NovelToon NovelToon
Melati Diantara Lima Cinta

Melati Diantara Lima Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

Melati hanyalah gadis desa yang tak pernah bermimpi menjadi pusat dunia. Namun satu langkah ke istana menyeretnya ke dalam permainan cinta, kekuasaan, dan rahasia yang berbahaya.

Lima pria dari lima dunia berbeda datang dengan janji, ambisi, dan perasaan yang tak sederhana. Di balik gaun indah dan perjamuan megah, Melati belajar membaca kebohongan, membangun aliansi, dan melindungi harga dirinya.

Ketika gosip menjadi senjata dan cinta menjadi strategi, Melati harus memilih: bertahan sebagai pion… atau bangkit sebagai pemain yang mengubah sejarah.

Karena di tengah intrik dan perasaan yang rumit, satu kebenaran perlahan muncul — Melati bukan sekadar perempuan yang diperebutkan.
Ia adalah simbol masa depan yang belum ditentukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: SUJUD DI BAWAH BAYANG-BAYANG SEPATU BOT

Langit menjelang petang menggantung rendah di atas desa seperti tirai kusam yang menahan cahaya terakhir. Warna jingga yang memudar menyusup di sela pepohonan kelapa, menimpa pematang sawah yang panjang dan sunyi. Di kejauhan, suara burung bangau pulang ke sarang terdengar seperti desah yang terlalu lelah untuk disebut nyanyian.

Melati berjalan cepat.

Kakinya telanjang, tanah lembap menempel di sela jari, namun ia tidak merasakannya. Yang tertinggal di benaknya hanyalah tatapan itu—tatapan seorang pria asing dengan pakaian rapi, sepatu bot mengilap, dan mata yang menilai seolah manusia hanyalah barang dagangan.

Ia tidak tahu siapa pria itu.

Namun tubuhnya tahu rasa takut sebelum pikirannya sempat mengerti.

Tangannya bergetar saat membuka pintu gubuk. Kayu tua berderit pelan, suara yang biasanya akrab kini terdengar seperti peringatan.

Ibunya sedang menampi beras.

Ayahnya duduk di bangku rendah, memperbaiki jaring ikan yang sudah terlalu sering ditambal.

Mereka menoleh bersamaan.

“Melati, kau terlambat,” kata ibunya lembut, tetapi ada garis cemas di dahinya. “Ada apa?”

Melati membuka mulut.

Tidak ada kata yang keluar.

Ia hanya menggeleng.

Namun air mata sudah jatuh lebih dulu.

Ibunya segera bangkit. “Astaga… Nak, apa kau jatuh? Ada yang mengganggu?”

Melati menunduk. Bayangan sepatu bot itu muncul lagi. Bunyi langkahnya. Cara pria itu menatap tanpa menyentuh—tetapi terasa seperti merenggut sesuatu.

“Aku… tidak apa-apa, Bu.”

Suara itu terlalu pelan untuk disebut suara.

Ayahnya memperhatikan lama. Wajahnya keras seperti kayu tua yang terbiasa menahan hujan.

“Ada orang kota?” tanyanya akhirnya.

Melati menggigit bibir.

Ia mengangguk.

Sunyi jatuh di ruangan kecil itu.

Ibunya berhenti bernapas sesaat.

Ayahnya menunduk kembali ke jaring, tetapi jemarinya tidak bergerak.

Di desa kecil seperti mereka, orang kota—terutama orang Eropa—bukan sekadar tamu. Mereka adalah pertanda. Kadang rezeki. Lebih sering musibah.

“Apa dia bicara padamu?” tanya ayah.

Melati menggeleng.

Ia tidak berani mengatakan bahwa pria itu tidak perlu bicara. Tatapannya saja sudah terasa seperti perintah.

Ibunya menggenggam tangan Melati. “Sudah… masuklah. Ambil air wudu.”

Melati mengangguk cepat, seperti anak kecil yang diberi tempat bersembunyi.

Di sudut gubuk, tikar pandan terbentang sederhana. Lampu minyak menyala kecil, cahayanya goyah seperti napas yang tidak tenang.

Melati berdiri menghadap kiblat.

Takbir pertama terasa berat.

Ia mencoba fokus pada bacaan, pada suara hatinya sendiri, pada ritme salat yang biasanya menenangkan. Namun setiap kali ia menutup mata, sepatu bot itu muncul.

Mengilap. Keras. Dekat.

Saat rukuk, napasnya mulai patah.

Saat sujud, air matanya jatuh ke tikar.

Ia tidak menangis keras. Tangisnya sunyi—jenis tangis yang tidak ingin didengar siapa pun kecuali Tuhan.

“Ya Allah…” bisiknya di antara napas yang bergetar.

“Aku takut…”

Ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Tidak ada ancaman. Tidak ada kata kasar. Namun rasa takut itu nyata, seperti bayangan badai sebelum langit benar-benar gelap.

“Aku tidak ingin pergi… Aku tidak ingin meninggalkan mereka…”

Tangannya mencengkeram tikar.

Ia merasa kecil. Sangat kecil. Seperti sesuatu yang bisa dipindahkan tanpa izin.

Sujudnya menjadi lebih lama.

Di luar, suara serangga malam mulai memenuhi udara.

Malam turun sepenuhnya ketika ketukan itu datang.

Tiga kali.

Keras.

Tidak sopan.

Ayah Melati menegang sebelum berdiri. Ibunya langsung memegang lengan Melati, seolah tubuh gadis itu bisa diambil begitu saja melalui pintu.

Ketukan itu datang lagi.

Lebih keras.

Ayah membuka pintu.

Lampu minyak dari dalam memantul pada logam—kancing, sabuk, dan… sepatu bot.

Dua tentara Belanda berdiri di depan gubuk mereka. Seragam rapi. Wajah tanpa ekspresi. Di belakang mereka, seorang pribumi berpakaian lebih baik memegang kotak panjang berlapis kain.

Ayah Melati menunduk sedikit. Bukan hormat—lebih seperti refleks bertahan hidup.

“Tuan…” suaranya serak.

Salah satu tentara berbicara dalam bahasa Melayu yang kaku.

“Kami membawa kiriman.”

Ibunya menggenggam tangan Melati lebih kuat.

“Untuk siapa?” tanya ayah hati-hati.

Tentara itu menoleh ke arah Melati.

Tidak lama.

Namun cukup untuk membuat darah Melati terasa dingin.

“Untuk gadis itu.”

Sunyi pecah seperti kaca di dalam dada ibunya.

“Ada kesalahan, Tuan,” kata ayah cepat. “Kami orang kecil—”

“Tidak ada kesalahan.”

Kotak itu disodorkan.

Pribumi yang membawa kotak membuka penutupnya.

Sutra.

Kain halus berkilau seperti air di bawah bulan. Warna lembut yang terlalu indah untuk rumah mereka. Di dalamnya ada perhiasan emas—gelang tipis, kalung kecil, dan koin yang berkilap dingin.

Ibunya mundur satu langkah.

Ayah tidak menyentuhnya.

Ia tahu.

Semua orang desa tahu.

Hadiah seperti itu bukan kebaikan. Itu tanda.

Tanda bahwa seseorang telah melihat. Memilih. Mengklaim.

“Dari siapa?” tanya ayah, suaranya hampir tidak terdengar.

Tentara itu menjawab singkat.

“Pangeran Willem.”

Nama itu jatuh seperti batu ke dasar sumur.

Melati tidak pernah melihatnya sebelumnya—tetapi tubuhnya langsung tahu. Pria di sawah. Tatapan itu.

Ibunya berbisik, hampir putus asa.

“Pak… jangan…”

Ayah menelan ludah.

“Maaf, Tuan… kami tidak—”

Tentara itu melangkah maju satu langkah. Sepatu bot menghantam tanah kayu. Bunyi yang sama. Bunyi yang Melati bawa sampai ke dalam sujudnya.

“Kami tidak bertanya,” katanya dingin.

Ibunya mulai menangis pelan.

Melati berdiri di belakang mereka, tangan dingin, jantung terlalu keras. Ia ingin berkata sesuatu. Menolak. Berlari.

Namun kata-kata terasa seperti kemewahan yang tidak dimiliki orang kecil.

Ayahnya menatap kotak itu lama sekali.

Di wajahnya ada perang: harga diri melawan keselamatan keluarga.

“Pak…” bisik ibunya. “Itu bukan hadiah…”

Ayah tahu.

Semua orang tahu.

Tangan ayah bergetar saat akhirnya menyentuh kain sutra itu. Bukan menerima—lebih seperti seseorang yang menyentuh bara untuk memastikan panasnya nyata.

Tentara itu mengangguk singkat.

“Gadis itu akan dipanggil.”

Kalimat sederhana. Namun rasanya seperti vonis.

Melati menahan napas.

“Kapan?” tanya ayah, suara pecah.

“Segera.”

Mereka tidak menjelaskan lebih jauh. Tidak perlu.

Tentara berbalik. Sepatu bot menjauh. Suaranya perlahan hilang di malam, tetapi gaungnya tertinggal di dada Melati.

Pintu tertutup.

Dan dunia terasa berbeda.

Ibunya langsung terduduk.

Tangisnya pecah, tidak lagi ditahan.

“Ya Allah… ya Allah…”

Ayah masih berdiri, kotak itu di tangannya seperti benda terkutuk.

Melati mendekat perlahan.

Kain sutra itu begitu indah hingga terasa kejam. Ia menyentuhnya dengan ujung jari—halus, dingin, asing.

“Pak…” suaranya kecil. “Aku… harus bagaimana?”

Ayah menutup mata.

Pertanyaan itu adalah hal yang paling tidak bisa ia jawab.

“Ayah tidak ingin ini,” katanya akhirnya, suara berat. “Tapi kita tidak bisa menolak orang seperti mereka.”

Ibunya memeluk Melati erat, seolah waktu bisa dihentikan dengan pelukan.

“Kau anak kami… bukan barang…”

Melati menutup mata.

Namun malam itu ia mulai mengerti: di dunia tempat mereka hidup, keinginan tidak selalu berarti pilihan.

“Aku akan patuh,” katanya pelan.

Ibunya menggeleng keras. “Jangan bilang begitu…”

Namun Melati tahu.

Patuh bukan berarti setuju. Kadang itu hanya cara bertahan.

Ayahnya duduk akhirnya, bahunya tampak lebih tua beberapa tahun.

“Kita akan berdoa,” katanya. “Hanya itu yang kita punya.”

Melati menatap kotak itu sekali lagi.

Sutra. Emas. Kilau yang menjanjikan sesuatu yang besar—dan mengancam sesuatu yang lebih besar.

Malam terasa panjang.

Dan untuk pertama kalinya, Melati merasa hidupnya tidak lagi sepenuhnya miliknya.

Di luar, angin berhembus pelan melewati pematang sawah.

Seolah desa itu tahu.

Seolah malam membawa kabar bahwa seorang gadis telah terlihat—dan dunia yang lebih besar telah mulai mendekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!