Bagi Arkanza Malik, sentuhan wanita adalah racun yang mematikan. CEO dingin ini mengidap penyakit aneh yang membuatnya sesak napas dan kulitnya terbakar setiap kali kulitnya bersentuhan dengan lawan jenis. Namun, sebuah insiden di lorong hotel mengubah segalanya.
Aira, gadis miskin yang kabur dari kejaran rentenir setelah menghantam kepala pria yang ingin melecehkannya, tanpa sengaja jatuh ke pelukan Arkanza. Bibir mereka bertemu dalam kegelapan. Arkanza yang seharusnya mati karena alergi, justru merasakan napasnya kembali. Gadis kumal ini adalah satu-satunya penawar racunnya!
"Aku sudah melunasi hutang ayahmu. Sebagai gantinya, kau harus menjadi istriku dan biarkan aku menyentuhmu kapan pun aku membutuhkannya."
Aira terjebak. Menjadi "obat hidup" bagi CEO kejam yang tidak punya hati. Di antara kontrak miliaran rupiah dan intrik perebutan harta, mampukah Aira bertahan tanpa harus menyerahkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Penawar di Balik Pintu Rahasia
Siska melangkah masuk ke ruang kerja Arkanza dengan gaun merah yang sangat minim. Ia mengira dengan kekuasaan wasiat di tangannya, ia bisa dengan mudah menaklukkan sang CEO.
"Arkan... kenapa kau begitu dingin? Bukankah kita akan segera menikah?" Siska mengelus bahu Arkanza, jarinya mulai merayap ke arah leher pria itu.
Arkanza diam, membiarkan sentuhan itu terjadi. Ia ingin menguji satu hal: Apakah wanita ini benar-benar memiliki darah yang sama dengan Aira?
Detik berikutnya, tubuh Arkanza menegang. Rasa panas seperti terbakar api menjalar dari leher ke seluruh tubuhnya. Bintik-bintik merah meledak di permukaan kulitnya dalam hitungan detik. Napasnya mulai pendek dan berat.
"Ugh... hah... j-jangan sentuh aku!" Arkanza mengerang kesakitan.
"Arkan? Ada apa dengan kulitmu? Kau... kau menjijikkan!" Siska menjerit saat melihat bintik merah itu merembet ke wajah Arkanza. Ia tidak tahu tentang penyakit langka ini. Bukannya menolong, Siska justru mundur ketakutan melihat Arkanza yang mulai kejang menahan sesak.
"PERGI! KELUAR DARI SINI!" Arkanza mendorong Siska dengan sisa tenaganya hingga wanita itu jatuh tersungkur.
"Kau monster! Kau sakit jiwa!" Siska lari keluar ruangan sambil berteriak ketakutan, mengira Arkanza terkena penyakit menular yang mengerikan.
Begitu pintu tertutup, sebuah pintu lemari di sudut ruangan terbuka. Aira berlari keluar dengan wajah pucat pasi.
"Arkan!" Aira langsung menghambur ke arah Arkanza yang sudah ambruk di bawah meja kerjanya.
Tanpa mempedulikan bintik merah yang tampak mengerikan, Aira memeluk Arkanza erat. Ia menempelkan wajahnya ke dada Arkanza, membiarkan kulit mereka bersentuhan sebanyak mungkin.
"Aku di sini... bernapaslah, Arkan. Aku di sini," bisik Aira sambil terisak.
Perlahan, napas Arkanza yang tadinya seperti tercekik mulai melonggar. Bintik merah di kulitnya memudar saat ia menghirup aroma tubuh Aira. Arkanza mencengkeram pinggang Aira, menyembunyikan wajahnya di bahu gadis itu.
"Kenapa kau lama sekali keluar?" rengek Arkanza, suaranya terdengar sangat manja dan kekanak-kanakan di balik kemarahan palsunya. "Aku hampir mati karena wanita busuk itu."
"Maaf... aku harus memastikan dia benar-benar pergi," Aira mengusap rambut Arkanza. "Anda yang memintaku bersembunyi, kan?"
"Tetap saja! Rasanya ingin mati harus berpura-pura dengan dia!" Arkanza mendongak, matanya merah namun menatap Aira dengan posesif. "Jangan pernah biarkan dia menyentuhku lagi. Aku hanya ingin kau. Hanya kau yang tidak membuatku sakit."
Arkanza bangkit sambil tetap merangkul Aira, membawanya menuju sebuah pintu tersembunyi di balik rak buku yang menuju ke kamar pribadi di dalam kantornya.
"Arkan, kita harus kembali bekerja—"
"Diamlah. Aku butuh 'obat' dosis tinggi sekarang," Arkanza mendorong Aira ke atas ranjang besar di ruangan itu. Ia mengunci pintu dan langsung menindih tubuh Aira.
Arkanza mulai menciumi leher Aira dengan liar, seolah ingin menghapus jejak bau Siska dari indranya. "Tugasmu sebagai istri... lakukan sekarang. Aku tidak mau tahu tentang sandiwara atau wasiat itu lagi untuk beberapa jam kedepan."
"Tapi Arkan, ini di kantor..."
"Aku tidak peduli," bisik Arkanza di bibir Aira.
Malam itu, di tengah ketegangan sandiwara mereka, Arkanza akhirnya benar-benar menyatukan cintanya dengan Aira. Namun, di tengah gairah itu, Arkanza tiba-tiba mematung. Matanya membelalak menatap Aira yang meringis menahan sakit.
Ada bercak merah di atas sprei putih yang bukan berasal dari penyakitnya.
"Aira... kau..." Arkanza terengah-engah, menatap istrinya dengan tak percaya. "Kau... ini pertama kalimu?"
Aira menutupi wajahnya yang memerah dengan tangan. "Bukankah aku sudah bilang... aku bukan wanita yang bisa Anda jamah begitu saja sebelum menikah?"
Arkanza terdiam, rasa haru sekaligus rasa bersalah menyelimuti hatinya. Ia mengira Aira yang bekerja di kafe dan menghadapi banyak pria mungkin sudah tidak perawan, namun ternyata Aira menjaga kehormatannya hanya untuknya.
Arkanza menarik Aira ke dalam pelukannya, mencium keningnya dengan sangat lembut dan penuh hormat. "Maafkan aku... aku berjanji, Aira. Setelah semua sandiwara ini selesai, aku akan membuat dunia tahu bahwa kau adalah satu-satunya ratu di hidupku. Bukan karena wasiat, tapi karena kau adalah nyawaku."
...****************...
Saat mereka sedang berpelukan, telepon kantor Arkanza berdering. Itu dari Syarif Malik. "Arkanza! Siska bilang kau gila dan punya penyakit kutukan! Aku sedang menuju kantormu bersama dokter ahli untuk memeriksa apa kau masih layak memimpin perusahaan atau tidak!"