NovelToon NovelToon
OWNED BY AZEUS

OWNED BY AZEUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / CEO
Popularitas:603
Nilai: 5
Nama Author: Andara Wulan

"Jangan pernah berpikir untuk lari, karena setiap jengkal napasmu adalah milikku." _Azeus (Versi Novel).
Aluna benci Azeus. Bukan Azeus si CEO dalam novel favorit yang tengah ia baca, melainkan Azeus di dunia nyata, seorang cowok narsis, tukang pamer motor 1000cc, dan hobi ugal-ugalan yang hampir membuatnya celaka dua kali!
Aluna mengira hidupnya akan setragis tokoh di dalam bukunya: diculik, disiksa, dan menderita. Namun, kenyataannya malah jauh lebih merepotkan. Alih-alih cambukan, Aluna justru dihujani gombalan narsis, traktiran boba, dan aksi protektif yang ugal-ugalan dari geng motor paling populer di Jakarta.
Saat garis antara fiksi dan realita mulai kabur, Aluna tersadar satu hal, Apakah dia akan berakhir tragis seperti di dalam novel, atau justru terjebak dalam obsesi manis si cowok ugal-ugalan yang diam-diam mencuri hatinya?
"Lo boleh benci Azeus yang di buku itu, tapi jangan harap bisa lepas dari Azeus yang di depan mata lo sekarang."

Karya ini berisi Novel dalam Novel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Daya Batrei Melonjak ke 100%

Azeus benar-benar lupa daratan. Ia bahkan lupa bahwa tujuan awalnya ke apartemen ini hanyalah untuk merayakan ulang tahun Gathan. Di kepalanya sekarang hanya ada satu nama: Aluna.

Ciuman Azeus semakin menuntut dan mendalam, tangannya bergerak dengan obsesi yang tak terbendung untuk melepas pakaian Aluna. Namun, saat helai demi helai kain itu terlepas, Aluna tersentak. Ia segera menutupi dadanya dengan malu-malu, wajahnya memerah hebat di bawah lampu ruang tamu yang temaram.

"Kak... jangan di sini," bisik Aluna parau, matanya yang jernih menatap Azeus dengan penuh permohonan.

Azeus menjeda gerakannya, napasnya memburu hebat. Tanpa berkata-kata, ia langsung menyusupkan lengannya di bawah tubuh Aluna, mengangkat gadis itu dalam gendongan bridal style menuju kamar utama.

Begitu sampai di dalam kamar yang beraroma vanila itu, Azeus menurunkan Aluna di atas ranjang king size yang empuk. Azeus berdiri di tepi ranjang, menatap Aluna dengan tatapan lapar yang sangat maskulin. Dengan gerakan yang sangat keren khas CEO, ia membuka kancing kemeja putihnya satu per satu sambil terus mengunci pandangan pada Aluna. Ia menyentak kemeja itu hingga lepas dari bahunya yang kekar, lalu melemparkannya ke sembarang arah tanpa peduli lagi pada kerapihan.

Azeus segera menyusul ke atas ranjang, membawa Aluna ke dalam pelukannya yang hangat. Malam itu, ketegangan dan kerinduan yang telah lama terpendam seolah mencair dalam kebersamaan mereka. Dalam keheningan kamar, mereka menghabiskan waktu dengan bercakap-cakap dan berbagi kedekatan emosional yang mendalam, seolah dunia di luar sana berhenti berputar.

Azeus benar-benar lupa waktu, menikmati setiap detik ketenangan bersama Aluna hingga akhirnya rasa kantuk yang berat mulai menyerang. Di bawah selimut yang nyaman, Azeus perlahan tertidur pulas dengan perasaan lega yang menyelimuti hatinya.

^^^

Sinar matahari pagi mulai menembus celah jendela, menerangi kamar yang hening itu. Aluna perlahan membuka matanya dan mendapati Azeus masih terlelap di hadapannya. Dalam tidurnya, wajah pria itu tampak begitu tenang dan jauh berbeda dari kesan tegas yang biasanya ia tunjukkan.

Mengingat kejadian semalam, perasaan campur aduk menyelimuti hati Aluna. Ada rasa malu yang begitu besar, namun terselip pula secercah ketenangan. Terlintas dalam benaknya mengenai konsekuensi dari hubungan mereka, termasuk kemungkinan tentang kehamilan. Meski ada rasa cemas, ia meyakini bahwa Azeus adalah sosok yang bertanggung jawab dan akan meresmikan hubungan mereka.

Dengan penuh kasih, Aluna menyentuh ujung hidung Azeus secara perlahan. Gerakan kecil itu rupanya cukup untuk membuat Azeus terjaga. Saat mata mereka bertemu, Aluna sempat merasa canggung, namun ia memutuskan untuk tetap berada di dekat pria itu, menunjukkan perhatiannya melalui pelukan hangat.

Azeus tersenyum tipis melihat keberanian Aluna. Kehangatan pagi itu mempererat ikatan di antara mereka, menciptakan momen romantis yang penuh kedekatan emosional sebelum mereka memulai hari. Hubungan yang awalnya penuh keraguan kini terasa mulai menemukan arah baru yang lebih serius.

Kilas Balik\=

Malam sebelumnya, suasana di unit apartemen Gathan benar-benar kacau. Raka dan Dion, duo curut yang tidak tahu malu itu, sudah menghias ruang tamu Gathan dengan balon-balon konyol dan pizza ukuran raksasa. Namun, sang bintang utama—bukan Gathan, melainkan si bucin Azeus—tak kunjung menampakkan batang hidungnya.

"Sialan si Azeus! Kita gedor-gedor tadi malah dikacangin. Ini pizza udah dingin kayak hati Gathan, dia malah asyik anu-anuan!" gerutu Dion sambil mengunyah pinggiran pizza dengan emosi.

"Gue rasa dia lagi bayar utang tiga tahun, Yon. Sekali dapet 'lampu hijau', gas pol sampe mesin jebol," timpal Raka sambil sesekali mengintip lewat lubang intip pintu, berharap melihat Azeus keluar.

Gathan hanya duduk tenang di sofa, menyesap kopi hitamnya sambil membaca buku kedokteran tebal. "Udah, gue bilang juga apa. Jangan ganggu orang lagi 'ibadah' rindu. Mending kalian pulang," ucapnya dingin khas es batu.

Mereka menunggu sampai jam menunjukkan pukul 12 malam, tapi pintu unit Aluna tetap tertutup rapat seolah tak berpenghuni. Akhirnya, dengan wajah lesu dan kesal, Raka dan Dion menyerah.

"Fix, dia nggak bakal keluar sampai subuh. Ayo balik, biarin si Raja Modus itu puas-puasin dulu," ajak Raka. Mereka pun bubar, meninggalkan Gathan yang akhirnya bisa menikmati kesunyian yang menenangkan lagi..

^^^

Keesokan paginya, matahari sudah tinggi, tapi Azeus sama sekali tidak berniat beranjak dari tempat tidur. Setelah ronde kedua" yang melelahkan namun sangat indah itu, Azeus hanya ingin memeluk Aluna selamanya. Jiwa CEO-nya mendadak lumpuh total digantikan oleh jiwa budak cinta.

"Kak, udah jam 9... nggak ke kantor?" bisik Aluna sambil menyembunyikan wajahnya yang merah padam di dada bidang Azeus.

"Males, Sayang. Kantor nggak bakal lari, tapi kalau aku lepasin kamu sekarang, rasanya aku yang bakal lari dari kenyataan," jawab Azeus narsis sambil mengeratkan pelukannya, sama sekali tidak peduli pada tanggung jawabnya.

Namun, ketenangan itu hancur saat ponsel Azeus di atas nakas bergetar hebat. Nama "Irwan - Asisten" tertera di layar. Azeus mengabaikannya, tapi tak lama kemudian, telepon rumah apartemen Aluna yang terhubung ke lobi kantor berdering.

Ternyata, laporan sudah sampai ke telinga naga. Irwan telah melapor ke Ayah Azeus di kantor pusat, bahwa sang Direktur Muda bolos tanpa keterangan.

Brak! Di kantor pusat, Ayah Azeus menggebrak meja kerjanya. Beliau sangat kesal.

"Tiga tahun dididik jadi profesional, baru ketemu Aluna satu malam saja sudah tidak profesional! Benar-benar bocah itu!" geram ayahnya.

Azeus akhirnya terpaksa mengangkat telepon dari ayahnya dengan malas.

"Halo, Pa..."

"Azeus! Kamu pikir perusahaan itu tempat penitipan anak?! Cepat ke kantor sekarang atau Papa kirim satpam buat seret kamu dari apartemen itu!" suara menggelegar sang Ayah membuat Aluna yang mendengarnya langsung menutup telinga.

Azeus meringis, menatap Aluna dengan wajah memelas.

"Kayaknya bos besar ngamuk, Na. Aku harus pergi, tapi janji... sore nanti aku balik lagi buat 'lanjutin' yang tadi."

Aluna hanya bisa tertawa kecil sambil melempar bantal ke arah Azeus yang sedang tertawa narsis, merasa menang karena meski dimarahi, ia sudah mendapatkan kembali jantung hatinya.

...

Azeus memang tidak pernah kehilangan kepercayaan dirinya, bahkan di tengah amukan sang Ayah. Sambil masih memeluk Aluna dengan satu tangan, ia menyahut santai ke ponselnya sebelum Ayahnya sempat memutus sambungan.

"Pa, satu lagi. Zeus mau dijemput pakai mobil kantor sekarang. Zeus malas naik moge pakai setelan jas, nanti kena debu jalanan terus kegantengan Zeus luntur. Sayang kan kalau aset masa depan perusahaan mukanya kusam?" ucap Azeus dengan nada narsis yang luar biasa. "Oiya, suruh orang siapin setelan jas baru di dalam mobil. Zeus mau ganti di jalan biar satset sampai kantor langsung ganteng maksimal."

Tut... tut... tut...

Ayahnya langsung mematikan telepon dengan emosi yang sudah di ubun-ubun. Namun, perintah sang Direktur Muda tetap dijalankan. Prosedur operasional perusahaan memang mengharuskan asisten gerak cepat demi efisiensi waktu pimpinan.

Sepuluh menit kemudian, pesan dari Irwan masuk: "Mobil sudah di lobi apartemen, Den. Setelan jas pesanan Anda sudah siap di kursi belakang."

Azeus bangkit dari ranjang, menatap Aluna yang masih bergelung di balik selimut dengan tatapan penuh obsesi. Ia membungkuk, mencium kening Aluna lama sekali seolah itu adalah pasokan oksigen terakhirnya.

"Aku berangkat dulu, Nana Sayang. Inget, jangan keluar apartemen sendirian. Kalau mau apa-apa, telepon aku atau asisten yang tadi," bisik Azeus posesif.

Aluna hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Kakak sekaligus kekasihnya ini.

"Iya,. Buruan berangkat, kasihan asistennya nunggu di bawah."

Azeus turun ke lobi dengan langkah gagah. Begitu pintu mobil mewah itu dibuka oleh supir, ia langsung mendapati setelan jas pesanan dari Butik Eksklusif sudah tergantung rapi. Di dalam mobil yang melaju membelah kemacetan, Azeus berganti pakaian dengan cekatan. Ia merapikan kerah kemejanya dan menyisir rambutnya ke belakang di depan kaca spion tengah.

"Oke, sekarang udah siap jadi CEO paling tampan se-Jakarta lagi," gumamnya sambil tersenyum miring.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!