Nadine, seorang gadis belia harus menikah muda karena sebuah insiden, kehidupan yang sederhana dengan sang suami membuatnya bahagia , Nadine tidak mau tahu tentang kehidupan suaminya, yang ternyata seorang CEO yang kabur dari keluarga nya karena akan di jodohkan. namun kejadian tragis menimpanya, pasangan suami istri itu kecelakaan, sang suami di bawa pergi oleh mata-mata dari keluarga nya, lalu Amnesia, sedangkan Nadine koma saat melahirkan putra pertama mereka sampai usia putranya empat tahun,
Assalamualaikum....
Yuh... ikuti kisah selanjutnya....
Nadine yang sudah sadar dan berusaha mencari sang suami yang ternyata Amnesia
mohon dukungannya para pembaca...
terimakasih 🥰🥰🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
Suasana di Mansion Pratama yang biasanya sunyi dan mencekam mendadak berubah menjadi hiruk-pikuk yang penuh kepalsuan. Deretan mobil mewah hitam mengkilap berbaris di halaman. Ardan Pratama melangkah masuk dengan wibawa yang dingin, didampingi istrinya, Adelia, yang baru saja kembali dari perjalanan panjang di luar negeri.
Namun, yang paling mencuri perhatian adalah sosok wanita muda yang berjalan di samping Adelia. Ia adalah Aurel, putri dari sepupu Adelia yang memiliki kecantikan modern, modis, dan penuh ambisi. Selama lima tahun, Aurel mengunci hatinya. Baginya, kecelakaan yang menimpa Aditya adalah kesempatan kedua untuk menjerat hatinya..namun karena jarak jauh yang memisahkan... itu sulit untuk menjerat hatinya, sehingga Ia memutuskan untuk mendekat secara fisik kepada Aditya.
Di ruang tamu utama, Pratama menatap putranya yang masih tampak pucat setelah meminum ramuan Nadine.
"Aditya, lihat siapa yang Papa bawa pulang," ucap Ardan dengan nada mutlak. "Aurel sudah menyelesaikan studinya di London lima tahun lalu, lalu Aurel mengisi posisi direktur di perusahaan Papanya..., Aurel sudah bosan hidup di luar negeri Jadi ia ingin tinggal selamanya di negara ini, jadi Papa putuskan agar Aurel untuk bekerja di perusahaan kita. Papa rasa, dia adalah orang yang paling tepat untuk mengisi posisi Direktur Operasional di perusahaanmu."
Adelia mendekat, mengusap bahu Aditya dengan sayang namun posesif. "Aurel jauh-jauh kembali hanya untukmu, Adit. Dia tahu kamu sedang kesulitan mengelola emosimu sejak amnesia itu. Dia akan membantumu, baik di kantor maupun di rumah ini."
Aurel tersenyum manis, sebuah senyum yang tampak sempurna namun terasa dingin bagi siapa pun yang memiliki intuisi tajam. "kita hanya berjumpa sesekali saja kak Adit ...Aku memutuskan untuk menetap di sini , jadi Aku harap kita bisa membangun sinergi yang lebih baik daripada lima tahun lalu."
Aditya hanya mengangguk kaku. Kepalanya masih berdenyut karena sisa-sisa kilasan memori Nadine yang dipicu ramuan tadi. "Terserah Papa saja. Selama dia tidak mengacaukan sistem yang sudah kubangun."
sahut Aditya dingin.
Nadine, yang saat itu sedang bertugas mengantarkan nampan berisi teh hangat untuk para tamu, berdiri di pojok ruangan dengan kepala menunduk. Hatinya mencelos melihat Aurel, wanita yang dulu menyebabkan suaminya kabur dari rumah kini kembali berusaha masuk ke hidup suaminya... setidaknya Nadine harus berterima kasih dengan Aurel... karena kalau ibu mertuanya tidak menjodohkan suaminya dengan Aurel maka ia sendiri tidak akan pernah bisa bertemu dengan Aditya suaminya.
"Siapa pelayan ini, Tante?" tanya Aurel sambil melirik Nadine dengan tatapan jijik. "Wajahnya kusam sekali, penampilannya juga berantakan. Apa Mansion Pratama sudah kekurangan standar dalam merekrut orang?"
Adelia mencibir.
"Dia pelayan baru dari desa, namanya Mona" sahut Aditya dengan suara rendah namun terkesan dingin.
"katanya kopinya enak." timpal Ardan.
Aurel berjalan mendekati Nadine, sengaja menjatuhkan sapu tangan sutranya di depan kaki Nadine. "Hei, Mona atau siapa pun namamu. Ambilkan itu. Dan ingat, mulai besok, semua kebutuhan Tuan Muda Aditya biar aku yang urus. Kamu cukup bersihkan bagian belakang saja. Jangan sering-mencuri pandang pada pria yang levelnya jauh di atasmu."
Nadine memungut sapu tangan itu dengan tenang, meski hatinya mendidih. "Baik, Nona Aurel. Saya hanya menjalankan tugas," jawab Nadine dengan suara serak yang dibuat-buat.
Saat Nadine hendak berbalik pergi, Aditya tiba-tiba berteriak. "Mona! Bawakan kopi lagi ke ruang kerjaku nanti malam. Hanya kamu yang boleh menyiapkannya."
Aurel tersentak, wajahnya berubah masam. "Kopi? Kopi apa yang kamu minum dari tangan pelayan ini, Adit? Itu berbahaya!"
Aditya menatap Aurel tajam, sebuah tatapan yang membuat Aurel bungkam seketika. "Dia satu-satunya orang di rumah ini yang tahu cara meredakan sakit kepalaku. Jangan ikut campur urusan pribadiku, Aurel."
Nadine segera berlalu dari ruangan itu. Di lorong yang sepi, ia meremas nampannya kuat-kuat. Ia harus segera menghubungi Noah. Kehadiran Aurel dan kepulangan mertuanya adalah ancaman besar.
Melalui alat komunikasi di telinga Nadine, suara Noah terdengar kecil namun tegas. "Ibu, Noah sudah lihat data wanita bernama Aurel itu. Dia punya banyak skandal di London yang ditutupi. Ibu tenang saja, kalau dia macam-macam, Noah akan kirim foto-foto aslinya ke ponsel Ayah."
Nadine tersenyum pahit. "Jangan sekarang, Noah. Kita harus main cantik. Biarkan dia merasa menang dulu, sampai Ayahmu sendiri yang menyadari bahwa berlian di hatinya tidak bisa digantikan oleh emas palsu seperti Aurel."
___
Malam itu, di kamar pengapnya, Nadine kembali menyiapkan ramuan herbal dari Ning Laila. Kali ini, ia menambahkan doa perlindungan agar suaminya terhindar dari fitnah wanita yang baru datang itu.... ia mengaduk mencampurkan ramuan ke dalam kopi yang baru ia buat.. lalu membawa ke ruang kerja suaminya..
Tok
Tok
Tok
"masuk " sahut Aditya dari dalam ruang kerja.
Ceklek...
Dengan pelan Nadine membuka pintunya, melangkah dengan perlahan agar tidak membunyikan suara,
"ini kopinya tuan muda"ucap Nadine dengan suara serak yang dibuat-buat.
"letakkan saja di meja... aku akan meminumnya nanti setelah pekerjaanku selesai" jawab Aditya tanpa menoleh.
"baik tuan muda... kalau begitu saya permisi" ucap Nadine sopan.
saat Nadine melangkah dan akan mencapai pintu tiba-tiba Aditya memanggilnya...
"Mona..!"
"iya Tuan"
"besok pagi aku ingin sarapan dengan bubur ayam" ucap Aditya dengan suara pelan.
Nadine mengangguk" insya Allah akan saya buatkan tuan"
Aditya mengangguk... lalu Nadine pergi begitu saja tidak lupa ia menutup pintunya kembali... setelah kepergian Nadine, Aditya menatap kopinya sebentar sebelum ia menyesapnya...
"kopi ini sangat nikmat..."gumam nya pelan..
diam-diam Aditya tersenyum sambil menikmati kopi yang istrinya siapkan.
"siapa sebenarnya kamu.. Mona, semakin hari kau membuatku semakin penasaran, tatapan matamu sangat tidak asing... seolah-olah Kita pernah sangat dekat, " .
Sementara di dalam kamar kecil di sudut dapur kotor, Nadine melakukan video call dengan putranya... setelah mengobrol tentang perencanaan selanjutnya, tidak lupa, Noah setor hafalannya seperti yang dilakukan setiap malam saat di desa...
"Masya Allah... putraku sangat luar biasa, Ayah pasti sangat bangga padamu nak... teruslah belajar dengan nenek, meski untuk sementara kita berpisah" ucap Nadine dengan mata berkaca-kaca.
"tidak masalah ibu... itu demi kebaikan kita, tidak apa Noah bersama dengan nenek, kita sama-sama bekerja sama agar bisa bersatu kembali... ibu yang kuat ya, Noah akan membantu ibu" sahut Noah dengan tersenyum... wajahnya sangat terlihat, Noah lah yang sangat semangat untuk mempersatukan keluarganya kembali.
Nadine tersenyum mendengar perkataan anaknya yang masih sangat kecil itu..."sudah malam nak... sebaiknya tidur, besok kita sambung kembali" ucap Nadine dengan lembut.
"iya ibu, ibu juga harus istirahat ya... Assalamualaikum...!" .