Gugur dalam sebuah pemberontakan tepat di hari pelantikannya sebagai jenderal, Ellenoir, mantan prajurit wanita hebat di dunia kuno, kembali ke dunia aslinya, dunia yang sudah hancur. Dengan membawa pedang dan tekad ia bergerak menumpas kejahatan dan zombie.
Sepupu dan tunangan yang selingkuh? Bunuh!
Paman dan Bibi yang licik? Bunuh!
Orang-orang serakah yang berniat jahat? Bunuh!
Meski perjalanan panjang dan berdarah menanti, Elle siap menghadapinya. Bersama orang-orang kepercayaannya, menaklukkan kota miskin yang terbuang, menciptakan sebuah kota aman yang akan menjadi cahaya dimasa depan. Menciptakan sebuah harapan ditengah-tengah keputusasaan.
Mampukah Elle menciptakan harapan ditengah kehancuran? Atau justru gugur dimakan kejinya akhir dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serigala Kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gugur Dalam Pembrontakan
**
"Bagaimana persiapan pelantikan besok? Apa kau sudah memastikan semuanya dengan baik?" Tanya Darson pada sang asisten yang disuruh diam-diam membantu ketertiban dan keamanan acara pelantikan sang putri, Ellenoir.
"Sejauh ini semuanya lancar, tuan. Sebelumnya ditemukan beberapa tikus kecil yang mencoba menyelinap untuk mengacau, tapi semuanya telah ditangani oleh pihak kami." Jelas sang asisten, Gan. Menjelaskannya sesuai yang telah ditanganinya.
"Oke, terus pantau sampai acara pelantikan selesai. Jangan lengah, bagaimanapun pasti banyak orang-orang yang tidak senang terlebih jenderal baru seorang perempuan. Aku juga hanya bisa melakukan sejauh ini, terimakasih padamu Gan telah membantu kita." Ucap Darson mengangguk kecil.
"Tapi tuan, pihak pangeran ketiga masih diam sampai saat ini. Aku tidak tahu apa yang ia rencanakan, aku khawatir dengan pergerakannya yang tidak diketahui ini." Ucap Gan mengungkapkan kekhawatirannya, karena selama ini pihak yang paling keberatan dan bermusuhan dengannya adalah Pangeran Ketiga.
"Hah... Aku juga khawatir, tapi tidak mungkin dia melakukan hal nekat didepan banyak orang kan? Ada Kaisar dan raja-raja lain disana besok. Jika ia nekat, bukankah ia melakukan pemberontakan? Lagipula, Kaisar sendiri yang akan melakukan pelantikan." Ucap Darson menganalisis.
*
Keesokan harinya, tepat dimana pelantikan berlangsung, ternyata hal yang Darson takutkan malah benar-benar terjadi.
"Aku salah, Gan. Pangeran ketiga memang benar-benar nekat!" Ucap Darson seraya menggertakkan giginya. Pedang yang dipegangnya ditebas ke depan untuk menghalau serangan.
Gan yang berada disamping juga meringis tidak menyangka. "Hati-hati, tuan!" Ucapnya seraya menghalau serangan yang datang tanpa sepengetahuan Darson.
Istana jatuh dalam kekacauan saat ini. Pangeran ketiga memang benar-benar memberontak demi tidak membiarkan Ellena naik menjadi jenderal. Banyak pasukan pangeran ketiga yang menyerang, setiap pihak yang mendukung Ellenoir tentu saja ikut melawan. Dan orang-orang yang terpaksa melawan juga ikut melawan demi melindungi nyawa masing-masing.
Sang kaisar dan raja lain benar-benar tidak menyangka akan kejadian sebesar itu. Sama-sama ikut melawan melindungi diri. Para penjaga bayangan setiap orang muncul melindungi tuannya masing-masing. Karena jumlah orang yang datang menyerang sangat banyak, penjaga ini tidak peduli pada orang lain selain tuannya.
"Ayah! Adik! Kemarilah, berdiri dibelakangku!" Pekik Elle dengan khawatir. Ia tidak takut kehilangan nyawa, tapi takut jika ayah dan adiknya kenapa-napa. Enggan melihat keduanya terluka apalagi didepan matanya.
Termasuk Elle, meski ia dilindungi oleh penjaga yang senantiasa mengikutinya kemanapun ia pergi, ia tetap berlari untuk melindungi sang ayah dan sang adik. Jadi, pada saat ini posisi Elle berada ditengah, sedangkan ayah dan adiknya berada dibelakang Elle, dibelakang keduanya ada asisten dan penjaga rumah sang ayah yang melindungi.
Tapi, para pembunuh ini malah semakin banyak menyerang Elle. Seolah tidak pernah berkurang meski berkali-kali ia membunuh para pembunuh bayaran tersebut. Bahkan setelah satu jam pertempuran, orang-orang ini tidak ada hentinya. Membuat Elle sudah terengah-engah pada saat ini.
Tapi, kehebatannya yang sampai pada pelantikan jenderal juga bukan semata-mata sekedar rumor. Ia benar-benar tangguh dan pantang menyerah. Kondisinya yang sudah terengah lebih baik daripada banyak orang yang saat ini sudah terluka dilengan dan kaki.
"Sial! Paman Gan, cepat bawa Ayah dan adikku ke tempat aman dulu. Aku akan menahan mereka bersama pengawalku disini seraya menunggu bala bantuan tiba." Ucap Elle dengan raut dan suara yang tegas.
"Tidak! Kakak, aku tidak akan pergi. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian!" Ucap Darron, ia juga sedang melawan dengan belati yang dibawanya kemanapun.
"Elle, ayah akan melindungimu. Kau cepatlah pergi ke tempat aman. Mereka mengincarmu, bukan kita." Ucap sang ayah ikut berbicara.
Elle menggelengkan kepalanya, "Tidak mungkin. Kalian harus cepat pergi!" Pekik Elle, tanpa melihat keduanya karena ia terus menahan dan menangkis pedang yang mengarah padanya. Keempat pengawalnya sudah disibukkan dengan 3-4 pembunuh bayaran, jadi dia sendiri juga harus melawan, karena memang ia tujuannya.
"Paman Gan! Cepatlah pergi!" Teriak Elle, membuat Gan langsung bertindak. Membawa Darson dan Darron menatap punggung Elle tidak rela, karena keduanya ditarik mundur oleh penjaga rumah yang ikut.
TRANG! SRET!
Elle berhasil menjatuhkan dua orang lagi, kemudian berbalik menatap kepergian ayah dan adiknya. Tapi pembunuh bayaran itu ternyata mengikuti mereka, membuat Elle menggertakkan giginya marah. Dan berlari ke arah mereka untuk menghabisi para pembunuh bayaran itu.
Berjuang sendirian, tanpa perlindungan para penjaganya, Elle dengan berani melompat. Menendang dan memukul para pembunuh bayaran dengan tatapan tajamnya. "Kalian para bajingan ini! Pantas mati!" Pekik Elle kemudian menebaskan pedangnya, satu persatu melukai dan akhirnya berhasil membunuh.
Elle akhirnya mampu mengejar ketertinggalannya. Ia berlari secepat kilat menuju ayah dan adiknya, dan melihat mereka kembali dikepung, Elle maju dengan tebasan pedangnya lagi.
10 orang pembunuh bayaran lagi-lagi berhasil dijatuhkan. Membuat Elle menghirup nafas dalam-dalam. Tenang untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia terkejut dengan tusukan dipunggungnya.
"Ughk...uhuk!" Nafas Elle tersendat.
"GAN! KAU BAJINGAN! DIA PUTRIKU!" Teriak Darson, dengan mata merah menahan tangis dan emosi. Tapi kedua tangannya dicekal, begitupula Darron yang sama-sama tidak berdaya.
"KAKAK! KAKAK BERTAHANLAH!" Raung Darron yang sudah menangis. Kakaknya benar-benar ditusuk pedang. Ia tidak kalah oleh musuh diluar, tapi ternyata kalah oleh orang kepercayaan ayahnya.
"Matilah!" Pekik Gan seraya memperdalam tusukan pedangnya. Membuat Elle terbatuk hebat, darah segar mengalir dari dada, punggung dan mulutnya.
"Ke...napa?" Tanya Elle dengan susah payah, sebelum akhirnya ia jatuh berlutut.
Gan maju, dan berdiri dihadapan Elle. Ia menatapnya dengan penuh kebencian dan senyum sinis yang tampil. "5 tahun lalu, ketika kau mulai masuk menjadi prajurit. Kau pasti ingat ada seorang prajurit perempuan lain bernama Sindary. Hahaha, benar, dia putriku. Kau! Kau membunuhnya!" Teriak Gan dengan mata merah. Ia sudah menahannya selama bertahun-tahun, ia pikir ia tidak bisa membalaskan dendam putrinya tapi kesempatan ini tiba.
"Sindary tidak dibunuh, ia bunuh diri Gan! Kau bajingan, putriku tidak salah apa-apa!" Teriak Darson lagi, jelas membela sang putri. "Bukankah kau tahu faktanya?! Kenapa melampiaskannya pada putriku!!!" Teriaknya berlanjut. Kedua mata yang memerah itu kini sudah basah oleh air mata.
Sebagai seorang ayah, untuk menyelamatkan putrinya saja ia tidak mampu. Benar-benar menyesalkan dirinya sendiri. "Lepaskan, kalian sekelompok penghianat! Lihat apa yang akan dilakukan kaisar pada kalian nanti!" Pekik Darson seraya memberontak, hingga akhirnya ia terlepas mengambil pedang dan mulai menebas dua orang penjaga rumah yang mencekalnya.
Srang! Trang! Srett!
Penjaga berhasil dilumpuhkan, jadi ia mulai menyerang Gan. Tapi keduanya setara dalam ilmu pedang. Jadi butuh lebih banyak waktu bagi Darson hingga benar-benar mengalahkan Gan.
Sedangkan Darron sudah berlari menghampiri Elle yang sekarat. "Kakak! Kakak aku mohon bertahan, oke? Kakak, kau sudah berjanji padaku, kakak aku mohon...Hiks, ayah! Ayah cepatlah bawa kakak pada tabib!" Raung Darron, melihat keadaan Elle yang bernafas saja sudah kesulitan karena Darah memenuhi saluran pernafasannya.
Darron terus menatap Elle, yang berbicara tanpa suara. Tubuhnya sudah lemah sejak awal, ditambah melihat keadaaan sang kakak yang sekarat, tubuhnya sudah gemetar hebat, bahkan bibirnya terlihat sangat pucat saat ini.
Sedangkan Elle terlihat membuka mulut untuk memberitahu Darron. Elle sendiri tahu waktunya tidak banyak lagi, mungkin ia benar-benar akan mati kali ini. Pedang yang masih tertusuk di punggung sampai dadanya mengenai organ vital. Sekuat apapun dirinya, tubuhnya tidak akan mampu.
'Darron, jaga ayah untukku.... Jaga juga dirimu, kalian harus hidup dengan baik.'
"Tidak! Kakak! Jangan tutup matamu....AYAH!" Raung Darron semakin menjadi, nafasnya mulai terengah, membuat Darson yang baru saja mengalahkan Gan, berlari cepat dengan kedua tangan yang berlumuran darah.
"Elle sayang, tidak... Jangan tinggalkan ayah. Angkat, ayo pergi cari tabib! Bala bantuan mungkin sudah tiba!" Ucap Darson dengan mata basah, kemudian menggendong putrinya dan berlari kembali ke depan untuk mencari bantuan.
Begitu ke depan, tidak ada lagi pertempuran, hanya terdengar rintihan dan teriakan kesakitan banyak orang. Bala bantuan memang sudah tiba.
"Wakil Jenderal! Bantu aku! Selamatkan putriku!" Teriak Darson, membuat perhatian semua orang teralih. Sang wakil yang memang sedang mencari Elle diantara kerumunan pun dengan cepat berlari menghampirinya.
"Nona Ellenoir....Jenderal... Maaf, aku terlambat..." Ucapnya dengan suara bergetar, kedua matanya juga basah.
Elle menatapnya, kemudian menggelengkan kepala. Ia tidak akan selamat. Ia tahu jelas bagaimana kondisinya. Ia masih sadar karena keinginannya masih kuat. 'Wakil jenderal, aku titip ayah dan adikku. Gantikan aku memimpin dan melindungi kerajaan.'
'Ayah... Adik... Jangan berlarut dalam kesedihan. Terimakasih, aku sayang kalian...' Ucapnya sebelum benar-benar menutup mata.
"ELLE! TIDAK! TIDAK!" Raung Darson menjadi. Darron sudah tidak bisa mengatakan apapun hanya bisa terisak dan terengah, dengan suara keras. Disisi lain, para prajurit dan wakil jenderal langsung berlutut memberikan penghormatan terakhir. Bahkan langit seolah mengantar kepergiannya, mulai menurunkan air dengan deras. Darah yang tersebar, mulai mengalir dan menggenang.
Setelah 5 tahun berjuang, memimpin dan melindungi kerajaan, pada akhirnya ia kembali bersatu bersama alam. Ellenoir, sang prajurit perempuan yang dicintai semua kalangan, gugur dalam sebuah kejadian pemberontakan yang diprakarsai pangeran ketiga.
**