NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Demi menyelamatkan keluarganya dari kehancuran, Alya menerima tawaran menjadi istri kontrak Bima, CEO muda paling berpengaruh di kota itu. Pernikahan mereka hanya berlangsung satu tahun — tanpa cinta, tanpa perasaan, tanpa masa depan.
Namun tinggal serumah dengan pria sedingin es yang diam-diam menyimpan luka masa lalu membuat batas antara kontrak dan kenyataan perlahan memudar. Ketika hati mulai terlibat, fitnah dan pengkhianatan justru menghancurkan kepercayaan mereka.
Saat kontrak berakhir, Alya pergi membawa rahasia yang tak pernah Bima duga.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang CEO muda harus belajar bahwa kehilangan jauh lebih menyakitkan daripada mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 — Celah yang Diciptakan

Tekanan tidak datang dalam bentuk ledakan.

Ia datang perlahan.

Hening.

Tapi mematikan.

Dua hari setelah pernyataan resmi proyek tambang dirilis, suasana media tampak tenang. Tidak ada artikel lanjutan. Tidak ada rumor baru. Seolah Arsen benar-benar mundur.

Dan justru itu yang membuat Alya gelisah.

“Dia terlalu diam,” gumamnya pagi itu di ruang kerja.

Bima menutup tablet di tangannya. “Diam bukan berarti berhenti.”

Alya mengangguk.

Ia sudah mengenal pola seperti ini. Lawan yang cerdas tidak bereaksi saat gagal. Ia menunggu momen yang lebih tepat.

Dan momen itu datang lebih cepat dari yang mereka duga.

Siang hari, sebuah video pendek muncul di salah satu akun anonim media sosial bisnis.

Durasi hanya tiga puluh detik.

Isinya potongan lama—rekaman forum kampus lima tahun lalu.

Di dalam video itu, terlihat Alya berdiri di panggung. Dan di barisan depan, Arsen duduk sambil tersenyum menatapnya.

Video itu tidak menunjukkan apa pun yang melanggar batas.

Tidak ada sentuhan.

Tidak ada kedekatan berlebihan.

Tapi narasi yang menyertainya cukup berbahaya.

“Hubungan lama yang tak pernah benar-benar selesai?”

Dalam satu jam, video itu menyebar.

Komentar mulai bermunculan.

Spekulasi mulai hidup.

Alya melihat video itu tanpa ekspresi.

Bima berdiri di belakangnya.

“Dia mulai menyerang secara halus,” ujar Bima.

“Bukan menyerang,” jawab Alya pelan. “Dia sedang membangun cerita.”

Dan cerita selalu lebih berbahaya daripada fakta.

Sore itu, Bima menggelar konferensi pers singkat. Bukan untuk membantah video itu secara berlebihan, tapi untuk memotong ruang spekulasi.

Ia berdiri di depan wartawan dengan tenang.

“Video tersebut adalah rekaman acara publik lima tahun lalu. Tidak ada hubungan pribadi apa pun antara istri saya dan pihak terkait.”

Nada suaranya stabil. Tegas. Tanpa defensif.

Alya berdiri di sampingnya.

Bukan sebagai sosok yang harus dilindungi.

Tapi sebagai sosok yang berdiri sejajar.

Salah satu wartawan mengangkat tangan.

“Apakah pernikahan Anda murni karena hubungan pribadi atau ada kepentingan bisnis di baliknya?”

Ruangan hening.

Pertanyaan itu tajam.

Bima tidak langsung menjawab.

Alya melangkah sedikit ke depan.

“Pernikahan kami adalah keputusan pribadi,” ujarnya tenang. “Dan keputusan pribadi tidak perlu divalidasi oleh rumor.”

Jawaban itu singkat.

Namun cukup untuk menghentikan pertanyaan lanjutan.

Konferensi pers berakhir tanpa insiden.

Namun Alya tahu—

Serangan belum selesai.

Malamnya, kejutan yang lebih kasar datang.

Sebuah artikel investigasi anonim dirilis oleh media online yang tidak terlalu besar, tapi cukup berpengaruh.

Isinya menyoroti kontrak kerja sama lama antara perusahaan keluarga Alya dan Surya Group.

Dokumen yang hampir terlupakan.

Dokumen yang memang pernah ada.

Bedanya—

Artikel itu menyebutkan bahwa kontrak tersebut dibatalkan secara sepihak oleh pihak Alya karena “perbedaan kepentingan pribadi”.

Narasi itu berbahaya.

Karena ia membangun gambaran bahwa hubungan Alya dan Arsen lebih dari sekadar profesional.

Bima membaca artikel itu dalam diam.

Alya berdiri di dekat meja kerja, kedua tangannya terlipat.

“Ini bukan kebetulan,” ujar Bima akhirnya.

“Tidak.”

“Dia menggiring opini bahwa kamu pernah punya sesuatu dengannya.”

Alya tersenyum tipis.

“Padahal yang sebenarnya terjadi adalah saya menolak proposal investasinya karena syaratnya tidak etis.”

Bima menatapnya.

“Bisa dibuktikan?”

“Bisa.”

Ia berjalan menuju lemari arsip pribadi di ruang kerja rumah mereka. Mengambil satu map lama yang tidak pernah ia buang.

“Ini draft awal yang dia ajukan. Ada klausul pembagian keuntungan yang tidak transparan.”

Bima membaca cepat.

Dan wajahnya berubah semakin dingin.

“Jika ini dirilis, reputasi Surya bisa goyah.”

Alya mengangguk.

“Dan itu yang dia hindari. Jadi dia lebih dulu menyerang.”

Hening.

Mereka berada di titik pilihan.

Membalas dengan membuka aib lama.

Atau tetap bermain bersih.

“Apa kamu ingin membalas?” tanya Bima.

Alya terdiam beberapa detik.

Jika ia membuka dokumen itu, perang akan naik ke level yang jauh lebih keras.

Bukan lagi rumor.

Tapi tuduhan nyata.

Ia mengangkat wajahnya.

“Belum.”

Bima sedikit terkejut.

“Kenapa?”

“Karena dia ingin saya terpancing.”

Alya melangkah mendekat.

“Jika saya menyerang balik sekarang, orang akan melihat ini sebagai drama pribadi. Bukan konflik bisnis.”

Bima menatapnya lama.

“Kamu selalu memilih jalan yang lebih sulit.”

“Karena itu jalan yang tidak bisa dipelintir.”

Sunyi.

Di luar rumah, angin malam berhembus pelan.

Dan di dalam ruangan itu, strategi sedang disusun dengan sabar.

Namun Arsen tidak berhenti.

Keesokan paginya, satu undangan muncul di meja Alya.

Undangan resmi.

Acara gala charity yang diadakan Surya Group.

Nama Alya tercantum secara pribadi.

Tanpa nama Bima.

Itu jelas provokasi.

Dina, sekretarisnya, terlihat cemas.

“Apakah akan dihadiri, Nyonya?”

Alya memandangi undangan itu beberapa detik.

Ia tahu.

Jika ia tidak datang, Arsen akan memutar narasi bahwa ia menghindar.

Jika ia datang sendirian, rumor akan semakin liar.

Pintu ruangannya terbuka.

Bima masuk tanpa mengetuk.

Ia sudah tahu.

“Kita datang,” ujar Bima singkat.

Alya mengangkat wajah.

“Kita?”

“Ya.”

Undangan itu memang hanya mencantumkan namanya.

Tapi tidak ada aturan yang melarang ia membawa suaminya.

Sudut bibir Alya terangkat tipis.

“Itu akan membuatnya tidak nyaman.”

Bima menatapnya dalam.

“Tujuannya memang itu.”

Malam gala tiba.

Lampu-lampu kristal memantul di ballroom besar hotel mewah itu.

Para pebisnis, selebriti, dan sosialita berkumpul dengan senyum elegan yang penuh kepentingan.

Saat Alya dan Bima masuk bersama, beberapa kepala langsung menoleh.

Bukan karena gaun yang dikenakan Alya.

Bukan karena setelan Bima.

Tapi karena kehadiran mereka berdua adalah pernyataan.

Arsen berdiri di tengah ruangan, berbicara dengan beberapa tamu.

Tatapannya menemukan mereka.

Dan untuk pertama kalinya, senyumnya tidak sepenuhnya santai.

Ia tidak menyangka Bima akan datang.

Alya merasakan tangan Bima menyentuh punggungnya ringan. Bukan posesif.

Protektif.

Arsen mendekat.

“Tidak menyangka Anda datang, Tuan Wijaya.”

“Saya menemani istri saya,” jawab Bima datar.

Arsen mengalihkan tatapannya pada Alya.

“Kamu selalu tahu cara membuat kejutan.”

Alya tersenyum tipis.

“Saya tidak pernah datang sendirian.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi cukup untuk menggambar garis.

Arsen menahan ekspresinya.

Permainan ini belum selesai.

Dan semua orang di ruangan itu bisa merasakan ketegangan halus yang mengalir di antara tiga orang tersebut.

Malam ini bukan sekadar acara amal.

Ini panggung.

Dan siapa pun yang salah langkah—

Akan kehilangan lebih dari sekadar reputasi.

Karena perang ini tidak lagi hanya soal bisnis.

Ini tentang siapa yang lebih dulu retak.

Dan Alya tahu, jika ia ingin menang,

ia tidak boleh memberi Arsen satu celah pun.

Bukan satu tatapan yang terlalu lama.

Bukan satu senyum yang bisa disalahartikan.

Bahkan bukan satu langkah yang terlihat ragu.

Karena di ruangan sebesar itu, dengan puluhan mata yang haus drama dan ratusan ponsel yang siap merekam, kesalahan sekecil apa pun bisa diubah menjadi narasi yang tak bisa dikendalikan.

Alya menarik napas pelan.

Lalu ia menggenggam lengan Bima sedikit lebih erat.

Bukan untuk mencari perlindungan.

Tapi untuk menunjukkan sesuatu yang sangat jelas—

Ia berdiri di tempatnya.

Di sisi suaminya.

Arsen memperhatikan gerakan kecil itu.

Sangat kecil.

Namun cukup untuk membuat senyum tipisnya mengeras sepersekian detik.

“Silakan menikmati malam ini,” ujar Arsen akhirnya, nada suaranya tetap santai. “Semoga tidak ada kesalahpahaman lagi.”

“Kami juga berharap begitu,” jawab Bima datar.

Alya menambahkan dengan suara lembut namun tegas, “Karena kesalahpahaman biasanya tidak muncul tanpa niat.”

Beberapa tamu di sekitar mereka menoleh samar. Percakapan itu terdengar sopan. Namun ketegangan di bawahnya jelas terasa.

Arsen tidak membalas.

Ia hanya mengangkat gelasnya sedikit sebelum berbalik pergi.

Acara berlangsung seperti biasa.

Pidato.

Donasi simbolis.

Tepuk tangan formal.

Namun sepanjang malam, Alya merasakan tatapan Arsen beberapa kali tertuju padanya. Tidak terang-terangan. Tapi cukup untuk memberi tekanan psikologis.

Ia tidak menghindar.

Ia juga tidak mencari.

Ia berbicara dengan tamu lain. Tersenyum secukupnya. Berdiri tegak di samping Bima saat kamera mengambil gambar.

Dan setiap kali lampu kilat menyala, pesan itu semakin jelas—

Tidak ada jarak di antara mereka.

Di satu titik, seorang jurnalis mendekat.

“Nyonya Wijaya, boleh satu foto berdua dengan Tuan Surya? Sebagai simbol perdamaian antar grup?”

Itu jebakan.

Alya tahu.

Bima tahu.

Arsen yang berdiri beberapa meter dari mereka juga tahu.

Hening sepersekian detik.

Lalu Alya tersenyum profesional.

“Maaf,” katanya halus. “Hari ini saya datang sebagai pendukung acara amal, bukan sebagai simbol politik bisnis.”

Jawaban itu tidak menolak secara kasar.

Tapi cukup untuk mematahkan niat.

Jurnalis itu mengangguk dan mundur.

Arsen menatap Alya dengan ekspresi yang kini tak lagi santai.

Ia mulai kehabisan ruang untuk bermain.

Saat acara hampir selesai, Arsen mendekat sekali lagi.

“Menarik,” ujarnya pelan hanya untuk mereka berdua. “Kamu benar-benar memilih berdiri di sisinya.”

Alya menatapnya lurus.

“Saya tidak pernah berdiri di tempat lain.”

Arsen menoleh pada Bima.

“Semoga keyakinan itu tidak berubah ketika kamu tahu seluruh kebenaran.”

Kata-kata itu bukan ancaman kosong.

Itu umpan.

Dan Alya tidak akan menggigitnya.

“Kebenaran tidak pernah takut diuji,” jawab Alya sebelum Bima sempat bicara.

Tatapan Arsen dan Alya saling mengunci.

Tidak ada senyum lagi.

Tidak ada basa-basi.

Hanya dua orang yang sama-sama keras kepala.

Namun bedanya—

Alya tidak bermain untuk ego.

Ia bermain untuk mempertahankan.

Arsen akhirnya mundur satu langkah.

“Permainan ini belum selesai.”

“Tidak pernah,” balas Bima tenang.

Arsen pergi tanpa menoleh lagi.

Dalam perjalanan pulang, mobil terasa sunyi.

Lampu-lampu kota melewati jendela seperti bayangan yang bergerak cepat.

“Kamu hebat malam ini,” ujar Bima akhirnya.

Alya menoleh sedikit. “Kita.”

Bima menatap lurus ke depan.

“Alya.”

Nada suaranya berubah. Lebih dalam.

“Jika dia benar-benar menyerang secara pribadi… dan menyeret masa lalu yang bahkan mungkin sudah tidak relevan lagi… kamu tetap akan bertahan?”

Alya tidak langsung menjawab.

Ia menatap siluet kota di luar.

Lalu berkata pelan,

“Saya tidak takut pada masa lalu.”

Ia menoleh pada Bima.

“Saya hanya takut pada kebohongan.”

Hening.

Dan untuk pertama kalinya, Bima merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama pernikahan ini berlangsung.

Bukan sekadar rasa tanggung jawab.

Bukan sekadar kewajiban melindungi.

Tapi keinginan untuk tidak mengecewakan wanita yang berdiri begitu tegak di sisinya.

Alya tahu perang ini belum selesai.

Ia tahu Arsen masih menyimpan sesuatu.

Dan ia juga tahu—

Serangan berikutnya mungkin tidak datang dalam bentuk rumor atau dokumen.

Mungkin dalam bentuk sesuatu yang lebih berbahaya.

Bukti.

Atau rekayasa.

Dan jika hari itu tiba, ia tidak hanya harus kuat sebagai istri seorang CEO.

Ia harus kuat sebagai wanita yang memilih berdiri dalam badai, bukan lari darinya.

Karena untuk menang kali ini,

Bukan hanya reputasi yang dipertaruhkan.

Tapi kepercayaan yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam.

1
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!