan terdiam. Ia duduk di samping Keyla, di bangku halte yang keras itu. Ia menatap jalanan di depan mereka, lalu menghela napas panjang.
"Siska selalu tau cara menghancurkan sesuatu yang baru tumbuh," ucap Arlan pelan. "Dengar, Keyla. Aku tidak pernah membuang waktu untuk merasa kasihan pada orang lain. Kalau aku tidak ingin berurusan denganmu, aku akan memblokir nomor mu sejak hari pertama."
"Tapi Tante Siska bilang..."
"Siska adalah masa lalu yang gagal kupertahankan karena kami sama-sama keras. Tapi kamu..." Arlan menoleh, menatap mata Keyla dengan intensitas yang membuat napas Keyla tertahan. "Kamu adalah gangguan paling menyenangkan yang pernah masuk ke hidupku. Apa itu terdengar seperti rasa kasihan?"
Keyla terpaku. Ini adalah kalimat terpanjang dan termanis yang pernah keluar dari mulut Arlan.
"Jadi... Om sayang aku?"
Arlan membuang muka, dengan wajah merona yang disembunyikan."Cepat masuk mobil. Kamu berantakan sekali. Aku tidak mau dilihat orang sedang bersama gadis yang menangis di halte."