NovelToon NovelToon
Penjara Cinta

Penjara Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Dark Romance
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Patriciaaaa

​"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."

​Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.

​Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.

​Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?

​"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 - Di usir dari rumah sakit

Lampu merah di atas pintu ruang operasi itu masih menyala terang, seolah-olah menjadi satu-satunya tanda kehidupan bagi Aura yang masih terduduk lemas di koridor. Di dalam sana, Arfan sedang berjuang, dan di luar sini, Aura merasa dunianya sedang runtuh. Ia menatap bercak darah yang mengering di seragamnya, darah Arfan yang tumpah demi melindunginya.

"Bunda, Kak Arfan bakal selamat kan?" bisik Aura lirih.

Bunda hanya bisa mengeratkan pelukannya, tidak berani memberikan janji yang ia sendiri tidak tahu kepastiannya. Namun, keheningan itu tiba-tiba pecah. Suara langkah kaki yang tajam dan berirama cepat bergema di sepanjang koridor marmer yang mewah.

Tuk! Tuk! Tuk!

Langkahnya begitu angkuh. Muncul seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang sangat elegan. Nyonya Victoria Larasati. Ia mengenakan setelan hitam dengan bros berlian yang berkilau dingin. Wajahnya sangat cantik, namun sorot matanya lebih tajam dari pisau bedah di dalam sana.

"Nyonya Besar..." Pak Johan langsung berdiri tegak dan membungkuk dalam.

Victoria tidak menjawab. Ia bahkan tidak melirik Pak Johan. Matanya yang sedingin es langsung menatap pintu ruang operasi, lalu beralih ke arah Aura dan Bunda dengan pandangan merendahkan.

"Kenapa anak itu masih di dalam sana, Johan?" suara Victoria rendah, namun setiap katanya sanggup membuat bulu kuduk berdiri.

Aura mendongak, matanya yang sembab menatap bingung. "Tante... Tante ini Mamanya Kak Arfan? Kak Arfan lagi dioperasi, Tante. Kepalanya luka parah karena nolongin aku..."

Victoria menoleh perlahan ke arah Aura. Ia menatap Aura dari ujung kepala sampai kaki seolah sedang melihat kotoran. "Saya tidak bertanya padamu, anak kecil," desisnya. Ia kembali menatap Johan. "Hentikan semua ini. Keluarkan dia sekarang."

Aura tersentak kaget. "Maksud Tante apa? Kak Arfan lagi ditanganin dokter!"

Tepat saat itu, pintu ruang operasi terbuka sedikit. Seorang perawat keluar untuk mengambil sesuatu, namun Victoria langsung menghadangnya. "Bilang pada dokter di dalam, hentikan operasinya. Jahit seadanya, lalu keluarkan dia dari gedung saya."

Aura terbelalak. "Tante! Jangan gila! Kak Arfan bisa mati!"

Victoria tersenyum sinis, sebuah senyum yang sangat mengerikan. "Mati? Baguslah. Daripada dia terus-menerus merusak reputasi keluarga saya dengan obsesi konyolnya ini. Johan, saya tidak peduli kamu mau bawa dia ke mana, yang jelas saya tidak mau melihat dia di rumah sakit ini lagi. Pakai ambulans paling tua, atau buang saja di jalan!"

Bunda Syakirah bangkit berdiri, wajahnya merah padam menahan amarah. "Astagfirullah! Anda ibunya! Bagaimana bisa Anda tega membuang anak Anda sendiri yang sedang bertaruh nyawa?"

Victoria tersenyum sinis, "Anda ini siapa? Lagipula darah daging saya sudah mati sejak lama." ucap Victoria lalu mengabaikan Bunda, ia memperbaiki letak tas mewahnya di bahu. "Lakukan, Johan. Atau kamu saya pecat hari ini juga!"

Aura melihat dari balik kaca kecil pintu operasi, para dokter di dalam tampak bingung karena ada instruksi paksa dari pemilik rumah sakit. Tanpa pikir panjang, Aura membuka ponselnya dengan tangan gemetar hebat.

"Pak Johan! Jangan nunggu ambulans rongsok itu! Aku pesen taksi online sekarang!" teriak Aura histeris. "Kita bawa Kak Arfan ke rumah sakit lain! Yang pemiliknya manusia, bukan setan!"

Aura segera memesan taksi online dengan jari-jari yang kaku. Pak Johan, yang hatinya hancur melihat kondisi tuannya, akhirnya membuat keputusan nekat. Ia membantu dokter membungkus kepala Arfan seadanya agar bisa segera dipindahkan.

Beberapa menit kemudian, di depan lobi belakang yang sepi, sebuah mobil taksi online sudah menunggu. Pak Johan menggotong tubuh Arfan yang terkulai lemah dengan perban besar di kepalanya.

Di dalam mobil taksi yang sempit itu, Aura mendekap kepala Arfan di pangkuannya. Bau amis darah menyeruak di dalam kabin mobil yang pengap. Aura terus menggenggam tangan Arfan yang dingin, membisikkan doa di sela tangisnya.

"Kak... bertahan ya. Aku mohon... Kakak jangan pergi sekarang. Kakak harus bangun, katanya kakak mau nikah sama aku kan"

Aura mencium punggung tangan Arfan, air matanya jatuh membasahi telapak tangan pria itu. Di tengah guncangan mobil yang melaju membelah malam, Aura merasa seolah-olah dia sedang memegang satu-satunya nyawa yang tersisa di dunia ini.

Suara pintu taksi online yang tertutup kasar seolah menjadi sekat pemisah antara kemewahan rumah sakit milik Nyonya Victoria Larasati dan dunia luar yang dingin. Mobil putih itu melaju dengan terburu-buru, meninggalkan Pak Johan yang masih harus menghadapi amarah Nyonya Besar di lobi belakang.

Di dalam kabin mobil yang sempit dan beraroma parfum jeruk yang menyengat, suasana terasa begitu menyesakkan. Hanya ada Bunda Syakirah di kursi depan, Aura di kursi belakang, dan tubuh Arfan yang terbaring kaku di pangkuan Aura.

Aura mendekap kepala Arfan dengan kedua tangannya yang masih bergetar hebat. Ia memastikan kepala pria itu tidak berguncang terlalu keras setiap kali mobil menghantam lubang jalanan. Seragam sekolah Aura kini sudah benar-benar tak berbentuk, noda darah merah segar meresap ke kain putihnya, namun Aura tidak peduli. Ia hanya peduli pada napas Arfan yang terdengar semakin pendek dan berat.

"Pak, tolong... lebih cepat sedikit. Kakak saya kritis," pinta Bunda dari kursi depan. Suara Bunda pecah, tangannya meremas pegangan pintu mobil dengan sangat kuat.

Aura menatap wajah Arfan yang berada tepat di bawah matanya. Dalam keremangan cahaya lampu jalan yang masuk silih berganti lewat jendela, Arfan tampak sangat berbeda. Tidak ada lagi tatapan tajam yang mengintimidasi, tidak ada lagi senyum miring yang penuh rahasia. Yang ada hanyalah wajah pucat pasi dengan deru napas yang seolah bisa terhenti kapan saja.

"Kak... kuat ya. Jangan tidur terus," bisik Aura. Suaranya serak karena terlalu banyak menangis.

Aura menggenggam tangan Arfan, membawanya ke pipinya yang basah. Ia mencoba memberikan kehangatan pada jemari Arfan yang mulai terasa sedingin es.

"Maafin aku, Kak... Maafin aku yang selalu lari, yang selalu marah-marah sama Kakak," isak Aura. Penyesalan itu datang menghantamnya lebih menyakitkan daripada luka di lengannya sendiri. "Aku tahu Kakak denger aku. Kakak kan orangnya nggak mau kalah, Kakak selalu maksa aku buat dengerin Kakak. Kalau gitu sekarang Kakak harus buktiin kalau Kakak kuat. Bangun, Kak... jangan tinggalin aku dengan rasa bersalah kayak gini."

Bunda yang melihat dari kaca spion tengah hanya bisa menutup mulutnya, menahan tangis agar tidak semakin membebani mental Aura.

Aura tidak tahu apa yang terjadi sore tadi. Dia tidak tahu bahwa pria yang kini sekarat di pangkuannya ini sempat memanjat tangga di rumahnya untuk memasang balon ulang tahun. Dia tidak tahu bahwa Arfan sempat memuji masakan Bundanya dengan sangat tulus. Yang Aura tahu hanyalah, pria ini baru saja menjadikan dirinya sendiri tameng agar Aura tidak tertimpa besi berat di gudang tua itu.

"Ya Allah... tolong kasih kesempatan buat Kak Arfan," doa Aura dalam hati. Air matanya menetes, jatuh tepat di sudut mata Arfan yang terpejam, seolah-olah Aura sedang menangis menggantikan pria itu.

Taksi itu berbelok tajam, memasuki gerbang Rumah Sakit Umum Pusat yang tampak jauh lebih sederhana namun terasa lebih manusiawi. Begitu mobil berhenti tepat di depan lobby IGD, Aura langsung berteriak sekuat tenaga.

"Tolong! Suster! Dokter! Ada pendarahan di kepala!"

Beberapa perawat berlarian membawa brankar. Saat tubuh Arfan diangkat dari pangkuannya, Aura merasa sebagian dari dirinya ikut ditarik paksa. Ia berlari mengejar brankar itu, tangannya sempat memegang ujung kain yang menutupi Arfan sebelum akhirnya seorang perawat menahannya di depan pintu ICU.

"Sebaiknya anda tunggu di sini. Biarkan kami bekerja," ucap perawat itu dengan tegas.

Pintu tertutup. Lampu merah di atasnya menyala. Aura terdiam, menatap telapak tangannya yang kini merah sepenuhnya oleh darah Arfan. Ia berbalik dan langsung menubruk pelukan Bunda yang sudah menunggunya di belakang.

"Bunda... Kak Arfan nggak punya siapa-siapa... Ibunya jahat banget, Bun..." Aura terisak hebat di pundak Bunda.

Bunda mengusap punggung Aura dengan lembut, matanya menatap pintu ICU dengan perasaan haru dan sedih yang bercampur menjadi satu. "Sabar, Sayang... Nak Arfan itu orang baik. Bunda tahu dia orang baik. Kita doakan saja, semoga Allah kasih jalan buat dia kembali."

Di koridor rumah sakit yang dingin itu, Aura menyadari satu hal. Jika Arfan selamat nanti, dia tidak akan pernah bisa melihat pria itu dengan cara yang sama lagi. Utang nyawa ini telah mengubah ketakutannya menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang ia sendiri belum berani menyebut namanya.

Bersambung......

1
Mawar
😍
Mawar
up terusss
Cahaya_Mentari
akhirnya😍
Mawar
lah kenapa tiba tiba Arfan berubah, bukannya kemarin dukung Aura ke London?
Cahaya_Mentari
Next Chapter😍
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
falea sezi
mawar ma arfan uda nganu ya Thor hmm. tidur bareng gt
My Name Cia: emmm, engga yaa🤭
total 1 replies
Mawar
Kok kayaknya Bima cemburu ya
Cahaya_Mentari
Alah, Arfan caper itu sama Bunda
Cahaya_Mentari
jadi keinget hy adik berkerudung putih, gtu ga sih🤭
Mawar
lanjut terusss
Mawar
baru awal udah di bikin penasaran
Cahaya_Mentari
kayaknya ceritanya bagus nih
Cahaya_Mentari
kok gtu banget sih Bima
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!