Di dunia yang penuh dengan kilatan kamera, Alice Vane adalah satu-satunya hal yang nyata bagi Julian Reed. Namun, bagi Julian, mencintai Alice berarti harus mengawasinya dari kejauhan—sambil membenci setiap pria yang berani bernapas di dekatnya.
Alice adalah magnet. Dari penyanyi manis Sean Miller hingga rapper tangguh D-Rock, semua menginginkannya. Alice tidak pernah sadar bahwa setiap tawa yang ia bagikan dengan pria lain akan dibalas oleh Julian dengan lirik lagu yang menghujatnya di radio keesokan harinya.
Saat Julian mulai menggunakan diva pop Ellena Breeze untuk memancing cemburu Alice, permainan pun berubah. Di antara lagu sindiran, rumor palsu, dan kepemilikan yang menyesakkan, Alice harus bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ia benar-benar pelabuhan bagi Julian, atau hanya sekadar inspirasi yang ingin dipenjara dalam sangkar emas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. The Final Settlement
Sore itu, kediaman keluarga Vane terasa sangat tenang. Namun, di dalam ruang kerja Ayah Alice, suasana terasa begitu formal. Julian duduk di sana, didampingi Ayah Alice yang kini sudah ia anggap sebagai mentor dan pelindungnya. Di depan mereka, duduk Ellena Breeze dan manajernya, Mark.
Tidak ada kamera. Tidak ada riasan tebal. Ellena terlihat seperti wanita biasa, namun matanya tetap memancarkan ambisi yang besar.
"Jadi, kau benar-benar ingin melakukan ini, Julian?" suara Ellena memecah keheningan. "Kau ingin menghancurkan apa yang sudah kita bangun selama bertahun-tahun? Hanya untuk gadis itu?"
Julian menarik napas panjang, menatap Ellena dengan tatapan yang tidak lagi penuh amarah, melainkan belas kasihan. "Ini bukan soal Alice saja, Ellena. Ini soal aku, kau, dan kebohongan yang membunuh kita perlahan. Aku sudah lelah hidup dalam sandiwara. Aku ingin bebas, dan aku ingin kau juga bebas mencari kebahagiaan yang nyata."
Mark, sang manajer, tertawa sinis. "Bebas? Kau pikir pihak elit itu akan melepaskanmu begitu saja? Kau punya utang budi pada mereka, Julian."
Ayah Alice kemudian meletakkan sebuah map tebal di tengah meja. "Sebenarnya, kitalah yang memegang kendali sekarang, Mark. Di dalam sini ada bukti transfer gelap dari perusahaan cangkang milik agensi kalian ke beberapa pejabat tinggi untuk menutupi kasus-kasus lama. Jika ini sampai ke pengadilan, bukan hanya karier Julian yang hancur, tapi seluruh agensi kalian akan dibekukan."
Wajah Mark memucat seketika. Ellena pun terdiam, jemarinya sedikit gemetar.
"Aku tidak ingin menghancurkanmu, Ellena," lanjut Julian lembut. "Aku sudah bicara dengan pengacaraku. Kita akan merilis pernyataan bersama. Kita akan bilang bahwa kita sudah lama berpisah secara baik-baik, tapi merahasiakannya demi kesehatan mentalmu. Kau tetap bisa menjadi 'korban' yang terhormat di mata publik, dan aku akan membayar denda kontrakmu secara pribadi. Tapi setelah ini... kita selesai secara hukum dan hati."
Ellena menatap Julian lama. Ia melihat ada ketenangan yang sangat dalam di mata pria itu—sesuatu yang tidak pernah ia lihat selama mereka bersama. "Kau berubah, Julian. Sejak kapan kau jadi sebijak ini?"
"Sejak aku belajar bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari industri ini," jawab Julian singkat sambil melirik ke arah Ayah Alice. "Tuhan memberiku kesempatan kedua, Ellena. Dan aku ingin mengambilnya."
Setelah perdebatan panjang, Ellena akhirnya meraih pena dan menandatangani dokumen pembatalan kontrak mereka. Ia menatap Julian untuk terakhir kalinya. "Dia beruntung memilikimu sekarang, Julian. Karena Julian yang dulu... aku tidak akan pernah melepaskannya."
Sementara itu, di Paris, suasana justru mencekam. Alice sedang berlutut di lantai kamarnya, mengacak-acak isi laci dengan air mata yang terus mengalir.
"Sean! Aku tidak menemukannya! Paspor itu benar-benar hilang!" isak Alice.
Sean masuk ke kamar, membawa segelas air, wajahnya tampak sangat tenang—terlalu tenang. "Tenanglah, Alice. Mungkin kau menjatuhkannya di taksi kemarin."
"Tidak mungkin! Aku menaruhnya di sini, Sean!" Alice mendongak, menatap Sean dengan putus asa. "Hari ini ulang tahun Ibu. Julian sudah menyiapkan segalanya di sana. Dia menungguku, Sean!"
Sean meletakkan gelas itu di meja dengan dentingan keras. "Kenapa setiap kalimatmu harus ada nama Julian, Al? Apakah usahaku di sini selama berbulan-bulan tidak ada artinya?"
"Ini bukan soal itu!" Alice berdiri, mencoba mencari di saku jaket Sean yang tergantung. "Aku hanya ingin pulang! Tolong bantu aku, Sean!"
Saat Alice merogoh salah satu saku jaket Sean, ia merasakan sesuatu yang keras. Jantungnya berdegup kencang. Ia menarik benda itu keluar. Itu adalah paspornya. Namun, kondisinya mengenaskan—halamannya sudah robek di bagian foto.
Alice tertegun. Ia menatap paspor yang rusak itu, lalu menatap Sean dengan ngeri. "Sean... apa ini?"
Sean tidak berpaling. Ia justru melangkah maju, menutup pintu kamar dan menguncinya. "Kau tidak akan pergi, Alice. Tidak ke Amerika, tidak ke orang tuamu, dan terutama... tidak ke Julian Reed."
"Kau... kau yang merusaknya?" suara Alice bergetar hebat. "Kenapa, Sean? Aku memercayaimu!"
"Karena aku mencintaimu!" teriak Sean, suaranya memenuhi ruangan. "Julian hanya memberimu rasa sakit, sedangkan aku memberimu dunia! Aku melindungimu dari paparazzi, aku memberimu karier di Paris! Kenapa kau masih ingin kembali pada pria yang bahkan tidak bisa menjagamu?"
"Kau tidak mencintaiku, Sean! Kau terobsesi!" Alice mencoba lari menuju pintu, namun Sean mencengkeram lengannya dengan kuat.
"Kau akan tetap di sini, Al. Aku sudah memesankan tiket untuk kita ke Maldives besok. Kita akan menghilang sebentar sampai kau lupa pada Julian," bisik Sean dingin.
Alice meronta, namun Sean mendorongnya ke tempat tidur. "Diamlah di sini. Aku akan mengambilkan makan malam. Jangan mencoba menelepon siapa pun, karena aku sudah mematikan sinyal internet di rumah ini."
Alice meringkuk di atas kasur, memeluk paspornya yang rusak. Ia merasa sangat bodoh karena telah memercayai Sean. Di tengah ketakutannya, ia hanya bisa berbisik dalam hati, memanggil satu-satunya nama yang kini ia yakini akan datang menjemputnya.
"Julian... tolong aku..."
cemburu bilang /CoolGuy/
markicob baca...
se inter apa ya thor... /Tongue/