NovelToon NovelToon
Ingat Aku Meski Kau Lupa

Ingat Aku Meski Kau Lupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Rebirth For Love / Persahabatan / Kisah cinta masa kecil / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:895
Nilai: 5
Nama Author: jaaparr.

Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏

Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!

Donasi ke aku:
Saweria: parleti

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Selesai

Keesokan harinya, Asha datang ke sekolah dengan wajah yang sangat pucat. Matanya bengkak dan sembab. Ia hampir tidak tidur semalaman karena terus menangis.

Ucapan Arsa kemarin terus terngiang di telinganya.

"Gw gak ngerasain apa-apa sama lo."

"Anggap aja kita udah gak kenal lagi."

"Jauhin hidup gw."

Setiap kata itu terasa seperti pisau yang terus menusuk hatinya berkali-kali.

Tapi hari ini Asha memaksa dirinya untuk datang ke sekolah. Bukan karena ia ingin belajar, tapi karena ia ingin... Ia ingin mencoba berbicara dengan Arsa sekali lagi.

Ia ingin menjelaskan. Ia ingin Arsa mengerti posisinya.

Meskipun ia tau kemungkinannya sangat kecil.

🌷🌷🌷🌷

Saat jam istirahat pertama, Asha memberanikan diri untuk menghampiri Arsa yang sedang duduk sendirian di kelasnya.

Raya sedang pergi ke kantin bersama beberapa teman yang lain.

"Arsa..." panggil Asha dengan suara yang pelan dan bergetar.

Arsa yang sedang membaca buku langsung mendongak. Wajahnya berubah menjadi dingin saat melihat Asha.

"Lo mau apa?" tanya Arsa dengan nada yang datar.

Asha merasakan dadanya sesak mendengar nada bicara Arsa yang begitu dingin. "Gw... Gw mau ngomong sebentar. Boleh?"

"Gak ada yang perlu diomongin" tolak Arsa sembari kembali fokus pada bukunya.

"Arsa, please... Gw cuma mau jelasin—"

"Gw udah bilang kemarin, gw gak mau ada hubungan apa-apa lagi sama lo" potong Arsa dengan nada yang tegas. "Jadi lo mending pergi sekarang."

Asha merasakan air matanya hampir jatuh. "Arsa... Gw tau lo marah sama gw. Tapi... Tapi tolong dengerin gw dulu..."

Arsa menghela nafas dengan kesal. Ia menutup bukunya dengan keras dan menatap Asha dengan tatapan tajam.

"Oke. Gw kasih lo lima menit. Setelah itu lo pergi dan gak ganggu gw lagi" ucap Arsa dengan nada yang dingin.

Asha mengangguk cepat. Ia duduk di kursi yang ada di depan Arsa dengan gugup.

"Arsa... Tentang kemarin... Gw... Gw minta maaf udah namparin Raya. Gw tau itu salah—"

"Kalau lo tau itu salah, kenapa lo lakuin?" potong Arsa dengan nada tajam.

Asha terdiam sejenak. "Karena... Karena gw kesal, Arsa. Gw kesal sama Raya yang... Yang ngerebutin lo dari gw..."

Arsa tertawa sinis mendengar ucapan Asha. "Lo masih aja bilang dia ngerebutin gw. Padahal gw udah bilang berkali-kali, gw sama lo udah putus."

"Tapi kan itu bukan karena lo gak sayang lagi sama gw!" ucap Asha dengan nada yang mulai tinggi. "Itu karena lo kehilangan ingatan!"

"Terus emang kenapa?" tanya Arsa dengan nada yang juga naik. "Emang kenapa kalau gw kehilangan ingatan? Apa itu berarti lo punya hak buat tetep ngejar-ngejar gw?"

"Karena gw sayang sama lo, Arsa! Karena gw gak rela kehilangan lo!" teriak Asha dengan air mata yang mulai jatuh.

"TAPI GW GAK NGERASAIN HAL YANG SAMA!" teriak Arsa balik dengan suara yang keras. "KENAPA LO GAK BISA NGERTI ITU?!"

Beberapa siswa yang lewat langsung menoleh ke arah mereka. Tapi Arsa dan Asha tidak peduli.

"Asha, dengerin gw baik-baik" ucap Arsa dengan nada yang sedikit lebih tenang tapi tetap tegas.

"Lo tau gak gimana rasanya jadi gw? Kehilangan sebagian ingatan? Tiba-tiba ada orang asing yang ngaku-ngaku sebagai pacar gw?"

"Gw bingung, Asha. Gw frustrasi. Karena gw gak ngerasain koneksi apa-apa sama lo."

Asha menangis mendengar ucapan Arsa. "Tapi... Tapi kan kita punya sejarah, Arsa... Kita pernah bahagia bersama..."

"Itu dulu. Sebelum gw kehilangan ingatan" potong Arsa dengan nada dingin. "Sekarang? Sekarang lo cuma orang asing buat gw."

"Dan lo tau gak, Asha... Kehadiran lo justru bikin hidup gw makin susah."

Asha tersentak mendengar ucapan Arsa. "Apa... Apa maksud lo?"

Arsa menarik nafas panjang. "Lo pikir gampang buat gw? Setiap hari lo ngejar-ngejar gw. Lo berusaha bikin gw inget. Lo cerita tentang masa lalu kita."

"Dan setiap kali lo lakuin itu, gw ngerasa bersalah. Bersalah karena gw gak bisa kasih lo apa yang lo mau. Gak bisa ngerasain apa yang lo rasain."

"Gw udah cukup pusing ngadepin hidup gw sendiri, Asha. Gw harus belajar lagi dari awal. Gw harus ngadepin ayah gw yang dingin. Gw harus ngadepin tekanan di sekolah."

"Dan lo tau gak... Ditambah lagi sama lo yang terus ngejar-ngejar gw, itu bikin gw makin stress."

Asha menangis semakin keras mendengar ucapan Arsa. "Arsa... Maafin gw... Gw... Gw gak tau..."

"Iya, lo emang gak tau" ucap Arsa dengan nada yang dingin. "Karena lo cuma mikirin perasaan lo sendiri."

"Lo gak mikirin gimana beratnya hidup gw. Lo cuma fokus sama keinginan lo buat gw inget lo."

Asha menggeleng keras. "Bukan gitu, Arsa... Gw... Gw cuma pengen lo balik lagi sama gw..."

"Tapi gw gak mau!" teriak Arsa dengan suara yang keras. "Gw gak mau balik sama lo! Gw gak ngerasain apa-apa sama lo!"

"Dan lo tau gak, Asha... Sejak gw kecelakaan, hidup gw udah berubah total."

Arsa terdiam sejenak. Wajahnya terlihat sedih untuk sesaat.

"Gw... Gw kehilangan ibu gw waktu gw masih kecil. Dan sejak itu, hidup gw jadi sangat berat."

"Ayah gw berubah jadi orang yang dingin. Dia sibuk sama kerjaan. Dia gak pernah peduli sama gw."

"Gw hidup sendirian di rumah yang dingin itu. Gak ada yang peduli sama gw. Gak ada yang nanya gimana kabar gw."

Asha terdiam mendengar cerita Arsa. Ini adalah pertama kalinya Arsa menceritakan tentang masa lalunya.

"Dan lo tau gak gimana rasanya hidup kayak gitu?" lanjut Arsa dengan suara yang bergetar. "Gw merasa gak ada yang peduli sama gw. Gw merasa sendirian."

"Tapi terus gw ketemu Raya waktu SD. Dia... Dia yang pertama kali peduli sama gw. Dia yang selalu ada waktu gw lagi susah."

"Dan ketika dia pindah... Gw kehilangan satu-satunya orang yang peduli sama gw."

Asha merasakan dadanya semakin sesak mendengar cerita Arsa.

"Terus gw kecelakaan. Dan gw kehilangan ingatan. Kehilangan sebagian dari diri gw."

"Lo pikir gampang buat gw? Bangun di rumah sakit tanpa tau apa yang terjadi? Kehilangan beberapa bulan dari hidup gw?"

"Dan waktu gw siuman, yang ada cuma ayah gw yang dateng sebentar terus pergi lagi. Gak ada orang lain."

Arsa menatap Asha dengan tatapan yang tajam.

"Terus lo muncul. Ngaku-ngaku sebagai pacar gw. Cerita tentang hubungan kita yang... Yang entah kenapa gw gak ngerasain apa-apa."

"Lo bilang kita sering berantem. Lo bilang kita putus nyambung. Lo bilang gw kecelakaan waktu lagi berantem sama lo."

Asha tersentak mendengar ucapan Arsa. Air matanya jatuh semakin deras.

"Dan lo tau gak gimana perasaan gw waktu denger itu? Gw ngerasa... Gw ngerasa hidup gw sebelum kecelakaan juga penuh masalah."

"Gw kehilangan ibu gw. Ayah gw gak peduli sama gw. Dan hubungan gw sama pacar gw juga penuh masalah."

"Jadi... Jadi buat apa gw ngingat semua itu? Buat apa gw ngingat masa lalu yang penuh kesedihan?"

Asha menangis dengan sangat keras mendengar ucapan Arsa. "Arsa... Maafin gw... Maafin gw..."

"Dan lo tau gak, Asha..." lanjut Arsa dengan nada yang semakin keras.

"Gw kecelakaan itu waktu gw lagi dalam perjalanan buat nemuin lo. Buat ketemu sama lo setelah berantem."

"Kalau gw gak berantem sama lo waktu itu... Kalau gw gak nyoba buat nemuin lo... Mungkin gw gak akan kecelakaan. Gw gak akan kehilangan ingatan."

Asha merasakan dunianya runtuh mendengar ucapan Arsa.

Benar. Benar sekali.

Arsa kecelakaan karena ingin menemuinya. Karena ingin bertemu dengannya setelah bertengkar.

Dan itu... Itu semua karena Asha yang egois. Asha yang selalu mencari masalah. Asha yang sering bertengkar dengan Arsa karena hal-hal sepele.

"Jadi lo tau gak, Asha..." ucap Arsa dengan nada yang dingin.

"Kalau dipikir-pikir... Lo yang bikin gw kehilangan ingatan. Lo yang bikin gw jadi kayak gini."

"Kalau bukan gara-gara lo yang egois, yang selalu cari masalah, yang selalu cemburu... Mungkin gw gak akan kecelakaan."

"ARSA, CUKUP!" teriak Cinta yang tiba-tiba muncul. Ia tidak tahan lagi mendengar ucapan Arsa yang begitu kejam, tangannya sudah akan menampar wajah Arsa.

Tapi Asha mengangkat tangannya, menghentikan Cinta.

Karena Asha tau... Asha tau semua yang Arsa katakan adalah benar.

Dialah yang menyebabkan Arsa kecelakaan.

Dialah yang menyebabkan Arsa kehilangan ingatan.

Dialah yang membuat hidup Arsa semakin susah.

Semua... Semua adalah salahnya.

Asha berdiri dari kursinya dengan perlahan. Wajahnya basah oleh air mata. Matanya terlihat begitu kosong.

"Arsa..." ucap Asha dengan suara yang sangat pelan. "Lo... Lo bener..."

"Semua... Semua salah gw..."

"Gw yang egois. Gw yang selalu cari masalah. Gw yang bikin lo kecelakaan..."

Air mata Asha jatuh semakin deras. Tapi wajahnya tetap terlihat kosong. Seperti orang yang sudah kehilangan semua harapan.

"Maafin gw, Arsa... Maafin gw yang udah ngerusak hidup lo..." ucap Asha dengan suara yang bergetar.

"Maafin gw yang egois... Yang cuma mikirin perasaan gw sendiri..."

"Maafin gw yang... Yang gak bisa bikin lo bahagia..."

Arsa terdiam menatap Asha. Di dalam hatinya, ada perasaan bersalah yang tiba-tiba muncul.

Ia merasa... Ia merasa ucapannya tadi terlalu kejam.

Tapi sebelum ia sempat berkata apa-apa, Asha sudah melanjutkan.

"Lo... Lo gausah khawatir, Arsa..." ucap Asha dengan suara yang sangat pelan.

"Mulai sekarang... Gw gak akan ganggu lo lagi..."

"Gw gak akan ngejar-ngejar lo lagi..."

"Gw gak akan berusaha bikin lo inget lagi..."

"Gw... Gw akan ngelepas lo..."

Asha menatap Arsa untuk terakhir kalinya. Tatapan yang penuh dengan rasa sakit, penyesalan, dan... Kekalahan.

"Selamat... Selamat bahagia sama Raya..." bisik Asha dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Setelah mengatakan itu, Asha berbalik dan berjalan keluar dari kelas dengan langkah yang goyah.

Cinta yang melihat itu langsung mengejar Asha dengan wajah yang panik. "SHA! SHA, TUNGGU!"

Tapi Asha tidak berhenti. Ia terus berjalan dengan langkah yang kosong. Seperti mayat hidup yang kehilangan jiwanya.

🌷🌷🌷🌷

Arsa terdiam di tempatnya. Ia menatap punggung Asha yang menjauh dengan perasaan yang campur aduk.

Di dalam hatinya, ada penyesalan yang luar biasa.

Ucapannya tadi... Ucapannya tadi terlalu kejam.

Ia menyalahkan Asha atas kecelakaannya. Ia bilang Asha yang membuat hidupnya susah.

Padahal... Padahal itu tidak sepenuhnya benar.

Kecelakaan itu adalah kecelakaan. Bukan salah siapa-siapa.

Dan Asha... Asha hanya ingin baikan dengannya. Hanya ingin hubungan mereka kembali baik.

'Kenapa... Kenapa gw bilang hal yang sekejam itu...' batin Arsa dengan perasaan bersalah.

Tapi sudah terlambat. Ucapannya sudah keluar. Dan ia tidak bisa menariknya kembali.

Arsa memegang kepalanya dengan frustrasi. "Sial... Gw kelewatan banget..."

Tapi apa yang bisa ia lakukan sekarang? Arsa tidak tau.

Yang ia tau hanya satu hal.

Ia baru saja menghancurkan Asha sepenuhnya.

🌷🌷🌷🌷

Di koridor, Asha berjalan dengan langkah yang goyah. Ia tidak tau harus kemana. Ia hanya terus berjalan.

Air matanya sudah tidak mengalir lagi. Ia sudah tidak punya air mata lagi.

Yang tersisa hanya rasa hampa yang begitu dalam. Rasa hampa yang memenuhi seluruh tubuhnya.

Cinta yang berhasil menyusul Asha langsung menarik lengan sahabatnya. "Sha! Sha, lo gapapa?!"

Tapi Asha tidak menjawab. Ia hanya menatap Cinta dengan tatapan yang kosong.

Tatapan yang membuat Cinta merinding. Tatapan orang yang sudah kehilangan segalanya.

"Sha... Please... Jangan kayak gini..." isak Cinta dengan air mata yang mulai jatuh.

Tapi Asha tetap diam. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap kosong ke depan.

"Sha... Dengerin gw... Itu bukan salah lo... Kecelakaan itu bukan salah lo..." ucap Cinta dengan suara yang bergetar.

"Arsa... Arsa kelewatan. Dia gak seharusnya bilang kayak gitu..."

Tapi Asha tetap tidak merespon. Ia hanya berdiri di sana seperti patung.

Cinta memeluk Asha dengan erat. "Sha... Please... Jangan kayak gini... Gw takut, Sha... Gw takut banget..."

Asha perlahan-lahan mengangkat tangannya dan menepuk punggung Cinta dengan pelan.

"Gapapa, Cin..." bisik Asha dengan suara yang sangat pelan dan datar.

"Gw... Gw gapapa..."

Tapi Cinta tau itu bohong. Asha tidak baik-baik saja.

Sahabatnya ini sudah hancur sepenuhnya. Sudah kehilangan semua harapan. Sudah menyerah sepenuhnya.

Dan Cinta takut... Cinta sangat takut akan apa yang mungkin Asha lakukan selanjutnya.

🌷🌷🌷🌷

Asha melepaskan pelukan Cinta dengan perlahan. Ia menatap sahabatnya dengan senyuman tipis yang terlihat begitu menyakitkan.

"Cin... Makasih... Makasih udah selalu ada buat gw..." ucap Asha dengan suara yang sangat pelan.

"Sha... Jangan bilang kayak gitu... Lo kayak lagi ngucapin selamat tinggal..." ucap Cinta dengan suara yang panik.

Asha menggeleng pelan. "Gw cuma... Gw cuma mau bilang makasih..."

Setelah itu, Asha berbalik dan berjalan menuju kelasnya untuk mengambil tasnya.

Cinta mengikuti Asha dari belakang dengan perasaan yang sangat tidak enak.

Ada sesuatu yang berbeda dari Asha. Sesuatu yang membuat Cinta sangat khawatir.

Asha terlihat... Terlalu tenang. Terlalu datar.

Seperti orang yang sudah benar-benar menyerah.

Seperti orang yang sudah tidak punya alasan lagi untuk bertahan.

Dan itu... Itu yang membuat Cinta sangat takut.

🌷🌷🌷🌷

Setelah mengambil tasnya, Asha berjalan keluar dari kelas tanpa berkata apa-apa. Ia berjalan menuju parkiran dengan langkah yang pelan dan kosong.

Cinta terus mengikuti Asha dari belakang. "Sha... Lo mau kemana?"

"Pulang..." jawab Asha dengan suara yang datar.

"Gw... Gw ikut lo ya. Gw khawatir sama lo" ucap Cinta dengan nada yang penuh kekhawatiran.

Asha menggeleng pelan. "Gausah, Cin. Lo masih ada pelajaran."

"Gw gak peduli! Gw mau nemenin lo!" ucap Cinta dengan tegas.

Asha berhenti melangkah dan menatap Cinta. Untuk pertama kalinya sejak pertengkaran tadi, ekspresi di wajahnya sedikit berubah.

Ada kesedihan. Ada rasa terima kasih. Dan ada... Perpisahan?

"Cin..." ucap Asha dengan suara yang bergetar. "Lo... Lo adalah sahabat terbaik yang pernah gw punya..."

"Makasih... Makasih udah selalu ada buat gw... Makasih udah selalu sabar sama gw..."

Cinta merasakan air matanya jatuh mendengar ucapan Asha. "Sha... Jangan... Jangan ngomong kayak gitu..."

Asha tersenyum tipis. Senyuman yang terlihat begitu sedih dan menyakitkan.

"Gw sayang lo, Cin..." bisik Asha.

Setelah itu, Asha memeluk Cinta dengan erat. Pelukan yang terasa seperti pelukan perpisahan.

Cinta membalas pelukan Asha dengan semakin erat. "Gw juga sayang lo, Sha... Please... Please jangan tinggalin gw..."

Asha melepaskan pelukannya dengan perlahan. Ia menatap Cinta untuk terakhir kalinya dengan senyuman tipis.

"Jaga diri, Cin..." bisik Asha.

Setelah itu, Asha berbalik dan berjalan menuju motornya.

Ia menaiki motornya dengan perlahan, menghidupkan mesin, dan mengendarainya keluar dari parkiran sekolah.

Cinta hanya bisa berdiri di sana, menatap punggung Asha yang menjauh dengan air mata yang terus mengalir.

Di dalam hatinya, ada perasaan takut yang luar biasa.

Perasaan bahwa... Ini mungkin adalah terakhir kalinya ia melihat sahabatnya.

TO BE CONTINUED

🌷🌷🌷🌷🌷

HANCUR! BENAR-BENAR HANCUR! 😭😭😭

Pertengkaran part 2 ini LEBIH KEJAM dari yang pertama! Arsa mengungkapkan masa lalunya yang berat, kehilangan ibunya, ayah yang dingin, dan dia menyalahkan Asha atas kecelakaannya!

Arsa bilang "Lo yang bikin gw kehilangan ingatan. Lo yang bikin gw jadi kayak gini." 💔

Dan Asha... Asha akhirnya benar-benar menyerah. Dia mengakui semua kesalahannya. Dia bilang dia gak akan ganggu Arsa lagi...

Tapi yang paling menakutkan... Cara Asha bicara di akhir kayak orang yang lagi ngucapin selamat tinggal. Cinta sampai takut banget!

Kira-kira apa yang akan Asha lakukan selanjutnya? Apa dia bakal melakukan sesuatu yang berbahaya?

Penasaran kan kelanjutannya? Yuk stay tune terus dan jangan lupa follow ig author!

@Jaaparr

1
Maya Lara Faderik
sangat penasay..
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku
jaaparr: Siapp kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!