NovelToon NovelToon
Terjerat Sumpah Tuan Muda

Terjerat Sumpah Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Murni
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hazard111

Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.

Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.

Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.

Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.

"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Suara di Tengah Keheningan

​Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah gorden jendela rumah sakit tampak seperti barisan debu emas yang menari di udara. Suasana ruangan ICU yang biasanya terasa sangat menekan dan dingin, kini mulai terasa sedikit lebih hangat bagi Nala. Detak jantung Raga yang terpantau di monitor kini memiliki ritme yang jauh lebih kuat dan stabil, sebuah simfoni kehidupan yang menjadi alasan Nala untuk tetap berdiri tegak.

​Raga sudah benar-benar sadar. Meskipun tubuhnya masih sangat lemah dan suaranya masih teredam oleh rasa sakit, matanya sudah mampu mengikuti ke mana pun Nala bergerak. Ada banyak hal yang ingin Raga tanyakan, namun setiap kali ia mencoba menggerakkan otot rahangnya, rasa nyeri yang tajam langsung menjalar dari balik perban di wajahnya.

​Nala duduk di tepi tempat tidur, memegang jemari Raga dengan sangat hati-hati. Ia memperhatikan mata hitam suaminya yang kini menatapnya dengan intensitas yang sulit dijelaskan. Tidak ada lagi kedinginan yang menusuk seperti biasanya, melainkan ada semacam rasa syukur yang mendalam di sana.

​"Jangan dipaksakan untuk bicara dulu, Mas," ucap Nala dengan suara yang sangat lembut. Ia mengusap punggung tangan Raga menggunakan jempolnya, sebuah gerakan menenangkan yang kini menjadi bahasa tanpa kata di antara mereka. "Dokter bilang paru-parumu masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri setelah selang ventilator itu dilepas. Pelan-pelan saja."

​Raga hanya memberikan kedipan mata yang lambat sebagai jawaban. Ia merasa seolah tubuhnya baru saja dihantam oleh truk berukuran raksasa. Punggungnya terasa sangat berat dan kaku, sementara kakinya terasa seperti milik orang lain, sangat jauh dan sulit untuk dirasakan. Namun, yang paling membuatnya merasa gelisah adalah sensasi di wajahnya. Ia merasakan balutan perban yang sangat tebal, menutupi seluruh permukaannya, memberikan tekanan yang mengingatkannya pada masa lalu yang kelam.

​Nala menyadari kegelisahan itu. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan suaminya. Bagi Raga, wajah adalah luka batin yang paling dalam.

​"Mas Raga," panggil Nala, membuat fokus mata Raga kembali padanya. "Burhan sudah ditangkap. Polisi sedang mengurus semuanya. Bella dan Ayah juga selamat, mereka sedang dirawat di lantai bawah. Semuanya sudah aman sekarang. Tidak ada lagi yang bisa menyakitimu."

​Mendengar nama Burhan, rahang Raga yang terbalut perban tampak sedikit mengeras. Ada amarah yang masih membara di balik tatapannya. Namun, saat Nala menyentuh keningnya yang tidak tertutup kain, amarah itu perlahan memudar.

​"Na... la," suara Raga keluar dalam bentuk bisikan yang sangat tipis, hampir seperti hembusan angin.

​"Iya, Mas? Aku di sini. Aku tidak akan pergi ke mana-mana," jawab Nala cepat. Ia mencondongkan tubuhnya, berusaha mendengar setiap kata yang mungkin keluar.

​"Terima... kasih," bisik Raga lagi. Mata pria itu perlahan berkaca-kaca, sesuatu yang belum pernah Nala lihat sebelumnya. Raga Adhitama yang sombong dan tak tersentuh kini tampak begitu rapuh dan manusiawi.

​Nala menggelengkan kepala, air matanya ikut jatuh membasahi pipi. "Harusnya aku yang berterima kasih, Mas. Kamu rela melompat demi aku. Kamu bisa saja membiarkanku jatuh, tapi kamu memilih untuk membuang semuanya demi aku. Kamu mengorbankan tubuhmu. Jangan pernah berterima kasih padaku untuk hal yang seharusnya tidak kamu lakukan sendirian."

​Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu, namun kali ini terasa sangat damai. Pak Hadi masuk beberapa saat kemudian dengan membawa nampan berisi bubur halus dan obat-obatan. Wajah pria tua itu tampak berseri melihat tuannya sudah bisa membuka mata sepenuhnya.

​"Tuan Muda, syukurlah Anda sudah kembali," ucap Pak Hadi dengan nada suara yang penuh haru. Ia meletakkan nampan itu di meja samping tempat tidur. "Nyonya Nala benar-benar tidak tidur selama seminggu ini hanya untuk menunggu Anda. Kami semua sangat khawatir."

​Raga melirik ke arah Nala, lalu kembali ke Pak Hadi. Ada binar rasa bersalah di matanya saat mendengar Nala tidak tidur demi dirinya. Raga mencoba menggerakkan tangannya untuk menyentuh tangan Nala, namun gerakannya masih sangat terbatas dan kaku.

​"Pak Hadi, tolong panggilkan dokter," pinta Nala. "Saya ingin tahu apakah Mas Raga sudah boleh mulai mengonsumsi makanan cair."

​Dokter Gunawan datang tidak lama setelah dipanggil. Ia memeriksa refleks mata Raga dan mendengarkan suara napasnya menggunakan stetoskop. Dokter itu tampak puas dengan perkembangan pasiennya yang luar biasa cepat.

​"Anda memiliki semangat hidup yang sangat kuat, Tuan Raga," puji Dokter Gunawan sambil mencatat beberapa hal di papan medis. "Secara fisik, organ dalam Anda sudah mulai bekerja normal. Masalah utama saat ini adalah tulang belakang dan pemulihan jaringan di wajah Anda. Kita akan memulai terapi fisik ringan untuk kaki Anda mulai lusa. Untuk wajah, perban ini akan tetap terpasang selama dua minggu ke depan untuk memastikan tidak ada pergeseran pada plat titanium yang kami pasang."

​Raga menatap dokter itu dengan pandangan yang tajam dan penuh tanya. Ia ingin menanyakan tentang hasil operasi wajahnya, namun ia masih kesulitan membentuk kata-kata yang panjang.

​Dokter Gunawan seolah bisa membaca pikiran Raga. Ia tersenyum menenangkan. "Mengenai wajah Anda, Tuan Raga, saya harus jujur. Kecelakaan ini adalah sebuah tragedi, namun secara medis, ini memberikan kami kesempatan untuk memperbaiki apa yang rusak lima tahun lalu. Kami telah membersihkan seluruh jaringan mati dan menyusun kembali struktur tulang pipi Anda. Jangan takut saat nanti perban ini dibuka. Anda mungkin akan terkejut dengan apa yang Anda lihat di cermin."

​Raga hanya terdiam. Di dalam pikirannya, ia masih merasa ragu. Ia terbiasa menganggap dirinya sebagai monster di balik topeng perak. Gagasan untuk memiliki wajah yang "normal" atau bahkan "diperbaiki" terasa seperti mimpi yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan.

​Setelah dokter keluar, Nala mengambil mangkuk berisi bubur halus. Ia menyendoknya sedikit dan meniupnya hingga dingin sebelum mendekatkannya ke mulut Raga.

​"Mas, makanlah sedikit. Kamu butuh energi untuk pulih," ucap Nala dengan sabar.

​Raga membuka mulutnya dengan susah payah. Rasa bubur yang tawar masuk ke tenggorokannya, namun baginya, ini adalah rasa paling nikmat karena disuapkan oleh tangan Nala. Setiap suapan dilakukan dengan penuh kasih sayang. Nala membersihkan sisa makanan di sudut bibir Raga dengan tisu lembut, gerakannya sangat teliti dan penuh perhatian.

​"Nala," panggil Raga setelah beberapa suapan. Suaranya sudah sedikit lebih jelas meskipun masih sangat berat.

​"Iya, Mas?"

​"Wajahku... hancur?" tanya Raga. Ada nada ketakutan yang sangat nyata di balik suara baritonnya yang parau.

​Nala meletakkan mangkuk bubur itu kembali ke meja. Ia menggenggam kedua tangan Raga, menatapnya dengan pandangan yang sangat jujur. "Dokter bilang wajahmu sedang dibangun kembali. Tapi dengar aku baik-baik, Mas Raga. Aku tidak peduli bagaimana rupamu nanti. Apakah perban itu akan menunjukkan wajah yang mulus atau penuh bekas luka lagi, aku tetap di sini. Aku tidak mencintaimu karena wajahmu atau karena hartamu. Aku mencintaimu karena kamu adalah pria yang melompat ke jurang demi aku."

​Raga terpaku mendengar pengakuan itu. Kata "cinta" yang diucapkan Nala terasa seperti obat penenang yang paling ampuh. Selama ini, Raga selalu menganggap hubungan mereka hanya sebatas kontrak untuk saling menguntungkan. Namun, tragedi ini telah membakar habis kertas kontrak itu dan menyisakan perasaan murni yang saling terkait.

​"Aku... monster," bisik Raga lagi, seolah masih belum percaya pada kata-kata Nala.

​"Bukan. Kamu adalah pahlawanku," balas Nala dengan tegas. Ia mencium punggung tangan Raga cukup lama. "Berhenti berpikir buruk tentang dirimu sendiri. Sekarang tugasmu hanya satu, yaitu sembuh. Biarkan aku yang menjaga segalanya untukmu."

​Sore harinya, Sera datang untuk memberikan laporan singkat mengenai situasi keamanan. Ia berdiri dengan sikap tegak di kaki tempat tidur Raga, meski lengannya masih terbungkus gips. Raga menatap asisten kepercayaannya itu dengan pandangan yang lebih lembut, seolah mengakui pengorbanan Sera di malam kejadian.

​"Tuan Muda, seluruh anak buah Burhan yang terlibat sudah diamankan. Tim hukum kita juga sudah memblokir seluruh akses perbankan yang berhubungan dengan keluarga Aristha untuk sementara, sesuai perintah Nyonya Muda," lapor Sera dengan nada formal.

​Raga melirik Nala dengan alis terangkat sedikit, tampak terkejut mendengar istrinya sudah mulai mengambil keputusan besar di perusahaan.

​"Aku melakukannya agar mereka tidak semakin membuat kekacauan, Mas," jelas Nala dengan nada tenang. "Mereka terus mendesak untuk meminta uang kompensasi di saat kamu sedang berjuang hidup. Aku tidak bisa membiarkan mereka menguras aset Adhitama untuk kepentingan egois mereka."

​Raga tersenyum tipis di balik perbannya. Ia merasa bangga. Nala yang dulu pemalu kini telah tumbuh menjadi wanita yang mampu memimpin dan melindungi wilayah kekuasaannya. Ia merasa keputusannya untuk menikahi Nala adalah hal terbaik yang pernah ia lakukan dalam hidupnya yang penuh kepura-puraan.

​"Bagus," bisik Raga singkat ke arah Sera. "Lanjutkan."

​Sera mengangguk. "Mengenai Tuan Bramantyo, dokter mengatakan kakinya mungkin tidak akan bisa pulih seratus persen, namun nyawanya aman. Nyonya Siska mencoba untuk membuat drama di media, namun Pak Hadi sudah membungkam mereka dengan bukti rekaman pembicaraan Burhan yang melibatkan keterlibatan pasif keluarga Aristha dalam memfasilitasi penculikan."

​Raga mengangguk puas. Ia tidak butuh bicara banyak untuk menunjukkan otoritasnya. Meskipun terbaring lemah, aura penguasa Adhitama tetap terpancar dari dirinya.

​Malam kembali menyelimuti rumah sakit. Pak Hadi dan Sera sudah pamit untuk beristirahat di kamar sebelah yang telah disediakan. Kini, hanya tinggal Raga dan Nala di dalam ruangan yang sunyi itu. Cahaya lampu ruangan diredupkan, hanya menyisakan pendaran biru dari monitor medis.

​Nala sedang merapikan selimut Raga saat ia merasakan tangan Raga menggenggam ujung jarinya. Ia menoleh dan melihat Raga sedang menatapnya dengan pandangan yang sangat teduh.

​"Tidur... di sini," bisik Raga sambil memberi isyarat ke arah sisi tempat tidur yang masih tersisa sedikit ruang, meski itu tidak mungkin dilakukan secara fisik. Namun Nala mengerti, suaminya butuh kehadirannya sedekat mungkin.

​Nala menarik kursi malasnya hingga menempel ke sisi tempat tidur. Ia merebahkan kepalanya di samping lengan Raga, membiarkan tangannya tetap bertautan dengan tangan pria itu.

​"Aku di sini, Mas. Aku tidak akan ke mana-mana," ucap Nala pelan.

​"Nala," panggil Raga lagi, suaranya terdengar seperti gumaman di antara kantuk yang mulai menyerang akibat pengaruh obat pereda nyeri.

​"Iya, Mas?"

​"Jangan... pergi," bisik Raga. Kalimat itu terdengar begitu tulus, sebuah permintaan dari seorang pria yang selama ini terlalu takut untuk bergantung pada orang lain.

​"Aku berjanji. Aku akan ada di sini saat kamu membuka mata besok pagi, dan setiap pagi setelahnya," jawab Nala.

​Nala memejamkan matanya, mendengarkan detak jantung Raga yang teratur. Ia merasa sangat bersyukur. Tragedi yang hampir merenggut nyawa mereka ternyata menjadi kunci pembuka bagi hati mereka yang selama ini terkunci rapat. Di balik perban putih dan luka-luka fisik yang menyakitkan, ada sebuah janji baru yang tertulis di antara mereka. Janji untuk tidak lagi bersembunyi di balik topeng, janji untuk menghadapi dunia bersama-sama, apa pun rupa wajah yang akan mereka lihat nantinya.

​Malam itu, di dalam ruangan steril yang menjadi saksi bisu perjuangan antara hidup dan mati, Nala dan Raga menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada harta atau kekuasaan. Mereka menemukan kejujuran yang murni di tengah kelemahan yang nyata. Dan bagi mereka, itu sudah lebih dari cukup untuk menghadapi badai apa pun yang mungkin datang di masa depan.

​Nala tertidur dengan senyum yang akhirnya bisa kembali ke wajahnya, sementara Raga, di sisa kesadarannya sebelum terlelap, merasa bahwa dunia yang ia takuti ternyata bisa menjadi tempat yang sangat indah selama ada Nala di sisinya.

1
ren_iren
bagus ceritanya 🤗
Almahara Ara
keren bgt cerita nya... ga bertele tele... best thor
Risma Hye Chan
kalimatnya sngat indah perpaduan mkna kiasan dan sesungguhnya ak suka baca novel yg sprti ini kalimat ny tidak membosankan mksih kak
Bunga
lanjut Thor
ceritanya bagu😍
Hazard: bagus mbak bunga🤭
total 1 replies
Ayu Rahayu
lajuttt kak .Hem suka bgettt crityaa😢
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjut thor
𝐈𝐬𝐭𝐲
Luar biasa
Bunga
semangat Thor
Bunga
salam kenal thor😍
Hazard: salam kenal🙏
total 1 replies
moon
karyanya menarik, suka dengan cerita yang taak bertele-tele
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!