NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Kebohongan Yang Paling Menyakitkan

Mama menelepon duluan.

Minggu malam, pukul tujuh lewat sedikit, ketika aku sedang berbaring di kasur yang terlalu besar dengan ponsel di dada dan langit-langit yang sudah mulai kuhafal polanya. Layar menyala dengan nama yang selalu membuatku ingin mengangkat sekaligus ingin menyiapkan diri dulu sebelum mengangkat — karena Mama punya kemampuan supernatural untuk mendeteksi sesuatu yang tidak beres dari nada suaraku bahkan lewat sambungan telepon dengan kualitas sinyal yang tidak selalu baik.

Mama Sri tertulis di layar, dengan foto yang kuambil dua tahun lalu — Mama sedang menyiram tanaman di halaman depan rumah Depok, memandang ke kamera dengan ekspresi setengah terkejut setengah senang karena tidak tahu sedang difoto.

Aku mengangkat di nada ketiga.

"Halo, Ma."

"Ari! Mama baru ingat, sudah seminggu lebih tidak telepon. Sibuk?"

Suaranya sama seperti selalu — hangat dengan cara yang tidak perlu diusahakan, dengan sedikit nada khawatir yang sudah jadi bagian permanen dari cara dia bicara ke aku sejak Bapak pergi dan kami tinggal masing-masing di kota yang sama tapi bukan di rumah yang sama.

"Agak sibuk, Ma. Maaf."

"Tidak apa-apa. Sudah makan?"

"Sudah."

"Makan apa?"

Aku menatap langit-langit. Di luar wing kiriku, penthouse sedang dalam kondisi sunyinya yang biasa — Revano belum pulang, atau sudah pulang dan ada di wing kanannya dengan pintu tertutup, aku tidak selalu bisa membedakan keduanya.

"Nasi sama lauk, Ma. Cukup."

"Pastikan sayurnya ada." Suara Mama yang sudah kuhapal sampai ke infleksi terkecilnya. "Kamu kalau sibuk suka lupa sayur."

"Iya, Ma."

Kami bicara tentang hal-hal kecil selama beberapa menit — tanaman baru yang Mama tanam di halaman belakang, tetangga sebelah yang baru punya cucu, acara pengajian yang jadwalnya berubah. Percakapan yang tidak memerlukan banyak dari aku selain hadir dan mendengarkan, yang malam ini terasa seperti hadiah kecil yang tidak kuminta tapi sangat kuperlukan.

Lalu Mama berhenti sebentar.

"Ari, kamu baik-baik saja?"

Kemampuan supernaturalnya. Tepat waktu seperti selalu.

"Baik, Ma. Kenapa?"

"Tidak kenapa-kenapa. Mama cuma nanya." Jeda kecil. "Suaramu agak beda."

"Capek aja, Ma. Banyak proyek."

"Mmm." Nada yang tidak sepenuhnya percaya tapi memilih untuk tidak mendorong — Mama selalu tahu kapan mendorong dan kapan memberikan ruang, dan malam ini dia memilih yang kedua. "Oh iya, Ari — kamu masih sama Bagas?"

Aku menahan napas setengah detik.

"Tidak, Ma. Sudah putus."

"Aduh." Suara Mama turun sedikit. "Kenapa? Sudah lama juga kalian—"

"Tidak cocok, Ma. Sudah lama tidak cocoknya, baru sekarang jelas." Aku memilih versi yang paling tidak memerlukan elaborasi berbohong. "Tapi Ari baik-baik saja."

"Yakin?"

"Yakin."

Hening sebentar — hening yang kuisi dengan menatap polka dot kecil di langit-langit dari pantulan lampu meja yang miring sedikit.

"Ma," kataku sebelum bisa mempertimbangkan lebih lama, "Ari mau cerita sesuatu."

Keputusan untuk menelepon bukan tiba-tiba.

Sudah ada sejak seminggu lalu — sejak Revano meletakkan kertas kecil di saku blazer biruku di hari pernikahan sipil, sejak aku membaca kalimat tentang Lampiran B yang sudah diselesaikan dan menangis di depan pintu kosan untuk pertama kalinya dalam dua tahun. Sejak itu, ada bagian kecil yang tahu bahwa Mama perlu tahu sesuatu — bukan semuanya, tapi sesuatu — supaya kebohongan tidak menumpuk terlalu tinggi sampai tidak bisa lagi kukontrol bentuknya.

Masalahnya adalah versi mana yang akan kuceritakan.

Versi jujur: tidak bisa. Kontrak adalah kontrak, dan melanggar pasal kerahasiaan bukan sesuatu yang bisa kupertanggungjawabkan hanya karena aku rindu Mama dan ingin tidak berbohong.

Versi bohong penuh: juga tidak bisa. Bukan karena tidak mampu berbohong secara teknis — sudah terbukti aku bisa, dua tahun menyembunyikan utang Bapak adalah latihan yang lebih berat dari ini. Tapi berbohong penuh kepada Mama tentang sesuatu sebesar ini terasa seperti membangun fondasi dari material yang salah — akan bertahan sebentar tapi tidak untuk jangka panjang yang diperlukan.

Yang tersisa adalah versi di antaranya. Yang secara teknis tidak semua bohong. Yang mengambil hal-hal yang nyata dan menyusunnya ulang menjadi narasi yang bisa dipegang.

Aku menarik napas.

"Ari sudah menikah, Ma."

Tiga detik.

Itu berapa lama Mama diam setelah kalimat itu.

Lalu: "Apa?"

"Sudah menikah. Dua minggu lalu. Pernikahan kecil, tidak ada acara besar — kami memang tidak mau ramai-ramai."

"Ari—" Suara Mama berubah. "Dengan siapa? Bukan Bagas kamu bilang sudah putus—"

"Bukan Bagas, Ma. Orang lain. Namanya Revano." Aku menutup mata. "Kami kenal sudah cukup lama, tapi memang tidak pernah Ari cerita karena belum serius. Terus jadi serius dengan cepat."

"Dengan cepat?" Nada Mama naik sedikit — bukan marah, tapi campuran antara terkejut dan khawatir dan sesuatu lain yang belum menemukan namanya. "Berapa lama kenalnya?"

"Cukup lama untuk tahu." Kalimat yang kupinjam dari malam gala dinner — yang waktu itu keluar untuk Draka tapi ternyata juga bisa digunakan di sini. "Ma, Ari tahu ini mengejutkan. Maaf tidak bilang dari awal."

"Mengejutkan—" Suara Mama berhenti sebentar. Aku bisa mendengar napasnya menyesuaikan diri dengan informasi yang baru diterimanya. "Tapi kamu bahagia? Kamu... kamu bahagia, kan, Ari?"

Dan itu — pertanyaan itu, dengan cara Mama mengatakannya, dengan prioritas yang terbalik dari semua pertanyaan lain yang mungkin bisa dia tanyakan — membuat tenggorokanku memutuskan untuk tidak berfungsi dengan normal untuk beberapa detik.

Mama tidak bertanya siapa, tidak bertanya berapa lama, tidak bertanya kenapa tidak diundang. Mama bertanya apakah aku bahagia.

"Ari..." aku memilih kata-kata dengan sangat hati-hati, "sedang menuju ke sana, Ma."

Bukan kebohongan. Bukan kebenaran penuh. Tapi satu-satunya kalimat yang bisa kuucapkan malam ini yang tidak terasa seperti pengkhianatan terhadap dua arah sekaligus.

"Sedang menuju ke sana," ulang Mama pelan. Lalu — suaranya berubah lagi, dan kali ini aku mendengar sesuatu yang tidak aku antisipasi sama sekali.

Mama menangis.

Bukan menangis sedih — atau bukan hanya itu. Menangis dengan cara yang spesifik yang hanya dimiliki orang tua ketika mendengar sesuatu tentang anaknya yang sudah lama mereka tunggu tanpa mengatakan menunggu.

"Ma—"

"Tidak apa-apa." Suaranya basah tapi masih hangat. "Mama senang. Mama cuma... kamu sendiri sudah lama, Ari. Sejak Bapak pergi kamu sendirian urus semuanya dan tidak pernah mau cerita dan Mama tidak mau memaksa tapi—" Nafas panjang. "Sekarang ada yang menemanimu. Itu yang Mama doakan."

Aku menutup mata.

Ada kebohongan yang menyakiti karena ketahuan. Dan ada kebohongan yang menyakiti dengan cara yang berbeda — karena membuat seseorang bahagia atas sesuatu yang tidak sepenuhnya nyata, dan kamu harus duduk dengan rasa sakit itu sendirian karena tidak bisa dibagi ke siapapun.

Ini jenis yang kedua.

"Iya, Ma," kataku. Suaraku stabil — dua tahun latihan, ingat. "Ada yang menemani sekarang."

"Namanya Revano? Orang baik?"

"Orang yang..." aku memilih, "berusaha jadi baik dengan caranya sendiri."

Mama tertawa kecil di balik tangisnya. "Asal berusaha. Itu sudah cukup." Jeda. "Kapan Mama bisa ketemu? Mau lihat anaknya sendiri siapa."

"Nanti ya, Ma. Kami atur waktunya."

"Jangan lama-lama. Mama penasaran."

"Iya, Ma. Janji."

Kami bicara sepuluh menit lagi setelah itu — tentang hal-hal yang lebih ringan, tentang tanaman Mama yang baru, tentang rencana makan siang minggu depan yang Mama sudah sematkan di kepala meski aku belum mengkonfirmasi. Percakapan yang mengalir kembali ke ritme normalnya setelah momen besar yang baru saja lewat.

Ketika Mama bilang selamat malam dan aku menutup telepon, penthouse terasa berbeda dari sebelum aku mengangkat panggilan itu.

Aku berbaring diam.

Langit-langit yang sama. Cahaya lampu yang sama. Keheningan yang sudah mulai kukenal karakternya tapi malam ini terasa lebih berat dari biasanya.

Mama menangis bahagia untuk sesuatu yang setengahnya tidak nyata.

Mama mendoakan aku tidak sendirian — dan aku tidak sendirian, secara teknis, ada seseorang di wing kanan yang mungkin sedang membaca atau bekerja atau melakukan apapun yang dilakukannya setelah pukul sembilan malam. Tapi sendirian dan tidak sendirian adalah dua hal yang ternyata bisa hadir bersamaan, dan jarak antara keduanya bisa terasa seperti seluruh lebar penthouse yang tiga puluh dua lantai di atas Jakarta.

Aku meletakkan ponsel di dada.

Foto Bapak ada di meja kerja — tidak terlihat dari kasur, tapi aku tahu di mana dia.

Maaf, Pak. Pikiran yang datang tanpa dipanggil. Mama bahagia tapi untuk alasan yang tidak sepenuhnya benar. Aku tidak tahu apakah itu lebih baik atau lebih buruk dari alternatifnya.

Tidak ada jawaban. Tentu saja.

Yang ada hanya langit-langit, dan lampu yang mulai terasa terlalu terang, dan rasa sendirian yang berbeda dari semua rasa sendirian sebelumnya — bukan karena tidak ada orang, tapi karena ada orang yang tidak bisa sepenuhnya ada.

Aku mengambil ponsel. Membuka chat Nara.

Mengetik: "Habis telepon Mama."

Lalu menghapusnya.

Mengetik lagi: "Tidak apa-apa. Cuma mau bilang."

Menghapus itu juga.

Meletakkan ponsel kembali di dada.

Ada hal-hal yang bahkan kepada Nara tidak bisa dikeluarkan malam ini — bukan karena tidak percaya, tapi karena mengeluarkannya berarti membuatnya lebih nyata dari yang sudah terlanjur nyata, dan malam ini aku tidak punya kapasitas untuk itu.

Dari balik dinding, samar — suara pintu utama. Langkah yang sudah kukenal polanya. Lemari es dibuka sebentar, lalu ditutup. Keheningan dari wing kanan.

Revano pulang.

Aku menatap langit-langit dan membiarkan suara-suara kecil itu mengisi keheningan dengan cara yang tidak dramatik dan tidak bermakna lebih dari yang seharusnya — hanya suara seseorang yang ada di tempat yang sama, yang tidak tahu apa yang baru terjadi di wing sebelah, yang malam ini cukup hanya dengan ada tanpa perlu tahu apapun.

Kadang itu saja sudah sesuatu.

Tidak banyak. Tapi malam ini cukup untuk memejamkan mata.

— Selesai Bab 13 —

1
Nina Ninu
terlalu kaku dan bertele tele
Nabilah Putri
💪💪
Wahyu🐊
ok
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!