NovelToon NovelToon
Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Keesokan harinya, tepat jam lima pagi, Bi Inah sudah berdiri di depan pintu kamar Intan di paviliun belakang.

Ia mengetuk pintu kayu itu dengan keras tanpa ampun.

"Intan! Bangun! Jangan sampai Tuan Rizal melihat kamu masih mendengkur jam segini!" seru Bi Inah tegas.

Mendengar nama Rizal disebut, Intan tersentak. Rasa trauma akan siraman air dingin dan ancaman pengusiran kemarin membuatnya langsung bangun dengan mata yang masih berat.

Tanpa membantah, ia segera mengambil handuk dan mandi secepat mungkin.

Air dingin yang menyentuh kulitnya seolah membasuh sisa-sisa kemalasannya sebagai mantan nona muda.

Setelah berpakaian rapi namun sederhana, ia segera menuju ke dapur.

Di sana, Bi Inah sudah menyiapkan berbagai bahan makanan di atas meja.

"Kita buat sarapan dulu sebelum mengurus kue kering," ucap Bi Inah sambil menyerahkan sekeranjang bawang merah dan bawang putih kepada Intan.

"Kupas semua ini. Tuan Rizal suka nasi goreng bumbu ulek, bukan bumbu instan."

Intan menganggukkan kepalanya pasrah. Ia duduk di kursi kayu kecil dan mulai mengupas bawang satu per satu.

Perih di matanya membuat air matanya menetes, namun ia segera mengusapnya.

Ia tahu, jika ia mengeluh, ia akan kembali ke jalanan yang kejam.

"Satu lagi,.Intan. Setelah sarapan siap, kamu harus menata meja makan dengan peralatan yang kemarin Nyonya ajarkan kepada Tuan Rizal. Pastikan tidak ada noda sedikit pun di atas piring."

Intan hanya bisa diam sambil mengerjakan pekerjaannya.

Di dalam hatinya, ia membayangkan Aisyah dan Rizal yang saat ini mungkin masih bersantai di kamar mereka yang mewah, sementara dirinya harus bergelut dengan asap dapur dan bau bawang. Namun, rasa lapar yang ia rasakan kemarin menjadi pengingat pahit bahwa bekerja jauh lebih baik daripada kelaparan di tangan Hadi.

Intan berjalan perlahan menuju meja makan sambil membawa nampan berisi nasi goreng bumbu ulek dan telur mata sapi yang masih mengepulkan uap panas.

Ia menunduk malu, tidak berani sedikit pun menatap mata Rizal maupun Aisyah.

Tangannya gemetar saat meletakkan piring-piring itu di atas meja, sangat kontras dengan sikap angkuhnya beberapa minggu lalu.

Rizal yang sudah duduk rapi dengan kemeja kerjanya hanya memperhatikan gerakan Intan dengan tatapan datar, sementara Aisyah menyesap teh hangatnya dengan tenang.

"Ini sarapannya... Ma... Mas..." ucap Intan dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Aisyah meletakkan cangkirnya, lalu menatap putrinya yang kini terlihat jauh lebih sederhana dengan rambut diikat rapi.

"Intan, setelah ini siapkan loyang-loyang, bawa ke dapur khusus kue kering di dekat taman," perintah Aisyah dengan nada bicara yang tegas namun tidak membentak.

"Hari ini kita mulai produksi besar untuk pesanan pertama Aisyah Cookies. Pastikan loyangnya sudah kering sempurna setelah dicuci."

"Baik, Ma," jawab Intan singkat.

Ia segera berbalik dan kembali ke dapur, merasa udara di ruang makan itu terlalu berat untuk ia hirup lama-lama.

Rizal menatap punggung Intan yang menjauh, lalu beralih ke istrinya.

"Kamu yakin dia bisa menghandle pekerjaan berat ini, Aisyah? Jangan sampai dia merusak adonan kue keringmu."

Aisyah tersenyum tipis, lalu menyendok nasi goreng buatan Bi Inah dan Intan.

"Biarkan dia belajar, Mas. Kalau dia merusak satu loyang, dia harus menggantinya dengan mencuci sepuluh loyang tambahan. Ini adalah cara terbaik agar dia menghargai arti kerja keras."

Rizal mengangguk setuju. Ia mulai menikmati sarapannya, menyadari bahwa ketegasan Aisyah adalah bentuk kasih sayang yang paling nyata untuk mendidik Intan yang selama ini terlalu dimanja.

Selesai sarapan, Rizal berdiri perlahan dengan bantuan tongkatnya.

Ia mendekati Aisyah, lalu mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang sebelum berangkat menuju kantor pusat Baskoro Group.

"Aku berangkat dulu, ya. Jangan capek-capek ya, Sayang. Ingat, kesehatanmu lebih penting dari sekadar urusan kue," ucap Rizal lembut, memberikan perhatian yang membuat hati Aisyah menghangat.

Aisyah tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya.

"Iya, Mas. Hati-hati di jalan. Semoga urusan di kantor lancar hari ini."

Setelah mobil Rizal menghilang di balik gerbang, aura Aisyah kembali berubah menjadi serius namun tetap tenang.

Ia melangkahkan kakinya menuju dapur belakang, tempat Intan dan Bi Inah sedang berdiri menunggu instruksi selanjutnya.

Aisyah melihat piring-piring kotor yang sudah disisihkan.

"Intan, Bi Inah, kalian sarapan terlebih dahulu. Jangan sampai perut kosong sebelum kita mulai bekerja berat," perintah Aisyah.

Intan sempat ragu sejenak, namun Bi Inah mengajaknya duduk.

Mereka makan dengan cepat agar tidak membuang waktu.

Setelah selesai dan membereskan meja makan, Aisyah kembali memberikan instruksi.

"Setelah ini, kita buat selai nanas untuk isian nastar. Bahannya sudah disiapkan di dapur taman. Intan, tugasmu adalah memarut nanas-nanas itu sampai habis. Ingat, harus hati-hati dan telaten agar seratnya bagus," ucap Aisyah.

Intan menganggukkan kepalanya. "Baik, Ma. Intan kerjakan sekarang."

Meski tangannya mulai terasa pegal karena harus memarut tumpukan nanas yang cukup banyak, Intan tidak berani mengeluh.

Aroma manis asam dari buah nanas mulai memenuhi dapur taman, sementara Aisyah dengan teliti menimbang bahan-bahan lainnya.

Inilah awal dari kesibukan "Aisyah Cookies" yang akan mengubah nasib keluarga mereka.

Di dapur taman yang terbuka, suara parutan nanas yang beradu dengan logam terdengar ritmis.

Intan sudah menghabiskan hampir sepuluh buah nanas, tangannya mulai terasa perih terkena getah dan asam buah tersebut.

Karena kelelahan dan kurang fokus, tiba-tiba—SREET!- parutan tajam itu mengenai ujung jarinya.

"Aw!" Intan memekik pelan, refleks menarik tangannya.

Darah segar mulai merembes keluar, bercampur dengan cairan nanas yang kuning.

Wajah Intan seketika pucat. Ia menoleh ke arah Aisyah yang sedang sibuk menimbang mentega di meja seberang.

Ada rasa takut yang luar biasa di hati Intan; ia takut dianggap ceroboh dan akan diusir lagi jika tidak bisa bekerja dengan baik.

Dengan gemetar, ia mencoba menyembunyikan tangannya di balik celemek, mencoba mengusap darahnya diam-diam. Namun, Aisyah yang memiliki insting tajam langsung menyadari perubahan gerak-gerik putrinya.

"Intan, kenapa berhenti?" tanya Aisyah tanpa menoleh.

"Enggak apa-apa, Ma. Cuma, pegal sedikit," jawab Intan gagap, wajahnya menahan perih yang berdenyut.

Aisyah menghentikan kegiatannya dan berjalan mendekat.

"Tunjukkan tanganmu."

"Enggak apa-apa, Ma, benar—"

"Tunjukkan tanganmu, Intan," ulang Aisyah dengan nada yang lebih tegas namun tidak membentak.

Intan akhirnya mengulurkan tangannya yang gemetar dan berdarah.

Melihat itu, Aisyah tidak marah. Ia justru menghela napas panjang, lalu berjalan menuju lemari kecil di sudut ruangan.

Aisyah mengambil kotak P3K yang selalu tersedia di sana.

Aisyah menarik kursi dan meminta Intan duduk. Dengan telaten, ia mulai membersihkan luka di jari Intan dengan cairan antiseptik.

"Lain kali, kalau sakit atau luka, langsung bilang. Jangan diam saja," ucap Aisyah pelan sambil membalut jari Intan dengan plester.

"Kerja keras itu perlu, tapi bukan berarti kamu harus menyiksa dirimu sendiri kalau terluka."

Sentuhan lembut mamanya saat mengobati lukanya mengingatkannya saat ia belum dibutakan oleh harta dan pengaruh buruk Hadi.

Air mata Intan menetes, kali ini bukan karena lapar atau sakit, tapi karena rasa bersalah yang teramat dalam.

"Maaf, Ma. Intan selalu merepotkan Mama," bisik Intan terisak.

Aisyah hanya terdiam sejenak, lalu menepuk bahu Intan pelan.

"Selesaikan tangisanmu, lalu istirahat sebentar. Biarkan Bi Inah yang melanjutkan parutannya. Setelah lukamu kering, baru bantu menimbang adonan."

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
aisyah umur brp
my name is pho: 25 tahun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!