Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏
Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!
Donasi ke aku:
Saweria: parleti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Superhero
Arsa kecil berdiri di depan gadis yang sedang menangis itu dengan perasaan yang campur aduk.
Sebagian dari dirinya ingin pergi. Ingin kembali ke dunianya yang gelap dan sendirian.
Tapi sebagian lainnya... Sebagian lainnya merasa tidak bisa meninggalkan gadis itu sendirian. Karena ia tau persis bagaimana rasanya menangis sendirian tanpa ada yang peduli.
"Hei... Lo kenapa?" tanya Arsa kecil lagi dengan suara yang lebih lembut.
Gadis itu menghapus air matanya dengan kasar. "Gak... Gak ada apa-apa..."
Arsa kecil melihat seragam gadis itu yang kotor dan robek di bagian lengan. Ada bekas tanah di pipinya.
"Lo... Lo di-bully ya?" tanya Arsa kecil dengan hati-hati.
Gadis itu tersentak mendengar pertanyaan Arsa. Air matanya kembali jatuh.
"Mereka... Mereka bilang gw jelek... Bilang gw miskin... Bilang gw gak pantas sekolah di sini..." isak gadis itu dengan suara yang bergetar.
"Mereka dorong gw... Rebut tas gw... Buang buku gw ke got..." lanjut gadis itu sembari menunjuk ke arah got tidak jauh dari mereka.
Arsa kecil melihat beberapa buku yang basah dan kotor tergeletak di pinggir got.
Tanpa berpikir panjang, Arsa kecil berjalan ke arah got dan mengambil buku-buku itu.
"Hei, lo gak usah ambil! Udah kotor!" panggil gadis itu dengan panik.
Tapi Arsa kecil tetap mengambilnya. Ia membersihkan buku-buku itu dengan seragamnya sendiri.
"Ini... Ini buku lo kan? Lo butuh buat belajar" ucap Arsa kecil sembari menyerahkan buku-buku itu kepada gadis itu.
Gadis itu menatap Arsa dengan mata yang terbelalak. "Tapi... Tapi seragam lo jadi kotor..."
Arsa kecil menggeleng. "Gapapa. Buku lo lebih penting."
Gadis itu menerima buku-bukunya dengan tangan yang bergetar. Air matanya kembali jatuh, tapi kali ini bukan karena sedih.
"Makasih... Makasih banyak..." ucap gadis itu dengan suara yang sangat pelan.
Arsa kecil terdiam sejenak, lalu duduk di samping gadis itu.
"Siapa yang nge-bully lo?" tanya Arsa kecil.
"Anak-anak dari kelas sebelah... Mereka... Mereka sering ganggu gw..." jawab gadis itu dengan suara yang ketakutan.
"Kenapa lo gak lapor ke guru?" tanya Arsa kecil lagi.
Gadis itu menggeleng keras. "Gw takut... Mereka bilang kalau gw lapor, mereka bakal lebih jahat lagi sama gw..."
Arsa kecil merasakan amarah yang tiba-tiba muncul di dadanya. Amarah yang sudah lama ia pendam.
"Besok kalau mereka ganggu lo lagi, bilang ke gw. Gw bakal bantuin lo" ucap Arsa kecil dengan nada yang tegas.
Gadis itu menatap Arsa dengan mata yang terbelalak. "Beneran? Tapi... Tapi lo gak kenal gw..."
"Emang harus kenal dulu baru bisa bantuin?" tanya Arsa kecil dengan nada yang sedikit kesal. "Mereka salah. Dan gw gak suka lihat orang yang lemah di-bully."
Gadis itu tersenyum untuk pertama kalinya. Senyuman kecil yang begitu tulus.
"Namaku Alea Raya. Tapi panggil aku Raya aja" ucap gadis itu sembari mengulurkan tangannya.
Arsa kecil menatap tangan itu sejenak, lalu menjabatnya dengan pelan. "Arsa. Kian Arsa."
🌷🌷🌷🌷
KEESOKAN HARINYA - SETELAH PULANG SEKOLAH
Arsa kecil berjalan melewati taman yang sama. Ia ingin melihat apakah gadis kemarin baik-baik saja.
Dan benar saja, ia melihat Raya kecil sedang dikelilingi oleh tiga anak laki-laki yang lebih besar.
"Ayo cepet! Kasih uang jajan lo!" ucap salah satu anak laki-laki itu dengan nada mengancam.
"Gw... Gw gak bawa uang..." jawab Raya kecil dengan suara yang ketakutan.
"BOHONG! Kemarin lo masih punya! Sekarang gak mungkin gak punya!" bentak anak laki-laki itu sembari mendorong Raya.
Raya kecil jatuh terduduk. Tasnya jatuh dan isinya berhamburan.
"HEI!" teriak Arsa kecil dengan suara yang keras.
Ketiga anak laki-laki itu menoleh ke arah Arsa dengan wajah yang kesal.
"Siapa lo?! Gak usah ikut campur!" ucap salah satu dari mereka.
Arsa kecil berjalan mendekat dengan langkah yang tegas. "Tinggalin dia. Sekarang."
"Atau lo mau apa? Lo mau berantem?" tantang anak laki-laki itu sembari berjalan mendekat ke Arsa.
Arsa kecil tidak menjawab. Ia hanya menatap anak laki-laki itu dengan tatapan yang begitu tajam dan penuh amarah.
Amarah yang sudah ia pendam sejak ibunya meninggal. Amarah terhadap ayahnya. Amarah terhadap dunia yang tidak adil.
"GW BILANG, TINGGALIN DIA!" teriak Arsa kecil dengan suara yang sangat keras.
Anak laki-laki itu tersentak melihat tatapan Arsa yang begitu intens. Ada sesuatu yang menakutkan di mata anak itu.
"Cih, whatever. Besok gw balik lagi" ucap anak laki-laki itu sebelum akhirnya pergi bersama kedua temannya.
Setelah mereka pergi, Arsa kecil langsung menghampiri Raya yang masih terduduk di tanah.
"Lo gapapa?" tanya Arsa kecil sembari membantu Raya berdiri.
Raya kecil mengangguk meskipun air matanya mulai jatuh. "Makasih... Makasih udah bantuin aku lagi..."
"Gw udah bilang kemarin. Kalau mereka ganggu lo, bilang ke gw" ucap Arsa kecil sembari membantu mengumpulkan barang-barang Raya yang berhamburan.
"Tapi... Tapi kenapa sih lo mau bantuin aku? Kita kan gak kenal..." tanya Raya kecil dengan bingung.
Arsa kecil terdiam sejenak. "Karena... Karena gw tau gimana rasanya sendirian. Gw tau gimana rasanya gak ada yang peduli."
"Dan gw... Gw gak mau orang lain ngerasain hal yang sama."
Raya kecil menatap Arsa dengan tatapan yang penuh dengan rasa terima kasih dan... Sesuatu yang lain. Sesuatu yang belum bisa ia pahami.
🌷🌷🌷🌷
HARI-HARI BERIKUTNYA
Sejak kejadian itu, Arsa kecil dan Raya kecil mulai sering bersama.
Arsa kecil selalu menunggu Raya kecil setelah sekolah. Memastikan gadis itu pulang dengan aman.
Dan perlahan-lahan, anak-anak yang suka nge-bully Raya mulai berhenti karena takut dengan Arsa.
"Arsa... Makasih ya udah selalu jaga aku" ucap Raya kecil suatu sore saat mereka duduk di taman.
Arsa kecil menggeleng. "Gak usah makasih. Gw cuma... Gw cuma gak suka lihat orang di-bully."
Raya kecil tersenyum. "Arsa itu kayak pahlawan buat aku tau gak."
Arsa kecil tersentak mendengar ucapan Raya. "Pahlawan?"
Raya kecil mengangguk dengan antusias. "Iya! Arsa selalu dateng buat selamatin aku. Kayak superhero gitu!"
Arsa kecil tertawa kecil untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal. "Gw bukan superhero. Gw cuma anak biasa kok."
"Tapi buat aku, Arsa itu superhero kok!" ucap Raya kecil dengan senyuman yang lebar.
Arsa kecil merasakan sesuatu yang hangat di dadanya. Perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan.
Perasaan... Dibutuhkan. Berarti bagi seseorang.
Hingga beberapa minggu kemudian...
Arsa kecil dan Raya kecil sudah menjadi sangat dekat. Mereka selalu bersama di sekolah dan pulang bersama.
Suatu hari, Raya kecil terlihat sangat sedih.
"Lea, lo kenapa? Lo kelihatan murung" tanya Arsa kecil dengan khawatir.
Raya kecil menghapus air matanya dengan cepat. "Gak... Gakapa kok..."
"Jangan bohong. Gw udah kenal lo. Lo pasti ada masalah" desak Arsa kecil.
Raya kecil terdiam sejenak sebelum akhirnya menangis. "Ibu aku... Ibu aku sakit, Arsa... Dokter bilang ibu aku kena penyakit yang serius..."
Arsa kecil merasakan dadanya sesak mendengar cerita Raya. Ia langsung teringat pada ibunya sendiri.
"Ibu aku harus dirawat di rumah sakit... Dan... Dan papa aku bilang biaya rumah sakit mahal banget... Papa aku stress mikirin uang..." isak Raya kecil.
Arsa kecil memeluk Raya dengan erat. "Lo harus kuat, Lea. Ibu lo pasti sembuh."
"Tapi aku takut, Arsa... Aku takut kehilangan ibu aku..." isak Raya kecil di pelukan Arsa.
Arsa kecil merasakan air matanya sendiri mulai jatuh. Ia tau persis bagaimana rasanya kehilangan ibu.
"Gw... Gw gak mau lo ngerasain apa yang gw rasain, Lea..." bisik Arsa kecil dengan suara yang bergetar.
"Maksud lo?" tanya Raya kecil sembari mendongak menatap Arsa.
Arsa kecil menghapus air matanya dengan kasar. "Ibu gw... Ibu gw udah meninggal. Beberapa bulan yang lalu."
Raya kecil tersentak mendengar pengakuan Arsa. "Arsa..."
"Waktu itu ibu gw sakit. Gw udah nelpon ayah gw. Tapi ayah gw gak mau pulang. Dia bilang dia lagi rapat penting" lanjut Arsa kecil dengan suara yang semakin bergetar.
"Dan... Dan ibu gw meninggal di pelukan gw. Sendirian. Tanpa ada dokter. Tanpa ada yang bantuin."
Raya kecil menangis mendengar cerita Arsa. Ia memeluk Arsa dengan erat.
"Maafin aku, Arsa... Aku gak tau..." isak Raya kecil.
Arsa kecil menggeleng. "Gapapa. Makanya... Makanya gw gak mau lo ngerasain hal yang sama."
"Ibu lo harus sembuh. Ibu lo harus dirawat sama dokter yang baik. Dokter yang bisa selamatin dia."
Arsa kecil melepaskan pelukannya dan menatap Raya dengan tatapan yang penuh tekad.
"Lea, dengerin gw. Gw... Gw berjanji sama lo. Suatu hari nanti... Gw bakal jadi dokter."
Raya kecil menatap Arsa dengan mata yang terbelalak. "Dokter?"
Arsa kecil mengangguk dengan tegas. "Iya. Gw bakal jadi dokter. Dokter yang baik. Dokter yang bisa selamatin orang-orang yang sakit."
"Gw gak mau ada lagi orang yang ngerasain apa yang gw rasain. Kehilangan orang yang mereka sayang gara-gara gak ada dokter yang bisa bantuin."
"Gw gak mau ada lagi anak kecil yang harus ngeliat ibunya mati di depan matanya. Gak mau ada lagi orang yang sendirian waktu mereka paling butuh bantuan."
Air mata Arsa jatuh semakin deras. Tapi tatapannya tetap penuh dengan tekad yang kuat.
"Gw bakal belajar keras. Gw bakal jadi dokter terbaik. Dan gw bakal selamatin orang-orang yang sakit."
"Itu... Itu janji gw sama ibu gw. Dan itu juga janji gw sama lo."
Raya kecil menangis mendengar ucapan Arsa. Ia memeluk Arsa dengan erat.
"Makasih, Arsa... Makasih udah mau jadi dokter... Makasih udah peduli sama ibu aku..." isak Raya kecil.
Arsa kecil membalas pelukan Raya dengan erat. "Gw janji, Lea. Gw bakal jadi dokter. Dan gw bakal bantuin banyak orang."
🌷🌷🌷🌷
BEBERAPA HARI KEMUDIAN
Kabar baik datang. Ibu Raya mulai membaik setelah dirawat di rumah sakit.
Raya kecil sangat bahagia dan langsung memeluk Arsa saat mereka bertemu di sekolah.
"Arsa! Ibu aku udah membaik! Dokter bilang ibu aku bakal sembuh!" teriak Raya kecil dengan bahagia.
Arsa kecil tersenyum lebar. "Syukurlah! Gw seneng denger itu!"
"Ini semua berkat doa kita! Dan... Dan berkat lo yang udah bantuin aku, Arsa" ucap Raya kecil dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kalau lo gak ada, aku gak tau gimana aku bisa bertahan."
Arsa kecil memeluk Raya dengan lembut. "Lo juga bantuin gw, Lea."
"Sejak kenal lo, gw... Gw gak ngerasa sendirian lagi. Gw ngerasa ada yang peduli sama gw."
"Lo... Lo kayak cahaya di hidup gw yang gelap."
Raya kecil menangis di pelukan Arsa. Tapi kali ini adalah tangisan kebahagiaan.
"Arsa itu pahlawan buat aku. Dan aku... Aku janji bakal selalu ada buat Arsa. Apapun yang terjadi" ucap Raya kecil dengan tulus.
Arsa kecil tersenyum. Senyuman yang begitu tulus dan hangat.
Untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal, ia merasakan ada harapan dalam hidupnya. Harapan untuk menjadi lebih baik. Harapan untuk menolong orang lain. Harapan untuk... Hidup lagi.
🌷 🌷 🌷 🌷
MALAM ITU - DI KAMAR ARSA
Arsa kecil berbaring di kasurnya sembari menatap foto ibunya yang ia taruh di meja samping tempat tidur.
"Ibu... Arsa udah nemu temen. Namanya Raya. Dia baik banget, Bu" bisik Arsa kecil dengan senyuman kecil.
"Dan Arsa... Arsa udah punya cita-cita sekarang. Arsa mau jadi dokter. Kayak yang Ibu mau."
"Arsa mau jadi dokter yang baik. Dokter yang bisa selamatin orang-orang. Biar gak ada lagi yang ngerasain kehilangan kayak Arsa."
Air mata Arsa kecil jatuh. "Arsa janji sama Ibu. Arsa bakal jadi anak yang kuat. Arsa bakal sukses. Arsa bakal bikin Ibu bangga."
Ia memeluk foto ibunya dengan erat. "Arsa kangen Ibu... Tapi Arsa janji bakal tetep hidup. Bakal tetep berjuang."
"Karena... Karena sekarang ada yang butuh Arsa. Ada Raya yang butuh perlindungan Arsa."
"Dan Arsa gak mau ngecewain dia. Gak mau ngecewain Ibu."
Arsa kecil tersenyum di balik air matanya. Senyuman yang penuh dengan tekad dan harapan.
Sejak hari itu, hidup Arsa kecil berubah. Ia tidak lagi anak yang murung dan sendirian.
Ia menjadi anak yang semangat belajar. Anak yang punya tujuan. Anak yang punya harapan.
Dan semua itu... Semua itu berkat Raya.
Gadis kecil yang ia temui dalam tangisan. Gadis kecil yang memberinya alasan untuk hidup lagi.
Gadis kecil yang... Yang akan selalu berarti bagi Arsa.
TO BE CONTINUED
🌷🌷🌷🌷🌷
MENGHARUKAN BANGET! 😭💕 Bab ini benar-benar indah!
Pertemuan Arsa dan Raya yang dimulai dari Arsa menyelamatkan Raya dari bullying. Raya yang bilang Arsa itu kayak superhero baginya! 💪
Dan yang paling menyentuh... Arsa berjanji akan jadi DOKTER supaya gak ada lagi orang yang ngerasain kehilangan kayak dia! Dia gak mau ada lagi anak kecil yang harus ngeliat ibunya meninggal di depan matanya 😭
Arsa bilang "Gw bakal jadi dokter terbaik. Dan gw bakal selamatin orang-orang yang sakit." Ini adalah janji Arsa kepada ibunya dan kepada Raya!
Inilah awal dari ikatan yang SANGAT KUAT antara Arsa dan Raya. Makanya Raya gak mau nyerah begitu aja untuk dapetin Arsa...
Sekarang kita udah ngerti kenapa Raya begitu berjuang keras buat Arsa. Karena Arsa adalah pahlawannya. Adalah cahaya di hidupnya yang gelap 💔
Penasaran kan kelanjutannya? Yuk stay tune terus dan jangan lupa follow ig author!
@Jaaparr
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku