Vanya adalah putri kesayangan Hendra, seorang pria kaya yang memuja status sosial dan kasta di atas segalanya. Hidup Vanya terjepit dalam aturan emas ayahnya yang kaku, hingga sebuah tabrakan di pasar mengubah dunianya selamanya.
Arlan adalah pemuda liar, mandiri, dan hanya berbakti pada ibunya, Sujati. Sebagai seorang peternak dan penjual susu, Arlan dianggap "sampah" oleh Hendra. Namun, Arlan tidak pernah menundukkan kepala. Ia justru menantang dunia Vanya yang palsu dengan kejujuran dan cinta yang membara.
Saat cinta mulai tumbuh di antara perbedaan kasta, Hendra menyiapkan rencana keji untuk memisahkan mereka. Perpisahan tragis, pengorbanan nyawa, hingga munculnya Rayhan, seorang tentara gagah yang menjadi bagian dari cinta segitiga yang menyakitkan, akan menguji janji mereka.
Ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah tentang janji yang ditulis dengan air mata. Apakah Arlan dan Vanya bisa memenuhi Janji Cinta Selamanya mereka di tengah badai kasta dan rahasia masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: LUKA YANG TIDAK BERDARAH
BAB 25: LUKA YANG TIDAK BERDARAH
Malam itu, setelah drama percobaan penculikan oleh orang suruhan Suman gagal, suasana di paviliun menjadi sangat sunyi. Arlan duduk di teras, menatap bulan sabit yang menggantung di langit Delhi. Matanya tidak lagi terlihat kosong seperti anak kecil, melainkan sayu dan penuh beban. Ingatannya mulai kembali secara perlahan, namun itu justru menjadi kutukan baginya.
Vanya mendekat, membawa segelas air putih. Ia duduk di samping Arlan, memperhatikan wajah pria itu. "Arlan? Kau sedang memikirkan apa?"
Arlan menoleh perlahan. Ia menatap Vanya dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan yang membuat jantung Vanya berdegup kencang karena ia mengenali tatapan itu—itu adalah tatapan Arlan-nya yang dulu.
"Vanya," suara Arlan terdengar berat dan normal. Tidak ada lagi nada kekanak-kanakan. "Terkadang aku berpikir... kenapa Tuhan memberikan kita hati yang begitu luas untuk mencintai, jika pada akhirnya Dia hanya memberikan kita tangan yang terlalu pendek untuk menggapai orang yang kita cintai?"
Vanya tertegun. Gelas di tangannya hampir jatuh. "Arlan... kau ingat namaku? Kau bicara normal?"
Arlan tersenyum pahit, senyuman yang penuh luka. "Aku mengingat segalanya, Vanya. Aku ingat Simla, aku ingat janji kita, dan aku ingat bagaimana ayahmu menghancurkan kepalaku. Tapi yang paling menyakitkan bukan itu..." Arlan menunjuk ke arah kamar utama di gedung depan. "...yang paling menyakitkan adalah melihatmu mengenakan tanda pernikahan milik pria lain."
Vanya terisak, ia mencoba memegang tangan Arlan, namun Arlan menariknya dengan lembut.
"Jangan, Vanya. Kau sekarang adalah istri seorang Mayor yang terhormat. Dan aku? Aku hanyalah bayangan dari masa lalumu yang seharusnya sudah mati," ucap Arlan lirih. "Terkadang kita selalu menginginkan sesuatu yang tidak bisa kita dapatkan, bukan karena kita tidak layak, tapi karena takdir ingin kita belajar bahwa tidak semua keindahan harus dimiliki."
Di balik pilar, Rayhan berdiri mematung. Ia mendengar setiap kata yang diucapkan Arlan. Hati Rayhan terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Ia menyadari bahwa Arlan sudah mulai sembuh, dan itu berarti badai yang sesungguhnya akan segera tiba. Sebagai seorang saudara, ia ingin memeluk Arlan. Tapi sebagai seorang suami, ia merasa seperti pencuri yang telah merampas kebahagiaan adiknya sendiri.
Tiba-tiba, suara teriakan terdengar dari kamar Suman. Rayhan segera berlari ke sana. Ia menemukan ibunya sedang memegang dadanya, tergeletak di lantai sambil terengah-engah.
"Ibu! Apa yang terjadi?" Rayhan mengangkat tubuh ibunya ke tempat tidur.
Suman menatap Rayhan dengan mata yang dilebih-lebihkan kesakitannya. "Rayhan... usir mereka... jika mereka tetap di sini, aku akan mati karena serangan jantung. Pilihlah, Rayhan... kau ingin ibumu hidup, atau kau ingin tetap menyimpan anak haram itu di sini?"
Rayhan terdiam. Ia tahu ibunya sedang berakting secara manipulatif, namun sebagai anak, ia tetap merasa takut. Inilah taktik kotor Suman selanjutnya: Memeras nyawa demi kebencian.
Vanya dan Arlan muncul di ambang pintu. Arlan menatap Suman dengan tatapan yang kini sangat tajam. Ia tidak lagi takut. Ia berjalan mendekati tempat tidur Suman.
"Nyonya Besar," ucap Arlan dengan tenang namun mengancam. "Jangan gunakan kematian sebagai ancaman. Karena aku sudah pernah mati di Simla, dan percayalah... kematian tidak semudah yang kau bayangkan. Jika kau ingin aku pergi, katakan saja. Aku tidak butuh drama ini."
Suman terkejut melihat Arlan yang sudah kembali normal. Ketakutannya kini menjadi nyata. Rahasia besar keluarga Vashishth kini berada di tangan pria yang paling ia benci.