Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maerin Sendirian
"Pertama, buatkan identitas baru untuk seseorang (maksudnya Maerin). Kedua, setelah permintaan pertama terpenuhi. Hapus riwayat permintaan yang kuajukan. Ketiga, Jangan bocorkan informasi tentangku atau permintaanku pada siapapun." Jawab Theo dengan tegas dengan menatap langsung mata wanita itu.
"Bukankah kau cukup mengajukan dua permintaan saja? Maksudku permintaan terakhirmu tak perlu kau ajukan." Kata wanita itu.
"Tidak, permintaan terakhir itu yang terpenting. Sebab di sini informasi apapun bisa dibeli. Aku tak mau ambil resiko jika rahasiaku bocor." Tegas Theo
"Whoa.. kau salah paham. Noctyre tidak tunduk pada kerajaan manapun. Bahkan Morva sekalipun." Jawab wanita itu dengan angkuh.
"Lalu bukankah, Guild ini patuh pada aturan kerajaan Morva? Sebab guild ini berada di wilayah Morva." Tanya Theo
"Kau harus membayar untuk informasi ini." Jawab wanita itu.
"Sudahlah, lupakan. Kembali ke pokok pembicaraan. Apa guild Noctyre mampu menerima ketiga permintaan yang kusebutkan tadi?" Tanya Theo kembali.
"Ya, kau tak butuh waktu lama untuk menerima hasilnya. Jadi kau bisa menunggu di sini. Mari ikut aku." Wanita itu mengarahkan Theo ke sebuah ruangan yang lebih privasi. Wanita itu menyuruh Theo duduk, dan tak lama menyodorkan kertas berisi permintaan dan bayaran dan membutuhkan tanda tangan Theo serta perwakilan guild Noctyre. Semacam keperluan administrasi. Dalam hati Theo, 'Sudah benar pilihanku meminta tiga permintaan tadi. Sebab dengan ini bisa dijadikan bukti. Jika ada yang mencari informasi tentangku. Tapi bayaran ini (3849 koin emas) benar-benar sejumlah sisa uang yang kumiliki. Jaringan informasi guild ini benar-benar mengerikan. Aku tak ingin berurusan dengan guild ini lebih dari ini. Jika bisa kusimpulkan, guild ini mampu menaklukkan seluruh dunia.' Theo menandatangani setelah membaca semuanya.
"Nah kau sudah menandatanganinya, jadi aku akan memproses permintaanmu. Jadi tunggulah di sini sebentar." Kata wanita itu pergi meninggalkan Theo sendirian di sebuah ruangan. Theo menatap ke sekelilingnya, tak ada apapun hanya kursi yang dia duduki dan meja di depannya serta kursi kosong di sisi lain meja. Dan pencahayaan remang dari lilin-lilin yang menempel di dinding.
Theo hanya bisa menunggu tanpa kejelasan, yang bisa dia lakukan hanyalah menunggu. Namun, dia juga mengkhawatirkan Maerin. Dia terduduk dengan tangan kiri menopang dagunya serta tangan kanannya mengepal di atas meja, dan jari telunjukkan mengetuk-ngetuk meja. Tukk.. tukkk.. tukkk.. entah sudah berapa ketukan yang telah dia lakukan hingga dia lupa sampai berapa hitungan. Tiba-tiba suara pintu terbuka. Krieeeettt... Wanita tadi muncul dengan gulungan kertas di tangan kiri dan sebuah kartu pengenal di tangan kanan. Theo merasa sedikit lega.
"Nah, permintaan pertamamu sudah jadi. Ini identitas baru yang kau minta dengan nama Maerin dan berasal dari desa terpencil di perbatasan dan jarang penduduknya, Harrowden. Baru-baru ini desa tersebut tinggal puing-puing ulah bandit yang mencoba merampok. penduduknya rata-rata sudah tua dan kecil kemungkinan bisa kabur. Kerajaan Morva tak begitu peduli jadi kasus itu telah ditutup sebab pelaku sudah tertangkap dan dihukum mati. Jadi tak akan menarik perhatian jika memakai identitas dari desa tersebut." Wanita itu menyodorkan tanda pengenal untuk Maerin. Tak lama dia menyodorkan gulungan kertas di tangannya, "Nah ini permintaan keduamu, menghancurkan bukti tentang kau pernah mengajukan permintaan pada guild ini." Gulungan tersebut di buka Theo ternyata itu kertas yang telah dia tanda tangani sebelumnya. Namun Theo masih sedikit ragu, "Apa kau yakin tidak menduplikasi surat ini?"
"Yah wajar kau ragu, tapi motto guild kami adalah 'Semua informasi bisa dibeli. Namun, hanya janji yang tak bisa dibeli.' Apa kau lupa bahwa guild Noctyre tidak berada dibawah kerajaan manapun? Jadi kami memiliki aturan sendiri." Jawab wanita itu.
"Baiklah, aku percaya." Jawab Theo.
kemudian wanita itu membakar gulungan kertas itu dan berkata, "Dengan ini permintaan kedua serta ketiga terpenuhi sekaligus. Jadi silakan tinggalkan tempat ini." Dia berjalan ke arah pintu dan membukanya sebagai isyarat untuk menyuruh Theo pergi. Theo pun berjalan keluar ruangan itu dan menuju pintu keluar. Wanita itu berjalan mengikutinya dari belakang. Saat Theo membuka pintu untuk dia keluar, sebelum pintu itu sepenuhnya tertutup kembali, Theo terdengar mengucapkan kata "Terima kasih". Pintu pun tertutup kembali.
"Hah.. terima kasih katanya? Menarik." Gumam wanita itu.
***
Di sisi lain, saat Theo meninggalkan Maerin sendirian di kamar penginapan. Tak lama ada yang mengetuk pintu kamar seperti yang diucapkan Theo. Maerin hanya terdiam duduk di pojokan sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia seolah ingin menahan napasnya, takut jika suara napasnya bisa terdengar keluar. Namun tak lama suara ketukan pintu itu menghilang. Maerin bisa bernapas lega, tapi dia tetap merasa takut juga.
Tokk.. tokk.. tookkk
Suara ketukan pintu itu kembali terdengar, Maerin menutup mulutnya dengan kedua tangannya kembali. Dan berharap agar Theo segera datang kembali. Terdengar langkah kaki menjauh dan tak ada suara ketukan pintu. Maerin merasa makin khawatir dan dia berusaha mencoba melindungi diri, dia melihat sekitarnya yang sekitaranya bisa dipakainya untuk melawan, namun tak menemukan apapun. Hanya penyangga lilin kecil yang tak berarti itu. Tapi dia tetap mengambilnya dan menggenggam erat dengan kedua tangannya, walaupun tak memberikan luka vital, setidaknya dia mencoba melawan.
Tok..tokk..tokkkk
Ketiga kalinya suara ketukan terdengar, Maerin sudah bersiap dengan penyangga lilin di tangannya meskipun sambil gemetaran. Dia sudah bersiap jika orang yang mengetuk itu menerobos masuk.
Terdengar suara dari luar, "Aneh. Seharusnya ada di dalam..." Lalu terdengar suara lain, "Apa yang di dalam?" Suara itu terdengar familiar bagi Maerin, ya. Suara Theo.
"Oh, Saya kira anda ada di dalam?" Kata laki-laki itu.
"Ada perlu apa, tuan pemilik penginapan?" Tanya Theo
"Saya mengantarkan makan malam. Yang menginap di sini sudah termasuk mendapatkan makan malam. Tadi putri saya mengetuk pintu, tak ada jawaban. Lalu istri saya, tetap tak ada jawaban. Dan terakhir saya. Ternyata anda tak ada di dalam, Kenapa aku tak menyadarinya ya saat anda keluar penginapan. Oh ya bukankah ada bersama seseorang seharusnya? Anda kan memesan kamar dengan dua tempat tidur."
"Aku keluar saat kalian sedang sibuk dengan pelanggan di bawah. Lalu tak perlu tau urusan orang. Makanan yang kau pegang itu, untukku kamarku kan?" Jawab Theo sambil menatap dua piring makanan yang dipegang pemilik penginapan.
"Ya benar sekali, silakan." Pemilik penginapan menyodorkan kedua piring pada Theo. Theo menerimanya dan pemilik penginapan berjalan pergi.
"Maerin, ini aku Theo.. bu-" Sebelum Theo menyelesaikan ucapannya, pintu sudah dibuka oleh Maerin.
"Cepat sekali kau membukanya? Padahal aku menyuruhmu untuk waspada dan hati-hati. Lalu apa yang ada di tanganmu itu?" Tanya Theo
Maerin menjelaskan semuanya sambil mereka makan bersama.
Theo terlihat lebih serius dari biasanya,"Kurasa kita harus pergi dari kota ini secepatnya. Lebih baik besok pagi-pagi sekali kita pergi. Jadi setelah kita selesai makan, ayo berkemas."
Maerin tanpa bertanya hanya mengangguk setuju. Dia merasakan hal yang mungkin memang berbahaya dari ekspresi serius yang ditunjukkan Theo.
Dugaan Theo pun ternyata benar, Ada banyak mata-mata yang mengawasi Theo dari kejauhan. Keesokan pagi Theo dan Maerin pergi dari penginapan dan berjalan keluar dari kota Merovain.
Saat mereka benar-benar sudah melewati pintu gerbang kota Merovain, mata-mata yang mengikuti mereka melapor pada kepala keamanan, "Lapor kedua orang yang anda minta untuk diawasi sudah meninggalkan kota ini, Tuan."
"Apa kau yakin?" Tanya Kepala Keamanan.
"Kami yakin, Tuan. Kami telah mengikutinya sejauh 5km dan tak ada tanda-tanda mereka kembali." Jawab mata-mata itu.
"Bagus, hentikan mengawasinya. Dan kau boleh pergi." Kata kepala keamanan itu.
"Yah ternyata bukan masalah besar, dia benar-benar meninggalkan kota ini bahkan belum genap dua hari. Sepertinya dia memanglah Tuan muda ingusan yang memilih kabur dengan rakyat jelata dibandingkan dijodohkan. Mungkin dia berasal dari keluarga bangsawan pinggiran. Yah aku tak perlu khawatir dengan 500 koin emas yang kudapatkan cuma-cuma darinya itu." Gumam Kepala Keamanan itu sambil duduk di meja kerjanya dengan kedua kakinya di letakkan di atas meja, karena dia merasa lega bahwa tak ada ancaman untuknya menikmati 500 koin emas itu.
Bersambung...