NovelToon NovelToon
Warisan Saudara Kembar

Warisan Saudara Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Janda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Pagi itu, langit Jakarta tampak sedikit mendung, seolah alam turut bersimpati dengan niat Jasmine. Hari ini adalah hari yang emosional; untuk pertama kalinya sejak kelahiran Shaka, Jasmine memutuskan untuk membawa putranya itu ke peristirahatan terakhir almarhum Hero.

Di ruang tengah, kesibukan luar biasa sedang terjadi. Bukan karena Jasmine yang panik, melainkan karena Awan. Pria itu tampak mondar-mandir dari dapur ke bagasi mobil dengan wajah serius, seolah-olah mereka sedang mempersiapkan ekspedisi ke kutub utara.

"Lastri! Mana cooler box kecil yang gue beli kemarin? Suhu ASI di botol harus tetap terjaga, jangan sampai kena panas matahari langsung di kuburan!" teriak Awan dari arah bagasi.

Jasmine, yang sudah siap dengan gamis berwarna biru lembut dan kerudung senada, hanya bisa berdiri terpaku sambil menggendong Shaka. Di depan kakinya, sudah ada dua tas perlengkapan bayi besar, sebuah kipas angin portabel ukuran jumbo, payung UV double layer, hingga tikar lipat antibakteri.

"Terus ini, jangan lupa bawa hand sanitizer yang non-alkohol sama pelindung wajah buat bayi. Di sana itu ruang terbuka, banyak debu, banyak kuman," gerutu Awan sambil memasukkan tabung oksigen portabel kecil ke dalam tas cadangan.

Jasmine menggelengkan kepala, tak habis pikir. "Wan... kita bukan mau kemah. Kita cuma mau ke makam Mas Hero sebentar. Gak usah lebay, itu tabung oksigen buat apa?!"

Awan berhenti bergerak. Ia menatap Jasmine dengan tatapan judes yang paling tajam. "Lebay lo bilang? Shaka itu masih bayi, paru-parunya belum sekuat paru-paru perokok kayak orang-orang di luar sana. Kalau tiba-tiba ada polusi atau asap dupa yang terlalu pekat gimana? Antisipasi itu perlu, Jasmine!"

"Tapi itu perlengkapannya udah kayak mau pindah rumah, Awan!" balas Jasmine gemas. "Kita cuma butuh bunga, air mawar, dan perlengkapan Shaka yang standar. Nggak perlu bawa tenda lipat juga!"

"Itu bukan tenda, itu kanopi portabel biar Shaka nggak kena radiasi sinar matahari langsung!" bantah Awan tak mau kalah. "Udah, jangan banyak protes. Masuk ke mobil sekarang. Gue nggak mau kita sampe sana pas matahari lagi terik-teriknya."

Perjalanan Penuh Keheningan

Di dalam mobil, suasana mendadak hening. Awan menyetir dengan sangat hati-hati, seolah-olah ia sedang membawa kristal yang paling rapuh di dunia. Matanya sesekali melirik ke arah spion tengah, memastikan Shaka tertidur nyaman di car seat-nya.

Jasmine menatap keluar jendela. Perasaannya campur aduk. Ia merindukan Hero, namun di sisi lain, ia merasa bersalah karena kini ia telah menjadi istri dari kembarannya sendiri. Ia melirik Awan—pria yang kini menjadi suaminya. Pria yang kaku, judes, tapi memberikan segala yang ia punya untuk menjaga sisa-sisa hidup Hero.

Sesampainya di pemakaman, Awan turun lebih dulu. Ia tidak membiarkan Jasmine turun sebelum ia membentangkan payung besar untuk melindungi pintu mobil.

"Turun pelan-pelan. Awas licin, semalam abis hujan," ucap Awan singkat. Ia mengambil alih tas perlengkapan bayi dan mengalungkannya di bahu, sementara tangan kanannya memegang payung untuk memayungi Jasmine dan Shaka.

Pemandangan itu cukup unik. Seorang pria gagah dengan setelan formal, menggendong tas bayi warna biru pastel yang penuh dengan mainan gantung, sambil memayungi istri dan anaknya dengan sangat protektif.

Mereka sampai di depan gundukan tanah yang rapi dengan batu nisan bertuliskan Hero Pramoedya. Jasmine merasa dadanya sesak. Ia berlutut perlahan di samping makam, sementara Awan tetap berdiri tegak di belakangnya, memastikan payungnya menutupi Jasmine dan Shaka dengan sempurna agar mereka tidak kepanasan.

"Mas Hero... aku datang bawa Shaka," bisik Jasmine. Suaranya pecah. ia membawa tangan kecil Shaka untuk menyentuh batu nisan ayahnya. "Lihat, Mas... Shaka mirip banget sama kamu. Dia anak yang kuat."

Shaka, yang biasanya lincah, tiba-tiba terdiam. Bayi itu menatap batu nisan dengan mata bulatnya yang polos, seolah ia merasakan kehadiran seseorang yang sangat ia kenal namun tak pernah ia lihat.

Awan yang berdiri di belakang mereka menunduk. Matanya yang tajam tampak berkaca-kaca. Ia mengepalkan tangannya di balik gagang payung.

"Ro... gue udah bawa mereka ke sini," batin Awan. "Gue udah nikahin dia. Gue tau lo mungkin marah, atau mungkin lo justru lega. Tapi satu hal yang perlu lo tau, anak lo ini... dia manggil gue 'Ayah'. Dan gue bakal pastiin dia tumbuh jadi pria yang lebih hebat dari kita berdua."

Jasmine mulai menaburkan bunga dan menyiramkan air mawar. "Makasih ya, Mas, udah kirim Kak Awan buat jaga kami. Dia judes banget, Mas, persis kayak kamu kalau lagi marah. Tapi dia baik... dia jaga aku sama Shaka lebih dari dirinya sendiri."

Awan mendengus pelan mendengar pujian (yang terselip ejekan) itu. "Udah, jangan lama-lama. Anginnya mulai kenceng, Shaka nanti masuk angin," potong Awan, mencoba menutupi rasa harunya dengan sikap kaku.

Saat mereka hendak beranjak, Shaka tiba-tiba merengek. Sepertinya bayi itu haus atau merasa tidak nyaman. Awan dengan sigap langsung berjongkok di samping Jasmine. Tanpa diminta, ia mengambil botol susu dari tas bayinya yang "lebay" tadi.

"Sini, biar gue yang gendong. Lo beresin bunganya dulu," ucap Awan.

Ia mengambil Shaka dan mendekapnya. Awan duduk di atas tikar lipat "antibakteri" yang tadi ia bawa, membiarkan Shaka menyusu di pelukannya sambil ia terus memperhatikan nisan Hero. Pemandangan itu begitu kontras; seorang pria yang terlihat dingin dan kejam di dunia bisnis, kini duduk di tanah pemakaman sambil menepuk-nepuk pantat bayi dengan sangat sabar.

"Wan... makasih ya," ucap Jasmine tulus sambil menatap suaminya.

Awan tidak menoleh. "Gue lakuin ini buat Shaka. Bukan buat denger makasih dari lo," balasnya judes. Namun, ia kemudian menarik Jasmine untuk duduk di dekatnya, membiarkan kepala Jasmine bersandar di bahunya. "Tapi... gue seneng kita ke sini. Seenggaknya Hero tau kalau istrinya nggak terlantar dan anaknya nggak kekurangan mainan mahal."

Jasmine tertawa kecil. "Kamu beneran beli mainan mahal itu cuma buat pamer ke Mas Hero?"

"Tentu saja. Gue harus buktiin kalau gue paman—eh, Ayah—yang lebih royal daripada dia," sahut Awan dengan sedikit seringai sombong di bibirnya.

Ziarah itu berakhir dengan perasaan yang lebih ringan. Saat berjalan kembali ke mobil, Awan terus memastikan tidak ada satu pun tetesan sisa gerimis yang mengenai kepala Shaka. Ia bahkan sempat mengomeli petugas parkir karena membiarkan ada genangan air di dekat pintu mobilnya.

"Lain kali kalau ada genangan, urug pakai pasir! Kalau istri gue kepeleset gimana?!" omel Awan sambil memberikan uang tip yang nominalnya sangat besar, membuat petugas itu bingung antara mau marah atau sujud syukur.

Jasmine masuk ke dalam mobil dengan senyum yang tak luntur. Ia menyadari satu hal: Awan mungkin bukan Hero yang lembut dan puitis. Awan adalah pria yang menunjukkan cintanya dengan cara menyiapkan tabung oksigen saat ziarah, membawa tenda lipat karena takut anaknya hitam terkena matahari, dan memarahi genangan air demi keselamatannya.

Dan bagi Jasmine, itu lebih dari cukup.

Gimana menurut kalian ceritanya? Aku gak Nerima coment lanjut Thor. Paling males kalo cuma dikomen itu.

1
pdm
semangat lanjutkan💪
Reni Anjarwani
lanjutt thorrr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut trs thor makin seru ceritanya
Reni Anjarwani
lanjut thorr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up thor
Siti Dede
Ungkapin aja atuh Waaan...daripada senewen nggak keruan
pdm
aduh ini potongan bwg merahny bikin mata berair/Cry//Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!