Dunia telah berubah menjadi permainan maut.
Gerbang dimensi terbuka, monster meluap ke bumi, dan manusia terpilih membangkitkan kekuatan luar biasa yang disebut "Hunter". Namun, Kenzo tidak seberuntung itu. Dia hanyalah seorang Cleaner—pemulung mayat monster kelas rendah yang direndahkan dan dianggap sampah masyarakat.
Nasibnya berubah saat ia dikhianati dan dibiarkan mati di dalam Dungeon level tinggi oleh timnya sendiri. Di ambang maut, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem God Level Extraction Diaktifkan!]
[Target: Black Shadow Wolf (Grade A). Ekstraksi Berhasil!]
[Anda Mendapatkan Skill: Kecepatan Bayangan!]
Siapa sangka, pemulung yang dulunya diinjak-injak kini bisa mencuri bakat, kekuatan, hingga ingatan dari makhluk apa pun yang ia sentuh.
Satu per satu Hunter pengkhianat ia jatuhkan. Satu per satu monster penguasa ia jadikan batu loncatan. Dari pembersih sisa pertempuran, Kenzo bangkit menjadi predator puncak yang akan mengekstrak seluruh dunia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAHTA DI ATAS AWAN DAN EVOLUSI BAYANGAN
Gedung pusat eks Klan Naga Perak itu berdiri angkuh di tengah hutan beton Jakarta, sebuah menara kaca 80 lantai yang dulu merupakan monumen keserakahan Jenderal Wirya.
Sekarang, gedung itu tampak seperti makam raksasa. Angin malam bersiul di antara dinding kaca yang retak, tapi di lantai teratas di dalam penthouse mewah yang dulunya hanya bisa diinjak oleh para petinggi kehidupan yang jauh lebih gelap sedang berdenyut.
Kenzo berdiri di tepi balkon, jubah Sovereign’s Mantle miliknya berkibar pelan. Benang benang emas di jubah itu bergerak sendiri seperti cacing cahaya yang lapar, menyedot sisa-sisa Mana di udara.
Dia menatap Jakarta yang seolah berada di bawah telapak kakinya.
"Sistem keamanan sudah bersih, Ken. Gue udah suntikin virus bayangan ke mainframe mereka. Sekarang, gedung ini hilang dari radar pemerintah. Satelit mata mata Amerika atau China sekalipun cuma bakal liat gedung kosong yang mau runtuh," suara Elara memecah hening.
Gadis jenius itu sedang duduk di kursi kebesaran Wirya, kakinya yang jenjang diangkat ke atas meja marmer, dikelilingi oleh belasan layar hologram yang berpendar biru. Kenzo berjalan mendekat, berdiri di belakang Elara, lalu meletakkan tangannya di bahu gadis itu. Jarijarinya merayap turun ke tulang selangka Elara, membuat gadis itu sedikit gemetar.
"Kerja bagus, cantik. Gue tau gue bisa ngandelin otak lo," bisik Kenzo tepat di telinga Elara, nafasnya yang hangat bikin Elara memerah.
"Jangan mulai deh, Mesum. Fokus tuh sama pasukan hantu lo. Kita punya masalah gede," Elara mencoba fokus, meski dia malah menyandarkan kepalanya ke dada Kenzo. "Pesan dari Singapura masuk. Asosiasi Hunter Internasional (IHA) lagi rapat darurat. Nama lo disebut sebagai 'Anomali Tingkat Bencana'. Mereka nggak main-main lagi."
Valeria masuk ke ruangan, melempar tas taktis yang penuh dengan Inti Mana hasil rampasan terakhir. "Cobra udah punah. Ular ular itu udah lari ke luar kota atau mati di selokan. Tapi gue dapet kabar kalau klan 'Iron Blood' dari Korea udah nyewa jet pribadi buat ke sini. Mereka bawa tim pembunuh naga."
Kenzo melepaskan Elara dan berjalan ke tengah ruangan. "Bagus. Gue emang butuh bahan baku yang lebih berkualitas. Sato, keluar!"
Bayangan di kaki Kenzo meledak, menjadi pusaran tinta hitam yang dingin. Sato muncul, berlutut dengan satu kaki. Ksatria bayangan itu tampak mulai "ketinggalan" dibandingkan kekuatan Kenzo yang terus melonjak.
“Rekan, ksatria ini mulai terlihat seperti mainan plastik yang rapuh. Jika kau ingin menghadapi orang Korea itu, kau butuh sesuatu yang bisa menghancurkan tank dengan sekali tebas. Pakai Inti Mana si Wirya sekarang!” suara sistem menggema, penuh provokasi.
Kenzo mengeluarkan Inti Mana Rank S milik Jenderal Wirya dari saku jubahnya. Benda itu berdenyut merah tua, memancarkan hawa panas yang tidak stabil. Dia melemparkannya ke depan Sato, diikuti oleh belasan Inti Mana Rank A lainnya.
"Makan itu, Sato. Jangan bikin gue malu pas orang Korea itu dateng," perintah Kenzo datar.
Seketika, ruangan itu menjadi neraka pribadi. Api hitam meledak dari tubuh Sato, menyambar gorden sutra mahal dan sofa kulit di ruangan itu hingga menjadi abu dalam sekejap. Suara geraman Sato terdengar seperti suara lempeng bumi yang bergeser mengerikan dan penuh penderitaan.
Valeria dan Freya yang baru masuk terpaksa menahan diri dengan menancapkan senjata mereka ke lantai agar tidak terlempar oleh tekanan Mana yang luar biasa. Elara bersembunyi di balik meja kerja, matanya terbelalak melihat pusaran kegelapan itu.
Setelah beberapa menit yang menyiksa, api hitam itu mereda. Sato berdiri tegak. Dia kini memiliki tinggi dua meter lebih. Zirahnya bukan lagi sekadar bayangan asap, melainkan baja naga hitam yang padat dengan ukiran rune merah yang berdenyut seperti pembuluh darah. Di punggungnya, sebuah pedang Odachi hitam sepanjang dua meter terpasang gagah.
[Ding! Evolusi Berhasil!]
[Prajurit Bayangan: Sato (Grade: General)]
[Skill Terbuka: Shadow Tempest & Will of the Sovereign]
"Gila... itu bukan lagi Hunter Rank S. Itu monster dari lantai terdalam Dungeon," gumam Freya sambil menelan ludah.
Kenzo tersenyum puas. Dia mendekati Sato, menepuk zirah dingin ksatria itu. "Sekarang kita punya penjaga pintu yang pantes."
Kenzo berbalik ke arah Elara. "El, sebarin pesan ke seluruh forum Hunter Net. Internasional, nasional, nggak peduli. Kasih tau mereka Gedung pusat Naga Perak sekarang adalah markas 'Shadow Faction'. Gue mengundang siapa pun yang merasa cukup kuat buat nyabut kepala gue untuk dateng ke sini. Semakin banyak yang dateng, semakin banyak pupuk buat pasukan gue."
"Lo beneran gila, Ken," kata Valeria sambil menyeringai liar. "Lo nantang seluruh dunia."
"Dunia butuh sedikit kekacauan, Val. Biar mereka tau siapa yang pegang kendali di Jakarta," jawab Kenzo.
Dia kemudian beralih ke Freya dan Valeria. Kenzo berjalan mendekati mereka berdua, tangannya merangkul pinggang Valeria dan Freya sekaligus, menarik mereka mendekat hingga tubuh mereka menempel. "Tapi sebelum para tamu itu dateng, gue butuh kalian berdua buat 'latihan'. Gue mau liat sejauh mana kalian bisa nahan tekanan Mana gue."
"Latihan di arena bawah tanah, kan?" tanya Freya, wajahnya sedikit memerah karena posisi mereka yang terlalu intim.
Kenzo terkekeh, suaranya rendah dan menggoda. "Mungkin di arena... atau mungkin di kamar atas. Tergantung seberapa kuat kalian bisa bikin gue 'puas' sama perkembangan kalian."
Kenzo mengecup dahi Valeria dan membisikkan sesuatu yang nakal di telinga Freya, membuat cewek Jerman itu hampir melepaskan tombaknya. Dominasi Kenzo sekarang bukan cuma soal kekuatan tempur, tapi soal karisma gelap yang membuat wanita wanita paling mematikan di sampingnya tidak bisa berkata 'tidak'.
Di sebuah ruangan kaca yang dingin, para petinggi Hunter dunia sedang menatap layar besar yang menampilkan pesan dari Kenzo. Suasana mencekam.
"Dia benar-benar mengundang kita? Ini penghinaan!" teriak perwakilan Jepang.
"Klan 'Iron Blood' sudah bergerak. Mereka mengirimkan tiga Hunter Rank S dan lima puluh elit. Mereka akan meratakan gedung itu dalam hitungan jam," sahut perwakilan Korea dengan nada sombong.
Mereka tidak tahu, bahwa di Jakarta, Kenzo justru sedang menunggu mereka dengan tangan terbuka dan pedang yang haus darah.
Kembali ke Gedung Naga Perak, Kenzo sedang berdiri di lantai bawah, di sebuah arena latihan luas yang dulunya dipakai Wirya untuk menyiksa tawanan. Dia melepaskan 30 prajurit bayangannya yang baru, termasuk para Soldier Jerman yang baru diekstrak.
"Valeria, Freya. Masuk ke arena. Kalau kalian nggak bisa bertahan sepuluh menit lawan bayangan gue, jangan harap bisa tidur di kamar gue malam ini," tantang Kenzo sambil duduk di bangku penonton, memperhatikan dengan mata keemasannya.
Valeria menarik dua belatinya, matanya berkilat penuh gairah bertarung. "Gue bakal bikin lo narik kata kata itu, Bos!"
Pertarungan pecah. Valeria bergerak seperti kilat perak, sementara Freya memberikan dukungan artillery dengan tombak Gungnir nya, melepaskan gelombang energi yang menghancurkan barisan bayangan. Kenzo memperhatikan setiap gerakan mereka, sesekali memberikan masukan melalui sistemnya.
“Rekan, mereka berkembang dengan sangat baik. Tapi aku mendeteksi adanya getaran Mana yang sangat kuat di pelabuhan. Orang orang Korea itu sudah sampai. Mereka membawa senjata 'Dragon Slayer'.”ucap sistem.
Kenzo berdiri, merapikan jubahnya. "Waktunya habis, cantik cantikku. Tamu utama kita udah dateng."
Kenzo berjalan menuju lobi utama gedung. Dia menyuruh Sato berdiri tepat di depan pintu masuk yang megah. Di luar, langit Jakarta mendadak berubah menjadi hitam pekat. Petir menyambar di puncak gedung Naga Perak, seolah-olah alam sedang memberi peringatan.
Dari kejauhan, iringan mobil hitam melaju kencang menuju gedung. Di barisan paling depan, seorang pria raksasa dengan zirah merah menyala keluar. Dia memegang palu besar yang berdenyut dengan energi penghancur.
"Nameless Hunter! Keluar dan hadapi kematianmu!" teriak pria itu, suaranya menggetarkan kaca kaca gedung di sekitarnya.
Kenzo muncul di balkon lantai dua lobi, menatap ke bawah dengan tatapan meremehkan. "Kalian jauh jauh dari Korea cuma buat teriak teriak di depan rumah gue? Sopan santun kalian mana?"
Kenzo menjentikkan jarinya.
Sato melangkah maju dari kegelapan lobi. Aura General nya meledak, menciptakan gelombang kejut yang membuat para Hunter elit Korea di barisan depan terlempar ke belakang.
"Selamat datang di Jakarta," bisik Kenzo, suaranya bergema melalui sistem suara gedung yang dikendalikan Elara. "Gue harap nyawa kalian cukup berharga buat jadi koleksi baru gue."
Perang besar pertama antara Shadow Faction dan klan internasional resmi dimulai. Dan di tengah badai itu, Kenzo hanya tersenyum nakal, membayangkan betapa indahnya koleksi bayangannya besok pagi.
"Sato... jangan sisain satu pun buat dikubur secara normal," perintah Kenzo.