SEASON 1 ; BAB ; 41 TAMAT
SINOPSIS SEASON 2
Tujuh tahun telah berlalu sejak perayaan ulang tahun ke-5 Yayasan Aulia & Hidayat. Kedamaian dan kesuksesan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Putri dan Rizky. PT Adinata Berkah Lestari kini menjadi raksasa bisnis yang dihormati secara global, dan yayasan mereka telah menumbuhkan ribuan anak menjadi generasi yang tangguh. Rara kini berusia 19 tahun dan sedang menempuh pendidikan tinggi di bidang kedokteran, sementara Arka (11 tahun) dan Bara (9 tahun) tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan penuh kasih.
Namun, kedamaian yang rapuh itu mulai retak ketika serangkaian insiden misterius terjadi. Mulai dari sabotase kecil di operasi perusahaan, ancaman anonim terhadap yayasan, hingga hilangnya beberapa dokumen penting hukum. Putri, dengan naluri hukum dan kehati-hatiannya, mulai menyadari bahwa ada kekuatan yang tidak terlihat sedang bergerak di balik layar—kekuatan yang tidak ingin melihat keluarga Adinata terus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: DI ANTARA KEBENARAN DAN KEBOHONGAN
Perjalanan pulang menuju rumah besar keluarga Adinata terasa seperti perjalanan menuju hukuman mati bagi Putri. Setiap detik di dalam taksi, jantungnya berdegup kencang, seolah ingin memecah tulang rusuknya. Pikirannya berputar kacau, mencoba menyusun strategi, mencari alibi baru, atau mempertimbangkan apakah ini saatnya dia mulai membuka sebagian kebenaran. Tapi apa yang bisa dia katakan? Bahwa dia bertemu dengan musuh bebuyutan ayahnya? Bahwa dia memegang bukti kejahatan ayah suaminya sendiri? Bahwa dia berniat menjatuhkan keluarga yang sudah menolongnya dan Rara?
Saat taksi berhenti di halaman rumah, langit sudah mulai gelap. Lampu-lampu teras rumah menyala terang, memberikan kontras yang menyakitkan dengan kegelapan yang menyelimuti hati Putri. Dia membayar sopir taksi dan turun perlahan, kakinya terasa berat seolah tertimbun beton.
Dia berjalan menuju pintu utama, menghela napas panjang sebelum membuka pintu. Suasana di dalam rumah hening, namun hening yang mencekam. Putri meletakkan tasnya di nakas dan melongok ke ruang tamu. Di sana, Rizky duduk di sofa, membelakangi pintu masuk. Punggungnya tegak, kaku, seolah dia telah menunggu berjam-jam. Tidak ada televisi yang menyala, tidak ada suara lain kecuali detak jam dinding yang terdengar sangat keras.
"Rizky..." panggil Putri pelan, suaranya bergetar.
Rizky tidak langsung berbalik. Dia diam sejenak, lalu perlahan menoleh. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan meledak, tapi tatapannya dingin, tajam, dan penuh kekecewaan yang mendalam. Itu pandangan yang belum pernah Putri lihat sebelumnya.
"Duduklah, Putri," kata Rizky pelan, menunjuk kursi di hadapannya. Suaranya datar, tanpa emosi, tapi itu justru membuat suasana semakin menakutkan.
Putri berjalan ragu-ragu dan duduk di ujung sofa, menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menatap mata Rizky. "Rizky, aku bisa jelaskan—"
"Kenapa kamu berbohong, Putri?" potong Rizky tiba-tiba, suaranya sedikit meningkat namun tetap terkendali. "Kenapa kamu bilang kamu ada di perpustakaan? Kenapa kamu bilang kamu bertemu Pak Soleh? Padahal aku sudah mengeceknya sendiri. Tidak ada orang bernama Pak Soleh di sana, dan perpustakaan itu sudah tutup sejak sore."
Putri menggenggam tangannya sendiri di pangkuan, kuku-kukunya menancap ke kulit. "Aku... aku takut, Rizky. Aku takut kamu akan marah atau melarangku jika aku memberitahumu ke mana aku pergi sebenarnya."
"Jadi lebih baik kamu berbohong padaku?" Rizky mencondongkan tubuh ke depan, menatap wajah Putri yang tertunduk. "Putri, kita sudah membicarakan ini kemarin. Aku bilang aku tidak suka kamu pergi sendirian di malam hari karena aku khawatir. Tapi kali ini bukan soal keamanan saja. Ini soal kepercayaan. Kamu sudah berbohong dua kali dalam waktu yang sangat berdekatan. Apa lagi yang kamu sembunyikan dariku?"
Putri mengangkat kepalanya perlahan, air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. "Aku tidak bermaksud merusak kepercayaanmu, Rizky. Tapi ada hal-hal yang rumit. Hal-hal tentang masa laluku, tentang orang tuaku. Aku sedang mencoba mencari jawaban, dan aku takut jika aku melibatkanmu, kamu akan terluka atau terjebak dalam masalah yang bukan urusanmu."
"Masa lalumu?" Rizky mengerutkan kening, tampak bingung namun tetap curiga. "Apa hubungannya masa lalumu dengan kamu berbohong soal perpustakaan dan orang yang tidak ada? Putri, tolong jujur padaku. Siapa yang kamu temui tadi sore? Apa yang sebenarnya kamu lakukan?"
Putri terdiam. Dia tahu dia tidak bisa menceritakan tentang Pak Darmawan secara utuh. Itu akan terlalu berbahaya bagi Rizky dan bagi Rara. Tapi dia juga tahu dia tidak bisa terus-menerus berbohong. Dia perlu memberikan sebagian kebenaran, cukup untuk meredakan kecurigaan Rizky, namun tetap menyembunyikan inti masalahnya.
"Aku... aku bertemu dengan seseorang yang mungkin tahu tentang kematian orang tuaku," kata Putri akhirnya, suaranya berbisik. Dia memilih untuk tidak menyebut nama Pak Darmawan atau hubungannya dengan Pak Hidayat. "Seseorang yang dulu mengenal ayahku. Dia menghubungiku secara tiba-tiba dan bilang dia punya informasi yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Dia meminta aku bertemu secara rahasia karena dia takut diketahui oleh orang-orang tertentu."
Mata Rizky membelalak sedikit, kekecewaan di wajahnya perlahan bercampur dengan rasa kaget dan perhatian. "Seseorang yang tahu tentang kematian orang tuamu? Siapa? Kenapa dia harus bertemu secara rahasia?"
"Aku tidak bisa memberitahu namanya, Rizky. Dia memintaku untuk tidak memberitahu siapa pun, termasuk kamu. Dia takut nyawanya terancam," jawab Putri, memainkan perannya dengan hati-hati. "Dia bilang ada hal-hal yang tidak beres di balik kecelakaan itu. Hal-hal yang mungkin berhubungan dengan bisnis ayahku dan orang-orang kuat di kota ini. Aku tahu ini terdengar gila, dan aku tahu aku salah karena berbohong padamu. Tapi aku sangat putus asa, Rizky. Aku ingin tahu kebenaran. Aku ingin tahu kenapa orang tuaku harus mati."
Air mata Putri mulai mengalir. Kali ini, air mata itu tulus, campuran antara rasa takut, rasa bersalah, dan rasa sakit yang selama ini dia pendam.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku?" tanya Rizky lagi, namun suaranya sudah melembut. Dia tidak lagi terlihat marah, melainkan khawatir. "Aku suamimu, Putri. Aku berhak tahu, dan aku ingin melindungimu. Jika orang ini berbahaya, kamu tidak boleh bertemu dengannya sendirian."
"Aku takut, Rizky," isak Putri. "Aku takut jika aku memberitahumu, kamu akan menganggapku berlebihan, atau lebih buruk lagi, kamu akan terlibat dan terluka. Kamu sudah terlalu banyak membantuku dan Rara. Aku tidak ingin menambah bebanmu lagi dengan masalah masa laluku yang kelam."
Rizky menghela napas panjang, lalu menggeser duduknya mendekati Putri. Dia mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Putri yang dingin dan gemetar.
"Putri... Sayangku," bisiknya lembut. "Kamu dan Rara adalah tanggung jawabku sekarang. Kebahagiaan dan keselamatan kalian adalah beban yang dengan senang hati aku pikul. Jangan pernah merasa kamu merepotkanku. Tapi tolong, jangan pernah berbohong padaku lagi. Jika ada sesuatu yang terjadi, ceritakan padaku. Mungkin aku tidak bisa mengubah masa lalu, tapi aku berjanji akan melakukan apa saja untuk melindungimu di masa sekarang."
Putri menatap mata Rizky, melihat ketulusan di sana. Hatinya terasa hancur berkeping-keping. Dia sedang berbohong lagi, meskipun dengan sebagian kebenaran. Dia memanfaatkan cinta dan kebaikan Rizky untuk menutupi rahasianya yang jauh lebih besar dan berbahaya.
"Maafkan aku, Rizky," bisik Putri, membenamkan wajahnya ke dada Rizky saat pria itu menariknya ke dalam pelukan. "Maafkan aku karena sudah berbohong. Aku janji tidak akan melakukannya lagi... atau setidaknya, aku akan berusaha memberitahumu hal-hal yang boleh aku ceritakan."
Rizky memeluknya erat, seolah ingin meyakinkan dirinya bahwa Putri baik-baik saja. "Aku menerima permintaan maafmu. Tapi janjilah padamu, lain kali jika ada orang yang menghubungimu soal ini, kamu akan memberitahuku. Dan jangan bertemu sendirian. Biarkan aku menemanimu, atau setidaknya aku akan mengawasi dari jauh untuk keamananmu."
Putri mengangguk di dada Rizky, meski dia tahu dia mungkin tidak akan bisa menepati janji itu sepenuhnya. Bertemu dengan Pak Darmawan di hadapan Rizky adalah hal yang mustahil. Tapi untuk saat ini, dia lega. Krisis ini berhasil dia lewati. Namun, rasa bersalah itu semakin menumpuk, berat dan menyakitkan.
Malam itu, suasana di kamar mereka terasa lebih hangat namun dengan lapisan ketegangan yang tak terucapkan. Rizky berusaha membuat Putri merasa nyaman, memijat bahunya yang tegang dan membawakan teh hangat. Namun, setiap kali Rizky tersenyum padanya, Putri merasa semakin kecil. Dia memikirkan bukti-bukti yang dia salin, tentang Pak Soleh, tentang rencana Pak Darmawan, dan tentang kejahatan Pak Hidayat.
Saat Rizky sudah tertidur lelap, Putri terbangun lagi. Dia melihat sekilas ke arah meja riasnya, di mana dia menyembunyikan kunci loker stasiun pemberian Pak Darmawan. Dia tahu dia harus mengambil isinya secepat mungkin. Semakin lama dia menunda, semakin berisiko.
Keesokan harinya, setelah memastikan Rizky pergi ke kantor dan Pak Hidayat keluar rumah, Putri berpura-pura ingin pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli kebutuhan Rara. Dia menyewa taksi, namun meminta sopirnya menurunkannya di dekat stasiun kereta api kota.
Stasiun itu ramai sekali, penuh dengan orang-orang yang berjalan terburu-buru, suara pemberitahuan kereta, dan hiruk-pikuk kehidupan kota. Keramaian ini justru menguntungkan Putri; dia bisa bersembunyi di antara orang banyak tanpa mudah dikenali.
Dia berjalan menuju area loker penyimpanan barang yang terletak di sudut stasiun. Jantungnya berdegup kencang saat dia mencari loker nomor 7. Dia melihatnya di baris bawah, agak tersembunyi di balik tiang penyangga.
Putri melihat ke sekelilingnya dengan waspada. Tidak ada yang memperhatikannya. Dengan tangan gemetar, dia mengeluarkan kunci kecil dari saku jaketnya dan memasukkannya ke lubang kunci. Bunyi klik terdengar jelas di telinganya. Pintu loker terbuka perlahan.
Di dalamnya, ada sebuah tas ransel kecil berwarna hitam. Putri mengambilnya dengan cepat dan menutup kembali pintu loker, lalu menguncinya kembali. Dia berjalan cepat meninggalkan area itu, menuju toilet wanita yang sepi.
Di dalam bilik toilet, Putri membuka tas itu dengan hati-hati. Isinya cukup banyak. Ada beberapa map dokumen tebal, sebuah buku catatan bersampul kulit, dan sebuah kotak kecil berisi beberapa kaset rekaman dan juga sebuah flashdisk.
Putri membuka salah satu map teratas. Di dalamnya terdapat foto-foto yang sangat jelas—bukan foto buram seperti yang dia temukan sebelumnya. Foto-foto itu menunjukkan Pak Soleh sedang menerima amplop tebal dari seseorang yang dikenali sebagai asisten pribadi Pak Hidayat. Ada juga foto pertemuan rahasia antara Pak Hidayat dan beberapa pejabat tinggi di sebuah restoran mewah.
Namun, yang paling menarik perhatian Putri adalah buku catatan itu. Dia membukanya. Ternyata itu adalah catatan harian atau catatan transaksi pribadi milik Pak Soleh sendiri. Tulisannya rapi dan detail. Putri mulai membaca halaman-halaman awal, dan matanya semakin membelalak.
Buku itu mencatat secara rinci tentang peran Soleh dalam membantu Pak Hidayat mengambil alih aset orang tuanya. Ada tanggal, jumlah uang yang diterima, dan nama-nama orang yang terlibat dalam pemalsuan dokumen hukum. Tapi di halaman-halaman yang lebih belakangan, tulisannya berubah menjadi penuh penyesalan.
"15 Oktober 20XX... Hati nuraniku terus menyiksa. Aku melihat wajah anak-anak Bu Aulia di televisi kemarin. Mereka begitu kecil, begitu polos. Aku telah menghancurkan masa depan mereka demi uang dan rasa takut. Tuhan, maafkan aku. Aku ingin bicara, aku ingin mengakui semuanya, tapi aku takut Hidayat akan membunuhku dan keluargaku..."
"20 November 20XX... Aku mendengar rumor bahwa Hidayat mulai mencariku. Dia tahu aku masih hidup. Aku harus bersembunyi lebih dalam lagi. Mungkin aku harus pergi ke luar negeri. Tapi aku tidak bisa membawa semua bukti ini. Jika sesuatu terjadi padaku, aku harus memastikan bukti ini sampai ke tangan yang tepat. Ke anak-anak Aulia, jika mereka masih hidup..."
Putri menutup buku itu dengan tangan gemetar. Ini adalah harta karun. Ini adalah bukti tertulis dari mulut pengkhianat itu sendiri yang mengakui kejahatan Pak Hidayat. Dan ternyata, Pak Soleh memang berniat baik di akhir hidupnya. Dia menyimpan bukti-bukti ini karena rasa bersalah.
"Tapi di mana dia sekarang?" gumam Putri pelan. "Jika dia takut dibunuh Pak Hidayat, ke mana dia pergi?"
Putri kembali merogoh tas itu dan menemukan selembar kertas terlipat di bagian paling bawah. Dia membukanya. Itu adalah surat tulisan tangan Pak Soleh, ditujukan kepada "Siapa pun yang menemukan tas ini, terutama anak-anak Bapak Haris dan Ibu Aulia."
"Jika kamu membaca ini, berarti aku mungkin sudah mati atau sudah lari jauh dari tempat ini. Aku tidak meminta maaf, karena maaf tidak akan bisa mengembalikan nyawa orang tuamu. Tapi aku berharap bukti-bukti ini bisa sedikit membantu menegakkan keadilan yang sudah lama tertunda. Aku tahu aku pengecut, tapi ini satu-satunya cara aku bisa menebus dosaku. Hati-hati, Hidayat punya mata dan telinga di mana-mana. Dan waspadalah terhadap Darmawan... dia bukan orang yang bisa dipercaya. Dia punya rencananya sendiri. S."
Putri tertegun. Bahkan Pak Soleh juga memperingatkannya tentang Pak Darmawan. Jadi dugaannya benar. Pak Darmawan tidak benar-benar membantunya demi keadilan. Dia hanya menggunakan Putri sebagai alat untuk mencapai tujuannya sendiri.
Tiba-tiba, ponsel Putri bergetar di sakunya. Dia terkejut dan buru-buru menyimpan semua barang kembali ke dalam tas. Dia melihat layar ponselnya. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal masuk.
[Aku tahu kamu sudah mengambil tas itu. Bagus. Sekarang, gunakan bukti itu dengan bijak. Ingat janjimu. - D]
Putri menelan ludah. Pak Darmawan tahu dia ada di sini? Apakah dia mengawasinya? Putri melihat keluar melalui celah pintu bilik toilet, tapi tidak melihat siapa pun yang mencurigakan. Namun, dia merasa seolah ada mata yang mengawasinya dari setiap sudut.
Dia buru-buru keluar dari toilet, berjalan cepat meninggalkan stasiun. Dia harus pulang, dia harus menyembunyikan tas ini di tempat yang lebih aman. Tapi sekarang, dia tahu satu hal yang pasti: dia tidak bisa mempercayai siapa pun. Tidak Pak Hidayat, tidak Pak Darmawan, dan bahkan dia sendiri merasa seperti penipu karena terus menyembunyikan segalanya dari Rizky yang tulus.
Namun, di tengah ketakutan dan kebingungan itu, ada secercah harapan. Dia memegang tas ransel itu erat-erat. Dia punya bukti. Dia punya saksi (meskipun mungkin hilang atau mati). Dan dia tidak akan berhenti sampai kebenaran terungkap sepenuhnya, tidak peduli seberapa besar risiko yang harus dia tanggung.
*[PERTANYAAN UNTUK PEMBACA]: Putri baru saja menemukan bukti kuat berupa catatan pengakuan Pak Soleh yang memberatkan Pak Hidayat, namun dia juga mendapat peringatan bahwa Pak Darmawan tidak bisa dipercaya dan ternyata sedang mengawasinya. Putri kini memegang bukti berharga namun juga menjadi target dua kubu yang berbahaya. Jika kamu jadi Putri, apa langkah pertamamu setelah pulang ke rumah? Apakah kamu akan