NovelToon NovelToon
Sebelah Mata

Sebelah Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dunia Masa Depan / Keluarga / Karir / Persahabatan / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: joekris

Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.

Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.

Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: GERBONG EKONOMI DAN KEGELISAHAN YANG MELAJU

Stasiun Gubeng di malam hari adalah labirin besi yang pengap. Jonatan berdiri di peron, terjepit di antara tumpukan kardus mi instan dan keranjang sayur milik pedagang yang hendak menuju barat. Bau minyak pelumas kereta yang tajam menusuk hidungnya, bercampur dengan aroma keringat ratusan orang yang lelah. Ketika kereta ekonomi itu akhirnya datang—sebuah rangkaian besi tua yang berderit memilukan—Jonatan merasa seolah sedang melihat naga raksasa yang siap membawanya masuk lebih dalam ke jantung Jawa.

Ia tidak punya kursi. Tiket yang mampu ia beli hanyalah tiket tanpa nomor tempat duduk. Begitu pintu gerbong terbuka, gelombang manusia meledak masuk. Jonatan terdorong, tas kainnya ditarik, bahunya ditabrak. Ia dipaksa berjuang hanya untuk mendapatkan ruang berdiri di dekat sambungan gerbong yang bising.

Di sana, di antara dua pintu besi yang terus berguncang, Jonatan meletakkan tasnya di lantai yang kotor oleh abu rokok dan kulit kacang. Ia duduk di atas tasnya sendiri, memeluk lututnya, sementara kereta mulai bergerak perlahan, meninggalkan lampu-lampu Surabaya yang remang.

"Permisi, Mas. Kakinya bisa digeser sedikit?"

Seorang wanita tua dengan bakul besar di punggungnya menatap Jonatan. Wajahnya penuh peluh, dan garis-garis di wajahnya mengingatkan Jonatan pada neneknya di kampung. Jonatan segera berdiri, memberi ruang bagi wanita itu untuk meletakkan bakulnya.

"Terima kasih, Mas. Masnya dari jauh ya?" tanya wanita itu sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan potongan koran.

"Iya, Ibu. Dari Timor," jawab Jonatan singkat. Ia tidak ingin bicara banyak. Setiap kali ia membuka mulut, logatnya yang berbeda selalu mengundang tatapan mata penumpang lain—tatapan yang penuh selidik, seolah ia adalah makhluk asing yang salah masuk gerbong.

"Wah, jauh sekali. Mau merantau?"

"Mau sekolah, Ibu."

Wanita itu tersenyum kecil, memperlihatkan gigi yang sudah tidak lengkap. "Bagus, Mas. Sekolah yang tinggi supaya tidak jadi kuli panggul seperti anak-anak saya. Di Jawa ini, kalau tidak punya ijazah, kita hanya jadi pelengkap penderita saja."

Jonatan terdiam. Kalimat itu—pelengkap penderita—terasa seperti silet yang menggores hatinya. Ia kembali duduk di atas tasnya saat wanita itu mulai tertidur pulas bersandar pada bakulnya. Kereta kini melaju kencang menembus kegelapan malam Jawa Timur. Di luar jendela, hanya ada bayangan hitam pohon-pohon jati dan sesekali lampu lampu kecil dari rumah penduduk yang tampak seperti kunang-kunang di tengah laut.

Rasa haus kembali menyerang. Air di botolnya sudah habis total. Ia menatap ke arah gerbong restorasi, di mana orang-orang bisa membeli kopi panas atau nasi bungkus. Tapi ia mengurungkan niat. Setiap rupiah yang ia simpan adalah taruhan nyawa ayahnya di hadapan Tuan Markus. Ia mencoba menelan ludah, tapi kerongkongannya terasa seperti dikerik dengan amplas.

Untuk mengalihkan rasa haus dan lapar, Jonatan mengambil buku catatannya. Di bawah lampu gerbong yang berkedip-kedip redup, ia menulis dengan tulisan yang miring karena guncangan kereta:

Kereta ini tidak berhenti berteriak, Bapak. Setiap kali rodanya menghantam rel, ia seolah meneriakkan namamu. Aku duduk di dekat pintu, menghirup debu rel yang masuk dari sela-sela jendela. Di sini, orang-orang tidur dengan kepala di atas tas, menjaga milik mereka seolah semua orang adalah pencuri. Aku rindu udara Oetimu yang kering tapi jujur. Di sini, udara pun terasa seperti barang yang harus diperebutkan.

Tiba-tiba, kereta melakukan pengereman mendadak. Ckiitt! Tubuh Jonatan terlempar ke depan, dahinya menghantam dinding besi gerbong. Penumpang lain berteriak kaget. Suasana mendadak riuh. Ternyata ada gangguan sinyal di tengah hutan jati. Kereta berhenti total. Listrik di dalam gerbong pun padam, menyisakan kegelapan yang pekat.

Dalam kegelapan itu, kegelisahan Jonatan memuncak. Ia meraba sakunya, memastikan uang dan sertifikat sementara pendaftarannya masih ada. Di sekitarnya, ia mendengar bisik-bisik yang mulai liar.

"Daerah sini sering ada bajing loncat kalau kereta berhenti begini," bisik seseorang di kegelapan.

Jantung Jonatan berdetak kencang. Ia memeluk tasnya lebih erat. Di dalam tas itu ada buku-bukunya, tapi yang lebih penting, ada harapan seluruh keluarganya. Ia tidak peduli jika ia dipukul, tapi ia tidak boleh kehilangan tas ini. Ia merasakan keringat dingin mengucur dari pelipisnya.

Dalam kesunyian yang mencekam itu, Jonatan teringat akan sebuah lagu rakyat yang sering dinyanyikan ibunya saat menumbuk jagung. Sebuah lagu tentang keberanian seorang pemuda yang menyeberangi lautan untuk mengambil api dari gunung. Ia mulai bergumam pelan, menyanyikan melodi itu di bawah napasnya. Lagu itu adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki saat ini.

Setelah hampir satu jam yang terasa seperti selamanya, mesin kereta kembali menderu. Lampu menyala redup, dan roda kembali berputar. Jonatan mengembuskan napas lega. Ia melihat ke sekeliling; wanita tua di depannya masih tidur, tidak terusik sedikit pun oleh kegaduhan tadi. Begitulah orang-orang ini—mereka sudah terbiasa dengan ketidakpastian, sudah terbiasa dengan hidup yang compang-camping.

Menjelang subuh, kereta mulai memasuki area pegunungan. Udara menjadi sangat dingin. Jonatan yang hanya memakai kaos pudar mulai menggigil. Ia merapatkan sarungnya, mencoba mencari sisa-sisa kehangatan dari bau rumah yang tertinggal di kain itu. Ia melihat ke jendela. Kabut putih menyelimuti sawah-sawah yang mulai terlihat menghijau di bawah cahaya fajar yang pucat.

Pemandangan itu begitu indah hingga ia lupa sejenak pada rasa laparnya. Hijau yang merata, air yang melimpah di selokan sawah—sesuatu yang mustahil ditemui di Oetimu. Ada rasa iri yang sempat terbersit di hatinya. Kenapa Tuhan memberikan air yang begitu banyak di sini, tapi tidak di tanahku? batinnya. Namun, rasa iri itu segera berubah menjadi tekad.

"Aku akan belajar di sini, di tanah yang subur ini," bisiknya pada kaca jendela yang berembun. "Dan aku akan membawa 'hijau' ini pulang ke rumahku."

Saat matahari benar-benar terbit, kereta akhirnya memasuki kota tujuannya. Pengeras suara stasiun mengumumkan pemberhentian. Jonatan bangkit, kakinya terasa kesemutan dan berat. Ia membantu wanita tua tadi menurunkan bakulnya dari rak atas.

"Terima kasih, Mas Ganteng. Semoga sukses sekolahnya, ya. Jangan lupa, jangan pernah malu jadi orang Timor," ucap wanita itu sambil menepuk lengan Jonatan.

Jonatan tersenyum tulus. Itu adalah kalimat paling ramah yang ia dengar sejak menginjakkan kaki di pulau ini.

Ia turun dari gerbong, menginjak peron dengan langkah yang lebih mantap meskipun matanya merah karena kurang tidur. Di depan stasiun ini, di kota yang sejuk ini, kampusnya berada. Jonatan menarik napas panjang, menghirup udara pagi yang segar. Ia tidak tahu di mana ia akan tidur malam ini, atau apa yang akan ia makan nanti siang. Tapi ia tahu satu hal: gerbong ekonomi yang gelisah itu telah berhasil membawanya sampai ke sini.

Langkah pertama dimulai sekarang. Dan Jonatan bersumpah, ia tidak akan pernah membiarkan roda-roda nasib melindasnya tanpa perlawanan.

1
Kustri
terharu qu😳
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
Kustri
pa johan, smoga kebaikanmu membuat jon smakin bersemangat
Kustri
ya Allah... sepatu pinjaman, itu tetangga baik hati'a
Kustri
penasaran bawa sepatu gk dr oetimu
Kustri
sumpah, setiap baca sedih bgt😭
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
joekris: Amin kak
total 1 replies
Kustri
💪💪💪jon
Kustri
merinding baca'a
kasian
Kustri: insya Allah, thor
total 2 replies
Prabu Hangku
Gila gila asoy bener cerita nya
sendi syam
Keren
🦊 Ara Aurora 🦊
thor gue mampir nih 😅 maaf terlambat mampir yah baru sekarang bisa 🙏
Rizky Rahmat
Alur cerita nya dari kisah nyata kah?
Tarno Hangku
Keren
sendi syam
Semoga bisa bawa nama ntt ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!