Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.
Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.
Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.
Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Di salah satu kursi kulit hitam paling depan, duduk seorang pria dengan postur tinggi dan bahu bidang. Setelan jas hitamnya terlihat mahal, potongannya presisi mengikuti bentuk tubuhnya. Kemeja putih yang dikenakannya tampak rapi tanpa satu pun kerutan. Jam tangan eksklusif melingkar di pergelangan tangannya. Rambut hitamnya tersisir rapi, namun tidak kaku. Wajahnya tegas dengan rahang kuat, hidung mancung khas Timur Tengah, dan sorot mata tajam yang menyimpan sesuatu yang dalam.
Dialah Syakil Arrafiy.
Pria yang namanya belakangan ini sering muncul di majalah bisnis Timur Tengah. Pewaris sekaligus direktur muda dari Arrafiy Group, perusahaan keluarga yang bergerak di bidang properti, energi, dan investasi internasional. Di usianya yang belum genap tiga puluh, ia sudah memimpin cabang perusahaan di Kairo dengan tangan besi yang kuat. Tegas, cerdas, dan dingin dalam negosiasi. Tidak mudah tersenyum di ruang rapat. Tidak mudah mempercayai siapa pun.
Namun saat ini, bukan laporan keuangan yang sedang ia tatap.
Di layar iPad yang berada di tangannya, terpampang sebuah foto lama. Foto seorang gadis berseragam SMA. Jilbabnya terpasang rapi. Senyumnya sederhana dan tidak dibuat-buat. Matanya teduh, seolah menyimpan dunia kecil yang hangat. Perempuan itu adalah Arsy Raihana Syahira.
Foto itu sudah bertahun-tahun tersimpan di perangkat pribadi Syakil. Bahkan mungkin jauh lebih lama dari yang seharusnya.
Syakil mengusap layar itu perlahan, seakan-akan menyentuh wajah di dalam foto tersebut.
“Arsy...” gumamnya pelan. Suaranya berat dan dalam.
Syakil masih ingat hari itu. Hari kelulusan SMA. Arsy berdiri di bawah pohon ketapang di halaman sekolah, tertawa bersama teman-temannya. Syakil berdiri tak jauh dari sana, hanya memperhatikan. Tidak pernah benar-benar berani mendekat. Perasaan itu tumbuh pelan, diam-diam, dan terlalu tulus untuk diungkapkan dengan gegabah.
Arsy tidak pernah tahu. Tidak pernah tahu bahwa ada seorang laki-laki yang selalu duduk dua baris di belakangnya hanya untuk bisa melihat kehadirannya setiap pagi. Tidak pernah tahu bahwa ada seseorang yang sengaja ikut kegiatan rohis bukan semata karena ingin memperdalam agama, tapi karena Arsy ada di sana. Tidak pernah tahu bahwa setiap kali ia tersenyum pada siapa pun, ada hati yang berdebar lebih keras dari biasanya.
Namun takdir tidak memberi waktu panjang.
Setelah kelulusan, orang tua Syakil memutuskan pindah ke Kairo untuk memperluas bisnis keluarga. Keputusan itu datang tiba-tiba dan tidak bisa ditolak oleh Syakil. Sebagai anak tunggal dan satu-satunya pewaris, Syakil tak punya pilihan selain ikut.
Malam sebelum keberangkatannya, ia berdiri lama di depan rumah Arsy. Hanya berdiri dan tidak berani datang menemuinya. Apalagi sekedar untuk mengirim pesan dan menelpon, Syakil tak berani melakukannya.
Ia hanya memandang rumah itu dalam diam.
Karena saat itu, ia belum menjadi siapa-siapa.
Ia hanya seorang anak remaja yang belum punya apa-apa untuk diberikan kepada Arsy. Ia tidak ingin datang dengan janji kosong. Tidak ingin menyatakan cinta tanpa masa depan yang jelas. Jadi ia memilih pergi. Membawa perasaan itu bersamanya.
Tahun demi tahun berlalu dan Kairo telah mengubahnya. Dunia bisnis mengasahnya. Rapat demi rapat, negosiasi demi negosiasi, tekanan demi tekanan membentuk Syakil menjadi pria yang jauh berbeda dari siswa SMA yang pendiam dulu. Ia belajar memimpin. Belajar menekan emosi. Belajar mengambil keputusan yang tidak selalu menyenangkan. Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah.
Nama Arsy. Ia tidak pernah benar-benar pergi dari pikirannya. Syakil menatap foto itu lebih lama. Matanya yang biasanya tajam kini melembut. Ada rindu yang lama dipendam di sana. Ada janji dalam diam yang akhirnya siap ia tepati. Kini ia bukan lagi remaja yang tidak punya apa-apa.
Ia mapan. Mandiri. Memiliki kuasa atas hidupnya sendiri. Urusan bisnis keluarganya di Kairo telah stabil. Cabang perusahaan yang ia pegang berkembang pesat. Orang tuanya pun tak lagi membatasi langkahnya. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa waktunya telah tepat. Ia kembali ke Indonesia bukan sekadar untuk ekspansi bisnis. Ia kembali untuk Arsy.
Untuk menyatakan apa yang dulu tak pernah sempat ia ucapkan. Untuk meminta perempuan itu menjadi pendamping hidupnya.
Pesawat sedikit bergetar halus, tanda mulai memasuki wilayah udara Indonesia. Namun Syakil tidak bergeming. Jarinya masih menyentuh layar iPad, tepat di atas senyum Arsy. Tanpa ia sadari, langkah kaki mendekat dari belakang.
“Tuan.”
Suara itu membuat Syakil mengangkat wajahnya perlahan. Di hadapannya berdiri seorang pria berusia sekitar tiga puluhan dengan setelan jas abu-abu rapi. Wajahnya tenang dan profesional.
Laki laki adalah Omar, asisten pribadinya yang telah setia mendampinginya dalam hal apapun. Asisten pribadi yang sudah bekerja bersamanya selama lima tahun terakhir. Loyal, cermat, dan nyaris selalu tahu apa yang dipikirkan tuannya.
“Pesawat akan mendarat sekitar dua puluh menit lagi,” lapor Omar dengan sopan dan membuat Syakil mengangguk pelan.
“Baik.”
Namun sebelum Omar mundur, matanya sempat menangkap layar iPad di tangan Syakil. Foto seorang perempuan berseragam SMA. Omar tersenyum tipis.
“Sepertinya Tuan benar-benar sangat mencintainya.”
Kalimat itu meluncur begitu saja, tanpa maksud lancang. Hanya pengamatan jujur. Syakil terdiam sejenak. Biasanya ia tidak suka kehidupan pribadinya dibahas. Namun kali ini berbeda. Ia kembali menatap foto itu, lalu sudut bibirnya terangkat tipis—senyum yang jarang sekali muncul di hadapan orang lain.
“Aku mencintainya,” ucapnya pelan namun mantap. “Melebihi apa pun.”
Omar mengangguk dan tidak terkejut. Ia sudah menduga. Bertahun-tahun bekerja bersama Syakil, ia tahu ada satu nama yang selalu muncul dalam keheningan tuannya.
“Apakah Nona itu tahu kalau tuan mencintainya selama ini?” tanya Omar dengan hati-hati dan membuat Syakil menggeleng pelan.
“Belum, sampai saat ini pun dia masih belum mengetahuinya.”
Dan itu bukan sesuatu yang ia sesali. Ia memang sengaja menunggu. Menunggu hingga ia pantas.
“Sekarang waktunya untuk dia tahu bagaimana perasaan ku padanya,” lanjut Syakil dengan suaranya yang lebih tegas.
Omar melihat perubahan itu. Ada keyakinan yang berbeda di wajah tuannya malam ini. Bukan sekadar nostalgia. Ini keputusan. Syakil mematikan layar Ipad-nya, lalu menoleh pada Omar.
“Apakah kau sudah mendapatkan alamat yang aku minta padamu untuk kau cari?”
Omar langsung paham maksud pertanyaan itu.
“Saya sudah menemukannya, Tuan.”
Sorot mata Syakil berubah tajam.
“Pastikan tidak ada kesalahan.”
“Saya sudah memeriksanya dua kali, tuan. Setelah nona Arsy lulus sekolah, dia dan ayahnya pindah ke rumah kontrakan yang ada di pinggiran kota Jakarta”
Ada jeda singkat. Hanya suara mesin pesawat yang terdengar halus. Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan tanah kelahirannya bertahun-tahun lalu, dada Syakil terasa ringan. Bagus. Sangat bagus. Syakil menyandarkan tubuhnya ke kursi dan menatap lurus ke depan. Indonesia semakin dekat. Arsy juga semakin dekat.
Syakil tidak tahu seperti apa hidup Arsy sekarang. Apakah perempuan itu masih sama seperti dulu. Apakah sudah ada seseorang di sisinya.
dpsng alat monitor jantung, aku yg bntu jaga di rs tiap mlm/Pray//Cry/
Lihat anakmu pak😭
Kami lah nyalahin si Radit