tentang dia yang samar keberadaannya tapi pasti tentang rasa cintanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Frekuensi Nol
Satu tahun setelah reruntuhan mercusuar tenggelam, Arthur (Arlo) terbangun bukan karena suara alarm, melainkan karena keheningan yang terlalu tajam. Di sampingnya, kasur sudah dingin. Elara tidak ada di sana.
Ia melangkah ke ruang tengah rumah kecil mereka. Di atas meja kayu, terdapat sebuah perangkat kecil yang belum pernah ia lihat sebelumnya sebuah osiloskop analog kuno yang mengeluarkan garis hijau datar. Di depannya, Elara duduk mematung, menatap ke luar jendela ke arah cakrawala laut yang berkabut.
"Garisnya tidak pernah bergerak, Arthur," bisik Elara tanpa menoleh. "Sejak pukul tiga pagi tadi, sensor ini menunjukkan angka nol mutlak. Tidak ada kebisingan latar belakang. Tidak ada resonansi bumi. Seolah-olah dunia baru saja menahan napas."
Keheningan yang Terlalu Sempurna
Arthur mendekat, menyentuh perangkat itu. Sebagai mantan "Sang Arsitek", ia tahu bahwa nol mutlak adalah kemustahilan fisik. Selalu ada getaran detak jantung bumi, pergerakan lempeng, bahkan radiasi kosmik. Namun, layar itu tetap datar.
"Ini bukan kerusakan alat," gumam Arthur. Ia merasakan firasat buruk yang merayap di tulang belakangnya. "Ini adalah efek samping yang kita takutkan. Penghapusan permanen yang kau lakukan pada algoritma Marcus... itu menciptakan lubang hitam dalam spektrum suara."
Dunia luar mulai merasakannya. Saat mereka keluar rumah, suasana terasa seperti di dalam ruang hampa udara. Suara ombak yang biasanya menderu kini terdengar seperti rekaman berkualitas rendah yang diputar dari jauh. Burung-burung camar terbang dalam kesunyian yang mengerikan.
Mereka berjalan menuju pusat desa. Orang-orang berdiri di trotoar, saling menatap dengan bingung. Mereka mencoba berbicara, namun suara mereka tidak memiliki "bobot". Kata-kata itu keluar, tapi tidak bergema. Frekuensi kehidupan sedang tersedot keluar dari atmosfir.
Pengirim Tanpa Suara
Di tengah alun-alun desa, berdiri seorang pria tua yang mereka kenal sebagai penjaga mercusuar baru. Ia memegang sebuah radio transistor tua yang hanya mengeluarkan suara statis yang aneh ,suara yang terdengar seperti bisikan ribuan orang yang berbicara sekaligus namun dalam volume yang nyaris tak terdengar.
"Ini bukan keheningan, Arthur," kata Elara, meraih tangan suaminya. "Ini adalah resonansi balik. Semua suara yang pernah 'About You' tangkap... mereka sedang mencoba kembali."
Tiba-tiba, radio di tangan penjaga itu meledak dalam sebuah nada tinggi yang menyakitkan. Bukan nada dari Marcus, bukan nada dari mesin. Itu adalah suara tawa, tangisan, dan teriakan dari jutaan orang yang dulu pernah mendengarkan transmisi mereka. Suara-suara itu kembali untuk menuntut ruang yang telah dihapus oleh Elara.
"Kita tidak bisa menghapusnya, El," Arthur menyadari dengan getir. "Suara adalah energi. Dan energi tidak bisa dihancurkan, hanya bisa dipindahkan. Dengan menghapus algoritmanya, kita hanya mengunci suara-suara itu di dalam ruang antara, dan sekarang pintunya jebol."
Harmoni Manusia
Untuk menghentikan anomali ini, Arthur tidak mencari alat musik. Ia tidak mencari frekuensi. Ia berdiri di tengah alun-alun, menarik napas dalam-dalam, dan mulai bersiul.
Bukan siulan yang rumit. Itu adalah nada sederhana yang sering ia siulkan saat memperbaiki instrumen di tokonya. Elara segera mengerti. Ia mulai bernyanyi pelan, mengikuti nada Arthur. Satu per satu, penduduk desa yang ketakutan mulai ikut mengeluarkan suara—gumaman, nyanyian kecil, atau sekadar ketukan kaki pada aspal.
Mereka menciptakan "Kebisingan Manusia" yang tidak sempurna, tidak teratur, dan penuh cacat.
Perlahan tapi pasti, garis hijau di osiloskop di rumah mereka mulai bergetar kembali. Suara ombak perlahan mengeras. Burung camar berteriak lagi. Anomali nol mutlak itu pecah karena tabrakan dengan suara-suara organik yang nyata.
Harga dari Kedamaian
Sore harinya, dunia kembali normal. Namun Arthur dan Elara tahu, mereka baru saja membayar harga terakhir. Kekuatan "About You" benar-benar telah mati, bukan karena dihapus, tapi karena telah dilebur kembali ke dalam kebisingan dunia yang berantakan.
"Kita tidak akan pernah bisa benar-benar bebas dari masa lalu, kan?" tanya Elara saat mereka berjalan pulang di bawah langit senja.
Arthur merangkul bahunya. "Mungkin bebas bukan berarti melupakan, El. Bebas berarti kita bisa mendengar suara itu tanpa harus takut akan kehancurannya."
Arthur mengambil radio transistor yang rusak tadi dan meletakkannya di tempat sampah. Ia tidak lagi butuh alat untuk memantau spektrum. Baginya, suara napas Elara yang tidak beraturan di sampingnya sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa dunia masih berputar, masih berisik, dan masih layak untuk dijalani.
Aku suka gaya tulisan seperti ini. Cara kamu ngedeskripsiin tiap bait suasana, benda dan waktu, bikin aku bener-bener masuk ke dalam diri El. Sukses selalu thor, semangat ⭐