Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Pendekar Sungai Ular dan Amarah Bidadari Maut
Matahari tepat berada di puncak langit ketika hamparan sawah hijau mulai berganti menjadi pemandangan sungai besar yang berkelok-kelok. Airnya yang berwarna hijau lumut tampak tenang di permukaan, namun bagi mata seorang pendekar, riak-riak kecil di sana menandakan adanya arus bawah yang sanggup meremukkan tulang. Inilah Sungai Ular, wilayah yang menjadi jantung kekuatan sebuah perguruan netral yang disegani.
Sin Yin berjalan di sisi Wang Long. Jubah biru tuanya sedikit berdebu, namun keanggunannya tidak luntur sedikit pun. Pedang Bulan Senja yang legendaris tersampir di punggungnya, memancarkan aura dingin yang seolah menolak panasnya matahari siang itu.
“Perguruan Sungai Ular,” ujar Sin Yin, suaranya setajam desir angin. “Mereka tidak memihak pada Kaisar maupun pemberontak. Namun, jangan sekali-kali meremehkan teknik Ular Hijau Menembus Awan milik mereka.”
Wang Long hanya mengangguk samar. Tatapannya tertuju pada gerbang besar kayu ulin dengan panji-panji hijau bergambar ular yang melingkar. “Aku tidak mencari masalah,” ucapnya datar, sementara tangan kirinya tetap mendekap kotak hitam misterius itu.
“Masalah sering kali memiliki kaki sendiri untuk mengejarmu, Wang Long,” sahut Sin Yin dengan senyum tipis yang penuh arti.
Tuan Muda yang Jumawa
Di halaman luas perguruan, belasan murid berseragam hijau tengah berlatih. Suara teriakan mereka beradu dengan denting senjata. Namun, latihan itu seketika terhenti saat sosok Sin Yin melintas. Kecantikannya yang dingin bak rembulan di malam hari segera menyedot perhatian.
Di atas tangga paviliun, seorang pemuda berpakaian sutra hijau zamrud berdiri dengan gaya angkuh. Ia adalah Luo Jian, putra tunggal ketua perguruan. Sambil mengipasi dirinya dengan kipas lipat bertulang perak, matanya menatap liar ke arah Sin Yin.
Wusss!
Hanya dalam satu lompatan ringan yang menunjukkan dasar ilmu meringankan tubuh yang mumpuni, Luo Jian sudah berdiri menghalangi jalan mereka.
“Dua pengelana masuk ke wilayah Sungai Ular tanpa memberi hormat? Sungguh tidak punya tata krama,” ejek Luo Jian, matanya tidak lepas dari wajah Sin Yin.
Wang Long berhenti melangkah. Tatapannya tetap datar seolah pria di depannya hanyalah sebatang pohon yang tumbang. “Kami hanya lewat,” jawabnya singkat.
Luo Jian tertawa meremehkan, lalu mengarahkan ujung kipasnya ke dagu Sin Yin. “Nona yang cantik, bunga sepertimu tidak pantas berjalan dengan pemuda kumal pembawa kotak kayu ini. Bagaimana jika kita minum teh sejenak di dalam?”
“Minggir,” desis Sin Yin. Udara di sekitarnya seketika mendingin. Amarah sang Bidadari Maut mulai tersulut.
“Kalau aku menolak?” tantang Luo Jian dengan senyum menyebalkan.
Sring!
Cahaya putih berkilat menyambar mata. Dalam sekejap, pedang Bulan Senja sudah tercabut, ujungnya hanya berjarak satu inci dari tenggorokan Luo Jian.
“Aku tidak bicara dua kali,” ucap Sin Yin, suaranya mengandung getaran tenaga dalam yang mematikan.
Luo Jian sempat tertegun oleh kecepatan luar biasa itu, namun kesombongannya lebih besar dari rasa takutnya. Ia melompat mundur, membuka kipasnya dengan bunyi klek yang nyaring. “Berani menghunus besi di depan gerbangku? Baik, mari kita lihat apakah pedangmu seindah wajahmu!”
Pertarungan di Halaman Sungai
Sin Yin bergerak seperti bayangan putih yang meluncur di atas air. Ia melancarkan jurus Pedang Seribu Kelopak. Bayangan bilah pedangnya pecah menjadi puluhan titik cahaya yang mengincar titik-titik nadi Luo Jian.
Luo Jian mengerahkan ilmu Langkah Ular Menghindar Maut. Tubuhnya meliuk-liuk dengan elastisitas yang aneh, menghindari setiap tusukan dengan selisih rambut. Kipasnya beradu dengan pedang Sin Yin, menimbulkan suara denting logam yang memekakkan telinga. Ternyata, tulang kipas itu terbuat dari baja putih pilihan.
Clang! Clang! TRANG!
Percikan api memercik di udara. Sin Yin yang mulai muak dengan permainan itu, memutar pergelangan tangannya. Dengan satu gerakan spiral yang rumit, ia berhasil menyelipkan bilah pedangnya di sela pertahanan Luo Jian.
Sret!
Lengan baju sutra Luo Jian robek, dan darah segar merembes keluar. Kipas peraknya terlepas, jatuh berdenting di atas batu pualam.
“Kau… kau melukaiku?!” wajah Luo Jian memerah padam karena malu di depan murid-muridnya sendiri.
“Pergi dari hadapanku sebelum pedang ini memutus urat lehermu,” ancam Sin Yin dingin.
“CUKUP!”
Sebuah suara menggelegar layaknya guntur di siang bolong. Tekanan udara di halaman itu tiba-tiba menjadi sangat berat. Seorang pria tua dengan janggut putih panjang dan mata setajam elang melayang turun dari atap paviliun. Inilah Tetua He, Sesepuh Kedua Perguruan Sungai Ular.
“Menghina tuan muda di rumahnya sendiri… itu berarti menghina seluruh perguruan kami!” Tetua He berseru. Ia melangkah maju, tangannya digerakkan membentuk pola melingkar. Hawa murni hijau mulai menyelimuti telapak tangannya.
Sin Yin tidak gentar. Ia menyerang dengan kecepatan penuh. Namun, Tetua He hanya menggunakan dua jari tangan kanannya.
Cling!
Dua jari tua itu menjepit bilah Bulan Senja tepat di tengah-tengah. Sin Yin mencoba menariknya, namun pedangnya seolah tertanam di sebuah gunung karang. Dengan satu sentakan kecil yang mengandung tenaga murni Ular Hijau, Tetua He mengirimkan gelombang kejut yang membuat Sin Yin terpental mundur.
Bugh!
Sin Yin jatuh berlutut, nafasnya memburu. Dadanya terasa sesak seolah dihantam palu godam tak kasat mata. “Tingkat kekuatannya… terlalu jauh,” batin Sin Yin pahit.
Tetua He melangkah mendekat, matanya memancarkan kedinginan. “Bidadari Maut? Ternyata hanya sebatas ini.”
Tepat ketika Tetua He hendak mengayunkan telapak tangannya untuk memberi 'pelajaran' terakhir, sebuah sosok berdiri dengan tenang di antara mereka.
Wang Long.
Pemuda itu berdiri tegak, memunggungi Sin Yin yang masih berlutut. Kehadirannya seketika melenyapkan tekanan udara yang diciptakan oleh Tetua He.
“Sudah cukup,” ucap Wang Long. Suaranya tidak keras, namun bergema di setiap sudut halaman, memaksa semua orang untuk mendengarnya.
Tetua He mengerutkan kening. Ia merasakan sesuatu yang aneh. Pemuda di depannya tampak seperti orang biasa tanpa tenaga dalam, namun mengapa ia merasa seolah sedang berhadapan dengan jurang yang tak berdasar?
“Siapa kau, anak muda? Berani mencampuri urusan Sungai Ular?” tanya Tetua He dengan nada waspada.
Wang Long tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya meletakkan kotak hitamnya sedikit ke depan. “Dia sudah kalah. Jika kau ingin lanjut, aku yang akan melayanimu.”
Sin Yin mendongak. Dari posisinya, punggung Wang Long tampak begitu luas dan kokoh, seolah tidak ada satu pun badai di dunia ini yang sanggup merobohkannya. Perasaan asing yang hangat menyelinap di hatinya—perasaan dilindungi yang belum pernah ia rasakan sejak ia memegang pedang.
Tetua He tertawa dingin. “Baik! Mari kita lihat apa yang bisa dilakukan oleh pembawa kotak ini!”
Tetua He melesat maju, telapak tangannya membiru, membawa seluruh kekuatan dari tingkat Ular Hijau Menembus Langit. Serangan itu cukup untuk menghancurkan sebuah rumah batu.
Namun Wang Long tetap berdiri diam. Tangannya perlahan bergerak menuju kotak hitamnya...
Bersambung...