NovelToon NovelToon
Pewaris Terahir Murim

Pewaris Terahir Murim

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Spiritual / Sistem / Cintapertama / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:990
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:

**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**

Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.

Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.

Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: PERTARUNGAN PERTAMA

Fajar di Sekte Iblis tidak pernah benar-benar terang.

Langit kelabu menggantung rendah, menciptakan cahaya temaram yang membuat bayangan-bayangan tampak lebih panjang dan lebih menyeramkan. Ha-neul bangun sebelum matahari terbit, seperti biasa. Ia duduk bersila di dipannya, bermeditasi mengatur pernapasan dan aliran Qi.

Seo Jun-ho masih tidur di dipan seberang, mendengkur pelan. Dua pria paruh baya itu sudah pergi—mungkin sejak subuh, entah ke mana. Ha-neul tidak peduli. Yang penting ia bisa fokus.

"Gugup?" suara Hyeol-geon bertanya.

"Biasa."

"Jangan remehkan lawan pertamamu. Meski grup D, mereka yang sampai ke sini pasti punya kemampuan lebih dari orang biasa."

"Aku tahu, Guru."

Ha-neul membuka mata. Ia merasakan Qi di tubuhnya mengalir sempurna—buah dari latihan keras di lembah tersembunyi. Ritual Hati Naga telah membuka semua meridiannya, dan sebulan terakhir ia habiskan untuk menstabilkan aliran itu. Kini ia berada di level yang sama sekali berbeda dari saat di Kota Selatan.

Tapi ia juga sadar, di tempat ini, levelnya mungkin masih di bawah banyak orang. Terutama para petarung elite Sekte Iblis.

---

Pukul delapan pagi, semua peserta turnamen dikumpulkan di arena utama.

Arena itu sangat luas—mungkin bisa menampung tiga ribu orang. Tribun batu berundak mengelilingi area pertarungan berbentuk lingkaran berdiameter lima puluh meter. Lantainya dari batu hitam yang dihaluskan, masih terlihat noda-noda hitam yang mungkin bekas darah.

Di tribun khusus, duduk para petinggi Sekte Iblis. Ha-neul mengamati dari kejauhan—ada enam orang, semuanya berpakaian jubah hitam dengan bordiran emas. Wajah mereka tertutup topeng atau tudung, kecuali satu.

Satu orang duduk di kursi paling tengah, paling tinggi. Sosok itu tidak memakai topeng. Wajahnya tampak muda—mungkin tiga puluhan—tapi matanya... matanya seperti jurang, dalam dan kosong. Ia tersenyum tipis, memandangi para peserta dengan sorot seperti petani memandangi ternaknya.

"Itu dia." Suara Hyeol-geon bergetar, penuh kebencian. "Penguasa Sekte Iblis. Murid pengkhianat itu."

Ha-neul menatap sosok itu lama. Jadi ini orangnya. Yang membunuh ayahnya. Yang menghancurkan gurunya. Yang menjadi akar dari semua penderitaannya.

"Kendalikan dirimu," peringat Hyeol-geon. "Jangan sampai dia curiga."

Ha-neul menarik napas, menenangkan diri. Ia mengalihkan pandangan, berpura-pura tertarik pada hal lain.

Seorang pria berjubah hitam naik ke panggung di tengah arena. Dengan pengeras suara dari energi, ia mengumumkan peraturan turnamen.

"Turnamen ini akan menentukan siapa yang layak bergabung dengan Sekte Iblis sebagai murid inti. Dua puluh pemenang teratas akan diterima. Sepuluh besar akan mendapat pelatihan khusus. Dan tiga besar..." Ia tersenyum lebar. "Akan mendapat kesempatan langka: menjalani ritual Penguatan Iblis."

Para peserta bergemuruh. Beberapa tampak bersemangat, beberapa ketakutan. Ha-neul mengerutkan kening—ritual apa lagi itu?

"Teknik terlarang untuk meningkatkan kekuatan secara paksa," jelas Hyeol-geon. "Yang menjalani bisa menjadi sangat kuat, tapi biasanya kehilangan kemanusiaan mereka. Berubah menjadi monster."

Ha-neul merinding. Jadi itu yang dicari Sekte Iblis—manusia-manusia yang bisa dijadikan senjata.

---

Pembagian grup diumumkan. Ha-neul di grup D, bersama sembilan belas peserta lain. Sistemnya sederhana: setiap orang akan bertarung tiga kali di babak penyisihan grup. Dua belas teratas dari setiap grup lolos ke babak gugur.

Nama Ha-neul dipanggil untuk pertarungan pertama.

Ia melangkah ke arena. Lawannya seorang pria bertubuh besar dengan kapak raksasa—tipe petarung kekuatan murni. Pria itu tersenyum melihat Ha-neul yang kurus dan hanya membawa pedang kayu.

"Heh, bocah, kau salah tempat. Ini turnamen sungguhan, bukan latihan anak-anak."

Ha-neul tidak menjawab. Ia hanya mengambil posisi.

Wasit memberi aba-aba. Pertarungan dimulai.

Pria besar itu langsung menyerang, kapaknya diayunkan dengan keras. Ha-neul menghindar dengan geseran tipis. Kapak kedua, ketiga—semua meleset. Penonton mulai bersorak, menikmati pertarungan yang tampak timpang.

Tapi Ha-neul hanya bertahan, tidak membalas. Ia sedang mengamati, seperti biasa.

"Kelebihannya ada di kekuatan, kelemahannya di kecepatan. Setiap ayunan kapak, ia membuka rusuk kirinya."

Ha-neul melihat. Benar.

Saat pria itu mengayunkan kapak sekali lagi, Ha-neul melesat masuk. Tubuhnya memiring, menghindari kapak, dan dalam gerakan yang sama, pedang kayunya menusuk—tepat di titik antara tulang rusuk keempat dan kelima.

Pria besar itu terkesiap. Napasnya tersengal. Kapaknya jatuh. Ia berlutut, lalu roboh.

Hening.

Wasit mendekat, menghitung. Pria itu tidak bangun. Wasit mengangkat tangan Ha-neul.

"Pemenang: Kang Woo!"

Sorak-sorai pecah. Bukan karena kagum, tapi karena tidak percaya. Bocah kurus dengan pedang kayu mengalahkan raksasa berkapak dalam satu tusukan.

Ha-neul melangkah keluar arena tanpa ekspresi. Di tribun khusus, Penguasa Sekte Iblis mengangkat alis, sedikit tertarik. Ia menoleh ke ajudan di sampingnya.

"Cari tahu siapa dia."

---

Di asrama, Seo Jun-ho menyambutnya dengan takjub.

"KANG WOO! KAU HEBAT BANGET!" teriaknya. "Satu tusukan langsung menang? Jurus apa itu?"

Ha-neul tersenyum tipis. "Keberuntungan."

"Bohong! Itu bukan keberuntungan. Aku lihat kau menusuk tepat di titik vitalnya." Jun-ho menggeleng. "Kau benar-benar bukan pemula biasa."

Ha-neul tidak menjawab. Ia duduk di dipannya, memejamkan mata. Pertarungan pertama mudah, tapi ia tahu yang berikutnya akan lebih berat. Apalagi setelah penampilannya tadi, perhatian orang akan tertuju padanya.

"Kau menarik perhatian," bisik Hyeol-geon. "Hati-hati."

"Aku tahu. Tapi aku tidak bisa kalah."

"Iya. Tahan saja di level menengah. Jangan terlalu menonjol, jangan terlalu lemah. Cukup untuk lolos."

Ha-neul mengangguk. Ia punya rencana.

---

Dua hari berikutnya, Ha-neul bertarung dua kali lagi. Dua-duanya menang, tapi dengan gaya yang berbeda. Ia sengaja memperlambat pertarungan, membuatnya tampak lebih sulit. Lawan kedua ia kalahkan setelah sepuluh menit. Lawan ketiga setelah lima belas menit. Tidak ada yang spektakuler, tapi cukup untuk lolos ke babak gugur sebagai peringkat kelima grup D.

Seo Jun-ho juga lolos—peringkat kedelapan. Ia petarung lincah dengan senjata sepasang pisau pendek, mengandalkan kecepatan. Ha-neul melihat potensi dalam dirinya, tapi juga kelemahan: Jun-ho terlalu mudah terpancing emosi.

Malam setelah pengumuman lolos, Jun-ho mengajaknya minum di kantin. Suasana ramai, para peserta merayakan atau melupakan kekalahan.

"Kang Woo, aku mau terima kasih," kata Jun-ho setelah beberapa gelas. "Kalau bukan karena motivasi dari kamu, mungkin aku sudah kalah di pertarungan kedua."

Ha-neul mengangkat alis. "Motivasi?"

"Iya. Waktu itu aku hampir menyerah, lawanku terlalu kuat. Tapi aku lihat kamu di tribun, duduk tenang, tidak seperti peserta lain yang teriak-teriak. Entah kenapa itu membuatku tenang." Jun-ho tersenyum. "Aneh ya?"

Ha-neul tersenyum tipis. "Mungkin."

"Jadi, Kang Woo. Di babak gugur, kita mungkin bertemu. Kalau iya..." Jun-ho menatapnya serius. "Jangan tahan-tahan. Tunjukkan kemampuan aslimu. Aku ingin lihat seberapa kuat kamu sebenarnya."

Ha-neul diam. Lalu perlahan, ia mengangguk. "Baik. Kalau kita bertemu, aku akan tunjukkan."

Jun-ho tersenyum lebar. "Sip! Aku tunggu!"

---

Malam itu, Ha-neul tidak bisa tidur.

Ia duduk di atap asrama, memandangi langit kelabu yang tidak pernah berubah. Pikirannya melayang pada Soo-ah, pada lembah tersembunyi, pada masa depan yang tidak pasti.

Di kejauhan, bangunan pusat Sekte Iblis menjulang, dengan satu jendela yang masih menyala. Di balik jendela itu, mungkin Penguasa Sekte sedang bekerja, merencanakan sesuatu.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Hyeol-geon.

"Aku berpikir... bagaimana rasanya membunuhnya."

"Kau akan tahu suatu hari nanti. Tapi tidak sekarang."

"Aku tahu."

Ha-neul menarik napas dalam. Babak gugur dimulai besok. Dua puluh empat peserta terbaik akan bertarung habis-habisan. Hanya sepuluh yang akan lolos ke babak berikutnya, dan tiga besar akan menjalani ritual mengerikan itu.

Ia harus memastikan dirinya tidak masuk tiga besar. Cukup di peringkat aman—mungkin peringkat lima atau enam—agar bisa tetap di dalam tanpa menjadi target eksperimen.

Tapi rencana terbaik sering kali berantakan saat bertemu kenyataan.

]

1
Riska Purwati
👍👍👍👍👍👍
maklie_
aku mampir 💪
Asepsolih Sutarman
ceritanya seru, suka banget.....top markotop
Asepsolih Sutarman
makin seru ceritanya...👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!