NovelToon NovelToon
Yang Selalu Ada

Yang Selalu Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Persahabatan / Mantan
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Silly Girls

Ada orang yang pergi tanpa benar-benar hilang.
Dan ada yang tetap ada, meski seharusnya sudah selesai.

Lala tidak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke kantor cabang justru mempertemukannya kembali dengan Brian, seseorang yang dulu ia kenal terlalu baik, dan terlalu ia sayangi.

Bukan pertemuan yang ia rencanakan.
Bukan juga yang ia harapkan.

Namun di tempat asing itu, di antara rutinitas baru dan wajah-wajah baru, masa lalu justru muncul tanpa permisi. Lengkap dengan perasaan yang belum benar-benar mati.

Di sisi lain, ada Rendra. Teman lama yang selalu ada di setiap fase hidupnya. Hadir tanpa janji, tanpa tuntutan, tapi entah sejak kapan keberadaannya terasa berbeda.

Lala terjebak di antara dua hal.
kenangan yang belum usai,
dan kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Karena ternyata, tidak semua yang selalu ada memang ditakdirkan untuk pergi.
Dan tidak semua yang kembali, datang untuk tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silly Girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teman

Sesampainya di perusahaan tujuan, rombongan dari Atlas Operasional disambut dengan ramah oleh beberapa karyawan PT Cipta Solusi Persada. Setelah saling bertukar sapaan singkat, mereka diarahkan menuju meeting room yang berada di lantai atas.

Begitu melangkah masuk ke ruangan itu, pandangan Lala langsung tertarik pada satu sosok yang sangat ia kenal. Rendra.

Temannya sejak SMA hingga sekarang berdiri di sisi depan ruangan, mengenakan kemeja rapi dengan name tag perusahaan tersemat di dadanya. Lala tidak benar-benar terkejut sejak semalam ia sudah menduga kemungkinan itu.

Namun berbeda dengan dirinya, Rendra justru tampak terkejut saat mata mereka bertemu. Meski begitu, ia cukup sigap mengendalikan ekspresinya, kembali bersikap profesional seolah tak terjadi apa-apa.

Tim dari perusahaan Lala dipersilakan duduk, dan sesi diskusi serta sharing pun dimulai. Acara dipandu oleh pihak Cipta Solusi Persada selaku tuan rumah. Suasana diskusi berjalan lancar dan santai, sesekali diselingi candaan ringan, terutama dari beberapa bapak-bapak yang tampaknya memang tidak pernah kehabisan humor receh.

Tanpa terasa, sesi demi sesi terlewati dengan baik. Acara pun ditutup, dan para tamu dipersilakan untuk menikmati hidangan makan siang yang telah disiapkan.

Saat Lala hendak keluar dari meeting room, tiba-tiba seseorang menepuk bahunya cukup keras.

“La, gila... kok bisa sih lo ada di sini?” ujar Rendra spontan, nadanya penuh heran.

“Apa sih, bisa nggak suaranya dikondisikan?” sahut Lala refleks. Ia sadar ada beberapa pasang mata yang langsung menoleh ke arah mereka.

Ia lalu menoleh ke Mbak Rina.

“Mbak, duluan aja ya. Aku mau ngobrol bentar sama temen.”

“Oh, temen kamu?” Mbak Rina melirik Rendra sekilas, tampak sedikit heran. “Ya udah, saya duluan ya.”

Begitu Mbak Rina berlalu, Rendra kembali membuka suara saat mereka berjalan menuju area

makan.

“Serius deh, kenapa lo bisa di sini?” tanyanya lagi.

“Emang jawabannya ada selain karena gue sekarang karyawan Atlas Operasional?” jawab Lala santai.

“Oh... jadi yang lo bilang di grup itu lo dimutasi ke cabang baru, ini toh?” Rendra mengangguk-angguk kecil.

“Gue kira cabang Bandung. Kan dulu lo pengen banget pindah ke sana.”

“Iya yang ini,” jawab Lala. “Lagian gue juga bilang kan, akhirnya tetep di Jakarta.”

Rendra terkekeh pelan.

“Wuih, berarti sekantor dong sama mantan,” ucapnya setengah meledek. “Gue liat tadi.”

“Gak usah ngeledek,” balas Lala cepat. “Lagi juga gue biasa aja.”

Meski ucapannya terdengar ringan, Rendra tahu betul dan Lala pun sadar bahwa kata biasa aja itu tidak sepenuhnya jujur.

Setelah mengambil makanan di food station, mereka mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Hampir semua meja telah terisi penuh, hanya tersisa beberapa kursi kosong yang kebetulan berada di satu meja dengan seseorang yang sudah lebih dulu duduk.

“Disitu,” Rendra menunjuk dengan dagunya, santai.

“Janji ya, lo nggak ngomong aneh-aneh kalau duduk di situ,” balas Lala sambil menatapnya penuh peringatan.

“Iyaaa, emang gue mau ngomong apa sih?” jawab Rendra, sambil tetap melangkah menuju meja tersebut.

“Mas, ikut duduk di sini ya,” ucap Rendra ramah sambil menarik kursi tepat di depan Brian.

Brian mengangguk singkat, mempersilakan tanpa banyak bicara.

“Udah lama ya, mas, nggak ketemu. Eh, ketemunya malah di sini,” Rendra membuka obrolan dengan gaya basa-basi khasnya. Brian bukan orang asing baginya. Dulu, saat Brian masih berpacaran dengan Lala, mereka beberapa kali bertemu karena Brian sering ikut berkumpul bersama teman-teman Lala.

“Haha iya nih. Ternyata kamu kerja di sini,” balas Brian ramah.

“Udah lama?” tanyanya lagi.

“Lama apa, mas? Jomblonya atau kerja di sininya?” celetuk Rendra. Kebiasaan asbunnya

langsung muncul.

Brian tertawa kecil. “Kerja di sininya dong.”

“Lumayan lama, mas. Tapi emang dari awal kerja ya di sini,” jawab Rendra sambil terkekeh.

Obrolan mereka berlanjut ringan, sesekali diselingi tawa kecil. Sementara itu, Lala hanya melirik sekilas. Ia tidak tertarik ikut terlibat dalam basa-basi tersebut dan memilih fokus menikmati makanannya dengan tenang.

Setelah makan siang selesai, karena waktu kunjungan masih cukup panjang, tim Atlas Operasional diajak berkeliling untuk melihat setiap divisi yang ada di PT Cipta Solusi Persada. Selama berkeliling, Rendra tetap setia berada di samping Lala. Ia menemani sambil mengobrol seolah tak ingin melewatkan kesempatan langka itu.

Menurut Rendra, mumpung bertemu. Katanya, orang-orang yang sudah sibuk dengan urusan masing-masing seperti mereka ini jarang sekali punya waktu. Chat pun biasanya hanya sebatas perlu saja. Dibilang teman dekat, ya memang mereka dekat tapi ya begitu kenyataannya. Jarang bertemu, tapi sekali bertemu, waktu bisa habis berjam-jam hanya untuk mengobrol tanpa terasa.

Lala dan Rendra sendiri adalah teman dekat sejak SMA. Meski berbeda kelas, mereka mengikuti ekstrakurikuler yang sama, membuat mereka sering menghabiskan waktu bersama. Bukan hanya berdua, tapi juga bersama teman-teman lain hingga akhirnya membentuk sebuah geng bernama “Titik Kumpul.”

Geng itu beranggotakan sepuluh orang: empat perempuan termasuk Lala dan enam laki-laki, termasuk Rendra.

Kedekatan mereka tidak luntur meski setelah lulus dan melanjutkan kuliah di tempat yang berbeda-beda. Mereka memang jarang bertemu, tapi komunikasi tetap terjaga. Dan setiap kali ada kesempatan bertemu saat liburan, di situlah rindu dilepas mengobrol tanpa mengenal waktu. Kebiasaan itu bertahan sampai sekarang. Maka tak heran jika Lala terlihat sangat senang bertemu Rendra hari itu. Bagi mereka, pertemuan singkat seperti ini adalah hal yang berharga.

Kembali ke agenda utama. Diskusi telah selesai, makan siang sudah, berkeliling perusahaan

pun telah dilakukan. Kini saatnya tim Atlas Operasional kembali ke kantor setelah berpamitan.

“Yah, lo mau balik beneran nih?” ucap Rendra, nada suaranya sedikit kecewa.

“Ya iyalah. Lo juga sana balik kerja,” jawab Lala sambil tersenyum kecil.

“Oh iya, by the way… pacar lo mana yang katanya cantik banget itu? Kok gue nggak liat ya?” tanya Lala iseng.

Mendengar itu, Rendra mendadak terdiam.

“Kok diem?” Lala heran melihat perubahan ekspresinya.

“Gue udah nggak sama dia,” jawab Rendra pelan.

“Loh, kok bisa? Kenapa nggak cerita?” Lala refleks terkejut.

“Udah lah, nggak usah dibahas. Belum mau cerita gue,” jawab Rendra singkat. Nada suaranya jelas menunjukkan ia tidak ingin membicarakan soal pacarnya, lebih tepatnya “mantan”.

Lala menangkap isyarat itu. Ia memilih diam dan tidak bertanya lebih jauh.

Tak lama kemudian, Pak Edo selaku leader tim Atlas Operasional berdiri dan menyampaikan kata pamit.

“Baik, terima kasih Bapak dan Ibu atas sambutan hangatnya, jamuan, serta sharing yang sangat berarti bagi kami. Sekali lagi, terima kasih atas sambutan yang luar biasa.”

Setelah itu, tim pun beranjak pergi dan kembali ke kantor, meninggalkan pertemuan singkat yang tanpa disadari menyisakan cerita lama dan perasaan yang belum sepenuhnya selesai.

Setelah hari yang terasa panjang dan menguras tenaga, Lala berniat mengakhiri malamnya lebih cepat dari biasanya. Ia sudah mematikan lampu kamar, memunggungi jendela, dan menarik selimut hingga sebatas bahu. Matanya nyaris terpejam ketika tiba-tiba suara notifikasi ponsel memecah keheningan.

Lala mendesah pelan. Jam sudah menunjukkan lewat dari biasanya ia menerima pesan.

Dengan setengah malas, ia meraih ponselnya dan menyalakan layar. Begitu nama pengirimnya

muncul, alisnya langsung terangkat.

“Rendra? Kenapa nih orang,” gumamnya heran, lalu langsung membuka pesan itu.

⌨️

Rendra:

la

Lala mendengus kecil.

⌨️

Lala:

kenapa, Ren

Pesannya langsung terbaca. Lala menunggu. Satu menit. Dua menit. Tidak ada balasan.

“Lah, nggak jelas banget sih,” gerutunya. “Hampir aja gue tidur.”

Dengan rasa kesal yang mulai muncul, Lala kembali mengetik.

⌨️

Lala:

kenapa, Ren??????

gue hampir tidur loh

terus denger notif, pas liat dari lo langsung gue buka

eh lo nya malah nggak bales

nyebelin, lo ngerjain gue ya?!?!

Tak lama kemudian, tanda read kembali muncul. Lala menatap layar dengan ekspresi tidak sabar. Beberapa detik kemudian, balasan akhirnya datang.

⌨️

Rendra:

mana gue tau lo udah mau tidur

sori kalo ganggu

nanti aja deh

Lala memutar bola matanya.

⌨️

Rendra:

lagi juga baru jam segini

masa udah mau tidur

kaya anak kecil aja

“Dih,” Lala langsung duduk di ranjang. “Nyebelin banget ini orang.”

Kesal, tapi entah kenapa jari-jarinya kembali bergerak cepat di layar.

⌨️

Lala:

apaan nggak

lo udah bikin gue gagal tidur dan sekarang malah nggak ngantuk

jadi lo WA cuma buat bilang ‘la’ doang?

harus kasih tau gue maksud dan tujuan lo apa

BURUAN.

Lala meletakkan ponselnya di atas kasur, menatap layar sambil menunggu. Detak jantungnya entah kenapa terasa sedikit lebih cepat. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya ingin Rendra katakan tapi satu hal pasti, malam itu tak lagi sesederhana rencana tidur cepat yang ia inginkan.

⌨️

Rendra:

Gue sama Shila udah putus, La

Dia ada yang lain

Mata Lala langsung membola membaca dua pesan singkat itu. Jarinya refleks menggenggam ponsel lebih erat, seolah takut kalimat di layar itu tiba-tiba menghilang.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia membalas.

⌨️

Lala:

Kata lo kemarin nggak mau bahas

Gapapa, nggak usah cerita sekarang

Nanti aja sekalian sama yang lain

Ia benar-benar bermaksud begitu. Lala tahu rasanya belum siap bercerita, dan ia tidak ingin memaksa Rendra membuka luka yang mungkin masih basah.

Tak lama, balasan kembali muncul.

⌨️

Rendra:

Besok pulang kantor lo free nggak?

Gue mau cerita… ke lo aja

Yang lain nanti

Alis Lala kembali terangkat. Ia menegakkan tubuhnya di atas ranjang, menatap layar dengan raut ragu.

⌨️

Lala:

Serius?

Gue free sih

Tapi kalo lo beneran belum siap cerita, gapapa juga

Pesannya terbaca. Kali ini balasannya datang lebih cepat.

⌨️

Rendra:

Besok gue jemput

Sharelock kantor lo ya

Tanpa banyak kata, seolah keputusan itu sudah bulat, Rendra menutup ruang bagi Lala untuk bertanya lebih jauh.

⌨️

Lala:

Oke

Ia langsung mengirimkan share location kantor lewat Maps. Tak lama, Rendra hanya membalas dengan satu emotikon reaksi.

Lala menurunkan ponselnya perlahan.

“Apa, ya, yang bikin dia berubah pikiran?” gumamnya pelan.

“Katanya nggak mau bahas… tapi sekarang malah ngajak ketemu.”

Pikirannya kembali ke satu kalimat Rendra sebelumnya.

Dia ada yang lain.

“Yang lain tuh maksudnya selingkuh?” batinnya. “Atau dia emang udah ninggalin duluan?”

Semakin dipikirkan, kepala Lala justru terasa semakin penuh. Niat tidur cepat yang sedari awal ia rencanakan kini tinggal niat semata. Ia membolak-balikkan tubuhnya di atas ranjang, menatap gelap kamar dengan berbagai kemungkinan yang berseliweran di kepalanya.

Hingga tanpa sadar, rasa lelah mengambil alih. Kelopak matanya perlahan memberat, dan Lala pun terlelap menyisakan satu janji pertemuan esok hari yang entah akan membuka cerita apa.

1
malamlarut
duuh laki-laki tu ya emang demam dikit udah lebay
falea sezi
rumah tangga macam apa ini mereka ini g bs move on dr mantan apa gimana hadeh
kyle
waah tambah seruu😍
La Viola
ceritanya reuni bertemu mantan ? duh, bikin susah move on gak sih? 😍

semangat kak... salam dari Edelweiss...
kyle
baguss sekali
Anggrekbulan: terimakasih kak
total 1 replies
malamlarut
ayo kak up lagii
Anggrekbulan: ditunggu yaaa
total 1 replies
malamlarut
update lagi ka
Anggrekbulan: siyaaap staytune yaa
total 1 replies
malamlarut
teman apa teman nih la🤭🤭🤭🤭
malamlarut
baru awal udah seru
malamlarut
coba dibaca aja langsung
babygurls
sukak banget, buat yang kejebak friendzone cocok deh
Anggrekbulan: yakaan, yuk ajak temen-temennya buat baca karyaku
total 1 replies
babygurls
ayo kak up lagie😄
Anggrekbulan: okaaai ditunggu yah🤭
total 1 replies
Anggrekbulan
👍
Anggrekbulan
terimakasih sudah membaca😄
Anonymous
ditunggu update bab selanjutnya😍
Anggrekbulan: hihihi siyaap🙏
total 1 replies
Anonymous
bagus alur ceritanya, jarang menemukan yang seperti ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!