NovelToon NovelToon
DETERMINED

DETERMINED

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Playboy / Anak Genius / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Murid Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua puluh Tiga

"Lo sama Bang Febri udah lama saling kenal?" tanya Abil mengawali pembicaraan.

Abil dan Meira berjalan bersisian menyusuri jalanan menuju kota. Jarak Panti Asuhan ke kota memang tidak terlalu jauh, hanya butuh beberapa ratus meter saja untuk sampai ke halte pinggir jalan raya, tempat angkutan umum berhenti. Itulah sebabnya, Abil memutuskan untuk mengantar Meira sampai ke halte karena tidak enak jika cewek itu harus pulang jalan kaki sendirian.

"Kak Ian?"

"Iya." sahut Abil cepat.

Untuk beberapa saat, Meira tidak langsung merespon pertanyaan Abil.

"Dulu Kak Ian itu asisten Papa di kantor. Kak Ian udah lama banget kerja bareng Papa, bahkan kata Papa sejak dia baru lulus sekolah. Bisa dibilang, Kak Ian adalah orang kepercayaan Papa. Jadi, karena itu aku sama Kak Ian kenal, lebih tepatnya udah akrab banget."

"Oh, gitu ya." Abil mengangguk-anggukan kepalanya sebagai tanggapan. "Jadi, kedatangan lo ke Lampung bukan tanpa alasan, kan?" lanjutnya.

Meira tak langsung menyahut. Ia seperti berpikir beberapa saat. "Aku bingung harus jelasinnya gimana. Menurutku, semua ini kurang masuk akal."

Abil mengerutkan keningnya pertanda tidak mengerti.

"Iya." Meira mengganguk sambil membalas tatapan kebingungan dari Abil. " Dua tahun lalu, tepat saat kelulusan SMP, ada pesan masuk dari orang gak dikenal. Setiap hari orang itu terus-terusan kirim aku pesan yang isinya hampir semuanya sama. 'Selamatkan Ibumu'. Makin dipikirin, rasanya hati aku makin nggak karuan. Aku takut terjadi apa-apa sama Mama. Sampai akhirnya, orang itu kirim pesan yang beda, dia nyuruh aku buat pergi ke Lampung."

Meira kembali menatap Abil yang diam, terlihat jelas kebingungan di wajahnya. "Kamu mungkin nggak bakalan percaya. Tapi, kamu harus tahu. Pesan dari orang misterius itulah alasan kuat buat aku sampai disini." lanjutnya.

"Maksudnya?"

"Gini. Kamu ingat hari dimana Rey minta adu soal pas pulang sekolah?" Meira bertanya, yang langsung diangguki cepat oleh Abil.

"Iya, gue ingat."

"Waktu itu mungkin kamu dan semua orang yang ada di kelas bingung kenapa aku pergi gitu aja." Meira terkekeh di sela-sela ucapannya. "Penyebabnya, ya itu. Orang misterius itu kirim aku lokasi, dia bilang Mama aku ada di tempat itu. Tapi, yang aku temuin cuma manajer Kafe dan dia kasih aku kotak kecil yang katanya itu peninggalan terakhir Mama sebelum menghilang."

Abil tampak berpikir sejenak berusaha mencerna ucapan Meira. Tatapannya terarah pada jalanan lurus di depannya sambil mengimbangi langkah pelan Meira.

"Kalau gitu, kedatangan lo ke Panti juga karena..."

"Iya." Meira menyela. "Semuanya karena arahan dari orang misterius itu. Orang itu seolah tahu segalanya tentang Mama. Aku penasaran, sebenarnya siapa orang dibalik pesan-pesan itu. Kenapa dia nggak langsung kasih tau aja dimana keberadaan Mama, jangan malah ngasih teka-teki kayak gini. Aku pengen banget ketemu Mama. Meski dalam kenyataan pahit sekalipun." suara Meira berubah lirih.

Tidak ada yang bersuara lagi setelahnya. Meira dan Abil sibuk dengan pikirannya masing-masing.

"Jadi selama ini Kak Ian yang kirim pesan-pesan itu?" Meira sungguh penasaran.

Febrian tampak berpikir. "Pesan?" gumamnya. "Pesan apa? Kakak nggak pernah kirim pesan apapun, Mei. Kakak memang mencarimu, tapi semuanya gak pernah ada hasilnya. Nomor kamu saja Kakak nggak punya, apalagi kirim kamu pesan." ujarnya.

Meira membuang napas kecewa dengan jawaban Febrian. Jadi, siapa orang misterius ini? Dari mana dia tahu keberadaan Mamanya?

Abil berdehem beberapa kali untuk mengurangi kecanggungan yang sempat tercipta. "Lo gak apapa, Mei?"

Meira tersadar kemudian menoleh pada Abil yang sedang menatapnya. "Nggak, aku gak papa."

"Oh, iya. Aku mau tanya sesuatu." Meira tampak berpikir beberapa saat dan berusaha bertanya sehati-hati mungkin. "Tentang tadi Kak Rania itu—"

"Oh, soal itu." Abil menyela sambil terkekeh. "Maaf ya, Mei. Beberapa hari kemarin gue pernah cerita tentang Ayara yang sering gangguin gue ke Kak Rania. Jadi dia selalu antisipasi, kalau-kalau Ayara datang nemuin gue ke Panti, dia bakal pura-pura jadi tunangan gue." jelasnya. "Oh, ya, lo jangan cerita ke Ayara ya." pinta Abil dengan kekehannya.

Meira ikut terkekeh mendengar penjelasan dari cowok di sebelahnya. Ada-ada saja memang. "Tenang aja, aku nggak bakal ngadu." ia menatap Abil sejenak. "Ngomong-ngomong, dulu gimana ceritanya Ayara bisa sampe kepincut sama kamu sih? Tiap aku tanya ke Ayara alasannya, dia pasti cuma jawab kalo kamu itu orangnya beda, dan Ayara baru pertama kali ketemu sama cowok kayak kamu."

Abil tersenyum kecil mendengar pertanyaan Meira. "Itu.. gue kenal dia di acara olimpiade tiga tahun lalu. Waktu itu dia hampir kalah dan hampir nangis juga, gue yang liat itu langsung kasihin semua jawaban buat bantuin dia kejar skor lawan. Padahal gue sama sekali nggak pernah ajak dia ngobrol. Gue sempet bohong ke dia dengan bilang kalo gue udah punya tunangan pas dia minta nomor gue. Gue juga heran, kenapa dia bisa suka sama gue. Apalagi sampe bela-belain susul gue pindah sekolah kesini." jelas Abil sambil terkekeh.

Meira ikut tertawa pelan. "Berarti tunangan yang pernah Ayara ceritain itu sebenarnya nggak nyata? Cuma alibi belaka biar Ayara nggak ganggu kamu lagi?" tanya Meira masih penasaran.

Abil menghentikan kekehannya. "Gue emang nggak punya tunangan, saat itu gue cuma lagi deket sama satu cewek. Tapi, dia udah meninggal tiga tahun lalu."

Meira sedikit terkejut dengan ucapan Abil. "Kenapa bisa meninggal?" tanyanya refleks.

Deg!

Abil tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Hatinya terasa bergejolak ketika ada seseorang yang mengingatkan bahwa Lyra, orang yang dulu pernah ada di sampingnya sudah meninggal. Sudah pergi untuk selama-lamanya dan tidak akan pernah kembali lagi.

Langkah Meira ikut terhenti. Ia menoleh pada Abil dengan perasaan bersalah. "Sorry, aku nggak bermaksud..."

Abil menghela napas berat beberapa kali untuk menguasai dirinya sendiri. "Nggak papa." jawabnya lemah sambil kembali melangkahkan kakinya.

Untuk waktu yang cukup lama, keduanya tidak bersuara lagi. Keramaian kota terasa sangat sunyi bagi mereka. Abil sibuk dengan pikirannya. Ia belum mau berbicara apa-apa lagi. Sedangkan Meira merasa sangat bersalah karena telah mempertanyakan pertanyaan yang mungkin menyinggung perasaan cowok itu.

"Cuacanya panas banget, beli minum dulu gimana?" tawar Abil ketika baru saja tiba di halte.

Meira menoleh, alisnya terangkat sebelah. "Minum? Boleh." angguknya.

"Tunggu bentar, biar gue beliin." perintahnya.

Meira hanya mengganguk lalu duduk di kursi tunggu yang tersedia di halte. Sedangkan Abil berjalan menuju pedagang kaki lima yang ada di seberang jalan.

Sembari menunggu, Meira memainkan ponsel miliknya untuk sekedar membalas chat dari Ayara dan temannya yang lain. Namun, perhatiannya teralihkan oleh kedatangan dua orang pria berpenampilan menakutkan di mata Meira. Mereka berdua tiba-tiba saja duduk mengapit Meira tanpa permisi.

"Mau kemana cantik? Kok sendirian aja." tanya salah satu pria yang duduk di sebelah kiri Meira.

Meira bangkit dari duduknya lalu berdiri di ujung halte, berusaha menjauh dari dua pria itu.

"Nggak usah takut begitu dong. Sini biar Abang temenin." timpal satunya.

Meira kembali melangkah menjauh, tidak mau meladeni. Tubuhnya terasa gemetar ditambah dengan keringat dingin yang mulai memenuhi keningnya. Ia sungguh ketakutan saat ini. Pandangannya mengarah pada pedagang kaki lima yang sempat di datangi Abil. Namun, ia tidak dapat menemukan cowok itu disana.

Rasa takutnya semakin meningkat ketika salah satu dari kedua pria itu mulai berani menyentuh lengannya. Ingin sekali rasanya ia menjerit, tapi suaranya tertahan.

Baru saja Meira berniat untuk menjauh kembali, sebuah tangan menggenggamnya erat dan membuatnya mengurungkan niatnya. Meira menolehkan kepalanya ke samping, matanya langsung menemukan Abil yang sudah berada disebelahnya. Abil menautkan jari-jarinya dengan jari tangan Meira. Menggenggamnya erat sekali.

"Permisi, jangan ganggu pacar gue!"

Dua pria itu menoleh serentak pada orang yang baru saja datang dan memberikan sebuah peringatan dengan tatapan tajam.

Tanpa kata-kata lagi, Abil langsung membawa Meira pergi menjauh dari sana. Terdengar jelas umpatan kecewa dari salah satu pria itu. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk pergi dari halte.

Meira mengikuti tuntunan tangan Abil. Ia belum bisa meredam rasa terkejutnya dengan situasi tadi.

...\~\~\~...

1
Zanahhan226
ups, penuh misteri sekali ini..
listia_putu
ceritanya bagus kok, udah melewati 10 bab yg aku baca. tp kenapa pembacanya sedikit??? heran....
Zanahhan226
menarik dan misterius..
Zanahhan226
halo, aku mampir, Kak..
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
anggita
mampir ng👍like aja☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!