NovelToon NovelToon
Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sekretaris
Popularitas:38.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"

"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"

"Halah paling juga nanti kamu nyesal"

Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kaito dan Abian

Malam itu, Abian dan Juan sampai di sebuah restoran mewah yang memiliki arsitektur unik, sebuah perpaduan sempurna antara desain modern yang elegan dan sentuhan tradisional yang hangat.

Begitu mereka sampai di depan ruang VIP, suasana langsung terasa berbeda. Di sana sudah ada beberapa bodyguard berbadan tegap yang menjaga pintu dengan sangat ketat. Aura kekuasaan sangat terasa di area tersebut.

Pintu dibuka, dan mereka melangkah masuk. Di dalam ruangan, seorang laki-laki paruh baya tapi tetap terlihat awet muda duduk dengan tenang, didampingi oleh seorang sekretarisnya.

Abian segera mengatur ekspresi wajahnya menjadi sangat formal. Ia melangkah maju untuk memberikan kesan pertama yang sempurna.

"Good evening, Sir. It is a great honor to meet you tonight. I am Abian, the CEO of..."

Belum sempat Abian menyelesaikan kalimat pembukanya dalam bahasa Inggris, laki-laki paruh baya itu mengangkat tangannya sedikit sambil tersenyum tipis.

"Tidak perlu menggunakan bahasa Inggris," ucap laki-laki itu dengan pengucapan bahasa Indonesia yang sangat lancar dan jelas.

"Saya paham bahasa Indonesia. Kebetulan istri saya orang Indonesia."

Abian sedikit tertegun, namun dengan cepat ia merespons dengan senyum sopan. Sementara itu, di belakangnya, Juan nyaris merosot ke lantai karena lega.

"Terima kasih, Tuhan! Selamat nyawaku!" batin Juan sambil mengusap dadanya yang berdegup kencang.

Laki-laki paruh baya itu, yang tak lain adalah Kaito Kojima, mempersilakan Abian duduk..

"Silakan duduk, Pak Abian," ucap Kaito ramah. Ia kemudian mengisyaratkan tangannya ke arah pria muda di sampingnya.

"Perkenalkan, ini adalah sekretaris pribadi saya, Kenji. Dia yang akan membantu mengurus detail teknis dari sisi kami selama pertemuan ini."

Kenji menunduk hormat dengan sangat sopan kepada Abian dan juga Juan.

"Saya sudah banyak mendengar tentang Anda, Pak Abian. Anda masih sangat muda, tapi perkembangan perusahaan Anda di bawah kepemimpinan Anda benar-benar mengagumkan."

"Tidak banyak CEO muda yang memiliki ketenangan dan visi sejelas Anda. Saya sangat menghargai efisiensi kerja yang Anda tunjukkan selama ini. Itulah alasan utama mengapa saya tertarik untuk berdiskusi langsung dengan Anda malam ini."

Abian sedikit menundukkan kepalanya, merasa bangga sekaligus terhormat mendapatkan pujian langsung dari legenda bisnis seperti Kaito. "Terima kasih banyak, Pak Kaito. Itu sebuah kehormatan besar bagi saya. Saya hanya berusaha memberikan yang terbaik untuk tim saya."

Setelah diskusi yang cukup panjang akhirnya Kaito Kojima mengangguk puas dengan penjelasan Abian.

"Luar biasa. Saya rasa visi kita sejalan," ucap Kaito sambil tersenyum tenang. "Saya sepakat untuk menjalin kerja sama ini. Mari kita rayakan langkah awal ini dengan makan malam."

Pelayan mulai berdatangan menyajikan hidangan mewah di meja bundar tersebut. Sambil menikmati makanan, Kaito mulai menyusun strategi untuk masuk ke topik yang sebenarnya ia incar sejak awal. Ia menyesap minumannya perlahan, lalu menatap Abian.

"Pak Abian," panggil Kaito.

"saya dengar Anda memiliki seorang asisten yang sangat cekatan dan setia. Kalau boleh saya tahu, kenapa dia tidak ikut mendampingi Anda malam ini?"

Kaito sengaja menekan pertanyaannya. Sebenarnya, ia sudah tahu persis siapa asisten itu anak kandungnya sendiri yang baru saja mengusirnya pagi tadi.

Abian sempat terhenti sejenak saat mengunyah makanannya.

"Dia sedang ada urusan lain yang lebih penting, Pak Kaito," jawab Abian.

Kaito menaikkan sebelah alisnya, tersenyum penuh arti. "Oh? Pasti itu urusan yang sangat mendesak. Saya harap semuanya baik-baik saja dengan dia."

Abian hanya mengangguk sopan. Makan malam itu akhirnya usai dengan kesepakatan yang sangat menguntungkan bagi kedua belah pihak. Abian berdiri, merapikan jasnya, dan menjabat tangan Kaito dengan penuh rasa hormat.

"Sekali lagi terima kasih atas kepercayaan Anda, Pak Kaito. Kami akan segera mengirimkan draf kontrak finalnya besok pagi," ucap Abian dengan nada puas.

"Sama-sama, Pak Abian. Saya menantikan kerja sama besar kita," jawab Kaito ramah.

Abian kemudian memberi isyarat kepada Juan untuk bersiap pergi. Namun, baru saja mereka hendak melangkah menuju pintu keluar, suara berat Kaito kembali terdengar, menghentikan langkah mereka.

"Pak Abian, kalau tidak keberatan, bisa kita bicara berdua sebentar?" tanya Kaito.

Abian sempat mengernyit bingung, namun ia tetap bersikap sopan. Ia mengangguk pada Juan. "Juan, tunggu saya di mobil saja."

"Baik, Pak," jawab Juan patuh, lalu segera keluar diikuti oleh sekretaris Kaito dan para bodyguard yang berjaga di dalam.

Kini, ruangan VIP itu hanya menyisakan keheningan di antara dua pria tersebut. Kaito berjalan perlahan menuju jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota, tangannya bersedekap di belakang punggung.

"Ada sesuatu yang ingin Anda bicarakan, Pak Kaito? Sepertinya ini bukan lagi soal bisnis," tebak Abian.

Kaito berbalik, wajahnya yang tadi penuh senyum bisnis kini berubah menjadi serius.

"Ini memang bukan soal bisnis, Abian. Ini soal asistenmu......

......................

Nana sudah mengemas pakaiannya ke dalam tas kecil, sementara Sophia membantunya. Sophia menghentikan aktivitasnya sejenak, menatap sahabatnya itu dengan cemas.

"Yakin mau pulang hari ini, Na?" tanyanya pelan.

"Kondisi kamu sepertinya masih lemas. Kalau kamu butuh waktu satu atau dua hari lagi, aku bisa kok tetap di sini nemenin kamu."

Nana tersenyum tipis, sebuah senyum yang terlihat sangat dipaksakan namun tulus. Ia mengangguk pelan sambil menyampirkan tas di bahunya.

"Iya, Sof. Tapi sebelum berangkat, aku mau ke makam Mama dulu. Mau pamit," jawab Nana.

Sophia menghela napas, lalu meraih kunci mobilnya. "Oke, kalau itu mau kamu. Ayo, aku antar sampai ke makam, sekalian aku juga mau pamit sama Bude."

Mereka berdua berjalan keluar dari rumah yang kini sudah tertutup rapat. Nana sempat berhenti sejenak di ambang pintu, menatap rumah itu untuk terakhir kalinya, seolah-olah sedang merekam setiap sudut kenangan bersama ibunya sebelum benar-benar meninggalkannya menjadi rumah kosong kembali.

Nana dan Sophia berjalan perlahan menyusuri jalanan setapak di pemakaman yang masih basah oleh embun pagi. Suasana begitu tenang, hanya terdengar suara gesekan daun dan kicauan burung dari kejauhan.

Begitu sampai di depan pusara sang ibu, langkah Nana terhenti. Matanya tertuju pada sesuatu yang diletakkan tepat di atas gundukan tanah yang masih baru itu. Seikat besar bunga sedap malam.

Aromanya yang khas dan menenangkan langsung menyeruak, memenuhi indra penciuman Nana.

"Bunga sedap malam..." bisik Nana lirih. Suaranya tercekat. Ia tahu persis, itu adalah bunga kesukaan ibunya.

Nana berlutut, jemarinya menyentuh kelopak bunga yang masih segar itu. Ia tidak tahu siapa yang mengirimnya.

"Bu... Nana pulang ke Jakarta dulu ya," ucapnya dengan nada serak, tangannya mengusap nisan kayu yang tertulis nama wanita paling berjasa dalam hidupnya. "Ibu jangan khawatir di sini. Nana bakal jaga diri baik-baik. Nana bakal kerja keras seperti yang Ibu mau."

Air matanya kembali jatuh, tapi kali ini bukan tangis histeris. Itu adalah tangis keikhlasan. Ia mencium nisan itu dengan takzim, seolah sedang mencium tangan ibunya untuk terakhir kali sebelum berangkat kerja.

"Nana pamit ya, Bu. Assalamualaikum."

1
Alissia
papa🤣🤣
Alissia
cie Abian suka sama Haruna tapi gengsi🤣
Alissia
omongan Abian kayak sambel level setan🤣
Alissia
yang asli paling bosnya itu suka sama Haruna tapi gensi segede gaban🤣
Alissia
palingan bosnya itu cemburu,kalau Nana punya pacar bosnya julid dengan Nana dan karena bosnya itu jomblo, iri dengan Nana yang memiliki pacar di katai tukang galon
🤣😭
Fitria Syafei
KK cantik mantaf 🥰🥰 terimakasih 😘
Asyatun 1
lanjut
Redmi Nam
thor GK sabar liat Abian bucin kenana
update nya jangan lama" dunk
Pa Muhsid
raka dan naufal seperti nya akan perang rudal, gitu ga sih
Asyatun 1
lanjut
Ani
jangan jangan yang dijodohin sama Shopia si Raka temannya Abian
Aidil Kenzie Zie
nyawa anaknya udah diincar musuh masih aja bapaknya main kucing-kucingan dikasih apartemen mewah gitu
apa yang dijodohkan sama Sofia temannya Abian🤔🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
kok bawa-bawa ayahnya Bian aturan kan kamu sendiri yang tawarin apartemen ke Nana.biar Nana respect sama kamu
partini
lah Kaito gitu amat
Redmi Nam
thor lama banget nunggu Abian nyatain perasaanya ke nana
Aidil Kenzie Zie
si Raka main tebak-tebakan
Risma Surullah
haruna bar bar tapi bodoh
Ani
makanya jangan ngeyel udah di ingatkan juga.. udah kayak gitu ingat juga sama Abian 😤😤😤😤
Redmi Nam
kanebo kering mulai banyak pesaing nich..
Redmi Nam
Abian udah kerjasama dengan ayah haruna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!