"Mulutmu harimaumu"
Demikian lah peribahasa sederhana yang seringkali kita dengar. Dijadikan pengingat agar kita berhati-hati dalam bertutur kata.
Sayangnya itu tak berlaku untuk seseorang di luar sana. Dengan ringan lisannya berucap tanpa peduli imbas negatif yang ditimbulkan.
Malam-malam yang tenang dalam sekejap berubah jadi menegangkan.
Hadirnya sosok tak kasat mata yang selalu mengawasi, tak hanya membawa rasa sakit tapi juga ketakutan.
Lalu siapa yang bisa bertahan sampai akhir, 'dia' atau mereka ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Janji Azam
Azam yang sedang berbincang dengan mandor pun menoleh saat Parto menyapanya.
"Assalamualaikum Zam. Lagi repot nih keliatannya," sapa Parto.
"Wa alaikumsalam, eh Juragan Parto. Apa kabar Juragan," kata Azam sambil menjabat tangan Parto erat.
"Hush, jangan panggil juragan. Saya cuma orang biasa sekarang. Ga enak kalo ada yang denger nanti," kata Parto salah tingkah.
"Tapi buat saya sama aja. Bapak tetap orang baik yang murah hati dan berjasa dalam hidup saya dan ibu saya. Kalo ga ada Bapak, ga tau deh gimana nasib kami dulu. Soalnya ga ada satu pun yang peduli sama kami. Sejak ayah meninggal, kami seolah tinggal sendiri di lingkungan yang katanya keluarga ini. Tapi sejak Bapak ngijinin saya bantu gembalain kambing sepulang sekolah, saya dan ibu saya jadi bisa makan bahkan hidup lebih baik," sahut Azam dengan mata berkaca-kaca.
Parto pun terharu mendengar ucapan Azam. Dia menepuk punggung Azam dengan lembut.
"Saya juga senang karena kamu anak yang rajin dan bertanggung jawab. Sejak kamu membantu saya, kambing saya tumbuh sehat dan besar. Saya jadi dapat untung banyak karena kambing saya bisa laku dengan harga tinggi dan di atas pasaran," sahut Parto hingga membuat Azam tersenyum.
"Sebenernya saya mau ngajak Bapak mampir, sayangnya rumah lagi kotor dan banyak debu. Tapi saya janji, pas rumah udah jadi, Bapak adalah orang pertama yang bakal saya undang masuk ke dalam rumah kami," kata Azam.
Parto pun tersenyum. Merasa sekarang bukan waktu yang tepat untuk meminta bantuan, Parto pun pamit.
"Katanya mau minta kerjaan buat anak, kok ga jadi Pak?" tanya Sabri.
"Kalian liat sendiri kalo Azam lagi repot. Nanti aja lah kalo rumah udah jadi dan dia punya waktu senggang," sahut Parto.
Warga pun mengangguk setuju. Setelahnya Parto melanjutkan langkahnya entah kemana.
"Kasian ya pak Parto. Dari kaya raya punya segalanya, eh sekarang jadi susah. Untung waktu kaya dia ga sombong, jadi pas bangkrut dia ga punya musuh," kata Sabri prihatin.
Azam yang tak sengaja mendengar ucapan Sabri pun ikut membenarkan dalam hati. Dia adalah saksi betapa Parto tetap membumi di saat kaya raya dulu. Azam tersenyum karena niatnya membalas kebaikan Parto dulu akan segera terwujud sebentar lagi.
"Sabar ya Pak. Setelah rumah ibu selesai, aku bakal bantu Bapak nanti," batin Azam.
Dua Minggu kemudian Azam membuktikan ucapannya. Malam setelah pengajian untuk tasyakuran rumah sang ibu digelar, dia meminta Parto yang saat itu juga hadir untuk menunda kepulangannya.
"Memang ada apa Zam?" tanya Parto.
"Begini Pak. Saya ... maaf kalo terkesan sok tau. Saya denger dari beberapa tetangga kalo Bapak lagi butuh uang. Bukan merendahkan atau gimana, saya cuma ingin membantu. Ini ada sedikit uang, semoga bisa sedikit meringankan beban Bapak," kata Azam sambil menyelipkan amplop berisi uang ke telapak tangan Parto.
Aksi Azam membuat Parto terkejut. Dia menatap anak muda di hadapannya itu beberapa saat.
"Bapak ga usah pikirin gimana cara ganti uang itu karena saya memang ga mau diganti. Saya memberinya dengan ikhlas. Ini sebagai ungkapan terimakasih saya atas kebaikan Bapak ke saya dan ibu saya dulu," kata Azam kemudian.
"Kamu ga perlu kaya gini Zam. Dulu kita kan memang bekerja sama. Kamu dapat gaji, saya juga dapat untung dari penjualan kambing saya yang kamu rawat dengan baik itu," sahut Parto.
"Tapi cuma Bapak yang mau nerima anak kecil kaya saya untuk kerja dan memberi gaji yang layak Pak. Kalo yang lain paling cuma nyuruh-nyuruh dan ngasih uang seenaknya. Mereka ngeremehin saya dan nganggap saya kacung yang ga berharga. Padahal jelas-jelas saya kerja buat bantu ibu," kata Azam kesal.
Parto menghela nafas panjang mendengar ucapan Azam. Setelahnya dia membuka amplop pemberian Azam dan terkejut saat melihat isinya.
"Saya memang lagi butuh uang, tapi saya ga mau kaya gini Zam," kata Parto.
"Terus Bapak maunya gimana?" tanya Azam.
"Begini, kasih saya atau anak laki-laki saya kerjaan. Jadi pelayan juga boleh kok. Saya yakin kamu pasti butuh pelayan untuk merawat rumahmu yang besar ini," pinta Parto.
Azam pun tertawa mendengar permintaan Parto.
"Saya ga mungkin jadiin Bapak pelayan karena Bapak dulu kan bos saya. Apa kata orang kalo liat saya nyuruh-nyuruh mantan bos saya," kata Azam di sela tawanya.
"Saya ga peduli. Yang penting keluarga saya bisa tetap makan dan saya dapat uang halal dengan cara bekerja. Rasanya itu lebih terhormat daripada saya nerima uang ini cuma-cuma begini Zam," sahut Parto.
Azam pun terdiam. Dalam hati dia kagum dengan prinsip Parto yang lebih memilih bekerja daripada menerima uang cuma-cuma.
"Gimana Zam?" tanya Parto.
"Saya omongin sama ibu dulu ya Pak. Saya kan belum tau ibu perlu orang ga untuk merawat rumah ini. Untuk sekarang Bapak bawa aja uang ini dulu. Nanti soal kerjaan kita bahas lain waktu," sahut Azam.
Parto pun tersenyum lalu mengangguk.
"Saya tunggu kabar baiknya ya Zam. Makasih," kata Parto.
"Sama-sama Pak," sahut Azam sambil tersenyum.
Setelah saling berjabat tangan, Parto pun pamit.
Di teras terlihat para tukang yang merenovasi rumah sedang duduk sambil berbincang ringan. Usai mengantar Parto keluar, Azam pun bergabung sejenak. Dia juga mengucapkan terimakasih sekali lagi karena rumah dipugar sesuai keinginannya.
"Saya suka sama hasil kerja Bapak-bapak. In syaa Allah kalo ada proyek di luar, saya bakal ajak Bapak-bapak buat bantu-bantu nanti," janji Azam.
Ucapan Azam tentu saja membuat tukang yang berjumlah lima orang itu senang. Apalagi Azam membayar mereka dengan upah yang lebih besar dari biasanya.
"Monggo dilanjut ngobrolnya, saya masuk dulu ya Pak," kata Azam kemudian.
"Silakan Mas," sahut para tukang bersamaan.
Setelah Azam masuk ke dalam rumah, para tukang pun melanjutkan obrolan mereka.
"Seneng kerja di sini. Mas Azam dan ibunya ramah, ga pelit lagi," kata salah seorang tukang.
"Betul. Suguhannya juga enak-enak," sahut tukang yang lain sambil memasukkan sepotong kue ke dalam mulut.
"Ck, kalo ngomong jangan sambil makan, nyembur nih," omel salah seorang tukang yang disambut tawa rekan-rekannya.
"Tapi sayang kerjaan kita udah selesai. Padahal saya masih betah di sini," kata salah seorang tukang.
"Tenang aja. Kan tadi mas Azam bilang bakal ngajak kita kerja. Sambil nunggu, kita bisa balik nggarap sawah. Lumayan kan ga nganggur-nganggur amat," sahut tukang lain yang diangguki rekan-rekannya.
Di dalam rumah Azam dan Sartika nampak tersenyum lebar mendengar obrolan para tukang itu.
"Emang kamu beneran mau ngajak mereka kerja Le?" tanya Sartika.
"In syaa Allah Bu. Kebetulan aku ada proyek deket sini. Daripada cari tukang lain yang belum kenal dan ga tau mutu kerjanya, lebih baik aku ajak mereka aja. Selain mempererat silaturrahim kan bisa bantu mereka juga," sahut Azam.
Sartika pun tersenyum bangga mendengar ucapan sang anak.
\=\=\=\=\=
Jika banyak warga yang bangga dengan pencapaian Azam, tapi ada seseorang yang justru 'kebakaran jenggot' melihat apa yang Azam raih.
"Sial*n, kenapa mereka bisa beruntung begitu sih. Udah beli mobil, emas, eh sekarang pake renovasi rumah segala. Ini ga boleh. Aku harus bertindak dan hancurkan semuanya. Aku curiga Azam dapat uang dari cara ga wajar. Dia cuma lulusan SMA, kerjaan apa yang bisa dia geluti sampe menghasilkan uang banyak begitu. Aku yakin setelah orang-orang tau apa yang Azam lakukan, dia dan ibunya pasti malu. Saking malunya, aku harap mereka bahkan ga bisa ngangkat kepala lalu pergi dari desa ini," gumam wanita itu sambil mengepalkan tangan.
Iri akan pencapaian tetangganya membuat wanita itu kehilangan akal sehat dan memilih jalan yang salah. Ya, untuk menghancurkan Sartika dan anaknya, dia berniat meminta bantuan seseorang yang biasa 'menyelesaikan' masalah menggunakan kekuatan hitam.
Sambil berpikir cara apa yang akan dia pilih untuk menyakiti Sartika dan anaknya, wanita itu terus mengamati mereka. Dia juga membaur dengan para tetangga bahkan ikut 'rewang' di rumah Sartika.
\=\=\=\=\=
bru baca soalnya