NovelToon NovelToon
Golden Girl, Silver Boy

Golden Girl, Silver Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.

Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.

Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.

Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.

"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."

Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 31 - SATU CENTANG YANG MENGGANJAL

Gill datang pukul tujuh empat puluh delapan.

Dua belas menit sebelum bel pertama, waktu yang sama seperti hari-hari sebelumnya, dengan kotak susu di tangan kiri dan tas di punggung dan cara berjalan yang tidak berubah dari apapun yang terjadi kemarin atau hari-hari sebelum kemarin.

Ara melihat Gill masuk dari sudut matanya.

Dan mengalihkan pandangannya ke buku catatan di depannya dengan cara yang sangat disengaja tapi berusaha tidak terlihat disengaja.

Gill berjalan ke mejanya.

Meletakkan kotak susu di sudut meja seperti biasa, bunyi plastik kecil yang sudah sangat Ara hafal karena sudah terlalu sering terjadi.

"Bekalku?"

Ara menatap buku catatannya.

Tidak menjawab.

Tidak menoleh.

Gill menunggu.

Satu detik.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Dua puluh detik.

Ara membuka buku catatannya ke halaman baru, mengambil pulpennya, dan mulai menulis tanggal di sudut kanan atas dengan cara yang sangat fokus untuk seseorang yang sedang menulis tanggal.

Tiga puluh detik.

Satu menit.

Gill masih berdiri di depan mejanya.

Ara tahu itu karena bayangan yang ada di sudut pandangnya tidak bergerak dan karena ada sesuatu tentang cara Gill berdiri diam yang berbeda teksturnya dari kehadiran orang lain yang berdiri diam, sesuatu yang lebih berat dan lebih sadar akan dirinya sendiri.

Tapi Ara tidak menoleh.

Satu menit lebih.

Bel masuk berbunyi.

Dan bayangan di sudut pandang Ara bergerak, langkah yang pelan dan tidak terburu-buru, menuju pintu kelas, dan kemudian menghilang ke lorong.

Ara menatap buku catatannya.

Tanggal yang ia tulis tadi sudah selesai sejak tiga puluh detik yang lalu tapi penanya masih ada di kertas.

Ia mengangkat penanya.

Meletakkannya di samping buku.

Di dalam tasnya, di saku paling depan yang biasanya ia gunakan untuk menyimpan hal-hal yang perlu mudah dijangkau, ada kotak bekal yang sudah ia siapkan dari rumah dengan dua bagian, satu untuknya dan satu untuk Gill.

Kotak bekal itu tidak berpindah tempat.

---

"Kamu marah?"

Suara Via dari bangku sebelah, diucapkan dengan nada yang lebih rendah dari volume bicara normalnya supaya tidak terdengar oleh orang lain di sekitar mereka.

Ara menoleh ke Via. Tersenyum. "Enggak kok."

Via menatapnya dengan tatapan yang tidak langsung bisa Ara kategorikan karena mengandung terlalu banyak sekaligus. Bukan tatapan yang biasa Via arahkan ke situasi yang tidak ia setujui, yang biasanya lebih langsung dan lebih tajam. Ini sesuatu yang lebih pelan, lebih hati-hati.

Lebih mirip tatapan seseorang yang sedang menilai sesuatu yang ia khawatirkan tapi tidak mau salah dalam mengkhawatirkannya.

"Ara," Via berkata.

"Hm."

"Cara gill mungkin salah." Via memilih kata-katanya dengan cara yang tidak biasa untuk Via yang umumnya tidak terlalu banyak memilih. "Tapi dia tidak ada niat jahat. Dia cuma mau bantu temennya."

Ara menatap buku catatannya. "Aku tahu."

"Kalau kamu tahu—"

"Aku tahu, Via." Ara mengambil pulpennya lagi. "Santai."

Via diam.

Menatap sisi wajah Ara selama dua detik yang cukup panjang untuk Ara merasakannya tapi memilih untuk tidak menoleh.

Lalu Via kembali ke catatannya sendiri tanpa menambahkan apapun.

Guru masuk.

Pelajaran dimulai.

Dan Ara duduk di bangkunya dengan pelajaran yang berjalan di depannya dan pikiran yang berjalan di tempat yang berbeda, dua jalur yang berjalan bersamaan tanpa saling mengganggu tapi juga tidak saling membantu.

Karena sesuatu yang sudah mulai tumbuh sejak Via berkata aku tahu tapi kamu tahu apa itu adalah sesuatu yang tidak bisa Ara abaikan dengan cara yang sama dengan cara ia mengabaikan Gill tadi pagi.

Sesuatu yang terasa seperti sudah kelewatan.

Bukan kelewatan yang dramatis. Hanya perasaan bahwa permainan yang tadi pagi masih terasa seperti sesuatu yang wajar untuk dilakukan sekarang terasa sedikit berbeda, sedikit lebih berat dari yang ia rencanakan ketika ia memulainya.

Ara menatap papan tulis di depannya.

Guru menjelaskan sesuatu tentang fungsi kuadrat yang Ara biasanya ikuti dengan cukup baik.

Hari ini butuh usaha lebih.

Ia memutuskan satu hal di menit kedua puluh pelajaran, dengan cara yang tidak dramatis dan tidak perlu diumumkan ke siapapun.

Ia akan minta maaf nanti di atap.

Membawa bekal Gill, menjelaskan semuanya, dan selesai. Tidak perlu dibesar-besarkan. Ara yang melakukan sesuatu yang sedikit berlebihan, Gill yang tidak salah secara substansial, dan keduanya kembali ke ritme yang sudah berjalan dengan cukup baik selama ini.

Sederhana.

---

Bel istirahat berbunyi.

Ara tidak ke kantin.

Mengambil tasnya, memastikan kotak bekal ada di sana, dan berjalan ke tangga gedung dengan langkah yang sudah tahu tujuannya.

Atap.

Pintu atap terbuka dengan cara yang sudah sangat familiar, bunyi engsel yang sama, angin yang masuk dari celah yang sama, cahaya siang Eldria yang sama.

Ara masuk.

Menatap sudut kiri.

Kosong.

Ia berjalan ke sudutnya sendiri. Duduk. Mengeluarkan kedua kotak bekal dari tasnya, meletakkan yang Gill di sisi yang biasa, membuka miliknya sendiri.

Makan.

Menunggu.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Ara mengecek ponselnya. Tidak ada pesan baru dari Gill.

Lima belas menit.

Ia mengetik pesan, pertama kali hari ini ia membuka chat Gill. *Kamu dimana?*

Mengirim.

Menatap layar.

Satu centang.

Hanya satu centang abu-abu.

Ara menunggu centang itu berubah. Dua detik. Lima detik. Sepuluh detik.

Tetap satu centang.

Ia meletakkan ponselnya di sampingnya. Makan satu suapan lagi. Menatap pintu atap yang tidak terbuka dari luar.

Mengecek ponselnya lagi.

Masih satu centang.

Ara menatap centang tunggal itu dengan perasaan yang berbeda dari yang ia rasakan sepanjang pagi hari ini, berbeda dari kesal yang sudah menemaninya sejak kemarin, berbeda dari perasaan bermain-main yang membuat permainan mengabaikan Gill terasa menyenangkan.

Gill tidak pernah jauh dari ponselnya.

Itu adalah fakta yang sudah Ara kumpulkan sejak cukup lama, fakta yang ia gunakan sendiri beberapa waktu lalu ketika sengaja menelepon Gill di tengah game karena tahu Gill pasti akan mengangkat. Gill selalu mengangkat. Gill selalu membalas, bahkan kalau balasannya hanya dua huruf.

Satu centang berarti pesan belum terkirim.

Yang artinya ponsel Gill tidak terhubung ke jaringan apapun saat ini.

Dua kemungkinan. Ponsel mati. Atau tidak ada kuota.

Ara menatap kotak bekal Gill yang masih tertutup rapi di sebelahnya.

Lalu menatap pintu atap.

Dua puluh menit dari bel istirahat sudah berlalu.

Sepuluh menit tersisa.

Ara makan sisa bekalnya dengan ritme yang sudah tidak teratur, suapan yang tidak konsisten jaraknya, pikiran yang tidak konsisten arahnya.

Lima menit.

Pintu atap tidak terbuka.

Tiga menit.

Dua menit.

Bel berbunyi.

Ara menutup kotak bekalnya. Menatap kotak bekal Gill yang tidak berpindah tempat sejak ia letakkan di sana dua puluh delapan menit yang lalu. Memasukkan keduanya ke dalam tasnya.

Berdiri.

Berjalan ke pintu atap.

Dan di lorong menuju kelasnya, di antara arus siswa yang bergerak setelah bel istirahat, Ara mengecek ponselnya satu kali lagi.

Masih satu centang.

Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya yang tidak mau ia beri nama tapi sudah sangat terasa ada, sesuatu yang berbeda dari kesal dan berbeda dari penasaran dan berbeda dari semua perasaan yang sudah berurutan sejak kemarin.

Sesuatu yang lebih dekat ke khawatir.

Ara menyimpan ponselnya ke saku seragamnya.

Berjalan ke kelas dengan langkah yang sama seperti biasa, ekspresi yang sama seperti biasa, tapi di dalam dirinya ada sesuatu yang diam-diam sudah bergerak ke arah yang tidak ia rencanakan untuk dikunjungi hari ini.

Dan siang itu berlalu tanpa satu pun pertemuan dengan Gill.

1
Varss V
terimakasih
wan auw
Bagus thor novelnya, semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!