NovelToon NovelToon
Kronik Dewa Asura: Jalur Penentang Takdir

Kronik Dewa Asura: Jalur Penentang Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

Langit ingin aku mati, tapi aku menolak untuk berlutut!"
Di Benua Awan Merah, kekuatan adalah satu-satunya hukum. Ye Chen, Tuan Muda Klan Ye yang jenius, kehilangan segalanya dalam satu malam. Keluarganya dibantai oleh Sekte Pedang Darah, Dantian-nya dihancurkan, dan harga dirinya diinjak-injak.
Tiga tahun lamanya, ia hidup lebih rendah dari anjing sebagai budak penambang Nomor 734 di Lembah Kabut Hitam. Tanpa masa depan, tanpa harapan.
Namun, takdir berubah ketika sebuah reruntuhan gua tambang mengungkap benda terlarang dari era purba: Mutiara Penelan Surga. Benda pusaka yang mampu melahap segala bentuk energi—batu roh, senjata pusaka, darah iblis, hingga esensi kehidupan musuh—dan mengubahnya menjadi kekuatan murni.Dengan Sutra Hati Asura di tangannya dan kebencian membara di hatinya, Ye Chen bangkit dari neraka. Dia bukan lagi budak. Dia adalah sang Penakluk.
Satu per satu, mereka yang menghinanya akan membayar dengan darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Bayangan Darah di Paviliun Obat

Pagi itu, Kota Angin tidak disinari matahari yang hangat, melainkan diselimuti kabut ketakutan yang dingin.

Berita tentang resesi di Kasino Naga Merah menyebar lebih cepat daripada wabah penyakit. Seorang misterius bernama "Asura" telah menghancurkan salah satu sumber uang terbesar Sekte Pedang Darah, membunuh Manajer Wu, dan meninggalkan pesan darah di dinding.

Di pusat kota, di dalam sebuah rumah mewah yang dijaga ketat oleh ratusan murid berbaju merah, suasana terasa begitu berat hingga sulit untuk bernapas.

MALA!

Sebuah cangkir porselen antik bernilai seratus koin emas hancur berkeping-keping di dinding.

Di tengah ruangan, duduk seorang pemuda tampan dengan jubah merah sutra yang disulam benang emas. Wajahnya bergambar seperti mayat, kulitnya tipis, dan matanya memancarkan aura kejam.

Dia adalah Han Feng, atau yang lebih dikenal sebagai Tuan Muda Han Penguasa de facto Kota Angin dan putra dari Wakil Ketua Sekte Pedang Darah. Tingkat keparahannya telah mencapai Ranah Pemadatan Qi Tingkat 9 Puncak, hanya sekilas lagi menuju Ranah Pembentukan Inti (Yayasan Pendirian).

"Katakan lagi," suara Han Feng pelan namun menusuk tulang.

Seorang bawahan yang berlutut di depannya gemetar hebat, dahinya menempel di lantai. "La-lapor, Tuan Muda. Manajer Wu tewas... kepalanya hancur. Sepuluh pengawal elit tewas tercabik-cabik. Semua uang kasino hilang. Dan di dinding... tertulis nama 'Asura'."

Han Feng berdiri perlahan. Dia berjalan mendekati bawahannya.

"Asura? Nama yang sombong," bisik Han Feng. “Apakah dia dari sekte saingannya?Teratai Es? Atau Sekte Gunung Besi?"

"Menu-menurut Saksi mata... dia hanya seorang diri. Menggunakan pedang raksasa berwarna hitam. Auranya sangat jahat, seperti iblis."

Han Feng membukakan matanya. "Pedang raksasa... Sendirian..."

Tiba-tiba, Han Feng teringat laporan tentang budak yang kabur dari tambang. Budak yang membunuh Pengawas Liu dan Kapten Tie. Tapi budak itu seharusnya hanya sampah tanpa rusak. Mustahil dia bisa membantai kasino yang dijaga Manajer Wu (Tingkat 3).

"Sampah tidak berguna," desis Han Feng.

Ia meletakkan telapak tangan di atas kepala bawahan yang sedang bersujud itu.

"Tuan... Ampun..."

KRAK!

Han Feng meremas pelan. Qi merah menyala dari tangan. Tengkorak bawahannya retak, dan dia tewas seketika tanpa sempat berteriak.

Han Feng mengambil sapu tangan sutra, membersihkan tangannya dengan lembut.

"Panggil Tetua Bayangan," perintahnya di udara kosong.

Seorang sosok hitam yang digambarkan muncul dari balik bayangan pilar. "Hamba di sini, Tuan Muda."

"Tutup seluruh gerbang kota. Aktifkan Formasi Darah. Cari orang yang membawa pedang besar. Jika dia melawan, potong kaki dan tangan, tapi bawa kepalanya aku. Aku ingin melihat siapa 'Dewa' palsu yang berani bermain-main di kandangku."

Sementara itu, di Distrik Kekacauan.

Ye Chen sedang duduk bersila di dalam ruangan yang gelap. Di hadapannya, tertumpuk gunungan Batu Roh. Hasil rampokan dari kasino semalam sangat berlimpah: lebih dari 2.000 Batu Roh Tingkat Rendah.

"Dengan jumlah ini, aku bisa mempercepat pemulihan tubuhku dan memperkuat Pedang Pemecah Gunung," gumam Ye Chen.

Dia meletakkan tangannya di atas tumpukan batu itu, dan tangan kirinya memegang pedang hitam raksasa di pangkuannya.

"Mutiara Penelan Surga: Transferensi!"

Alih-alih menyerap energi batu roh ke dalam tubuhnya sendiri, Ye Chen mengalirkannya melalui Mutiara, menyebarkannya, lalu mengeluarkannya masuk ke dalam Pedang Pemecah Gunung.

Senjata seberat 500 kilogram ini terbuat dari Besi Meteor Hitam. Bahan ini memiliki sifat unik: ia bisa "tumbuh" jika diberi makan energi murni yang cukup.

Wuuung...

Pedang hitam itu bergetar menyenangkan. Pori-pori logamnya terbuka, menyerap aliran Qi biru dari batu roh. Perlahan-lahan, retakan-retakan kecil di permukaannya menutup. Warna hitamnya menjadi semakin pekat dan mengilap, seolah-olah dilapisi minyak.

Dua jam kemudian, 1.000 batu roh telah berubah menjadi debu abu-abu.

Ye Chen mengangkat pedangnya. Beratnya tidak berkurang, tapi kini ia bisa merasakan "detak jantung" samar dari dalam logam itu. Pedang itu telah terhubung dengan jiwa.

"Bagus. Sekarang kau bukan lagi besi rongsokan. Kau adalah taringku," kata Ye Chen, mengelus pisau dingin itu.

Tiba-tiba, terdengar ketukan sandi di pintu belakang. Tiga ketukan cepat, satu lambat.

Itu Gou San.

Ye Chen membuka pintu. Si mantan preman itu masuk dengan wajah pucat dan napas tersengal.

"Tuan Asura! Gawat!" lapor Gou San.

"Tenanglah. Apa yang terjadi?"

"Tuan Muda Han...dia marah besar. Dia memerintahkan penutupan gerbang kota. Dan yang lebih parah, pasukannya sedang bergerak menuju Paviliun Seratus Obat."

Mata Ye Chen bertanya. “Kenapa ke sana?”

"Mata-mata saya mendengar bahwa mereka mengirim Nona Mu Xue bersembunyi di sana. Han Feng ingin menggunakan Nona Mu sebagai sandera untuk memancing Sekte Teratai Es, atau mungkin... memancing Anda."

Ye Chen membayangkan. Han Feng cukup cerdas. Dia tahu Mu Xue menghilang di hutan dan kembali ke keadaan terluka. Jika dia menghubungkan titik-titik itu, dia mungkin curiga bahwa "Asura" dan Mu Xue memiliki koneksi.

"Paviliun Seratus Obat..." Ye Chen bertepuk tangan.

Hari ini adalah hari ketiga. Hari janjinya dengan Mu Xue.

"Gou San, tetap di sini. Jaga rumah ini."

"Tuan mau ke mana?"

Ye Chen mengenakan caping bambunya dan menyampirkan pedang besarnya yang kini dibalut kain lusuh berlapis-lapis agar bentuknya tersamar.

"Menagih hutang," jawab Ye Chen singkat, lalu menghilang dengan Langkah Kilat Hantu.

Paviliun Seratus Obat adalah bangunan tiga lantai yang megah di jalan utama. Biasanya tempat ini ramai, tapi hari ini sepi.

Di depan pintu masuk, puluhan murid Sekte Pedang Darah membentuk barikade. Mereka mengusir setiap pelanggan yang datang.

Ye Chen mengamati dari atap gedung di seberang jalan.

"Penjagaan ketat. Menerobos lewat depan saja bunuh diri," analisisnya.

Dia melihat ke gang belakang. Di sana juga ada penjaga, tapi lebih sedikit. Hanya dua orang yang bermitra Penempaan Tubuh Tingkat 8.

Ye Chen melompat turun tanpa suara ke dalam gang sempit itu.

"Siapa—"

Salah satu penjaga baru saja membuka mulut, tapi sebuah tangan besi sudah mencengkeramnya.

Krak!

Penjaga kedua terbelalak kaget, hendak berteriak, tapi Ye Chen sudah meluncurkan sebuah batu kerikil dengan jentikan UK. Batu itu menembus tenggorokan penjaga kedua.

Ye Chen menyeret kedua tubuh itu ke balik tong sampah. Cepat, sunyi, efisien.

Dia menatap dinding belakang Paviliun. Ada jendela ventilasi di lantai dua yang sedikit terbuka.

Dengan sekali lompatan ringan, Ye Chen bergelantung di tepi jendela dan mendapat hukuman masuk.

Bau herbal yang kuat menyambut hidungnya. Ini adalah gudang penyimpanan obat. Rak-rak kayu tinggi berjejer rapi, penuh dengan kotak dan botol.

"Siapa di sana?"

Sebuah suara wanita yang tajam terdengar dari balik rak. Sebuah pedang dingin sudah menempel di leher Ye Chen.

Ye Chen tidak bergerak. Dia mengenali aura dingin ini.

"Kau menyambut penyelamatmu dengan pedang, Nona Mu?"

Pedang itu ditarik kembali. Mu Xue muncul dari balik bayangan, wajahnya tampak lega namun tetap waspada. Dia mengenakan jubah biru muda yang bersih, wajahnya sudah pulih sepenuhnya, memancarkan kecantikan yang memukau.

"Ye Chen! Kau benar-benar datang," bisik Mu Xue. "Kau tahu di luar sana dikepung?"

"Justru karena dikepung aku datang. Aku tidak suka orang lain mengambil barang milikku," jawab Ye Chen dengan santai, membetulkan letak pedang di belakang.

Mu Xue kepala berkumpul, tak habis pikir dengan keberanian (atau kebodohan) pemuda ini.

"Ikut aku. Paviliun Manajer sedang menahan orang-orang Han Feng di depan, tapi mereka tidak bisa bertahan lama."

Mu Xue membawa Ye Chen ke sebuah ruangan VIP di lantai dua yang kedap suara.

“Langsung intinya,” kata Ye Chen. “Mana bayaranku?”

Mu Xue tersenyum tipis. Dia mengambil sebuah kantong kain sutra berat dari atas meja dan melemparkannya ke Ye Chen.

"Di dalamnya ada 2.000 Batu Roh Murni. Dan ini..."

Mu Xue menyerahkan sebuah lencana perak.

"...Ini adalah Token Tamu Kehormatan Bangjo Teratai Es. Dengan ini, Anda bisa mendapatkan diskon di semua toko milik sekte kami, dan perlindungan di wilayah kami."

Ye Chen menerima kantong dan token itu. Beratnya memuaskan.

“Dan satu lagi,” kata Mu Xue ragu-ragu. "Manajer Paviliun memberitahuku bahwa ada pelelangan rahasia malam ini diRumah Lelang Bawah Tanah. Salah satu barang yang dilelang adalah Peta Kuno Reruntuhan Dewa Pedang."

Mata Ye Chen meninggal.Dewa Pedang? Reruntuhan kuno adalah tempat terbaik untuk mencari teknik dan sumber daya langka.

"Mengapa kau memberitahuku?"

"Karena aku tidak bisa pergi. Han Feng mengincarku. Aku akan segera dijemput oleh Tetua Sekteku melalui jalur rahasia transmisi. Tapi kau... kau butuh kekuatan, kan?"

Ye Chen menatap token di tangannya, lalu menyimpannya.

"Terima kasih atas informasinya."

BOOOOM!

Tiba-tiba, lantai di bawah mereka bergetar hebat. Suara ledakan terdengar dari pintu depan di lantai satu.

"HAN FENG! KAU BERANI MENGHANCURKAN PINTU KAMI?!" Teriakan marah Manajer Paviliun terdengar, diikuti suara tawa dingin yang familiar.

"Manajer Li, aku sudah bilang. Aku mencari buronan. Jika kau tidak membuka pintu, aku yang akan membukanya."

Itu suara Han Feng.

Wajah Mu Xue memucat. "Dia menerobos masuk! Formasi pelindung pintu depan hancur!"

“Dia datang lebih cepat dari dugaan,” kata Ye Chen tenang. Dia berjalan ke jendela, mengintip sedikit. Ratusan murid berbaju merah sudah mengelilingi gedung.

"Ye Chen, kau harus pergi lewat jalur rahasia bersamaku!" alias Mu Xue.

Ye Chen menggeleng. "Jika kita pergi bersama, jejak Qi-mu akan menuntun mereka pada kita berdua. Jalur transmisi itu hanya cukup untuk satu orang, kan?"

Mu Xue menjawab. Benar. Itu adalah susunan transmisi jarak pendek darurat yang hanya dipakai sekali.

“Pergilah,” kata Ye Chen. "Aku punya cara sendiri."

"Tapi—"

"Pergi!" bentak Ye Chen.

Mu Xue menggigit bibirnya. Dia menatap Ye Chen untuk terakhir kali. "Jangan mati, Asura. Kita akan bertemu lagi di puncak dunia terpana."

Mu Xue berlari ke balik lemari buku, mengaktifkan mekanisme rahasia, dan menghilang dalam kilatan cahaya biru.

Sesaat kemudian, pintu ruangan VIP itu meledak hancur.

REM!

Serpihan kayu beterbangan. Han Feng berdiri di ambang pintu, dikelilingi aura merah darah yang mengerikan. Di belakangnya ada dua Tetua berkilau abu-abu.

Mata Han Feng menyapu ruangan kosong itu. Dia merasakan sisa transmisi transmisi spasial.

"Sial! Pelacur itu kabur!" umpat Han Feng.

Namun kemudian, mencairnya jatuh ke sudut ruangan. Ke arah jendela yang terbuka lebar, di mana tirainya masih berkibar tertiup angin.

Di bingkai jendela itu, tertancap lembaran kertas dengan pisau belati.

Han Feng berjalan mendekat dan mencabut pisau itu. Dia membaca tulisan di kertas tersebut, yang ditulis dengan tinta yang masih basah:

"Kau mencari Asura? Datanglah ke Lelang Bawah Tanah malam ini. Bawa lehermu yang bersih."

Tangan Han Feng meremas kertas itu hingga hancur menjadi debu. Urat-urat yang ditonjolkan. Aura pembunuhnya meledak, membuat ruangan itu diambil kembali.

"ASTAGA!!!"

Teriakan Han Feng mengguncang Paviliun Seluruh Seratus Obat.

Di atap gedung tiga blok dari sana, Ye Chen berdiri di bawah bayangan cerobong asap, mendengar teriakan itu dengan senyum dingin.

“Umpan sudah dimakan,” bisik Ye Chen.

Dia membetulkan posisi pedang raksasanya. Malam ini, di peletangan bawah tanah, dia tidak hanya akan berburu harta karun. Dia akan memulai perburuan yang sebenarnya.

(Akhir Bab 13)

1
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos mantab Thor lanjut terus semangat semangat semangat
Aman Wijaya
mantab ye Chen semangat membara
Aman Wijaya
jooooz pooolll Ye Chen semangat bersama tim
Aman Wijaya
mantab ye Chen bantai tie Shan dan kroni kroninya.bikin kabut darah
Ip 14 PRO MAX
ok bntai,suka mcx kejam sadis
sembarang channel
ok siap
BoimZ ButoN
lanjutkan thhooor semangat 💪🙏
Aman Wijaya
jooooz pooolll Thor
sembarang channel
ok siap,mkasih masukannya🙏🙏🙏🙏
selenophile
bahasa tolong di perbaiki min..
Aman Wijaya
lanjut
Aman Wijaya
makin seru Thor 💪💪💪 terus
Aman Wijaya
bagus ye Chen semangat semangat
Aman Wijaya
jooooz jooooz pooolll lanjut
Aman Wijaya
joooooss joooooss pooolll lanjut
Aman Wijaya
makin seru ceritanya Thor lanjut terus semangat semangat semangat
sembarang channel: mksh untuk semuanya yang suka dengan ceritanya,jangan lupa kasih bintang 5 y🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Aman Wijaya
mantab ye Chen lanjut terus
Aman Wijaya
top top markotop lanjut Thor
Aman Wijaya
mantab ye Chen babat semua anggota sekte pedang darah
Aman Wijaya
mantab ye Chen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!